Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Khawatir


__ADS_3

...---oOo---...


Sore tadi, seorang pria baru saja keluar dari minimarket, di area rest area Tol. Dia melihat seorang lelaki yang pernah dia lihat keluar dari tempat kerja adiknya itu keluar dari sebuah mobil dan berlari ke arah toilet umum itu.


Dia berencana menjahili mobil itu. Alangkah kagetnya dia saat melihat adiknya yang beberapa minggu ini dia cari sedang tertidur di dalam mobil itu.


"Si anj*ng, di cari taunya sama si kampret," gerutunya kesal dari depan mobil milik Bintang.


Sebuah ide muncul di otaknya, saat melihat mobil mewah dengan logo tiga huruf itu.


"Banyak duit nih, kunyuk. Pinter lu, neng. Nyari laki banyak duit," kekehnya lalu segera berlari kembali ke mobilnya.


Dari dalam mobil temannya yang dia pakai untuk kabur dari para penagih hutang, Adit melihat Bintang berlari masuk ke dalam mobil itu.


Lalu tak lama mobil itu pun kembali melaju, dan dirinya terus mengikuti.


*


Hingga sampai di sebuah daerah, Adit terus mengingat daerah itu. Dan mobil pun masuk ke sebuah kostan yang cukup besar dengan jejeran kamar dua lantai dan halaman cukup luas dengan beberapa mobil yang terparkir, salah satunya mobil yang di tumpangi adiknya tadi.


Adit memarkirkan mobilnya di tepi jalan tepat di sebrang gerbang kostan itu. Dia duduk di sebuah bangku yang juga tengah di duduki seorang pria paruh baya.


"Rokok, Pak?" tawarnya pada si bapak yang duduk di sebelah nya.


"Makasih," ucap lelaki itu sambil mengambil sebatang rokok yang Adit tawarkan padanya.


Adit terus menatap ke arah bangunan di depannya.


"Janjian sama penghuni kost itu?" tanya si Bapak.


"Enggak, pak. Lagi nunggu adik saya," ucapnya dengan raut wajah serius.


"Ah, banyak yang ke gap di situ ngakunya pasti adik kakak. Ternyata yang simpanan lah yang pacaran tapi tidur bareng. Adik kakak cuma kedok, kostan itu terkenal penghasil bayi setiap tahunnya ada aja yang keluar dari sana dalam keadaan perut besar." Jelas si bapak yang rambutnya sudah berwarna putih semua.


Adit mengernyit dengan tangan yang mengepal. Bisa-bisanya adiknya kabur menghindar dan menolak bekerja di tempat pijat, alih-alih sok suci malah fakta yang di dengar nya barusan malah menyulut emosinya.


Saat dia masih terus mendengar si bapak bercerita, terlihat adik yang dia cari berminggu-minggu itu keluar dengan satu kantung kresek di tangannya dan berjalan ke kemarin sebelahnya, lalu terlihat dia mengobrol dengan tetangganya itu.


Lalu dia melihat Intan kembali masuk ke dalam rumah, dia menunggu sampai satu jam namun pemilik mobil itu belum juga keluar. Dia semakin merasa geram dengan segala kemungkinan yang terjadi di dalam kamar itu.


Adit berjalan masuk ke kostan itu berjalan cepat melewati halaman luas itu.


Dia sudah sampai di depan pintu dan dengan keras menggetuk pintu itu.


Ada suara dari dalam dan saat pintu terbuka, dia mendorong adiknya yang mematung kaget melihat kedatangannya.


Emosinya semakin menjadi saat melihat Bintang yang tiduran seperti seorang tuan rumah.


Bughhh... bughhh... beberapa pukulan dia layangkan pada pria yang berada di kamar adiknya itu.


"Kangg... Kakang apa-apaan? berhenti kang, udah cukup."


Adit menatapnya dengan wajah terlihat berang.


"Lepas, bisa-bisanya kamu sekamar sama laki-laki. Sok suci, kamu nolak di suruh kerja di tempat pijat itu. Kakang kira kamu suci, ternyata sok suci, " bentak nya.


Intan masih berusaha menarik kakak nya dari atas tubuh Bintang yang terlihat babak belur tanpa perlawanan.


"Kang... " Intan berteriak kesal


lalu, Plak... Adit lagi-lagi melakukan kekerasan pada adiknya.


