Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
jamu Legend


__ADS_3

...--oOo--...


Intan keluar dari kamar mandi, dirinya baru saja membantu suaminya.


"Bersih-bersih sana, malah cengar-cengir!" gerutunya yang melihat Bintang masih di posisi yang sama.


Bintang terkekeh sambil bangun, dengan santainya lelaki itu berjalan seperti seorang anak kecil.


"Ang, pake celana napa!" Intan menggerutu.


Bintang menanggapi dengan seringai menggoda sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Perempuan itu hanya menggelengkan kepala dengan semua tingkah suaminya. Mulutnya masih terasa kebas akibat dari kelakuan suaminya yang merengek menginginkan sesuatu.


"Ang ... "


"Ya?" Bintang baru saja keluar dari kamar mandi. Sambil mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil.


"Kenapa?"


"Ponsel kamu bunyi!" Intan yang sedang duduk di sofa kamar mereka.


Bintang berjalan ke arah nakas, mengambil ponselnya dan mengulir layarnya.


"Yank, aku harus ke market nih!" Bintang berjalan ke arah lemari mengambil sebuah kemeja berwarna navy berlengan pendek.


Intan yang sedang menonton chanel masak, lalu mendongak.


"Ang,"


"Heem ... " Bintang menjawab.


"Aku, bosen!"


"Ya, gimana? abang nggak bisa ikut rapat, AL sakit jadi nganterin Cindy ke dokter!"


Intan diam menekuk wajahnya, dan berjalan malas ke arah tempat tidur.


"Kamu tau nggak sih, aku kayak cewek apaan. Udah mua*sin kamu, terus di tinggal gitu aja!" ucapnya teredam bantal.


Bintang yang sedang menyemprotkan parfum nya, terkikik memandang istrinya dari cermin meja rias, Intan yang tengah merajuk membuatnya begitu gemas.


"Ngomong apa sih?" Bintang duduk di tepi ranjang sambil memakai jam tangan nya.


"Hei ... "


Intan berbalik dan tatapan mereka bertemu.


"Bener kan?" tanyanya lagi.


"Emang aku ngasih duit bayaran buat kamu?"


Intan menggeleng kecil, wajahnya masih cemberut.


"Nah, gitu. Tandanya kamu bukan cewek penjual, tapi kita ngelakuinnya suka sama suka. Hahahaha!" Bintang terbahak dengan ucapannya sendiri.


Tangan Intan langsung melayang dan menepuk keras paha suaminya.


Bintang dengan sigap memegang dan mengecup nya.


Bintang menundukkan wajahnya, dengan sakali raupan bibir itu telah menempel sempurna, sedikit melu*mat dan menghisap nya.


Bintang mencoba menahan diri agar tak kembali hanyut dalam kenikmatan yang akan membuat istrinya itu kewalahan seperti tadi.


"Jangan ngambek, aku suka pusing nggak bisa mikir. Kamu tau aku orang nya nggak peka, oon kalo soal tebak-tebakan sama cewek."


Intan mencebik, dirinya juga sedang mencoba menetralkan rasa berdebar nya yang diakibatkan oleh sentuhan lembut bibir suaminya.


"Dih, katanya alumni perbuayaan! tapi nggak peka," sindir Intan.


Bintang mengusap bibirnya yang sedikit basah.


"Makannya. Aku suka royal ama cewek, karena apa? ya karena aku nggak tau apa maunya mereka.


" Ya, udah kamu mau kemana? rumah Bunda atau rumah Chaca? biar kamu ada temen. Nanti pulang dari market aku jemput." Bintang kembali menunduk untuk menyambar bibir yang sedang cemberut itu.


"Dih ... terus aja, ntar malah pengen lagi." Intan dorong tubuh suaminya.

__ADS_1


"Aku mau ketemu anak-anak aja deh, kangen!" Ujarnya.


Bintang tersenyum dan mengangguk.


"Gih, ganti baju. Aku ditunggu jam 2, jadi bisa nganterin dulu kamu," Bintang mengulir kembali layar ponselnya.


Intan mengganti daster nya dengan sebuah celana kulot coklat, kaos hitam dan di lapisi cardigan navy.


"Yuk,"


Bintang langsung mengangguk, menyambar tas ransel tempat laptop, bermap-map laporan kerjaan, dan segala macam kabel-kabel perangkat gadget nya ada di sana.


*


*


Sesampainya di depan rumah Mentari.


Mentari sudah berdiri di teras rumah dengan dua anak menggemaskan yang berlarian di taman kecil mereka.


Intan mendorong pagar sambil tersenyum ceria, Helen dan Shera yang memang sudah akrab itu langsung berhamburan ke arah Intan.


"Ateuuu ... " Helen berteriak sambil berlari di ikuti Shera di belakangnya.


"Ugh ... sayang, Ateu kangen!" Intan berjongkok di depan para keponakannya itu.


Saat Shera melingkarkan tangannya di leher Intan.


"Ndong, Teu. Mau ndong!" pintanya dengan wajah menggemaskan.


Intan tersenyum langsung menggendong Shera, bersamaan dengan Bintang yang baru masuk setelah memarkirkan mobilnya.


"Yank, jangan dulu angkat yang berat!" Bintang langsung mengambil alih Shera.


Shera yang merasa terganggu dengan acara temu kangennya langsung histeris dan menggeplak wajah Papi nya itu.


"Ang, siniin. Kasian," Intan berusaha mengambil kembali Shera.


