
...---oOo---...
Pagi hari
"Ayah berangkat, nggak nyampe sore kayaknya udah pulang," pamit Ayah saat akan memasuki mobilnya.
Bunda hanya mengangguk.
"Pulang, anak mu Bun?" ucap Ayah saat melihat mobil nya yang kemarin di pakai Bintang sudah terparkir di halaman rumah.
"Anak ku, kayak nggak berkontribusi aja bilang nya cuma anak Bunda doang!" Bunda mencibir suaminya.
Ayah hanya tertawa lalu masuk ke dalam mobil. Mobil pun bergerak keluar dari pekarangan.
Bunda langsung mengambil selang air dan langsung menyiram tanaman-tanaman kesayangannya.
Mbok Tini menghampiri dengan tergesa-gesa. "Bu, hp nya bunyi," pengasuh anak-anaknya sejak dulu itu menghampiri dengan menggenggam ponsel miliknya.
"Makasih, Mbok." Lalu dia langsung mengulir layar ponselnya.
Matanya membulat saat melihat pesan masuk itu.
Lalu dia segera menghubungi putrinya.
"Gimana sayang?"
"Kak Bintang sama teh Intan malem pamit mau ketemu sama kakangnya, tapi nggak ada pulang. Kakak pulang nggak? Ponsel nya juga nggak aktif, yang kakak nggak di angkat." Mentari terlihat cemas .
Bunda menegang, "kakak kamu pulang kok. Mungkin Intan pulang ke kakangnya," Bunda mencoba berpikir positif.
Panggilan pun berakhir.
Dirinya langsung melempar selang air begitu saja, feeling nya tiba-tiba tidak enak.
Saat memasuki rumah terdengar suara berbicara di arah dapur.
"Iya, malem pulang sama neng Intan. Di tungguin sampe jam 2 nggak ada keluar lagi. Ya udah saya tinggal tidur," kata mang asep bercerita pada Mbok Tini.
"Masa? si aden nggak mungkin gitu. Aduh pengen di siksa Bapak," ucapnya.
Bunda menegang di dekat tangga. Tiba-tiba tubuhnya lemas bergetar, dia langsung menaiki tangga menuju kamar anaknya.
Saat membuka pintu dan melihat kamar masih gelap dia bergegas menyalakan saklar lampu.
Alangkah kagetnya dia saat melihat sepasang manusia tidur saling berpelukan. Dia menjerit tangannya mengambil raket nyamuk yang menggantung di dekat pintu.
"Kakkkkk ... gusti .... kamu ngapain,"
Tangannya memukuli badan anaknya yang tengah memeluk Intan.
"Addaaww ... Bun ... ampun, Aww... Aw... " Bintang mengaduh mencoba menangkis pukulan dari Bunda nya.
Intan yang di sebelah nya ikut terduduk kaget.
"Kamu, ke rayu si budak sengklek ini? kamu di paksa pasti?" Bunda bertanya pada Intan yang masih kaget.
"Bun, dengerin dulu. Kita udah nikah," Bintang akhirnya mengaku.
Bunda yang masih memukulinya langsung terdiam mematung, "Apa? kamu bilang apa?"
"Kita udah nikah tapi baru nikah Agama semalem. Kakangnya yang minta, soalnya pas hari H takut nggak bisa dateng," terangnya sambil mengusap Keningnya yang terasa benjol.
"Bohong kamu, pasti alesan gara-gara keciduk Bunda!" omel nya.
Bintang mengambil ponselnya, "Nih, Bunda liat rekamannya," Bintang membuka video di ponselnya di mana dirinya sedang mengucapkan ijab qobul dengan menjabat tangan kakak iparnya itu.
Bunda terus memutar ulang video itu, lalu terduduk lemas di atas kasur.
Malah menangis merasa lega pikiran buruknya tidak terbukti. "Syukur, kalo gitu. Jantung bunda udah mau copot liat kamu nemplok kayak cicak di dinding," Bunda menatap ke arah anak dan perempuan yang kini sudah menjadi menantunya.
