Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Mengejar pisang


__ADS_3

...----oOo----...


Bintang sedang meminum kopi di meja makan.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, dari meja makan dia menatap ke taman belakang rumah adiknya.


Intan tengah menungging di pinggir mesin cuci, mengambil baju yang sudah melalui proses pengeringan.


Di kibaskan baju Bintang dengan sangat kuat.


"Ck... segitu sebelnya, ampe baju gue lu aniaya!" Bintang meringis.


Saat sedang serius melihat ke arah Intan. Ponsel nya berdering, di lihat si pemanggil Video itu adalah Naya.


"Duh, tumben dia mau VC gue."


"Halo... Sayang!" Bintang menyapa dengan wajah sumringah.


"Gimana, itu kamu udah sembuh gatelnya?"


Bintang menatap Intan yang memang sedang berjalan mendekat menatapnya dengan senyuman sinis dan mengejek.


"O-ohh, itu udah kan aku punya kamu perawat pribadi," ucapnya dengan wajah pucat menatap Intan yang sedang mengambil cangkir si sebelah lengannya.


"Syukur, kalo belum sembuh aku ada rekomendasi dokter kulit kelamin yang bagus daerah Bandung."


Bintang semakin pucat dan saat dia menoleh pada Intan, gadis itu tengah menatap nya kemudian bergidik.


"Mampus, harga diri lu boy... kek baju gue yg tadi siang dia injek- injek dalem ember." Batinnya.


Bintang masih terus berbincang dengan Naya, Intan sibuk dengan pekerjaannya hilir mudik ke sana kemari. Dan di bawah pengawasannya itu, Naya merasa di acuhkan.


"Mass... " Naya berteriak di sebrang sana.


Seketika Bintang panik dan menatap kembali ke layar ponselnya.


"I-iya sayang... "


"Kamu, dimana sih Mas?"


"Di rumah Chaca, suaminya lagi di rawat di rumah sakit. Aku nungguin rumah dia."


"Sama siapa?"


"Sama anak-anak, kalo sendiri masa iya aku di sini," ucapnya pelan karena takut kebohongannya terdengar Intan yang tengah menyapu ruang tamu.


Tanpa dia ketahui Intan mendengarkan semua perkataan bohong nya. "Si aki-aki, penipu, si mulut rombeng, si otak kotor." Intan merutuki Bintang dengan suara nyaris tak terdengar.


Panggilan VC dengan Naya, akhirnya selesai. Bintang bangkit dari duduknya. Lalu memasukan ponselnya pada saku celana longgar nya.


*


*


"Aku pulang ya... "


"Dari kemarin perasaan ngomong nya mau pulang, baru sekarang pamitnya."


Intan tak menghiraukan nya, dia anteng dengan kemoceng nya.


"Tan... lu baru sembuh, besok lagi beres-beresnya."


"Besok saya mau ijin, mau pulang ke rumah. Udah ngomong sama Ibu nya Helen," ucapnya.


Bintang menghela nafasnya.


"Oh, ya udah. Gue pulang."


"Tan... gue pulang!"


"Intan.... "


Perempuan itu menoleh, "apa sih pak?"


"Gue pulang... "


"Ya, udah. Masa harus saya anter?"

__ADS_1


lelaki itu menaikan sedikit bajunya ke atas.


"Liat, ini melorot ntar di jalan!"


Intan tertawa saat melihat celana itu bukan di atas pinggang melainkan di bawah pinggang hampir jatuh. Dan memperlihatkan bagian karet pembungkus sesuatu yang bisa berubah seketika.


Intan bukannya tidak tau apa-apa, tapi dia memang sengaja mencari aman. Di usianya yang hampir 26 thn dan di jaman modern seperti ini rasanya tidak mungkin akan ada orang sepolos itu.


Dia tidak ingin memperpanjang debatnya dengan Bintang, makanya dia pura-pura tidak mengerti.


"Celana bapak kan baru saya jemur,"


"Gimana dong? motor keren, ntar celana melorot gue kan nungging pake motornya," ucap Bintang terlihat frustasi.


"Akalin dong, Tan... "


"Gimana?"


"Jahit atau apa gitu?"


Intan berjalan ke arah lemari di ruang TV, dia menunduk mencari sesuatu.


"Nggak ada jarum, kayaknya nggak ada yg gitu deh di sini."


Bintang mendengus, "desainer macam apa adek gue? jarum aja kagak punya," katanya menggerutu.


Intan hanya diam menyaksikan lelaki yang memiliki sumbu emosi begitu pendek. Mudah kesulut hanya karena adiknya tidak punya peralatan jahit.


"Ahh, lagian itu kan celana, Pak Dafa. Nanti mau bilang apa kalo dia tau celananya di rusak!"


Bintang menatap nya. "Cari karet, karet apa aja boleh," katanya.


Perempuan di depan nya itu berjalan ke dapur, lalu kembali dengan dua buah karet gelang bekas pembungkus nasi uduk.


"Nih pak, buat apa?"


Bintang langsung menyambarnya, lalu mencubit kecil bagian atas celana yg di pakai nya, mengikat kan karet itu membelit ujung celana milik Dafa.


