
...🐒🐒🐒...
"Mau kemana Kak? bentar kita mau makan siang dulu. Ikut nggak?" Mentari menghentikan langkah Bintang.
"Nggak ikut dia udah makan sedari tadi," Dafa memotong ucapan sang istri.
"Biar kita double date aja," tambahnya lagi.
Bintang yang setengah badannya sudah di luar pintu seketika otak pintar nya tertabok.
"Gue ikut, mau kemana?" sambar nya langsung.
Mentari dan Dafa terkikik geli, sedangkan Intan dan Edo buang duduk hanya dapat menyimak dalam diam.
"Bentar gue mau ngomongin dulu kerjaan, lu main dulu sonoh ama Helen fans berat lu," tunjuk Dafa ke ruang TV di mana anak pertama nya sedang bermain rumah barbie. Lalu dengan patuh Bintang puji menghampiri Helen.
Mentari terkikik lalu kemudian berlari saat mendengar tangisan Shera di dalam kamar.
"Saya kangen juga sama anak-anak," ucap Intan.
"Uhmm ... cuma sama anak-anak, sama yg ngasuh nya nggak? " Dafa menahan tawa nya sambil membuka laptopnya.
Intan seketika merona merasa salah tingkah.
Edo yang tak mengerti apa-apa hanya diam sambil membuka beberapa berkas yang dia bawa dari Jakarta.
Dalam diam Bintang sesekali menoleh ke arah Intan, tanpa dia tau Intan pun melakukan hal yang sama.
Saat Intan tengah menunduk mengetikan sesuatu pada laptop yang di bawa Edo, sesekali Edo mencondongkan tubuhnya ke arah Intan.
Kegiatan itu membuat Bintang tak bisa diam, dia kesal dan ingin sekali melempar barbie milik Helen yang tengah dia pegang.
"Ck cowok modus, tuh kacamata kagak guna harus liat layar laptop si cungkring ampe ngejorok maju banget. Pen gue toyor tuh pala," gerutunya.
Helen yang di sebelah nya ternyata menyimak gerutuan Papi nya itu.
"Toyol Pih?" ulangnya menirukan kata-kata Bintang.
"Iya, pen Papi toyor tuh pala si mata empat,"
"Toyol apa Pih?" tanyanya dengan wajah menggemaskan penuh keingin tahuan.
"Eh, anak Ibu bilang apa?" Mentari kaget mendengar ucapan putri sulung nya.
"Kata Papi toyol,"
Mata nya membola menatap sinis kakaknya, "ngomong apa sih kak? jangan aneh-aneh. Ngajarin anak aku macem-macem lagi. Awas aja aku aduin Ayah." Omel sang adik.
"Kenapa?" Dafa yang mendengar omelan istri nya bertanya dari sofa ruang tamu, Intan dan Edo menyaksikan dari tempat nya.
"Ayah toyol," Helen kembali berucap kini dia menujukan ucapannya pada sang Ayah.
"Eh... mba ngomong apa? nggak boleh sayang," ucapnya sambil mendekati putri nya.
Dia melihat Mentari yang menggendong Shera sedang memberengut kesal.
"Sorry gue nggak maksud gitu, lagian bukan tolol tapi toyor," Bintang menggaruk tengkuknya merasa kikuk dan malu sendiri.
"Siapa yang mau lu toyor?" Dafa sedikit geram akan ulah kakak iparnya itu.
"E.. enggak, lah susah nerangin nya!" kembali dia ngeles.
Dafa menggeleng, "Bu, Siap-siap. Bentar lagi kita berangkat," ucapnya pada Mentari
Mentari kembali ke kamar nya menyiapkan perlengkapan anak-anak yang akan di bawa.
*
*
Mereka semua sudah siap berdiri di depan teras rumah.
"Ini perginya sendiri2," tanya Bintang.
"Kakak ikut mobil kita aja," ajak Mentari.
Bintang terdiam, "terus si cungkring ama si mata empat semobil? cih... " gerutunya dalam hati.
"Nggak ah, gue ikut mobil dia aja!" dagu nya menunjuk Edo yang berdiri dengan menggenggam clutch dan kunci mobil SUV berwarna abu-abu metalik itu.
"Boleh, Mas. Ayo... " ucapnya ramah.
"Nggak usah Mas, dia seumur sama gue, i bawah lu 2 thn ucap Dafa terkikik geli."
Edo mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kalo boleh saya ikut mobil Bapak aja, kangen sama anak-anak," ujarnya.
"Oh, boleh." Jawab Dafa cepat.
"Gue nggak jadi, gue ikut mobil kalian aja. Kasian fans fanatik gue." Bintang mengulurkan tangannya pada Helen yang tengah di gendong Ayah nya.