"Maaf, Bun. Kalo nanti acara nya jadi berubah hanya resepsi nggak apa-apa kan?" Intan terlihat gugup.
Bunda langsung menarik nya ke dalam pelukannya, "Bunda malah bersyukur kalian udah halal, tiap waktu Bunda ngeri kalo kamu bakal ke hasut setan," katanya sambil melirik anaknya yang tengah mengusap kening benjol nya.
"Ya, udah Bunda mau tlp WO nya biar ngerubah sesi acaranya!" Wanita tua itu kemudian keluar dari kamar putranya.
*
*
__ADS_1
*
Intan kembali merebahkan tubuhnya.
"Kaget, jadi lemes." Gumamnya.
Bintang ikut berbaring, "Sama, aku juga kaget tapi jadi keras!"
Intan menoleh, "Keras?" dia membeo.
Bintang menyeringai, "iya, keras dan kekar. Mau kenalan?" tanyanya.
Intan tau kemana arah pembicaraan itu, langsung membalikan tubuhnya memunggungi suaminya.
Bintang langsung memeluk istrinya.
"Ayo, aku kenalin!"
"Bisa sabar nggak?" Intan sedikit menoleh pada suaminya.
Bintang merasa aneh.
"Aku sabar kok, tapi pyton nggak! gimana?" tanyanya lembut di balik leher Intan.
Intan berbalik lalu tersenyum.
"Aku nggak mau, tapi takut dosa!" tatapannya menatap ke arah sang suami.
Bintang menyeringai, "kamu sholehah banget. Makin cinta aku ... " Bintang mengecup pucuk kepalanya, memeluknya erat. Sambil menekankan sesuatu.
"Tuh, Yang ... kerasa nggak? dia pengen kenalan!"
"Si pyton udah nggak sabar," tambahnya lagi.
Intan yang berada di pelukannya mendongak, "gimana? kayak yang waktu di apartemen?" tanyanya
"Lebih dong, sekarang kan udah bebas."
"Gimana?"
"Pegang kek, ntar ke sana nya aku pasrah. Bebas kamu mau bereksperimen seperti apa?"
Intan mengernyit, "malu,"
"Sekarang malu, nanti kamu ketagihan Percaya deh!"
godanya.
Intan diam dengan ragu mengulurkan tangannya ke bawah. Bintang sudah membayangkan yang indah dan fantasi liar berputar-putar di kepalanya.
Bintang bahkan sudah merasakan nafasnya yang berat, dan susahnya saliva dia telan.
Saat pintu kamar kebuka lebar menampilkan Bunda yang masuk tiba-tiba.
"Astaga ... Bun," eranganya frustasi.
"Apa? Bunda mau ngajak menantu Bunda makan. Jangan terus kamu unyeng-unyeng. Udah jam sembilan belum sarapan. Ayo, sayang Bunda tunggu di teras belakang," lalu wanita tua itu melenggang dengan santainya ke luar kamar.
"Bunda, aku belum apa-apain menantu mu ini!"
"Sayang ... " rengek nya saat melihat Intan turun dari kasur melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Bintang mendengus kesal, dia menendang-nendang angin saking kesalnya.
*
*
Intan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk dan rambut yang tergulung handuk kecil.
Terlihat suaminya itu sedang duduk di balkon bertemankan asap rokok elektrik yang mengepul.
Intan melamun, pasalnya dia tidak membawa baju ganti. Lalu dia harus memakai apa.
"Mas ... " panggilnya.
Bintang diam tidak menjawab.
"Mas, aku nggak bawa baju. Ini gimana turun ke bawah?" tanyanya.
__ADS_1
Baru juga membuka pintu kamar hendak meminjam baju milik Mentari yang kini telah menjadi adik iparnya, sebuah tangan terulur menahan pintu.
