
...🦋🦋🦋🦋🦋...
"Mas... " Intan mematung saat keluar dari pintu lift.
Bintang sedikit menarik tangannya berjalan di sepanjang lorong. Lalu berdiri di sebuah pintu kamar dengan pintu penuh dengan sticker lucu khas anak perempuan, di sana ada tulisan Helen Dafanya, Intan langsung berpikir bahwa ini adalah apartemen milik Mentari atau pun pak Dafa.
Bintang masuk terburu-buru, sesuatu sudah mendesak keluar di kerongkongan nya.
Intan masih mematung di ambang pintu, merasa takut akan sesuatu. Dirinya takut jika Bintang akan melakukan hal yang tidak-tidak. Tapi untuk meninggalkan nya rasanya tidak tega, karena semua di sebabkan oleh usaha mereka yang mencari kakang nya. Belum lagi satu beban yang harus di pukul Bintang. Mencari uang yang banyak hanya untuk agar Kakang nya mau menjadi wali pernikahan mereka.
Terdengar suara muntah dari kamar mandi, dan dengan memberanikan diri Intan menghampiri. Masuk ke kamar dan berjalan di mana suara Bintang terdengar.
"Mas.. " panggilnya saat mendapati Bintang sedang menunduk di atas kloset.
Bintang menekan tombol flash, dan berjalan ke arah wastafel mencuci muka dan berkumur.
Wajahnya memerah dengan mata dan hidung yang berair.
Lalu Intan mengambil sebuah handuk yang menggantung.
"Mau teh manis panas?" Intan menawari saat melihat Bintang meringis sambil berjalan ke arah tempat tidur.
"Mau?" tanyanya lagi.
Bintang mengangguk kecil.
Intan berjalan ke arah dapur kecil di yang terdapat di bagian depan.
Intan mencoba menyalakan kompor namun gagal, lalu dia mencoba mengutak-atik tapi tetap tidak menyala.
Saat membuka bagian bawah kompor itu, ternyata si selang nya memang di lepas dari gas.
Saat akan memasang nya, tangan Bintang menyambar nya langsung.
"Panggil aku, ini bukan kerjaan perempuan." Omel nya.
Intan mundur beberapa langkah, "Aku bisa kok,"
"Tapi, kalo ada aku biarin jadi kerjaan aku!"
Intan tersenyum, "kata othor nya jangan manja, itti aja bisa benerin Sanyo air. Kan keren!"
me: 🙄🙄 keren karena kepaksa, aku juga pengen lah apa-apa kek ratu, apa daya kalo raja lagi nggak ada. Harus bisa lah🤣🤣🤣🤣. ( sampah ini. Skeeep aja😝😝🏃♀🏃♀🏃♀)
"Ck, itti jangan di jadiin panutan, sesat."
me: bagooss gue siksa lagi lu bibin🤣🤣🤣
"Udah lah, nggak usah ngomongin orang nggak penting, nih gas nya udah kepasang. Apartemen ini kan udah lama nggak di tempatin jadi aku lepas-lepasin biar aman," ujarnya.
Intan mengambil sebuah panci kecil yang menggantung di atas bakal cuci piring.
"Kalo, udah agak enakan kita beli bahan makanan ya ke minimarket di bawah," ucapnya sambil berjalan ke arah meja makan minimalis tak jauh dari kompor itu berada.
Intan seketika menoleh, "kita mau nginep?" tanyanya panik.
Bintang hanya mengangguk kecil.
"Tapi, ... "
"Aku nggak ngapa-ngapain kok. Kecuali kalo kamu mau, ya aku siap," Bintang tertawa kencang saat Intan melotot lebih arahnya, karena memang dia hanya berniat menggoda Intan saja. Mana berani dia belum sah udah main ehmm aja.
"Lagian, kalo sekarang pulang, Bunda pasti panil liat muka anaknya yang handsome kayak gini. Dan aku nggak mau nama kakang kamu jelek di mereka, bagaimana dia itu kakang kamu." ucapnya bijak.
Intan mengangguk, pikiran nya takjub ke lelaki di hadapan nya itu.
"Terus alesan ke Bunda?" Intan bertanya.
__ADS_1
"Aku bilang kita ke Jakarta, ngambil baju kamu. Tapi aku nggak bohong, kita besok ke sana ya!" Ajak Bintang.
Lagi-lagi Intan mengangguk senang.
*
*
Mereka berjalan menyusuri lorong apartemen itu menuju lift yang berada di ujung lorong.
"Mas, itu apartemen siapa?" tanyanya.
Bintang yang sedang mengirim pesan pada Bunda nya langsung menoleh, "punya Mentari waktu dia lagi kabur dari Dafa." ujarnya.
Intan menatap dengan kening yang mengerut.
"Serius?"
"Iya, kamu kira mereka ngejalanin rumah tangga langsung enak? mereka lebih parah dari kita."
"Tapi, yang bikin susah nya aku. Jadi ini serasa karma yang di bayar lunas, kalo Dafa tau udah lah mati gue di ledekin balik sama dia." kekehnya mengeratkan rangkulan tangannya pada pundak Intan, saat pintu lift terbuka.
