Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Banyak berkorban


__ADS_3

...---OoO---...


Sore itu.


"Kamu yakin tempatnya di sini?" Bintang memperhatikan suasana sekitar.


Jajaran kostan kumuh dan juga becek, terletak di pinggiran aliran sungai, tak jauh dari pasar tradisional. Membuat tempat itu sungguh tidak nyaman dan bau.


"Iya, di ujung gang itu ada kayak pos kecil. Ya, di ibarat kan itu basecamp mereka," Intan sedang berjinjit melangkahkan kakinya menghindari genangan air bercampur lumpur.


Bintang sesekali memegangi pinggang Intan yang hampir terpleset.


"Tuh, di sana." Intan menunjuk sebuah bangunan seperti gazebo di pinggiran kali.


Terlihat banyak lelaki yang tengah tertawa ada yang menyanyi juga bermain gitar dengan suara yang tidak enak di dengar.


Intan semakin mendekat dengan tangan yang masih bertaut dengan tangan Bintang.


"Maaf, ada yang yang liat kang Adit?" Intan memberanikan diri bertanya kepada gerombolan pemuda yang bergaya seperti anak jalanan.


Semua orang menatap Intan dengan tatapan genit.


Bintang sedikit mengeratkan rahang nya menahan kesal.


"Ck, tumben aya nu neang si Adit nu geulis. Biasana nu nagih hutang! Neng nagih hutang oge? ku Aa lah di bayar asal neng bo*bo jeng Aa sa jam weh!" (ck, tumben ada yang nyari si Adit yang cantik. Biasanya yang nagih hutang! Neng nagih hutang juga? sama kakak lah di bayar asal neng ti*dur sama kakak se jam aja!)


Bintang sudah tidak bisa mentolerir apa yang dia lihat dan dengar, itu sudah pele*ce*an verbal. Apalagi di tujukan pada Intan yang jelas-jelas calon istrinya dan tentu saja miliknya.


"An" ing, jaga omongan maneh." (an*ing jaga ucapan kamu,) emosi Bintang meledak begitu saja tanpa tertahan Intan, yang memang masih mematung mendengar ucapan menjijikan itu yang di lontarkan padanya.


Si laki-laki bertubuh kekar namun sedikit pendek itu pun terpancing emosi, dan berdiri meloncati bangunan kayu itu. Mendekat ke arah Bintang yang berdiri tak jauh dari pos yang di sebut basecamp mereka.


"Naon urusan maneh?" (apa urusan kamu?)


Bintang tertawa sinis, sambil membawa Intan ke belakang tubuhnya.


" Mas, udah ... ayo, pergi dari sini!" Intan sedikit menarik tangan Bintang agar segera pergi dari tempat itu. Namun usaha nya sia-sia, Bintang sudah terpancing emosi.


"Urang calon salakina, ek naon maneh?" ( Saya calon suaminya, mau apa kamu?)


"Oh, si neng geulis teh bawa mo*yet na?" (oh, si Neng cantik bawa mon*etnya?)


Bintang akhirnya melesat dan melayangkan sebuah bogeman mentah, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.


Saat Bintang akan kembali lagi melayangkan sebuah pukulan tiga orang lelaki yang memang temannya itu datang. Dan langsung mencekal Bintang. Hingga lelaki itu bangun dan membalas pukulan dengan mem*abi buta. Bintang yang kedua tangan nya di cekal tidak bisa melawan ataupun mengelak pukulan itu.


Dia meronta dengan Intan yang terus menjerit histeris melerai pertengkaran itu.


*


*


Bintang mendengar jelas Intan berteriak minta tolong tapi tidak ada warga yang menghampiri, semuanya acuh seakan itu memang pemandangan biasa.


Intan menghalangkan tubuhnya di depan Bintang, dan benar saja lelaki itu berhenti memukuli. Namun dia beringsut mendekati Intan. Bibirnya yang luka karena pukulan Bintang menyeringai me*sum.


"Geulis pisan, ori sigana?" (cantik banget, ori kayaknya!) ucapnya tangannya hampir menyentuh pipi Intan yang tengah memeluk Bintang. Saat beberapa centi lagi, Bintang melayangkan sebuah tendangan dengan sisa tenaga yang dia miliki. Hingga laki-laki itu terjengkang ke belakang.

__ADS_1


Saat dia bangun akan membalasnya sebuah suara terdengar di kejauhan.


"Neng..." Suara Adit terdengar memanggil dari arah sungai.


Intan menoleh dan tangannya semakin mengerat kuat pada tangan Bintang.


"Aya naon iyeu?" (ada apa ini?)


Si lelaki yang akan kembali menghajar Bintang seketika menunduk.


"Kunaon, Neng?" (kenapa, neng?) tanyanya pada sang adik.


"Temen-temen kakang pada nggak sopan, mana keroyokan lagi sama Mas Bintang," Intan mengadu.


Adit menatap ke arah teman-temannya yang sudah kembali ke pos yang tadi mereka diami.


"Lah, heurey." (lah, becanda.) ucapnya dengan enteng


Intan menggeleng kesal.


"Neng kemana? kakang nyari ke tempat kost udah pindah," gerutunya kesal.


Intan yang melihat Bintang terus meringis memegangi perutnya, rasanya harus segera pergi untuk mengobati. Wajah calon suaminya itu pun babak belur dengan wajah penuh luka.


"Neng mau nikah, kakang harus jadi wali!" ucapnya langsung pada inti masalahnya.


Adit terperangah mendengar perkataan sang adik.