Dafa mencebik tau akan siasat dari kakak ipar nya itu.
"Kalo boleh saya juga mobil kalian, nggak enak sendiri di mobil, " pinta Edo.
"Ok, let's goo. Gue dah laper," ujarnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengeluarkan nya dari carport dan menunggu sampai semua naik ke mobilnya.
Dengan wajah bingung antara senang bisa satu mobil dengan Intan , sekaligus kesal karena Edo seperti mengekori Intan.
Posisi di jok belakang mobil Dafa adalah Edo, Bintang dan Intan yang ada di tengah.
Sesekali Bintang mendengar Edo dan Intan saking berbisik dengan Intan yang tertawa pelan.
Bintang merasakan kesal, ada sesuatu yang terasa tidak enak yang dia rasakan. Dia yang sedang menggendong Helen tanpa sengaja menggeram dan tangannya reflek mencubit Intan.
"Aww ... " Gadis itu menjerit lalu mengusap pinggangnya yang di cubit kecil Bintang.
pandangan nya mengarah ke lelaki di sebelah nya yang pura-pura sedang bermain dengan Helen.
Intan lalu mengalihkan pandangannya pada Edo yang bertanya padanya, "kenapa?" tanya nya dengan lembut.
"Nggak tau, tiba-tiba ada yang kayak gigit," ucapnya sambil mengusap-usap pinggangnya.
"Mau pake obat oles? atau kayu putih? aku bawa!" tawarnya sambil membuka clutch mewah yang dia pegang sedari tadi.
Pandangan mata Bintang membola saat Intan mendapatkan perlakuan istimewa dari lelaki kacamata itu.
Mentari dan Dafa sesekali melihat ke arah kursi belakang. Lalu saling melempar senyum.
Bintang semakin kesal dan panas, dia bergerak tak bisa diam. "Kek mak2 bawa begituan," ucapnya pelan namun masih dapat terdengar oleh semua yang berada di mobil.
"Buat Jaga-jaga kan bagus," Edo melirik sekilas ke arah Bintang yang berada di sebelah perempuan yang sedang ia incar.
Bintang melengos malas, namun saat dia melihat tangan Edo mengulur mengambil telapak tangan Intan dan hendak akan membubuhkan minyak kayu putih dari botol kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Dengan sigap Bintang menggantikan telapak tangan Intan. Dia langsung sedikit menyingkap kan baju Intan dan langsung menggosok pinggang Intan yang tadi dia cubit kecil.
Intan yang kaget dan kesal dengan refleks menoyor kepala Bintang hingga membentur kaca jendela di belakang kepala nya.
Dug...
"Bapak apa-apaan sih?" Intan berteriak kesal menghadap ke Bintang yang masih meringis.
"Gue ngobatin lu, dih salah lagi."
"Iya lah, ngapain nggak sopan." Mentari ikut tersulut emosi dari depan karena melihat tingkah laku kakaknya.
Bintang mendengus kesal, bahkan sekarang Intan menjaga jarak darinya semakin merapatkan duduknya pada laki-laki bernama Edo itu.
Dafa hanya mengatupkan bibirnya menahan tawa yang sudah sangat ingin dia lakukan.
*
*
Mereka turun dari mobil milik Dafa, suasana sore di salah satu restoran yang sedang viral itu membuat Intan yang memang menyukai susana sejuknya pegunungan langsung memandang sekeliling dengan takjub. Edo berjalan menghampiri nya sambil ikut memuji tempat itu.
Bintang yang baru turun melihat pemandangan itu dengan tak suka.
"Cih ... "
"Cih... cih... berjuang dong dapetin dia, lawan lu bukan main-main itu, Edo orang nya pinter, cool dan dewasa... Wah, susah saingan sama dia." Dafa sengaja mengompori kakak ipar nya yang memang bersumbu pendek itu.
"Dia siapa?"
"Manager keuangan di perusahaan gue yang di Jakarta, Intan anak buahnya langsung di departemen Keuangan. Posisinya tepat di bawah Eko, jadi kemana-mana mereka bareng dan kerja nya juga sering bareng lah. Pembahasan nya sama," tambah nya lagi.
Bintang mendengus kesal, tidak... dia tidak mau kembali patah hati.
"Berisik lah, gue pusing."
"Pasti kurang di salurkan, Hahaha... " Dafa terbahak-bahak sambil mendekati Istri nya yang sudah duduk di spot dekat dengan sebuah taman yang terdapat kolam ikan dan ayunan.
Mereka telah duduk di meja kayu besar sambil membaca menu yang akan di pesan.