"Kamu udah semakin kurang ajar,"


"Intan," Bintang memekik saat melihat intan di tampar di depan mata kepalanya.


"Semua nggak seperti kakang pikirkan, kita emang satu kamar tapi nggak ada yang terjadi," teriakan Intan di sertai isak tangis.


Bintang masih mengumpulkan kesadarannya setelah serasa di bawa ke awan karena merasa di sekitar nya banyak bintang kecil, kunang-kunang dan burung yang mengitari sekitarnya.


"Lepas anj*ng," Bintang berontak dari bawah tubuh Adit.


Gue mau adik lu yang di atas gue bukan lu, ucapnya dalam hati.


Adit menarik tangannya yang berada di kerah kemeja Bintang, lalu dia beringsut bangun.


Intan langsung mendekati Bintang, dia melihat luka lebam pada beberapa bagian wajah pria di depannya itu.


"Sakit?"


"Nggak, enak... " Jawab Bintang asal.


"Serius, Mas."


Bintang membola mendengar panggilan Intan yang baru saja dia dengar.


"Apa? kamu barusan bilang apa? aku mau denger lagi!"


(Cie... aku kamu... πŸ™„πŸ™„πŸ˜)


"Sakit?"


"Bukan yang itu yang sesudahnya!"

__ADS_1


"Serius?"


"Bu... "


Tiba-tiba Intan di tarik ke belakang, "buruan jelasin sama kakang. Kenapa kamu bisa sampai sini?"


Adit mengerang kesal pada adiknya.


"Anjir ... ngeganggu aja," Bintang sedikit membenarkan posisinya menjadi duduk.


"Aku kerja kang,"


"Kenapa kamu nggak bilang sama kakang, kan nggak akan nyariin kamu!"


"Kakang kenapa bisa ada di sini?"


"Nggak usah tau, yang jelas sekarang kakang butuh duit buat bayar bunga hutang,"


"Tapi, aku belum gajian Kang,"


"Tuh, minta sama pacar kamu," tunjuknya pada Bintang.


Intan menatap ke arah Bintang.


"Dia bukan pacar Intan,"


Adit mengerutkan keningnya tak mengerti, "terus?"


"Dia cuma temen," ujar adiknya itu.


"Pulang lu, sana!" ucapnya sinis pada Bintang yang menyimak percakapan adil kakak itu.


Bintang menggerutu dalam hatinya, " kalo boleh tau butuh uang berapa?" tanya Bintang sok.


Seringai penuh kemenangan terpancar dari wajah Adit.


"Sepuluh juta," ucapnya.


"Kang ... " Intan memegang tangan kakaknya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Biarin, dia yang nanya kan? berarti temen kamu baik." ujarnya.


Bingung sangat bingung namun ingin tetap keliatan cool di depan calon kakak iparnya itu, dia ingin punya muka dan sedikit di segani. Juga takut wanita incarannya itu kembali mendapatkan penganiayaan.


"Sebentar," Bintang bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Halo ... Daf ,"


"Heuumm... "


"Daf? lu ngapain?"


"Lu yang ngapain nelpon gue? buruan, mau apa?" Dafa terdengar kesal di sebrang sana.


"Eggghh... "


"Anjir, lu lagi ngapain?"


"Midillll, gue mules. Tapi mau ada yang gue omongin, tranfer gue 10 juta. Nanti gue pulang ke Bandung, gue gantiin. Atau motor gue lu sita,"


"Daf... Daaafaa?? lu lagi naik gunung ya? gunung adek gue?" tanyanya dengan tak tau malu.


Tutt... tut..


"Anjirr, di matiin. Gue ngeden dia ngerang. Sungguh perpaduan suara yang spektakuler." Bintang memegangi wajahnya yang dia rasa mengembang.


Lalu sebuah notif pesan terdengar, dia melihat pesan dari salah satu bank.


"Adik yang patuh, gue bakal lupain suara desa* lu barusan," kekehnya. Lalu ce*ok dengan ponsel yang dia gigit.


Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi, terlihat Intan sedang membuka dompet dan mengitung beberapa lembar uang yang dia yakini tidak sampai satu juta.


Sedangkan dia melihat Adit tengah menyesap rokoknya di teras kamar.


