Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
ambil jatah


__ADS_3

...---oOo---...


Waktu berjalan cepat, kandungan Intan memasuki usia menuju empat bulan. Bintang benar memberikan perhatian ekstra untuk si istri, sampai dia jarang sekali meninggalkan nya seorang diri.


Aktivitas menggantikan pekerjaan sang istri ternyata benar-benar melelahkan. Dia mencoba menyesuaikan jadwal seperti yang Intan lakukan. Mulai bangun jam lima langsung nyapu ngepel satu rumah, membereskan rumah yang berantakan. Setelah itu membuat sarapan, lalu langit mulai terang dia akan menyapu halaman sambil memberi makan si Rosalinda, Cicit, Cuit, dan genk geboy. Baru dia bisa mandi. Agak siangan dia akan mencuci baju terus di jemur, lalu menyetrika pakaian yang sudah kering. Terus memasak untuk makan malam dirinya.


Luar biasa melelahkan menjadi seorang istri. Apalagi kadang istri nya itu mengecek kedai dan pergi ke rumah Bunda atau mengunjungi para keponakan. Bagaimana bisa perempuan membagi waktu sepadat itu dengan mudah dan terlihat santai. Dia menyerah dan akhirnya membujuk si istri agar mau mempekerjakan seorang asisten rumah tangga.


"Yank," panggilnya saat masuk ke kamar si istri sedang terpaku di depan cermin, hanya dengan selembar handuk yang melilit.


"Kenapa? ada yang kerasa?" Bintang bertanya seraya menghampiri.


Intan melirik sesaat. "Ang, aku gendut banget." Suaranya terdengar sedih.


Bintang tersenyum lalu duduk di sofa mengeluarkan laptop dan berkas yang baru dia ambil dari kantor, saat abang nya menelpon ada pekerjaan yang harus dia selesai kan.


"Biarin, asal kalian sehat. Aku mah iyes aja,"


"Udah, naik 7 kilo baru mau empat bulan. Perjalanan masih jauh," keluhnya.


Bintang yang sudah memulai pekerjaannya langsung menoleh. "Apa sih? yang gitu di pikirin. Yang penting sehat,"


"Alah, nanti aku gendut kamu lirik-lirik yang langsing ... "


"Heh, kalo ngomong suka macem-macem. Kamu tau ucapan adalah doa? mau emang aku gitu?" tanyanya dengan nada tak suka.


"Terserah, aku pergi aja sama anak-anak aku." Intan membuka lemari sambil mengerucut kan bibir nya.


Terdengar helaan nafas dari Bintang.


"Kamu yang mulai, kamu yang kesel juga. Aneh," katanya menyimpan si laptop dan bangkit dari duduknya berjalan ke arah si istri.


Memeluk tubuh berbalut handuk itu. Mengusap lembut perut dimana anak-anak nya sedang tumbuh.


"Denger,"


"Dengerin aku ngga?" katanya lagi.


Intan di sibukkan dengan memilih baju yang akan dia kenakan.


"Apa?" kepalanya sedikit menoleh. Dan tatapan mereka pun saling bertemu.


"Perjalanan kita sampai di titik ini belibet, susah, rumit. Banyak air mata, kekesalan, canda tawa. Masa aku mau ngelepasin kamu gitu aja. Apalagi ngancem mau bawa anak-anak. Emangnya itu anak-anak kamu doang apa?"


Intan terdiam dengan memegang kain segitiga berenda berwarna merah di tangannya.


"Ya, kan aku takut. Katanya laki-laki ngga suka yang gendut."


"Kata siapa?" Bintang memotong ucapan si istri dan memutar tubuhnya agar mereka berhadapan.


"Aku sering ngajak kamu makan itu biar kamu gemuk. Ngga kurus, kek aku nggak ngasih makan aja." Terangnya mengecupi pipi dingin si istri.


Intan mengusap lembut wajah Bintang. Sambil mengangguk dan tersenyum . Senyum itu hilang saat Bintang menatap nya dengan seringai jahat.

__ADS_1


"Apa?" Intan membuat jarak dengan sang suami.


"Si twins tega banget sama Papi nya. Di pangkas abis tuh jatah ketemuannya." Bintang menarik pinggang si istri agar kembali menempel padanya.


"Aku kalo kelamaan gitu, jadi durasi sebentar lagi. Bikin malu," katanya.


Intan menahan senyum, "ngga bisa pake jamu lagi ya?"


"Iyalah, ngga mungkin. Nanti bar-bar malah ganggu si twins."


"Nah, itu tau. Kan emang demi si twins."


"Terus, ngga ada gitu yang mikirin aku?"


Intan menatapnya nyalang.


"Ang, walaupun jatah kamu cuma jadi seminggu sekali. Tapi kan aku sering bantuin kamu, ishh sebel." Intan memukul dada suaminya.


Bintang tergelak lalu memeluk si istri yang tengah merajuk. Dengan jahilnya dia melepaskan ujung handuk yang di selipkan di pinggiran lipatan tangan Intan.