"Jadi teh, nanti mau langsung pulang ke Jakarta?" tanya Mentari.
"Ehm... nggak Bu, mau ke makam dulu terus mau ada yang di beli, titipan tetangga saya kasian lagi ngidam pengen tape singkong khas Bandung sama keripik tempe. Mungkin saya pake travel aja nanti malem," ujarnya.
"Mas Edo mau langsung pulang?" tanyanya sekarang pada lelaki gagah berkacamata itu.
__ADS_1
"Jangan Mas, dia orang Medan campuran mana sih lu, Do?" Dafa bertanya pada salah satu karyawan kesayangan almarhum Papa nya dulu.
"Oh, orang Medan!" Mentari mengangguk kecil.
"Iya, saya Medan. Tapi almarhum Papi ada darah Persia," terangnya.
"Persia?" Bintang membeo.
"Iya, atau Iran sama saja." Edo menjawabnya dengan ramah. Lalu pandangan nya tertuju pada Intan.
"Jangan makan yang pedes terus, tiap istirahat di kantor kamu pasti beli makan yang berbau pedes. Nggak baik buat perut kamu," ucapnya lembut pada Intan.
Mentari dan dafa saling memberi kode dengan kaki di bawah yang saling menendang kecil.
Ekor matanya menunjuk ke arah Bintang yang sedang menatap Intan dan Edo yang terlihat manis. Jika saja emosi itu mengeluarkan cahaya, sudah di pasti kan kepala kakaknya itu akan memancarkan cahaya melebihi lampu LED 100 watt.
"Kamu ini aja, bagus juga buat kesahatan, " Edo memilih kan salad buah dan ayam panggang dengan kentang rebus.
Intan mengangguk setuju, Bintang semakin gemas dan kesal melihat gadis di depannya menjadi gadis penurut tapi bukan pada dirinya melainkan pada lelaki lain, dan dia merasa muak dan tidak suka.
"Kak ... kakak pesen apa?" Mentari membuyarkan lamunannya yang tengah memaki kedua mahluk di depannya.
"Gue pesen nasi goreng pedes, sama ini ni... cireng bumbu rujak,"
Mentari dan Intan yang tau jika Bintang tidak kuat makan pedas menatapnya tak percaya.
"Emang kuat?" Mentari meyakinkan kakaknya.
"Kuat lah," (misi bunuh diri ini harus berhasil, semoga aja sakit membawa berkah) gumamnya dalam hati.
Pesanan mereka pun datang, dan Bintang dengan sengaja mengulur waktu untuk memakan racunnya.
Saat baru beberapa suap, perutnya sudah mulai bereaksi. Karena takut terlihat lemah, dia beralaskan untuk menelpon.
Saat keluar dari toilet untuk yang kedua kalinya, dia memesan susu untuk menetralisir rasa pedas di perutnya. Saat sedang meminum susu dingin gelas ke dua di dekat meja kasir. Dia melihat Intan jalan mendekat ke arah kamar mandi.
Bintang berdiri di lorong antara toilet wanita dan pria.
"Tan... " panggilnya
Intan menoleh dengan kaget karena panggilan Bintang.
"Bapak ngapain?"
"Lu, yang ngapain? mau manas-manasin gue? ngapain lu mau aja di atur-atur sama kucing persia?"
"Emang kenapa?"
"Mau aja lu?"
"Emang kenapa?"
"Dia siapa sih?" Bintang semakin merasa terpancing emosi nya.
"Dia temen dekat aku," jawabnya tak kalah kesal.
Bintang yang mendengar jawaban dari Intan dengan sengaja merapatkan tubuhnya pada Intan, membuat gadis itu terhimpit di antara tembok dan tubuh lelaki di depannya.
"Nih, gue kurang dekat sama lu? mau sedeket apa lagi? biar ngalahin dia," ucapnya kesal.
Dengan kasar Bintang menahan kedua tangan Intan dan mendekatkan bibirnya pada wajah Intan ...
(Intan)
(Bintang)
(Edo)
Wkwkwkw, aku galauu.... eh Intan deh🤣🤣🤣.
Bersambung ❤❤❤
Tadi malem tuh aku mau up, cuma hp kuhh demam tinggi butuh istirahat dan aku reset. Semua ketikan ilang🤧🤧. Dan butuh menghuleng demi dapet kata-kata itu lagi. Maklum memori otak ku cuma 1 giga gampang lupa🤣🤣🤧🤧.
Like nya...
Komentar nya...
dan favoritnya ya...
__ADS_1
Makasih, sehat dan bahagia buat kita semua😘😘
semoga menghibur, 😘😘.