Bintang mendekati Intan, "Nggak usah, Tan. Ada di gue!"


"Jangan, ini semua memang tanggung jawab aku. kitaa nggak ada hubungan apa-apa," Intan berkata sambil memandangi luka di wajah Bintang.


Helaan nafas Bintang hembuskan.


"Makanya jadi pacar gue,"


Intan menunduk kemudian Adit kembali masuk.


"Gimana?"


"Berapa no rek lu?" Tanya Bintang.


Adit tersenyum puas, " Gue mau cash... "


Bintang yang sudah siap melakukan transaksi transfer secara online langsung menatap Adit kesal.

__ADS_1


"Ya, udah. Gue cari minimarket dulu," Bintang mengangguk sekilas pada Intan.


Lalu berjalan ke luar.


*


*


Intan diam di ujung kamar nya, tak sudi rasanya dia menatap kakang nya, kini dia pasti akan kembali di teror oleh kakaknya.


"Neng ... "


Intan tak bergeming, demi apapun dia tidak ingin melihat dan mendengar apa yang akan di katakan kakang nya.


Rasanya dia ingin menjejalkan kain atau kapas pada telinga nya. Tidak ingin mendengar kata-kata dari mulut kasar lelaki yang seharusnya melindungi nya itu.


"Nenggg ... " bentak nya.


Lalu Intan menoleh sesaat, "apa?"


"Gaet dia, banyak duit dan Royal kayaknya," ucapnya yang di tunjukkan pada Bintang.


"Terus? mau kakang manfaatin gitu?"


Adit yang terpancing emosi langsung menghampiri dan mencengkram kuat dagu adiknya itu, dan satu tamparan kembali Intan dapatkan.


"Seenggaknya, bantuin kakang bayar hutang."


Intan ter telungkup di atas kasur dengan suara tangisan yang teredam di atas bantal.


Bintang datang dengan uang 10 juta di tangan nya.


"Tan?" dia sedikit berlari saat melihat Intan menangis di atas kasur.


Lalu dia melemparkan uang itu ke arah Adit yang berdiri tak jauh dari Intan.


"Ok, thanks. Selamat bersenang-senang dengan adik gue," Adit tersenyum sambil pergi keluar dari kamar itu dengan sedikit bantingan.


*


*


"Tan... "


"Seharusnya, kamu nggak usah ngasih uang itu. Nanti dia kebiasaan,"


"Nggak apa-apa," lalu pandangan Bintang tertuju pada sudut bibir Intan yang sobek dan mengeluarkan sedikit darah.


"Ini?"


"Nggak apa-apa, aku udah biasa."


"Maaf, ya. Kamu jadi babak belur, sini aku obatin."


Intan berdiri menuju kotak kosmetik nya.


Lalu tangan Bintang menahannya, "Nggak apa-apa. aku yang khawatir kakak kamu bakalan ngelakuin hal yang lebih gila lagi," Bintang menangkup wajah Intan yang menunduk.


"Tan ... "


Punggungnya bergetar, tangisnya pecah.


"Aku capek, dan nggak tau sampai kapan kakang akan terus kayak gini?"


"Terima aku? biar aku bisa lindungi kamu?" Bintang mengusap wajah yang basah oleh air mata itu.


"Jangan, aku nggak pantas buat kamu, Mas."


Bintang lagi-lagi meletup-letup mendengar panggilan 'Mas' dari bibir Intan.


Lalu pandangan mereka bertemu, tangan Bintang masih menangkup Pipi gadis di depan nya.


Lalu wajahnya mendekat dan bibir itu saling menempel dan Bintang merasakan Intan tidak menolaknya, Bintang menerus kan kegiatannya itu, di lum*t dan di hisap nya bibir yang selalu menghantuinya itu.


Intan masih menangis namun tak se histeris tadi.


Pau*tan itu terus terjadi dengan durasi cukup lama, Bintang ingin Intan merasakan rasa yang dia miliki, ingin menenangkan hati gadis incarannya itu.


Tapi malah dia yang berkeringat dingin menahan sesuatu.


Bersambung ❀❀❀


Like nya...


Komentar nya...


dan favoritnya ya...


Kalo komennya banyak aku up lagi malem😁


Makasih, sehat dan bahagia buat kita semua😘😘


semoga menghibur, 😘😘.

__ADS_1


__ADS_2