Intan menahan senyum, ingin bertanya lebih tapi di dalam lift itu ada pasangan lain juga.
Mereka berjalan keluar dari lift menuju minimarket di luar apartemen.
"Mas, pasangan tadi juga masuk ke minimarket. Aku kira mau kemana, soalnya keluar nya rusuh."
Saat mereka masuk berpapasan dengan pasangan itu yang sedang berdiri di depan kasir, sedang beradu argumentasi tentang rasa kotak kecil yang mereka pegang.
"Aku yang ini aja," ucapan si perempuan
"Yang bergerigi aja," tawar sang pria.
"Nggak, ah. Ngilu, udahnya pedih." Tolak si perempuan.
Lalu mereka saling pandang dan hampir saja meledakan tawanya. Kalo saja Intan tidak mencubit pinggangnya, mungkin dia kanan terbahak.
"Masalah sarung aja di debatin. Inget ya, sayang... aku nggak mau pake begituan," ucap Bintang pada Intan.
Intan hanya melengos malas namun wajahnya merona, memikirkan isian sarung itu seperti apa. Dia tersenyum tanpa dia sadari Bintang melihatnya.
Tuk...
"Jangan Viktor, kamu pasti bayangin pyton aku pake sarung ya?" Bintang menyentil kening Intan pelan.
Intan langsung membekap mulut nya yang asal bicara.
"Kalo ngomong suka nggak liat tempat," omel nya.
Setelah berkeliling minimarket, membawa satu keranjang berisi telor, mie instan, sosis, nuget dan beberapa cemilan dan minuman mereka berjalan ke arah kasir.
Si kasir tersenyum ramah.
Dengan jahilnya Bintang memegang dus kecil berisikan saring pyton beraneka rasa.
"Mau sekalian, Mas?" tanya si kasir yang mmang sudah terbiasa melayani pasangan yang membeli sarung.
"Nggak lah, Mba. Biar cebongnya berkelana di dalam sana jadi bayi gemoy," ucapnya asal.
"Mas.. " Intan mencubit pinggang Bintang, kepalanya sudah di sandarkan di lengan Bintang.
Si kasir hanya tertawa canggung.
Mereka keluar minimarket dengan wajah Intan yang cemberut namun merona.
"Maaf, sayang... aku becanda, "
__ADS_1
Intan hanya diam membuang pandangan nya ke arah lain.
"Tan.. jangan marah, aku cium kamu di sini mau?" ancamnya.
Intan langsung memukulnya dengan kesal namun tertawa, dia harus menyiapkan mental untuk meladeni segala sifat dan tingkah ajaib Bintang.
Tanpa sengaja kaki Intan tersandung dan membuatnya meringis kesakitan.
"Tan... " Bintang memekik hawatir.
"Sakit," Intan meringis sambil tertatih di bantu Bintang berdiri.
Bintang berjongkok melihat pergelangan kaki Intan yang memang terlihat merah.
"Duh, kecil gini. Isinya gedein dikit. " Bintang malah mengatakan kata yang membuat Intan sedikit tak enak.
"Makanya jangan nikah sama cungkring, sana cari yang semok kayak Itti."
me: yesss akhirnya di akui😝😝🤣🤣
"Eh, bukan gitu maksudnya. a-aku mau sama yang cungkring aja biar bisa di puter balik sesuka hati." Bintang gelagapan
"Emangnya aku baling-baling doraemon?" Intan balik bertanya dengan ketus.
"Ayo, aku gendong ke atas?"
"Ogah,"
"Ayo, aku jadi kuda kamu! buruan naik?" Bintang membungkukkan tubuh nya di depan Intan.
Intan yang merasa memang sepi, lalu dengan senang hati ingin mengerjai Bintang yang sudah membuatnya kesal sejak tadi.
"Perut kamu?"
"Nggak apa2, nanti bikinin telor Negro ya! yang tadi keluar semua."
"Iyuuuhhh, nggak usah di jelasin."
"Ayo, buruan!" Titahnya saat pintu lift terbuka.
Lalu intan sedikit loncat ke punggung Bintang.
"Berat nggak?" Intan bertanya.
"Duh pertanyaan jebakan, aku jawab berat salah, ntar aku jawab ringan juga salah. Aku jawab kuat aja lah,"
Lalu mereka bedua tertawa di sepanjang lorong menuju kamar apartemen milik Mentari.
Buat bayangan doang ya, 🤣🤣🤣.
Bersambung ❤❤❤
Like
Komen
Favoritnya
Komennya aku tunggu ya, otw cetak undangan nih🤣🤣🤣
Pengen tau harapan kalian buat mereka apa sih?
Lempeng tapi nggak ada hambatan
Sengklek tapi berliku cobaan
Mau yang mana? 🤣🤣🤣
__ADS_1
Kalo yang penasaran sama Intan yang lagi di gendong, PC aku aja🤣🤣🤣 di sini kena tegur kayaknya. Ntar aku kirim gambar nya🤣🤣