
...ππππ...
Intan sedikit berlari saat motor nya sudah ia parkirkan dengan asal. Memasuki gedung rumah sakit dan langsung masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai 3 di mana kakang nya di rawat.
Berlari di lorong rumah sakit yang sepi hanya dua orang suster jaga yang duduk di tempat nya di ujung lorong.
"Sus ... " sapa nya pada seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan tempat kakang nya di rawat.
"Pasien sempat drop, tapi sudah stabil. Bahkan beliau sadar," terangnya sebelum pamit.
Intan langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan baju steril nya. Menghampiri kakangnya yang tengah berbaring.
"Kang ... " panggilnya tangannya langsung menyambar tangan kurus hangat itu.
Adit yang asalnya terpejam sedikit membuka matanya. Sedikit tersenyum saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Neng ... " panggilnya pelan bahkan sangat pelan nyaris tak terdengar.
Intan mengantuk duduk di kursi dengan tangannya masih menggenggam tangan hangat kakangnya.
"Gimana kang?"
"Enakkan," Adit menyunggingkan sedikit senyuman.
Intan malah menangis melihat lagi-lagi kakangnya berbohong. Jelas terlihat kakangnya itu terlihat lemas sesekali memejam menahan sakit.
"Kang, Neng hamil. Kakang mau jadi uwaa, sehat ya?" Intan menciumi tangan kakangnya itu.
Lelaki itu memejam sedikit lebih lama lalu kembali membuka matanya, "Neng, bahagia ya! neng harus bahagia. Maafin kakang," bisiknya bibir nya bergetar menahan tangis. Dan Intan tentu saja semakin meraung.
"Neng ... " panggilnya
"Iya, kang?"
"Mana suami ... ? ucapnya semakin lirih.
" Di rumah,"
"Panggil,"
Intan mengangguk lalu keluar untuk menghubungi suaminya. Ternyata banyak panggilan masuk yang tak terjawab olehnya karena tas miliknya di simpan di meja perawat yang sedang berjaga.
"Angg... "
"... "
"Ke sini, ke rumah sakit. Ka-kakang ... " Dia tak sanggup meneruskan rasanya nafasnya semakin sesak dan tubuhnya lemas.
Terdengar suara suaminya yang panik di sebrang sana, dan tanpa memutus panggilan Intan terus menempelkan ponselnya di telinganya. Sesekali terdengar suaminya itu mengucapkan kalimat penguat dan mencoba menenangkan nya.
Saat masih mendengarkan perkataan suaminya, seorang berlari keluar dari ruangan Adit, dan berlari meminta temannya memanggil dokter jaga.
Intan menegang bahkan tubuhnya seketika mematung, berdiri dan langsung berlari masuk ke dalam ruangan kakang nya.
Terlihat seorang suster sedang berusaha menenangkan kakangnya yang sedang mengerang dengan tubuh yang berguncang hebat menahan rasa sakit.
"Kang ... kakang, kakang.... harus kuat, jangan tinggalin neng... "
"Kang .... " Intan histeris dan langsung di bawa keluar ruangan oleh seorang suster yang baru saja muncul bersama dua orang dokter.
Menangis di depan dinding kaca, melihat keadaan kakangnya yang sedang di tangani oleh para dokter yang di bantu tiga orang suster.
"Kang ... " tangannya memegang kaca yang membatasi ruang ICU dengan ruang tunggu
Intan kembali memegangi perutnya yang kembali terasa kencang, hanya saja lebih sakit dari biasanya.
"Aww ... " Intan meringis lalu mundur untuk mendudukkan tubuhnya.
Saat sedang duduk suara langkah kaki yang berlari terdengar mendekat, Intan langsung menoleh dan mendapati suaminya tengah berlari ke arahnya dengan celana jersey dan jaket yang menempel di tubuh nya.
"Yank ...
" Ang ...
Mereka saling menyapa, Bintang langsung duduk dan Intan langsung menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan Suaminya itu.
"Kakang ... "
"Iya, mungkin ini yang terbaik. Aku udah hubungi Bunda buat ngurus semuanya... "
Intan yang tengah memeluk tubuh suaminya langsung merenggangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Buat pemakaman sama acara lainnya... "
"Kakang nggak meninggal, dia cuma lagi drop aja. Kamu nyumpahin kakang meninggal? jahat ... adik ipar lucnutt... " Intan menangis sambil memukuli suaminya.
Bintang memucat, dia mengira Istrinya tadi menelepon memberi kabar bahwa kakaknya itu meninggal, taunya dia salah faham dan kali ini fatal.