"Argghh ... Ang, iseng." Intan hendak menunduk memungut handuk. Namun dengan sigap Bintang langsung menahannya.


Bintang mengambil handuk yang tergeletak di kaki si istri. Bukan untuk kembali di lingkarkan pada Intan. Dia lempar ke arah sofa.


"Ang ... " Intan menggeram kesal.


"Mau, ya! please, lima menit. Janji," Bintang memohon, tangannya mengambil kain rendah segitiga di tangan Intan. Dan dia lempar asal.


Intan sudah memejamkan mata, menahan emosi. n


"Yuk, Mih ... Papi bantu jalan," di rangkul nya menuju tempat tidur mereka.


"Ang, ini udah siang. Katanya banyak kerjaan!" Intan mencoba menampik.


Bintang menuli seperti biasa.


"Jatahnya juga dua hari lagi," omelan Intan masih berlanjut.


"Ang," Intan memekik saat si suami merebahkan tubuhnya.


"Sebentar doang. Janji, duh. Udah mau keluar!" katanya beralaskan.


Intan memicing. Wajahnya memerah antara kesal dan menahan tawa saat si suami terburu melepas semua kain yang melekat di tubuhnya.


Kegiatan itu pun berlangsung. Di pagi menuju siang mereka bergelung dengan aktivitas melelahkan namun menyenangkan.


Sedang fokus mengejar puncak, sebuah ketukan terdengar.


Bintang memejamkan matanya kesal namun tak menghentikan gerakannya.


"Pak, Bu. Ini ada paket COD. Tapi belum di bayar," Terang si bibik di balik pintu.


"Be-bentar Bik, belum keluar!"

__ADS_1


Intan menghadiahi sebuah geplakan pada lengan si suami yang tengah menjuntai melingkupi tubuhnya.


"Apanya pak? saya suruh keluar? wong mas nya emang di luar," katanya menyahuti ucapan Bintang.


"Airnya belum keluar," Bintang menggumam pelan, hanya Intan yang bisa mendengarnya.


Intan menahan tawa.


"Fokus, Yank. Nanti aku doang yang keluar, kamu ngomel. Padahal kamu yang susah fokus," Bintang berkata dengan pergerakan yang semakin menjadi.


"Aduh, ini kenapa jadi sinyal semua, menul-menul enak ini," Dia terus meracau. Sesekali tangannya mengusap mencoba menenangkan anak-anak mereka.


Kepalanya menunduk memperhatikan bagian perut. mereka. "Yank, bukan perut kamu aja yang membesar. Liat perut aku juga! astaga, bener-bener buncit."


"Kalo kamu ngidam, ya makanan nya abisin. Jangan cuma segigit, terus aku yang harus ngabisin!"


"Ang, berisik." Intan rasa-rasanya ingin membekap mulut si suami. Dia hampir mencapai puncak, dan ocehan si suami terus merusak suasananya.


Suara desa*han Intan mengeras saat si suami menunduk menyesap bulatan kembar yang sebentar lagi akan di ambil alih oleh anak-anak mereka.


"Aduh, Ang ... " Intan berpegangan ke pundak suaminya yang sedang fokus menyesap dan bergerak dengan tempo yang semakin cepat.


"Ang, bentar lagi." Katanya.


Bintang langsung melu*mat bibirnya. Sambil mengerang.


"Ishhh ... aku bentar lagi," Intan menggerutu kesal saat merasakan di bawahnya si suami sudah memuntahkan sesuatu yang hangat.


"Maaf, aku bilang kan tadi cuma sebentar. Lagian kamu ngga fokus, malah marah-marah." Bintang membela diri.


Intan mendorong suaminya, hingga penyatuan itu terlepas. "Ngotorin doang,"


"Aku janji, ntar malem deh. Durasi pasti lebih lama." Bintang mengambil kaosnya untuk melap miliknya.


Intan bangun sedikit menyentak. "Modus kamu, ngga ada. Nanti malem, tidur di kamar tamu. Aku sama anak-anak ngga mau di ganggu!"


Sebelum masuk ke kamar mandi Intan menoleh.


"Keluar sana, bayar paket COD." Lalu dentuman pintu kamar mandi menggema di kamar itu.


***


Tergesa-gesa mengenakan pakaian nya, lalu menyambar dompet. Bintang membuka pintu kamar nya.


"Aduh ... " Dia kaget saat si bibik berada tepat di depan pintu kamar.


"Ibu kenapa Pak? marah?"


Bintang terkikik kecil. "Bibik, kepo. Bukan marah, tapi lagi gemes sama saya!" katanya lalu berjalan keluar menuju tukang paket.


Bibik melihat keadaan kamar yang acak jadul, bahkan handuk dan pakaian majikannya berceceran di mana-mana.


"Eum, marahan iki. Mungkin Bapak minta nambah," Dia menutup mulutnya lalu menutup pintu kamar majikannya.

__ADS_1


Bersambung❤❤


Komennya makin sepi🤧 Aku sedih 😭Tapi lope2 buat yang masih memberikan perhatiannya.


__ADS_2