Setelah di rasa ikatan sudah mengencang, kaos itu Bintang turunkan kembali.


Ledakan tawa keluar begitu saja dari mulut Intan.


"Kayak puser dosol... hahahahaha. " Intan kembali terbahak-bahak.


Lalu perempuan cantik itu berjalan ke arah belakang. Datang kembali dengan sebuah tali rafia.


"Buat apa tali?"


"Buat ngiket bibir Bapak, ya Tuhan... berisik banget."


"Tarik celananya!"


"Kemana? atas atau bawah?" Bintang tertawa menggoda.


Intan hanya mampu menggelengkan kepala, dirinya semakin sebal, tetiba asam lambungnya naik karena stress menghadapi Bintang.


Bintang menurut menaikan celananya sedikit ke atas pinggang, lalu intan melingkari tangannya sambil memasangkan tali itu di lubang sabuk celana itu satu persatu.


"Brilian otak kamu, Tan... "


"Ntar gue hadiahin pisang, mau pisang apa? tanduk, ambon, atau pisang raja yg mungil segede kelingking yang di kupas kulitnya nempel di dagingnya minta di makan ama kulit-kulitnya," katanya dengan berisik.


Intan tak menghiraukan ocehan di atas kepala nya dia sibuk dengan tali dan lubang ikat pinggang.


"Tali mati Tan..."


"Ntar susah bukanya!"


"Biarin, kalo tali kupu-kupu, ntar berantem sama burung gue, malah lepas tuh kupu-kupu," potong nya.


Intan mencebik mendengar kata-kata Bintang yang semakin absurd.


"Dah... "


"Makasih ya, cungkring is the best," katanya memuji.


*

__ADS_1


*


Bintang pun akhirnya keluar dari rumah adiknya itu, dengan motor sport nya. Intan langsung menggembok pagar itu, dia ingin istirahat dengan Tenang.


Di jalan Bintang berhenti di sebuah minimarket, dia hendak mengambil uang di ATM sambil membeli sebotol minuman dingin.


Saat keluar dari minimarket dia melihat seorang pedagang buah sedang mendorong gerobak yang berisikan tumpukan buah pisang. Bintang langsung mengingat Intan, bagaimana jika gadis itu akan memakan obat. Batinnya.


Bintang menepukan telapak tangannya berusaha memanggil. Namun nihil si gerobak itu semakin menjauh.


"Mang... buah... " Panggilnya dengan suara lantang.


Sambil sedikit berlari.


"Mang... buah... woyyy... anjir, budek kali ya?" keluhnya masih berlari mengejar si penjual pisang itu, agak sedikit jauh dari minimarket itu, dan Bintang sudah mulai kelelahan.


"Mang... cauu!" (cau\=pisang bhs Sunda)


panggil nya lagi dengan rasa pesimis karena jaraknya semakin menjauh.


Bintang menunduk mencoba mengatur nafas agar tertib memasuki hidungnya. Kepalanya mendongak saat sebuah suara gerobak mendekat.


"Cau.. Den?" si Pak tua penjual pisang itu sudah berada di depannya.


"Ari bapak ti tadi ku abi di sauran!"


(Bapak dari tadi saya panggil!)


"Teu ngadangu, da kadangu na nyauran mang buah!"


(nggak kedengeran, kedengeran nya manggil tukang mangga!)


Bintang menepuk keningnya merasa takjub.


"Cau teh bubuahan keneh, Mang!"


(Pisang itu masih buah-buahan, Mang!)


"Ah, cau mah cau. Buah nya buah."


(Ah, pisang tuh pisang, Mangga ya Mangga.)


Bintang menggeleng menahan kesalnya yang semakin naik bergandengan tangan dengan tensi nya.


"Sekilo Mang."


"Meni kagok, Den."


"Oh, dua kilo atuh."


"Meni seueur, kango naon?"


(Banyak banget buat apa?)


"Kango... pun bojo!"


(buat... istri saya!)


Bintang sudah melembutkan suaranya, dia sudah kehilangan kosakata dalam mulutnya. Dia berkata asal, agar obrolan nya bersama pak tua pedagang pisang bukan buah itu segera selesai.


*


*


Bintang berjalan kembali ke arah minimarket, dia merutuki kebodohannya saat melihat motor nya teronggok di halaman parkir minimarket itu. Kenapa dirinya malah berlari mengejar pedagang buah itu dan bukannya menggunakan motor sport nya, yang pasti akan mempersingkat waktu.


Dia kembali memakai helm nya lalu segera melesat kembali ke rumah adiknya, untuk memberikan dua kilo pisang di tangan nya.


Saat hampir sampai, terlihat Intan sedang berbincang dengan seorang pria yang terduduk di atas motor nya. Mereka terlihat akrab namun seperti membicarakan suatu yang serius.


Bintang berhenti di tikungan tak jauh dari rumah Adiknya, dia terus menyaksikan kedua orang itu.


Matanya membola, saat melihat Intan masuk ke dalam rumah dan si pria itu mengekori nya.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣

__ADS_1


Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘


__ADS_2