"Ya ampun, maaf ... maaf sayang, aku salah kira. Aku juga berharap kakang kamu sembuh dan bisa menyambut kelahiran anak kita yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya." Bintang memucat melihat reaksi marah istrinya.
Intan menangis menutup wajah nya. Bintang merangkul dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Sebelah tangannya mengetikkan pesan untuk sang Bunda tentang kesalahpahaman itu.
*
*
Saat seorang dokter keluar dari ruangan itu memanggil Intan dan Bintang untuk masuk ke dalam ruangan rawat Adit.
"Kondisi pasien semakin lemah. Mungkin ada kata-kata yang ingin beliau ucapkan, sedari tadi manggil nama Neng ... " Kata dokter itu yang berjalan mendahului Intan dan Bintang.
"Itu, panggilan untuk saya Dok!" Intan berjalan tepat di depan dokter bertubuh tinggi besar itu.
Mereka sudah berdiri mengelilingi Adit yang tengah memejamkan matanya.
Intan malah kembali menangis tak kuat melihat keadaan kakang nya itu.
"Kang... ini, Mas Bintang udah ada. Kakang mau ngomong apa?" Intan berbisik di telinga sebelah kanan Adit.
Bintang mendekat.
"Kang ... " sapanya.
Adit membuka matanya perlahan, selang oksigen yang terpasang di hidungnya membuat suara Adit terdengar sedikit aneh.
Intan mengusap wajah pucat dengan titik-titik keringat di sekitar dahinya. Adit memejam sesaat, bibir keringnya sedikit terbuka dia terbatuk tangannya memegangi dada kiri nya. Sedetik kemudian dia mengerang kesakitan.
Dokter yang berjarak tak begitu jauh lalu mendekat mencoba memberi pertolongan.
" Neng .... " Suara Adit tercekat dan sangat pelan.
Intan yang sedang menangis di pelukan suaminya langsung menghampiri dan tangan Adit yang terulur dia sambut.
Sorot mata Adit mengingatkan saat-saat terakhir Mama nya dulu. Intan semakin mengeratkan tangan mereka. Kakang nya yang begitu penyayang , di balik sikap kerasnya dia menanggung begitu banyak rasa dan kekecewaan, memikul tanggungjawab yang besar. Berubah saat Mama mereka memutuskan untuk kembali menikah namun dengan seorang lelaki pengangguran dan manja. Membuat Mama mereka banting tulang untuk membiayai suami baru nya yang memang bermulut manis namun pemalas.
"Kang ... " Intan kembali memanggil kakangnya yang terpejam sedikit lebih lama. Lalu helaan nafas berat dan seperti tercekat dia dengar.
"Ayo, tidur sama kakang. Kayak kita dulu," Adit mengangguk seperti memohon.
Bintang yang berada di sebelah Intan mengerutkan keningnya. "Ngapain coba tidur bareng kek gitu?" gerutunya dalam hati.
Intan menoleh pada dokter dan suster yang duduk di ujung ruangan.
"Dok?" Intan bertanya.
Lalu dokter itu mendekat dan mendengar penjelasan Intan tentang keinginan Adit.
Dokter mengijinkan, Bintang dan dokter di bantu perawat membenahi posisi tubuh Adit. Intan semakin berpikiran negatif soal kakangnya bahkan tidak mampu untuk menggeser sedikit tubuhnya.
Adit mengulurkan tangannya sedikit lebih tinggi untuk menjangkau adiknya.
Intan sedikit merangkak menaiki ranjang rumah sakit itu. Lalu dia merebahkan tubuhnya di sebelah sang kakang.
Bintang hanya diam menyaksikan istrinya itu tidur berduaan di depan matanya. Apalagi saat Adit mengusap perut istrinya. Dan menggaruk punggung tangan Intan yang sedang memeluk nya, walaupun dia adalah kakak iparnya. Tapi rasa sedikit cemburu jelas nampak di mata Bintang.
Tak lama Intan tertidur dengan dengkuran halus di sebelah Adit. Bintang yang duduk di kursi di belakang punggung istrinya, sontak menoleh saat Adit memanggilnya.
"Pindah sini, gue mau ngomong.. " Adit berkata dengan sangat pelan.
Bintang bangkit membawa kursi nya menuju sisi Adit.
"Gue, titip si neng ya ...
"Jaga dia ...
"Nggak usah di keras, lu nggak akan kuat nahan amarah orang yang diem memendam!"
"Adik gue bukan orang yang banyak omong, tapi sekali dia sakit hati marahnya bukan dengan mulut. Dia akan pergi menghindar. Dia kayak air, semakin lu cengkram dia akan lepas."
