
...🦋🦋🦋🦋...
Siang itu...
Bintang baru saja keluar dari cabang market Ayah nya. Pagi tadi dia ke kantor milik adik ipar nya menanyakan barangkali ada kabar atau orang yang mengetahui keberadaan Intan. Tapi nihil tidak ada yang tau, bahkan Edo pun tidak tau sama sekali.
Sebelum ke Jakarta di Bandung Bintang keliling ke beberapa tempat yang mungkin di kunjungi oleh Intan. Tak ada tanda-tanda dan petunjuk yang dua dapat. Dia menyerah pasrah sudah pada keadaan yang akan dia hadapi.
Saat dia sedang mengemudi mobilnya dia selintas melihat sosok Intan yang menyebrang dengan seorang pria tinggi.
Bintang memarkirkan mobilnya di tepi jalan, melihat benar atau hanya khayalan nya saja jika di bawah tenda penjual itu adalah Intan.
Saat melihat senyum dan baju yang Intan kenakan, dia merasa yakin. Karena itu adalah baju miliknya yang di tinggal di kostan Intan.
"Anji*g, gue kira lu beda. Taunya sama kayak si sundel." geramnya sambil menuruni mobil.
Berjalan dengan tergesa-gesa mendekati tenda itu.
Dari jarak dekat dia bisa mendengar suara Intan yang beberapa hari ini sangat dia rindukan. Namun tiba-tiba muak saat dia melihat Intan tersenyum pada lelaki tampan yang duduk bersebelahan.
*
*
"Intan ... " panggil nya
Nafasnya terasa pendek, dia sesak mendapati kenyataan di hadapannya itu.
Terlihat wajah Intan memucat, dan berdiri dari duduknya.
Dia menghampiri lelaki yang memanggilnya.
Setelah beberapa langkah di depan Bintang, tangannya langsung di tarik lelaki bersumbu pendek itu.
"Mas.. "
"Masuk, buruan masukk ... " Bintang membentaknya.
Intan menurut dan masuk ke dalam mobil sedan berlogo 3 huruf itu.
Wanita itu meyakini bahwa Bintang pasti akan salah paham, namun dia sudah membulatkan tekad bahwa dia harus menjauhi lelaki yang tengah memutari mobil itu.
Brughhh pintu mobil di tutup dengan keras.
Intan menunduk sambil mere*mat kuat kemeja yang dia pakai, dia memejamkan matanya saat teringat baju siapa yang tengah dia kenakan itu.
"Gue kira ku beda ... " ucapan lirih terdengar keluar dari mulut Bintang.
"Gue kira ku beda, lu baik, tulus. Tapi gue salah, lu sama aja sama si sundel... "
"Anj*ng salah gue apaaaaa???? jawaaabbbb?" Bintang memakinya dengan suara yang menggelegar luar biasa di dalam mobil itu.
"Lu deketin cuma buat balas dendam? iya? karena selama ini gue brengsek dan sering nge bully lu?" dia terus memberondong pertanyaan pada Intan.
"Intan .... " teriakannya kembali menggema.
Akhirnya Intan menoleh, "Nggak, Mas nggak salah apa-apa. Hanya aku nggak ngerasa pantes , Mas."
__ADS_1
"Terus yang pantes siapa? Laki-laki itu? ck.. beberapa hari ini gue capekkkk .... gue capekkkk nyari luuu. Taunya udah jalan aja sama laki,"
Bintang memukul-mukul stir mobilnya, dia kesallll rasanya ingin sekali dia memaki kata-kata lebih hina untuk perempuan di sebelah nya, perempuan yang benar-benar dia cinta.
"Lepas kemeja gue, gue nggak terima barang gue jadi saksi mesra lu," namun dia berpikir kembali saat Intan membuka kemeja itu ternyata dia hanya memakai kaos tanktop hitam, membuat bakpao hangat itu tercetak sempurna. Dan hatinya juga tidak ikhlas jika pemandangan itu di lihat banyak orang selain dirinya.
"Nggak usah, pake lagi." sergah nya.
Intan yang bingung kembali memakai nya dengan menatap ke arah Bintang.
"Gue sumpahin, lu nggak akan pernah bisa lepas dan lupain gue. Denger sumpahnya orang sakit hati," Bintang menatap nya dengan nyalang.
Intan kembali menunduk. "Terserah, Mas mau ngomong apa.. "
"Nggak usah lu panggil gue, Mas... jijik gue dengar nya," potongnya.
Satu tetes air mata tiba-tiba meluncur begitu saja dari mata Intan.
