Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Maaf


__ADS_3

...---oOo---...


"Tan ... " Bintang akhirnya tak kuat lebih lama dalam situasi yang begitu menyiksanya.


Intan tak menghiraukan panggilan Bintang, dia malah memutar tubuhnya menghadap ke jendela.


Bintang hanya bisa menatap punggung Intan.


Faisal yang merasa canggung langsung pamit beralaskan ingin membeli kopi.


Setelah Faisal keluar dari kamar itu dan meninggalkan mereka berdua.


Bintang mendekatkan dirinya duduk di bangku yang berada di samping ranjang. Dia menundukan kepalanya pada pinggiran kasur rawat yang di tiduri Intan. Kepalanya terasa berat dan seperti akan pecah menghadapi keadaan yang menyesakan dadanya.


"Maafin aku, Tan. Please aku nyesel banget. Aku sayang, aku cinta sama kamu. Tapi kamu malah pergi gitu aja ninggalin aku, nggak mau kah kamu berbagi beban hidup sama aku?"


"Tan ... " panggilnya dan mengusap punggung Intan.


"Jangan pegang aku, bre*sek."


Bintang mematung mendengar penolakan dari Intan, dia semakin yakin ini akan sulit dan maaf pun rasanya tidak akan Intan terima dengan mudah.


"Iya, aku emang bre*sek . Kamu bener, makanya kamu pergi ninggalin aku pun, memang aku bukan orang yang baik buat lu."


"Pergi.. " Intan seperti tercekat menahan tangisnya.


"Intan tapi kamu liat dulu aku, ngga bisa kah kita ngobrol dengan saling menatap?"


"Nggak,"


"Ya, udah kalo gitu aku nggak akan pergi ninggalin kamu. Nggak akan sebelum kamu liat aku," ucapnya dengan suara lirih. Dia lelah namun batinnya lebih lelah lagi.


Dia masih setia duduk di pinggir ranjang Intan.


*


*


Hampir satu jam, dan Intan merasa kesal karena Bintang yang masih keras hati berdiam diri di sebelah nya.


Bintang melihat pergerakan yang terlihat gelisah dari Intan.


"Mau apa? kamu butuh apa? aku bantu kalo bisa!"


Katanya dengan nada lembut.


"Aku mau kamu pulang, pergi dari sini. Aku nggak mau liat kamu." ucapnya ketus.


Bintang menghela nafasnya, "Aku pergi kalo kamu mau ngobrol dengan benar, lihat aku Tan..."


"Nggak!" tolak nya tegas.


Memang di sisi ranjang sebelah kiri Intan hanya celah sempit jadi tidak mungkin untuk berdiri di situ.


Tapi dengan akal luar biasa dia menarik ranjang itu hingga bergeser. Lalu dia menyelinap masuk ke celah di mana tubuh Intan menghadap.


Intan yang merasa kaget langsung memekik tertahan , saat menemukan tubuh Bintang berada di hadapan nya.

__ADS_1


"Kamuu ... "


"Apa? aku cuma mau ngomong hadap-hadapan. Salah?"


"Oh, nggak. Seorang Bintang selalu benar, apapun itu, bahkan nominal hutang aku pun... "


Bintang menempel kan telunjuknya pada bibir Intan yang tengah mengomel, "please, Tan... maaf , aku kemasukan setan. Karena emosi kamu tiba-tiba ilang dan aku temui sedang tertawa-tawa dengan seorang laki-laki. Kamu pikir aku gimana?"


"Kamu ninggalin aku, setelah mengungkapkan isi hati dalam surat patah hati?"


"Gimana perasaan kamu? bayangin nggak perasaan aku gimana?"


Intan kini berani menatap wajah Bintang.


"Perasaan kamu? kamu? nggak salah? terus apa yang di lakuin kamu sama aku? kamu mikirin perasaan aku?"


Bintang loncat naik ke atas tempat tidur Intan,


"Maaf, aku udah bilang aku minta maaf."


"Apa yang harus aku lakuin? biar kamu mau maafin aku?" Bintang memeluk tubuh Intan yang meronta dalam pelukkan nya.


"Pergi dari hidup aku!"


Bintang terdiam, hatinya sakit .


"Tan ... "


"Aku bakalan maafin kamu, asal kamu pergi!"