"Ngapain?" Bintang sudah berada di balakang tubuhnya.
"Mau minjem baju Bu Mentari,"
"Bu ... Bu, dia itu adik ipar kamu sekarang, lagian umurnya juga di bawah kamu!" Intan menertawakan suaminya yang bicara dengan raut wajah kesal.
"Kenapa sih?" tanyanya sambil tertawa.
Bintang mendengus sebal dengan raut wajah tak enak di lihat.
Lalu dia menarik tengkuk istrinya dengan sebelah tangan, dan langsung menyambar belahan mungil yang selalu menggoda otaknya untuk berpikir liar.
Pautan itu sedikit menggebu, pasalnya dia sudah menahan dari semalam. Dan istrinya yang wangi memabukkan malah semakin meruntuhkan pertahanannya. Tangan sebelah nya langsung memutar kunci pintu.
Intan menahan tubuh suaminya yang semakin menekannya.
"Mas ... " ucapnya saat pautan itu terlepas.
Bintang menyeringai lalu mengangkat tubuh itu berjalan ke arah tempat tidur.
Intan menahan senyum nya sambil menikmati degup jantung yang berdetak kencang.
Di baringkannya tubuh sang istri.
Lalu kembali memagutnya.
Intan mulai larut dalam permainan nya, tangannya dia arahkan ke sesuatu yang mengeras bernama Pyton.
"Iya ... itu sayang," Bintang memejamkan matanya menikmati usapan di bagian tubuh yang paling di banggakan nya.
Akhirnya... akhirnya si pyton akan muntah di tangan si empunya. Gumamnya dalam hati.
Intan melepaskan tangannya itu.
Bintang langsung membuka matanya, "kenapa?"
"Ngeri, keras banget. Nggak akan patah?" tanyanya dengan polos.
"Sayaaaannnggg ... " Bintang mengerang frustasi, pertanyaan konyol macam apa itu?
"Aku takut, takut patah." Intan kembali menggelengkan kepalanya.
Bintang langsung mengambil ponselnya, membuka folder koleksi nya. Dan menyuruh istrinya untuk menonton itu hingga habis.
Intan menontonnya dengan serius, dia sudah membulatkan tekat ingin melayani suaminya dengan baik. Kadang dia meringis, kadang menahan tawa, dan kadang merasa jijik.
Bintang mengabsen setiap inci tubuh yang telah hak paten miliknya. Hingga sesuatu yang menyembul itu mengintip di balik handuk.
Dengan iseng namun bermain halus dan cantik, Bintang menyusupkan tangannya dan mengelus lembutnya bakpao hangat isi daging itu.
Matanya memejam menikmati itu semua, seandainya penghalang itu tidak ada seperti nya dia sudah berkali-kali tamasya di dalam sana. Pikirnya.
Intan masih serius menyaksikan pembelajaran yang di suruh suaminya hapalkan.
Saat sesuatu dia rasakan, terasa geli ... sakit tapi enak ...
Dia mele*nguh lalu menunduk melihat tangan suaminya sedang memi*lin dadanya.
"Mass ... "
"Apa? enak? aku tau... aku juga ngerasain yang sama ... " bisiknya di ceruk leher istrinya.
"Ayo, kita travelling! gimana aja lah. Pasti banyak jalan menuju ... "
"Egois!" Intan mencibir.
"Yang kamu nanti aku rapel, suer dah. Aku buat kamu ehemmm berkali-kali,"
"Eh, nggak janji deh ... aku nggak tau kemampuan aku sampe mana!" Bintang terkikik geli dengan tangan yang masih setia mengusap gemas bakpao itu.
Intan hanya diam merasakan perasaan aneh yang dia rasakan untuk pertama kalinya. Keduanya sama-sama sedang menikmati sensasi baru yang tengah mereka rasakan
Bersambung β€β€β€
Like
komen
__ADS_1
favoritnya
Kabooorπββπββπββπββπββ