
...--oOo--...
Bintang hendak menyebrang menuju mobilnya terparkir. Sebuah mobil melaju cukup kencang, membunyikan klaksonnya begitu kencang hingga.
Brugghh
Bintang terduduk di tepian jalan.
"Mas?" suara Naya menyadarkan nya.
"Mas, nggak apa-apa kan?" Naya berjongkok menepuk pelan pundaknya.
Bintang menoleh, "Nggak apa2. Makasih, untung kamu narik aku," katanya.
Bintang hampir saja tertabrak jika bukan Naya menarik kemejanya hingga dia terjatuh dengan posisi duduk di pinggir jalan.
Bintang pun bangun, dan tangannya terulur membantu Naya yang sedang kesusahan karena namanya bayi dalam pelukannya.
Naya mendongak menatapnya, perempuan masa lalu nya itu tersenyum, menautkan tangannya lalu dalam sekali tarikan. Dirinya sudah berdiri di depan Bintang.
"Aku harus pulang sekarang, ada sesuatu di rumah!"
pamit Bintang.
Naya mengangguk lalu mereka pun berpisah.
Bintang selintas menatap perempuan itu berdiri di tepi jalan dengan menggendong bayi dan satu tangannya memegang Altaf.
*
*
Bintang memarkirkan asal mobilnya di depan pagar rumah nya. Berlari masuk ke dalam rumah. Dan pandangan matanya tertuju pada kardus di depan teras. Matanya membola saat melihat isinya adalah bang*kai kucing hamil yang berlumuran darah.
Bintang semakin tak tenang. Jelas ini adalah sebuah ancaman. "Bre*sek, siapa yang berani-beraninya ngelakuin ini," sungutnya kesal.
"Pak," Bibik terlihat panik menghampiri nya keluar rumah.
Bintang yang sedang fokus ke kardus ancaman di depannya, langsung tersadar dan menoleh ke gawang pintu.
"Itu, Ibu ... " Katanya gugup.
Bintang tak banyak tanya, dia langsung menerobos masuk ke dalam rumah nya.
Dia masuk ke dalam kamar, di lihatnya si Istri sedang meringis di atas tempat tidur.
"Yank," katanya sambil duduk di tepian ranjang.
"Ang. Itu, kardus ... "
"Iya. Aku mohon, kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Biar aku yang nyelesain semua. Kasian anak-anak. Kalo sampai kamu stress mikir yang nggak-nggak!" katanya memohon.
Intan mengangguk.
"Siapa ya kira-kira yang berniat jahil sama kita?" tanya Intan yang kini mendudukan tubuhnya yang di bantu Bintang menumpukkan bantal di belakang tubuh si istri.
"Yang jelas orang gila," Bintang mengusap perut sangat istri. "Keras banget, Yank?" tanyanya panik.
Intan mengangguk dengan bibit yang dia lipat kuat.
"Sakit?" tanyanya lagi.
Si istri hanya menggeleng. "Cuma ngilu sedikit, terus keras. Kayak kita kalo abis ... " ucapannya terhenti saat menyadari si suami sudah menyeringai ke arahnya.
"Di ingetin, udah seminggu lebih ini." Bintang tiba-tiba bangun dari duduknya.
"Ang, si Bibik belum pulang." Intan menahan tubuh si suami yang sedang membuka ikat pinggang nya.
Bintang diam, dan langsung otaknya memunculkan ide. Selalu di waktu-waktu genting isi kepalanya itu bisa di andalkan.
__ADS_1
"Aku ke sini, udah kebuka semua!" titahnya lalu keluar dari kamar.
*
*
"Bik," dia berjalan ke arah dapur.
"Ya, Pak!" saut si Bibik yang sedang mencuci buah.
"Minta tolong kuburin kucing yang di depan. Nyuruh siapa aja, kuburin yang bener itu kucing. Saya kasih ongkosnya." Bintang menyodorkan dia lembar uang pecahan seratus ribu.
Si Bibik hanya mengangguk mengerti, "kalau sama saya saja, Pak?" tanyanya sembari tersenyum kecil.
Bintang ikut tersenyum, "Boleh, terserah Bibik. Yang pasti itu kucing di kuburin layak!"
Baru berjalan beberapa langkah menuju kamar, Bintang kembali memutar tubuhnya.
"Sekarang aja, Bik. Saya mau ke dokter, bawa Ibu." Alasannya.
Si Bibik pun langsung terburu-buru memasukan buah yang sudah dia cuci ke dalam lemari pendingin.
"Saya, pamit. Pak!" ucapnya melewati Bintang yang masih diam di dekat kardus berisi kucing mati itu.
"Maaf, ngerepotin Bik." katanya.
Pembantunya itu pun pulang dengan membawa kardus itu.
*
*
Dengan cepat kilat Bintang langsung menutup pagar, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu ruang tamu itu.
Berlari masuk ke dalam kamar, dia melihat si istri sudah berselimut.
Bintang mengeluarkan semua yang ada di saku celananya. Mulai dari dompet, kunci mobil, dan ponselnya.
"Apa?" Intan menjawab malu-malu.
"Eh, ada pesen makanan atau nunggu paket nggak?" Bintang yang hampir membuka celananya , menyempatkan diri bertanya. Dia tak ingin ada gangguan seperti biasa di acara temu kangennya bersama anak-anak nya.
Intan menggeleng. Dengan sekali gerakan celana itu jatuh ke lantai.
Dia berjalan sambil menyeringai, merangkak naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut itu dia terkekeh kecil. "Woow, bakso bening nih. Tinggal aku kasih kuah," ucapnya nyeleneh seperti biasa.
Intan hanya menyunggingkan ujung bibirnya mencibir sang suami.
