Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Unboxing


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


"Kamu, tega banget Yang.... "


"Tega apa?"


"Nggak ngasih tau aku, kalo kamu udah selesai. Kok belum seminggu udah selesai?"


"Huum, nggak pasti ada yang 4, 5 paling lama seminggu." Katanya menjeleskan.


Bintang mendengus kesal, tiba-tiba otak liar nya bekerja untuk membalas semua kecurangan sang istri.


"Mas, bantuin aku buka sanggul!" Intan sudah duduk di depan meja hias di closet room yang ada di dekat kamar mandi.


Bintang langsung membuka celananya menyisakan kaos dalam dan celana boxer ketatnya.


Dia berjalan dengan segala macam akal bulus dan misi balas dendam nya.


"Sini!"


Intan yang melihat kedatangan sang suami, dari pantulan cermin dia melihat tubuh itu. Memang bukan yang pertama kali dia melihat suaminya seperti itu , namun selalu berdebar. Apalagi dia meyakini hari itu dia tidak akan di lepaskan, suaminya sudah menunggu terlalu lama untuk meminta hak nya.


Bintang berdiri di belakang tubuh sang istri yang terduduk di depan meja hias.


Satu persatu jepit dari sekian puluh yang tertanam di rambut sang istri berhasil di lepaskan.


Lelaki itu masih meraba-raba kepala istrinya


"Nyari apa lagi?" tanya Intan


"Nggak, cuma mastiin. Takutnya ada paku di ubun-ubun kamu!" ucapnya sambil terkikik geli.


Intan berbalik dan menatap nyalang suaminya, "kamu anggap aku mba kunkun apa?" tanyanya sinis.


"Hahahaha bercanda sayang," ucapnya sambil menunduk mengecup kening Intan.


Intan memejam menikmati sensasi kecupan hangat itu.


"Jangan merem dulu, ini belum yang enak. Apalagi nanti udah yang hot markotop," godanya.


Intan membuka matanya , dan tersipu malu.


"Apa sih?" ucapnya malu-malu.


Bintang memeluk tubuh itu, hingga kepala Intan bersandar di perut Bintang.


"Bangun!" Bintang menarik pelan tangan Intan hingga perempuan itu bangkit dari duduknya.


Bintang membuka kancing kebaya itu satu persatu, lalu meloloskan nya menyisakan kemben bertulang membentuk tubuh istrinya yang langsing namun memiliki dada yang padat dan bulat sempurna.


"Sebentar, ini rambutnya gimana?"


Mereka berdua menatap pantulan rambut Intan yang menyisakan rambut mengembang seperti singa.


"Coba sisir," usul lelaki itu.


Intan pun menurutinya.


"Mas, ini gimana ya cara ngilangin hair spray nya?" Intan sudah mulai frustasi karena tidak bisa menjinakkan rambutnya yang keras.


Bintang diam sebentar, "Tunggu, bawa bedak tabur nggak?" tanyanya

__ADS_1


Intan menggeleng, "nggak," jawabnya kecewa.


"Udah lah biarin, yuk."


"Kemana?" tanya Intan.


"Unboxing yang tertunda seminggu, aku pengen nyoba. Udah nggak tahan pengen cobain nikmat nya surga dunia." Bintang sedikit menariknya masuk ke dalam kamar.


"Mas, bentar. Liat aku belum ganti baju loh? lagian rambut belum bener, aku nggak mau kamu nganggep aku nanti kayak mak Lampir," Intan menarik tangannya dari genggaman suaminya.


Bintang menoleh, "nggak akan. Rambut nggak ngaruh, aku kan nggak pake lubang telinga kamu. Jadi rambut mau kayak apa aja, nggak masalah!"


"Lubang telinga? dasar gila!"


"Iya, aku tergila-gila. Buruan," ajaknya lagi.


Intan diam sebuah ide meluncur di kepalanya.


"Beliin bedak tabur, nanti udah bener rambut aku, aku mandi terus dandan yang seksoy buat kamu biar nggak kalah sama suster bahenol itu,"


Bintang berdecak. "Bisa nggak sih nggak ngomongin si sundel?" nadanya agak meninggi.


Intan mendekati suaminya yang berdiri di dekat ranjang yang berhiaskan hamparan kelopak bunga mawar. "Iya, sayang. Maaf, ayo cariin dulu bedak. Biar kegiatan kita berkesan dengan kesiapan yang maksimal dan sempurna," Intan sengaja mengecup singkat bibir suaminya.


Bintang menegang, rasanya ingin melompat bersama ke atas tempat tidur.


"Lamaan... " Bintang menarik pinggang itu hingga tak berjarak .


Lalu Bintang meraup bibir istrinya dan mengecap nya lembut dengan sangat menghayati.


Intan melingkarkan tangannya memeluk tubuh sang suami. Pautan itu berlangsung cukup lama, dengan akhir yang memusingkan untuk Bintang.


Lelaki itu menggerutu saat mengakhiri sesi kecupan yang semakin lama semakin membuatnya tegang dan terengah-engah.


Intan mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya.


Bintang keluar dari kamar dengan menggerutu.


*


*


Intan masih dengan kemben dan kain jarik yang melingkari tubuh bagian bawahnya.