"Serius?"


Intan hanya mengangguk sambil sesekali melihat Bintang yang semakin tidak kondusif, dia sudah sedikit membungkukkan tubuhnya tangannya sudah menahan di kedua lututnya.


Intan membulatkan matanya mendengar permintaan kakang nya yang fantastis.


" Kang, uang sepuluh juta itu aja Neng baru bisa kumpulin setelah hampir tiga bulan. Ini dua ratus juta dari mana?" Intan berteriak meluapkan kekesalannya.


Tangannya di sentuh Bintang. Lelaki itu mengangguk agar Intan menyetujuinya saja.


Intan hanya selintas melihat ke arah Bintang.


"Ya, bukan dari kamu. Tapi dari calon suami kamu. Kamu harusnya lebih mahal dari itu, kamu perempuan cantik, gesit dan ulet, bisa dapet uang banyak kalo kerja. Inget ini bukan sekadar minta, inget ya dulu kakang putus sekolah hanya karena bapak meninggal di perantauan, membantu Mama dan kamu yang masih kecil. Kakang sampai menjadi pedagang cangcimen di lampu merah, kadang di tempat cuci mobil, kadang ngamen, kuli bangunan. Semua kakang lakuin buat bantu biaya hidup kita. Pantas rasanya kalo kakang meminta itu sebagai bakti kamu sama kakang!" teranganya mengungkit masa lalu keluarga mereka.


Intan malah terisak, selama ini diam dengan semua sifat kakang nya, karena memang kakang nya lelaki baik dan bertanggungjawab dulunya. Hingga pergaulan semakin membuatnya menjadi lelaki yang berperangai buruk.


"Tan... " Bintang kembali memanggilnya.


"Kasih saya waktu kang, mungkin beberapa hari." Bintang akhirnya mengucapakan kalimat yang semakin membuat Intan merasa malu.


"Buat apa kang uang sebanyak itu?" Intan bertanya.


"Buat modal, kakang mau buka usaha sablon." Jawabnya.


Intan menghela nafas, lalu menoleh pada Bintang yang wajahnya semakin pucat dengan keringat yang membasahi dahi nya.


"Ayo," Intan menuntun Bintang berjalan.


"Neng," Adit menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Lalu Intan berbalik, saat lelaki itu kembali memanggilnya.


"Sini hp kamu, mau simpen no hp kakang." Tangannya mengulur meminta ponsel sang adik.


Intan merogoh tas kecilnya, memberikan ponselnya yang langsung di ambil Adit dan langsung mengetikkan nomor ponselnya.


Mereka pun kembali berjalan meninggalkan tempat itu.


*


*


Sesampainya di mobil, Bintang langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Intan terlihat hawatir karena Bintang yang gelisah kesakitan. Dia memaksakan mengemudi dengan wajah babak belur dan sebelah tangan yang memegangi perutnya.


Intan terisak, rasanya sudah terlalu banyak yang Bintang korbankan untuknya, dia malu dan semakin merasa berhutang budi pada laki-laki yang bahkan belum sah menjadi suaminya. Namun begitu banyak cobaan yang dia Terima demi bisa bersama dengan dia.


"Maaf ... " Intan semakin terisak.


Bintang yang sedang meringis sambil fokus mendadak menoleh saat mendengar Intan menangis.


"Sayang ... kenapa?" tanyanya.


"Aku udah banyak ngerepotin, Mas. Maaf selalu bikin susah, aku malu." Intan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya pun semakin kencang.


"Ngga apa-apa, asalkan jalan kita menuju pernikahan lancar, kalo soal uang bisa kita cari lagi. Kita bisa jual mobil ini!"


Intan menoleh, "Tapi ini bukannya mobil ini baru?" Intan bertanya.


Bintang hanya mampu mengangguk. Rasanya perutnya sedang di aduk-aduk. Jika dia mengeluarkan suara sepertinya akan muntah seketika.


"Sayang banget, ini hasil jeri payah. Mas."


Bintang tidak menjawab, dia semakin meringis.


Tanpa Intan sadari Bintang memasukan mobilnya memasuki basement sebuah apartemen.


"Kita kemana ini, Mas?" tanyanya tanpa mendapatkan jawaban.


Bintang sudah menghentikan mobilnya. Dia lalu mengangguk agar Intan ikut turun.


Mereka berjalan dengan Bintang yang sesekali menghentikan langkahnya karena rasa nyeri di ulu hatinya.


Bersambung❤❤


Like


Komen


Favoritnya


Pokoknya komennya banyakin, kalo mau tau mereka mau ngapain di apartemen 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀


Eh mau curhat, awalnya aku agak pesimis sama cerita ini. Bagaimana nggak, karakter laki-laki nya ngeselin, ngeyel, kere dan me*sum. Bukan laki-laki kek kebanyakan di novel keren itu yang gagah, arogan juga penguasa. Tapi kenapa malah ngalahin cerita aku yang sebelumnya 🤣🤣. Makasih mba FIA yang ngusulin buat bikin cerita si budak sengklek Bintang, ternyata bener karakter nya yang ajaib bisa ngehibur orang 🤣🤣🤣.


Aku kira yang laku di nt cuma ceo arogan dan penguasa, yang bahkan menjurus once kalo soal cewek. eh.. ternyata alhamdulillah Bibin banyak yang suka dan bully🤣🤣. Lope2 dah buat kalian😘😘

__ADS_1


Dari jam 3 ini nggak lolos2 🤧 ada bahan kena tegor lagi😖😖


__ADS_2