"Anak-anak Papi, ayo kita meetup!" bisiknya di atas perut si istri.
"Pelan-pelan loh," kata Intan menyela.
Bintang mendongak ke arah wajah si istri.
"Ck, kamu yang sering ngomong. 'cepetan, lebih cepet. Buruan.' apa itu? kenapa aku yang kamu wanti-wanti. Bukannya aku sesuai intruksi," matanya menatap si istri dengan tatapan mematikan.
Intan yang malu hanya mampu menutup wajahnya. Tentu saja yang suaminya ucapkan itu benar. Dia yang suka menyuruh menaikan tempo.
"Malu ... dia malu, bener kan yang aku omongin?" godanya mengecupi perut bulat yang memang terasa keras dan lebih panas dari biasanya.
"Hey, kalian lagi pada ngapain sih di dalem? masak-masak ya? perut Mami kok panas gini?" tanyanya.
Intan yang mendengar perkataan Bintang pun membuka wajahnya yang dia tutup tadi. Memang benar apa yang suaminya ucapkan. Perutnya keras dan seperti lebih gerah dari biasanya.
"Ang?"
Bintang menoleh. "Heum?"
"Nggak akan apa-apa gitu?" katanya.
__ADS_1
Bintang tersenyum merangkak di atasnya. "Nggak lah, pada kangen mungkin mereka. Kamu jangan mikir aneh-aneh, jangan stress."
"Yuk," Bintang mulai mencium si istri.
Saat pemanasan itu semakin panas dan dia siap untuk menjelajahi tubuh sintal milik istrinya. Hendak membuka kemeja, Tiba-tiba Intan bangkit dan menatapnya nyalang.
"Tadi dari mana?"
"Ke -kedai," ucapnya gugup.
Intan mendorong tubuh si suaminya. "Awas, aku mau tidur!" ketusnya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Hei, kenapa? masa nggak jadi?" keluhnya menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya.
"Awas, aku mau tidur." Sentak Intan marah.
Bintang tergagap dengan sesuatu yang sudah siap di bawah sana.
"Iya. Aku ngaku, tadi ketemu sama Naya. Aku kira dia yang neror kedai kita. Udah beberapa hari kedai kita di teror sama pupuk yang berbau kotor gitu lah, nggak aku ceritain jelas ntar mood mual kamu kambuh. Terus tadi pagi katanya ada ceceran darah di sepanjang pintu masuk."
"Huwekk ... huwekk ... " Tiba-tiba Intan menutup mulutnya dan turun dari tempat tidur.
Bintang menghela nafasnya, "Bukan lu yang muntah Ton, malah Bini gue," dia menatap iba pada pyton kebanggaan nya.
*
*
Setelah pertengkaran Suami istri itu yang berjalan alot, karena lipstik dan mascara entah eyeliner Naya yang tercetak di kemeja putih miliknya itu. Bintang bahkan menggerutu Naya adalah pemilik selera rendah soal make-up.
"Ya udah, nanti aku suruh dia beli make-up yang bagus, biar nggak luntur!" ucapnya asal. Dia tidak tahu itu semakin menyulut emosi sang istri.
"Sekalian aja nafkahin dia, sekalian aja kamu bawa dia ke sini!"
"Makin ngaco kamu kalo ngomong,"
"Ok, aku bawa dia besok ke sini biar jelasin semua, semua yang udah aku terangin sama kamu. Biar dia jelasin semua!" Bintang menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dia langsung menimpakan lengannya menutupi matanya. Pusing dengan perdebatan yang tidak akan selesai itu.
Intan yang masih duduk tepian kasur, malah semakin marah karena di tinggal tidur. Padahal masalahnya dia rasa belum selesai.
"Ang. Jangan lari dari masalah," Dia mengguncang tubuh si suami.
Bintang diam, masih dengan mata yang terpejam. Padahal dia tidak tidur, dia mendengarkan semua keluh kesal si istri.
Tiba-tiba mulutnya menganga dan matanya membuka menatap ke bawah tubuhnya. Dia merasakan si pyton nya di lengkapi rasa hangat dan basah melingkupi miliknya. Bermain di sana memberi hisapan dan lidah yang bermain nakal melingkari miliknya.
"Ya ampun, Yank ... Aku mau berantem tiap hari sama kamu!" racaunya dengan suara parau, desa*hannya pun tak dia tahan. Toh, di rumah hanya ada mereka.
Demi apapun dia merasa benar-benar di manja sang istri yang tadi tengah merajuk itu.
Apalagi saat Intan merangkak naik ke atas tubuhnya, mengayun indah dengan tubuh sebesar itu, tapi dia tidak merasa berat. Malah semakin terlihat menggemaskan istrinya itu.
"Sayaaang .... Kamu, enak ... " racaunya.
Intan bergerak pelan namun teratur, begitu memamerkan. Hingga perempuan hamil itu meleng*uh, tanda dia sudah mencapai puncaknya.
"Ehm ... " Intan melepas tauran mereka, dan berguling perlahan ke sisi Bintang.
"Capek? sekarang aku yang kerja," katanya akan bangkit namun sebuah kalimat membuatnya seolah jatuh tersungkur.
"Aku mau tidur, itu hukuman kamu. Soalnya abis peluk-peluk mantan," Intan memunggunginya dengan selimut yang membungkus rapat tubuhnya.
"Hei, mana bisa gitu? kamu! seakan aku hanya seorang pe*muas, di tinggalin udah kamu puas!"
"Yank, Sayang... Intan... cungkring ... " Dia memanggil hingga akhirnya memaki sang istri yang dengan cepatnya masuk ke alam mimpi.
Bersambung ❤🙄
Itu hukuman buat yang masih berhubungan dengan mantan🤣🤣🤣
__ADS_1