Mencoba menenangkan dengan berceloteh, akhirnya Shera berhenti menangis dan cekikikan lucu karena ulah Papi nya. Helen yang setia mengikuti pun ikut tertawa. Mereka bermain sebentar di taman kecil itu, yang di pojok nya terdapat kandang kelinci. Mainan baru mereka yang di belikan Dafa.


Dia melihat Mentari sedang meringkuk di sofa yang berada di ruang TV.


"Mabuk?" tanya Intan.


Mentari hanya menggelengkan kepalanya.


"Nggak separah Shera, tapi tetep lemes cuma yang ini laper terus," ucapnya sambil tertawa.


Intan tersenyum namun siapa yang tau hatinya serasa di remas, seharusnya dia juga sedang merasakan hal yang sama dengan sang adik ipar.


...****...


Bintang masuk dengan Helen di punggung nya, dan Shera di pangkuannya .


"Udah, Papi." Bintang berjongkok agar para keponakan kesayangannya turun.


Anak-anak berlarian begitu saja.


Lelaki itu melihat ke arah adiknya.


"Kenapa lu? mabok pisangnya si Dafa?" dirinya terbahak.


"Apaan sih?"


"Bener kan? ampe lu melendung tiga kali, doyan apa demen?"


Mentari hanya berdecak sebaliknya, dengan ucapan kakaknya yang memang benar itu.


"Ini terakhir?" Bintang duduk di sebelah Mentari yang kini terduduk dari posisi meringkuk nya.


"Mana ku tau, aku kan emang kebobolan Shera sama yang ini, nggak di rencanain sama sekali," katanya sambil menatap kesal pada kakaknya.


"Hahahaha, nggak di rencanain tapi bikin tiap malem. Ya jadilah!" Bintang kembali menggoda adiknya itu.


"Dah, aku berangkat ya. Yank," Bintang bangkit seraya mengecup kening istrinya.


"Sono, pergi. Aku sumpahin anak kalian kembar, terus banyak!"

__ADS_1


"Nggak,"


"Amin,"


Bintang dan Intan bersamaan menjawab dengan jawaban berbeda.


"Jangan kembar, Ang ," wajah Intan panik.


"Mending kembar, atau tiap taun?" tantang Bintang pada istrinya yang sedang menatapnya takjub.


"Di kata anak kucing apa?"


"Lah, nih ada yg hamil kucing!" Bintang menunjuk Mentari dengan pipi yang mengembung karena gerakan Lidah yang menunjuk ke arah Mentari.


"Kakkkkkk ... Aku, tlp Mas Dafa ya. Atau Ayah, biar kakak ada yang bully." Ancam nya.


Bintang tergelak, "Aduan,"


"Makanya jangan main-main sama Istrinya Dafa Putra Harun, sama anak kesayangan Bapak Gunawan. Masih berani?" tanyanya dengan wajah sombong.


"Dih," Bintang mendekat dan Tukk ...


Dia menjitak kepala adiknya itu.


"Ang, apa sih!"


"Teh, ampun. Kenapa kuat sih? kalo nggak kuat lambaikan tangan. Biar aku jemput!" Mentari berkata dengan raut terlihat begitu cemas.


Intan hanya terkikik apalagi melihat raut wajah suaminya yang terlihat geram.


"Awas, ya Lu!" Bintang merangsek kembali akan mendekat Intan dengan sigap mendorong nya ke arah teras.


"Kebiasaan," sungut Intan.


Bintang hanya tersenyum.


"Kasih sayang adik dan kakak!" belanya.


"Ngeri," Intan memukul pelan dada suaminya.


"Ntar aku jemput, jangan capek-capek, jangan angkat bocil-bocil, jangan lupa makan!" Kemudian satu kecupan di kening Bintang kembali layangkan.


*


*


Sudah beberapa jam Intan berada di rumah adik iparnya itu.


Mentari keluar dari kamar nya dengan sebuah botol obat.


"Apa ini?" Intan bingung saat adiknya memberi sebuah botol kecil kepada dirinya.


"Siapa tau perlu, setelah aku denger cerita teteh tadi. Soal Kak Bintang yang durasinya bentar, cobain itu deh, lama loh!"


"Ayah nya Helen sebentar juga?" tanya Intan dengan ragu dan malu-malu.


"Nggak juga sih, cuma kita pernah ampe mau pingsan gegara jamu itu, pake nya se sendok aja. Jangan banyak-banyak, bahaya." Mentari menahan tawanya.


Intan tersenyum, " Ok, eh tapi walaupun durasi sebentar. Mas Bintang suka minta nambah," Intan berbisik sambil melihat situasi di mana Helen dan Shera tengah bermain di depan TV bersama pengasuh baru mereka.


"Iya, kalo itu sama. Terserah sih, mau sebentar berkali-kali, atau sekali tapi lama. Intinya sama-sama bikin gempor kan?" Mentari kembali tertawa.


"Pokoknya, itu jamu legend dari Ibunya Kak Rijal," katanya lagi.


Intan mengangguk. " Ok," .


"Semoga cepet jadi ya!"


"Amin, " Intan mengaminkan sambil mengelus perutnya.


Bersambung ❤❤❤


like, komen, makin sepi nih puasa😏😏 padahal ehmm nya udah setengah mati aku tahan ini🤧🤧


Eh tapi banyak yg lagi marathon baca Mentari sama cerita Ini, padahal banyak ehmm nya kan, duh semoga dosa kalian tanggung masing-masing ya🤭😖😖.


Dah lah, sehat dan bahagia selalu teman😘😘

__ADS_1


__ADS_2