"Ck, air mata buaya betina."
"Udah? puas maki-maki saya?"
Bintang menoleh dengan kening yang berkerut, "Belum sebenarnya, gue masih nyimpen unek-unek, tapi percuma. Kalo dasarnya sundel ya tetep aja sundel,"
Intan menatapnya, "makasih, makasih buat semua. Untuk hutang kakang saya akan saya ganti secepatnya, dan satu lagi saya nggak seburuk yang Bapak liat dan bapak pikirkan, tapi jika seseorang sudah tidak suka, kita membela diri bagaimana pun akan percuma."
Intan membuka pintu mobil namun tangan Bintang langsung menariknya hingga tubuhnya memutar dan Bintang langsung mengecup bibir itu dengan kasar dan kuat, tangannya juga tak tinggal diam dia mere*mas bakpao daging hangat itu. Kegiatan itu selalu ada dalam fantasi liarnya. Namun dia tahan karena dia pikir Intan wanita baik dan polos.
Intan meronta dan memukuli Bintang. Merasa nafasnya sesak karena Bintang memag*tnya kuat dan dan tak memberikan celah untuk ia bernafas.
Intan menangis mendapatkan pelecehan itu.
Dan saat tangannya terlepas dari cengkraman Bintang, dia langsung mendaratkan sebuah tamparan.
Bintang tersadar lalu melepaskan kungkungan nya dan menghentikan kegiatan panasnya.
"Hutang lu, gue anggap lunas, keluar dari mobil gue!" bentak nya mengusir.
...######...
Intan keluar dari mobil itu dengan lemas, saat keluar dari mobil itu Faisal menghampiri karena melihat Intan menangis.
Intan menangis, dia sakit hati di tuduh macam-macam dan di perlakuan sedemikian rendah nya.
"Tan ... kamu kenapa? dia siapa?" tanyanya begitu penasaran.
Bintang tersenyum sinis di dalam mobil nya.
"Pulang, yuk. Aku lemes," Intan menatap Faisal.
Faisal yang mendengar suara lirih Intan pun merasa iba, apalagi Intan terlihat pucat dengan mata sembabnya.
Intan di tuntun menuju motor nya dan mereka pun melewati mobil Bintang yang masih terparkir di pinggir jalan.
Bintang masih diam di dalam mobilnya, menatap wanita yang kemarin begitu menggebu ingin dia miliki. Kini membuat dia muak.
Mereka berlalu ke arah yang berbeda.
__ADS_1
*
*
Intan meraung menangis di kamar nya, bahkan dia langsung mengunci pintu kamarnya saat Faisal masih berada di luar kamar nya.
"Tan ... "
"Maaf, tapi aku mau sendiri dulu." ucapnya dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
Lalu suara Faisal pun hilang.
Intan memukuli dadanya yang terasa sakit, dia sesak akan rasa sakit yang kini serasa menusuk bongkahan daging di dalamnya.
"Mahh ....
"Mas Dani ...
Intan meraung memanggil nama orang-orang yang menyayangi nya namun sudah tidak ada di dunia.
Lalu dia berlari ke arah meja kecil mencari sesuatu, lalu dia mengambil selembar uang 10 ribu dan berlari ke luar rumah.
Tak lama intan telah kembali, dia melihat selintas Faisal yang sedang merokok di depan kamarnya. Lelaki itu menatapnya entah berpikiran apa.
Masa bodoh, sekarang dia hanya ingin segera masuk ke dalam kamar nya.
Intan mengunci pintu, langsung mengambil satu gelas dan mengisinya dengan air dari dalam botol mineral.
Intan membuka beberapa bungkus obat sakit Kepala yang dia beli dari warung. Dua belas butir obat sakit Kepala sudah ada di telapak tangannya.
Intan menangis, dan kembali memukuli dadanya yang begitu sakit dan sesak. Dia merasa tubuhnya sudah kotor dan sangat terhina.
" Mungkin ini yang terbaik ... "
Lalu dia meminum semua obat yang berada di tangan nya.
Perlahan dia merasakan keringat dingin bercucuran, kepala nya seolah berputar dan seperti di tekan.
Dadanya semakin sesak dengan degup jantung yang begitu kencang. Perutnya mual bukan main.
Dia berguling di atas kasur lantai itu.
"Mahh ... " erangnya memanggil mamahnya.
Lalu kesadarannya hilang sedikit demi sedikit.
Bersambung ❤❤
Like
Komen
Favoritnya
Boleh banget promoin ke temennya
Kaborrrrr🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀
__ADS_1