"Sosok penurut dan penyimak yang baik, kalo lu ngasih tau sesuatu nggak usah berulang-ulang. Dia paling nggak suka terus di ingatkan hal yang sama!" tambahnya lagi.
Bintang mengangguk, "pantes ... "
__ADS_1
"Apa?"
"Iya, mulai hapal sifatnya." Jawab Bintang.
Adit menyunggingkan sedikit senyuman.
"Dia melakukan apa yang hatinya yakini, jadi kalo lu niat mengatur dia harus kena ke hatinya dulu, bakal gampang," Bintang sedikit mengerang.
"Istirahat, kakang kebanyakan ngomong!" Bintang sedikit panik saat melihat kakak iparnya mengernyit memegangi dadanya.
"Pokoknya lu harus bikin dia bahagia!" Adit kembali berkata.
"Pasti, tanpa di suruh. Pasti, akan di pastikan adik kakang bahagia punya suami kayak saya." Bintang berkata dengan sombongnya.
Adit mengangguk kecil, kepalanya sedikit menunduk untuk mencium kepala adiknya. Setelah nya dia mendongak sedikit megejan menahan sakit.
Adit tak lama tertidur, Bintang memandang adik kakak yang tengah tertidur itu, dia mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu.
"Kayak anak kecil," gumamnya menyembunyikan rasa cemburu nya.
Dia pun membenahi duduknya dan tak lama dia pun ikut tertidur.
*
*
Tiiiiiiiiiiiittttt
Suara mesin EKG memecah keheningan, Intan dan Bintang yang sedang tidur pun terlonjak kaget. Lalu melihat Adit ...
Intan menjerit histeris saat tak bisa membangunkan kakangnya, suster dan dokter jaga masuk setelah Bintang memencet tombol emergency. Intan langsung di tarik turun oleh Bintang untuk memudahkan dokter memeriksa keadaan Adit.
Intan meraung histeris dalam pelukan suaminya.
Lalu dokter berbalik dan menggelengkan kepalanya.
Seorang suster menarik selimut hingga menutupi kepala Adit sepenuhnya.
"Nggak.... Kanggggg.... " Intan meronta dengan jeritan histeris, Bintang mencoba menenangkan istrinya, tubuhnya menerima pukulan dan cakaran karena menahan Intan untuk tidak bereaksi yang bisa membahayakan kehamilannya.
Lalu pergerakan istrinya itu melemah, dan tubuh Intan merosot lemas. Bintang langsung memboyongnya keluar dari kamar Adit.
Dia khawatir akan keadaan istri dan calon anak mereka.
"Aku, sendiri ... "
"Kang... Neng sendiri."
Bintang masih memeluk istrinya, "Ada aku, kamu nggak boleh ngomong gitu!" Bintang memeluk Intan semakin erat. Mencoba menenangkan istrinya,
"Bu, jenazah mau di mandikan di sini atau mau di rumah duka?"
"Di sini saja, Sus. Tapi saya ikut," Intan bangun namun perutnya kembali merasakan sakit, dia reflek memegang pundak Bintang.
"Sakit lagi?" Bintang terlihat panik.
Wajah istrinya yang sembab membuatnya benar-benar iba dan frustasi. Takut terjadi apa-apa dengan anak istrinya itu.
Walaupun pikirannya seketika di buat bingung, Intan wanita dewasa akan memandikan kakaknya yang juga sudah dewasa, terus nanti bagian bawah kakak iparnya apa akan ... "Sial, otak gue!" dia menggerutu di dalam hati.
Intan mendekat ke arah pintu di mana tubuh kakangnya di bawa menuju tempat di mana dia akan di mandikan dan pengurusan yang lainnya.
Bintang merangkul Intan yang berjalan di belakang brankar yang membawa Adit.
"Kang ... "
"Shhtt ... Kakang udah nggak sakit lagi, ini yang tetbaik!" Bintang mengecupi kepala istrinya yang menyandar di dadanya.
"Aku, sendiri."
"Ada aku, Yank... kamu ngomong gitu terus! ada Ayah, Bunda, chaca. Kita semua ada buat kamu!" Bintang menghentikan langkah mereka menangkup wajah sembab istrinya dan mengecup singkat keningnya.
"Ikhlas, ya!" Pintanya.
Intan mengangguk namun lagi-lagi air mata meluncur deras. Bintang memeluk tubuh itu, mendekapnya hangat, memberikan setitik rasa nyaman dan perlindungan untuk istrinya.
Mereka pun kembali berjalan ke arah brangkar Adit yang sudah semakin menjauh.
Bersambung β€β€
Like, komen
__ADS_1