"Aku anggap apa yang kamu lakuin sama aku itu hanya mimpi buruk, dan apaa yang aku tuliskan dalam surat sialan itu juga anggap aja aku ngigo."


"Tan, please. Aku mohon kalo perlu aku sujud di depan kamu. Please maafin aku, tapi jangan pinta aku menjauh dari kamu. Aku sayang, aku juga cinta. Perasaan kamu dalam surat juga sama aku rasain. Aku mohon ... "


"Pergi .... " Intan menangis histeris hingga seorang suster datang menghampiri karena suara tangisan Intan yang terdengar sampai keluar kamar.


"Maaf, pak. Harap turun dari ranjang pasien, biarkan pasien beristirahat," suara suster menginterupsi.


Bintang patuh dia yang memang berada di atas ranjang bersama Intan. Langsung turun dan keluar dengan perasaan hancur.


Dia terlihat lunglai berjalan ke luar kamar.


*


*


Di luar terlihat Faisal tengah duduk di kursi besi yang panjang membentang di luar kamar.


"Gue titip, Intan. Administrasi gue lunasin buat lima hari kedepan," ucapnya dengan lemas.


Faisal hanya diam mendengar semua yang di ucapkan Bintang.


"Mau kemana lu?"


"Gue pulang, gue di minta pulang."


"Terus Intan?"

__ADS_1


"Gue titip,"


"Nggak bisa minggu besok gue pulang kampung. Gue mau nikah, dan nggak akan balik lagi ke Jakarta." Perkataannya menghentikan langkah Bintang.


"Tapi gue di usir, dia nggak mau liat gue." Katanya frustasi.


Kini mereka diam di sebuah cafetaria di lantai dasar rumah sakit, saling mengobrol menceritakan Intan.


Dan Faisal berkata bahwa Intan membeli peralatan dagang dari om nya dengan cara kredit.


"Berapa semua?" tanya Bintang.


"1, 3 juta gue yang nganterin." Faisal berkata sambil meminum kopi miliknya.


"Tunggu bentar," Bintang bangun dan berjalan ke luar rumah sakit, mengingat di pojokan dekat gerbang ada jejeran mesin ATM berbagai Bank.


Bintang menghela nafasnya saat melihat saldo tabungan nya hanya Rp 1,460.300. saja.


Di tarik lah 1,4 nya.


"Nih, aku titip ini. Tapi jangan bilang sama Intan kalo gue yang bayarin, bilang aja ini lu yang bayarin," Bintang menyodorkan uang sejumlah hutang Intan.


"Ok," Faisal memasukan uang itu ke dalam saku jaket denim nya.


"Gue pulang, udah malem." Bintang bangkit dari duduknya berjalan lunglai ke luar rumah sakit menuju area parkiran.


*


*


"Good bye my love , aku nggak tau gimana takdir kita kedepan nya. Yang penting harus kamu tau, kamu perempuan pertama yang aku cinta. Aku bener-bener sayang, Tan." Ucapnya sambil menatap gedung rumah sakitnya itu.


Lalu dia pun menghidupkan mesin mobilnya melaju keluar dari parkiran rumah sakit.


Masuk ke dalam tol menuju Bandung.


Mobil terus melaju dengan kecepatan standar tol, saat lampu tangki terus berkedip tanda bensin habis. Bintang memucat lalu berusaha membawa mobil ke bahu jalan untuk menghindari mobil yang mogok tengah jalan.


"Duh, mana pom masih jauh. Duit tinggal 100 rebu," keluhnya.


Saat mobil berhenti berjalan karena bahan bakar yang habis. Sebuah klakson terdengar memekikkan telinga.


Brugggkkkk...


Bintang merasakan tubuhnya yang terguncang hebat di dalam mobil miliknya.


Tubuhnya serasa di goncang- goncang di dalam mobilnya yang berguling-guling ke tepian jalan tol itu.


Bintang memegang dahi nya yang terasa nyeri, dia merasakan ada sesuatu yang basah mengaliri pelipis nya. Dan dia yakin itu darah, belum sempat dia meraba sebuah benturan keras kembali menghantam mobil sedan miliknya.


❀❀❀ Bersambung


Like


komen


favoritnya

__ADS_1


kabor πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€


__ADS_2