Dia berjalan ke lemari pendingin kecil di dekat meja tv. Dia membuka dan mengambil minuman teh berperasa buah.


Berdiri di depan balkon saat matahari hampir tenggelam, langit yang berwarna jingga sangat indah dia pandangi sambil mengukir senyum.


Setelah menenggak nya beberapa teguk, pandangan nya tertuju pada tumpukan kado di ujung ruangan.


Wajahnya ceria menghampiri tumpukan kado itu.


Dia mengambil satu kado yang paling kecil, "apa ini? kok tipis?" Intan menggerak-gerakan kado itu.


Saat pintu terdengar di ketuk, terlihat suaminya menenteng kantung keresek berisikan satu botol sedang bedak bayi.


"Ughh ... makasih suamiku," Intan merayu seraya mengambil bungkusan di tangan suaminya.


Bintang tersenyum merangkul pundak istrinya sambil memasuki kamar hotel yang mereka tempati.


"Buruan beresin rambut, mandi terus ehmm ... " Bintang menyengir bersemangat.

__ADS_1


"Ehmmm ? apa?"


Bintang melipat bibirnya menahan gemas.


"Buruan lah,"


Intan malah belok kembali ke tempat terdapatnya tumpukan kado.


"Eh ... eh, mau kemana itu? kamar mandi ke sini neng geulis, ratu hatiku, pujaan akang," Bintang menghampiri istrinya yang terduduk di dekat kado.


Intan menyodorkan bedak bayi itu, "tabur intan di rambut aku terus sisirin, aku sambil mau buka kado boleh?" tanyanya.


Bintang mengangguk semakin cepat dia membereskan rambut singa bin mak Lampir itu semakin cepat dia bisa mene*lanjangi istrinya.


"Hah... apa ini?" Intan terbahak saat membuka isi kado yang dia buka satu kotak sepatu berisikan kertas amplas dan hand sanitizer.


Lalu dia kembali terbahak saat membuka bungkusan satu dus berisi sampo.


Bintang jadi penasaran dia ikut duduk dan membuka satu kotak kecil, "wah, voucher belanja di minimarket alfajuni lima ratus ribu, lumayan ini. Yang," soraknya gembira.


Lalu dia membuka satu kotak lagi, "wah sprei ini, lumayan buat ganti takutnya kena muntahan si pyton!" gumamnya mendapat cibiran dari Intan.


Intan mengambil satu kotak kecil lainnya, "apa ini?" agak berat dia menimbang-nimbang apa isinya.


Setelah di buka isinya jamu obat tolak tornado, adalagi satu kotak lagi-lagi berisi sprei, "Banyak gantinya ini sprei!" Bintang terlihat sumringah. Dia melupakan misi awalnya untuk segera membereskan rambut mak Lampir istrinya itu.


Terdapat bermacam kado mulai dari sprei, handuk, sampo, amplas, hand sanitizer, tisu basah, tisu dua ribuan yang sering di jual di tukang cangcimen, tisu magic, jamu kuat, jamu tolak tornado, ada juga beberapa lingerie, dan ce*lana da*lam yang berlosin-losin. Ada juga beberapa voucher belanja di minimarket, voucher menginap di hotel dan ada juga yang mengirim flashdisk yang isinya tutorial berbagai macam gaya.


Kado yang paling besar namun paling ringan adalah sebuah dua kulkas satu pintu yang di dalamnya terdapat tisu magic. "Apa-apaan ini? dia kira aku nggak kuat apa?" Bintang menggerutu kesal.


Intan menoleh ke arahnya, "emang kuat? udah uji coba?" Intan menginterogasi suaminya.


Bintang terlihat panik, "Eh, nggak gitu sayang. Maksudnya aku ini kuat, walaupun belum uji coba tapi aku akan sekuat tenaga mengg*gahi kamu dengan per*kasa tentunya," ucapnya panik.


Bisa ambyar malam pengantin mereka jika terjadi kesalahpahaman apalagi sampai istrinya merajuk.


Istrinya itu langsung melengos sinis kembali menatap hamparan hadiah di hadapannya.


"Yang bener cuma dari pihak Bunda sama Ayah deh, dari Fans aku beberapa yang bener selebihnya aneh-aneh. Apa aku aneh, Yang?" tanyanya pada sang istri.


Intan menggeleng, "Tuh kan, aku emang nggak aneh!" ucapnya bangga.


"Tapi kamu gila," Intan terkikik geli.


Mereka membereskan semua hadiah yang di dapat. Memasukannya ke dalam satu dus cukup besar, "Bersyukur dengan apa yang kita dapet, itu bentuk perhatian penggemar kamu," Intan memperhatikan suaminya yang tengah membereskan kertas kado yang berserakan. Tangannya dengan sabar menyisir rambutnya yang kusut.


"Aku mau mandi dulu, ya!" dia berjalan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Bintang terlonjak kegirangan. Tangannya mengepal ke udara bibirnya tak henti melengkungkan senyum.


Setelah unboxing kado, akhirnya dia akan unboxing gua pribadi milik sang pyton.


Bersambung ❤❤❤


Like


komen


Favoritnya


Makasih nuhun thankyou 😘😘😘

__ADS_1


masih belum unboxing, mau kabooorr🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀


__ADS_2