
...🦋🦋🦋🦋🦋...
Intan membuka matanya saat suara alarm di ponselnya berbunyi. Sudah jam lima pagi dan dia bergegas bangun membersihkan wajah dan melakukan aktivitas pagi harinya.
Merasa sepi dan seolah ada yang kurang. Saat dia keluar hendak menggantungkan handuk kecil khusus handuk wajah, dia melihat kemeja flanel biru bergaris hitam dan celana chinos milik Bintang.
Di pegannya baju yang setengah kering itu.
Wangi parfum nya masih tercium mengalahkan bau deterjen dan pewangi pakaian.
Intan tersenyum, kemudian meninggalkan baju setengah basah itu dan menarik handuk mandinya.
Dia sedang membuat tempe mendoan dan telur dadar, saat selesai dia termenung. "Banyak amat ya masaknya, kan cuma aku aja sendiri." Gumamnya.
Lalu dia langsung mandi saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Saat makan pun dia melamun sendiri.
Intan membuka ponselnya dan melihat status dalam aplikasi pesannya.
Terlihat Bintang membuat beberapa status.
"Kagak bisa tidur... woy... untuk kamu yang membuatku galauuuu ... kirim bakwan jagungnya dong... buat temen begadang " (01:32)
"Masih belum bisa moyoy ... heyy ... buat kamu yang demen seblak, jangan makan mulu seblakkk... hati ku panas dan campur aduk kek seblakkk campur" (02: 10)
"Udah mulai ngantuk, semoga kamu nyenyak di sana. Jangan mimpiin gue, awas lohh... di belakang lu ada kunkun temennya sundel" ( 02: 53)
"Do'a ini gue semoga bangun nggak barengan sama si pyton." (03:20)
Intan tertawa melihat status lelaki itu, bukannya ge-er, tapi dia yakin semua kata di status itu di tunjukkan untuknya. "Ayo berjuang sembuhin dulu luka kamu, baru ulang lagi yang kemarin," ucapnya pada layar ponsel seolah itu Bintang.
Tak lama ada status baru yang di buat Bintang.
"Cie ... ngintip status orang, udah ada kedut-kedut ya? eh .... efek nyetrum maksudnya🤣🤣🤣"
( baru saja)
Intan tiba-tiba merona setelah membaca status itu.
Lalu dia memberanikan diri membalas dengan membuat status nya sendiri.
" Jika luka itu belum sembuh, jangan datang untuk sekedar mencoba mengobati. Karena luka itu bukan aku yang buat, jadi jangan pinta aku menyembuhkan nya. Datang lah dengan hati yang sehat karena aku tidak akan menyakiti."
Intan menutup matanya saat mengklik tombol kirim pada layar ponselnya.
Dan sesaat kemudian kalimat itu sudah menjadi status di aplikasi pesannya. "Ya, ampun aku ngapain sih kekanakan banget," ucapnya saat akan menghapus nya. Terlihat lambang mata itu bertuliskan angka 1 di pinggirnya menandakan ada yang melihat statusnya.
Ternyata itu Bintang yang melihat nya.
Lalu ponselnya berdering.
Intan yang memang ingin memberikan waktu pada Bintang, sengaja tidak menjawabnya.
Tiga panggilan tak dia jawab dari lelaki bersumbu pendek dan bermulut lemes yang tengah gencar menggombali nya.
Lalu sebuah notif pesan terdengar, "Jawab nggak ?"
isi pesan Bintang.
Intan takut dia terbujuk rayu, dia acuhkan pesan itu sambil berjalan menuju pintu, sambil mengenakan sepatu kerjanya.
Dia berjalan menuju kantor nya dengan melewati gang - gang kecil yang menjadi jalan tikus menuju kantor nya.
__ADS_1
*
*
Di lain tempat.
Bintang mendengus kesal saat dia tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya, juga pesan yang dia kirimkan pun tidak mendapatkan jawaban.
Saat dia tengah mengerang frustasi, ketukan pintu terdengar di luar.
"Masuk aja Bun, nggak di kunci." Bintang berteriak, dia taunya itu Bunda nya. Hanya Bunda nya yang sering menemuinya di kamar.
"Eh ... tuan Raja, tumben mampir ke kamar ajudan," ucapnya saat tau Ayah yang datang.
"Ck, ajudan melehoy. Patah hati kabur nggak pulang-pulang." cebiknya.
"Dua hari doang, Yah. Gusti... kek di tinggal sebulan. Kangen sama anaknya yang ganteng dan karismatik ini ya?" dia mendudukkan tubuhnya menyandar di dinding.
"Karismanuk kamu mah, bocah gendeng."
Bintang hanya tertawa mendengar ledekan Ayah nya.
"Cerita sama Ayah, kurang kamu apa dari lelaki pilihan Naya?"
Bintang mengehal nafasnya kasar.
"Minum dulu gih, bau jigong." Ayah menutup hidungnya tangannya meraih gelas yang ada di meja nakas pinggir tempat tidur putra ke dua nya.
Bintang meraihnya sambil tersenyum, "makasih tuan Raja," dia mengembalikan gelas itu pada Ayah nya.
"Simpen sendiri, semprul." Ayah menolak menyimpan gelas kosong bekas anaknya itu.
Bintang berdecak sambil tangannya mengulur menyimpan gelas kosong itu.
"Ayo, cerita. Keburu nasi goreng Bunda jadi," ujar Ayah memaksa.
"Ck, kek anak perawan kelakukan kamu. Buruan, Ayah nggak punya waktu lama." Sungut nya kesal.
"Nggak ada kurangnya loh, anak mu ini. Yah."
"Nggak mungkin,"
"Asli, dia udah tua, pendek kek Ateng, perut buncit, kumis kek Pak raden."
"Terus?" Ayah semakin penasaran.
"Terus, dia pake mobil Alpprreettt." Bintang tertunduk lemas.
Sang Ayah hanya terbahak-bahak mendengar ucapan terakhir dari putranya.
"Nah... itu, 1 kelebihan dia ngalahin semua yang kamu banggakan. Duit ngalahin segalanya, buruan kerja yang bener, tuh Abang kamu sekarang sambil buka usaha cafe kecil-kecilan, Cindy istri Abang kamu sambil jualan baju online padahal punya bayi."
"Nah, itu aku juga niat awal sama si sundel mau bikin usaha gitu, lah malah dia milih buka paha sama si Ateng,"
"Semprul ... " Ayah memukulnya dengan bantal.
"Sundel?" dia mengulang ucapan anaknya.
"Iya, si cewe sundel."
"Iya, dan kamu Tuyul nya, pas emang."
"Yah, tuyul mah di susuin. Aku nggak ... "
__ADS_1
"Nggak apa? nggak pernah kelewat? Ayah nggak yakin kamu polos bin suci. Mulut kamu rombeng penuh gombalan modus, yakinlah...."
Lelaki tua itu keluar kamar anaknya sambil tertawa melihat anaknya hanya memanyunkan bibirnya.
"Si, Ayah. Masa gue cerita baru pertama ngerasain eh, susu nya nyembur. Ngulang yang ke dua kalinya nggak lama malah pyton gue yang nyembur bikin malu." Gumamnya setelah Ayah nya keluar dari kamar.
Dia membayangkan akan ledekan seumur hidup dari Ayah nya jika hal barusan di ketahui sang Ayah.
Bintang bangun masuk ke dalam kamar mandi, bersiap untuk pergi ke kantor.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
Dua minggu berlalu
Bintang sedang berkunjung ke rumah Adiknya, itu hari Sabtu. Dia berencana ke Jakarta untuk menemui Intan. Tapi bingung dengan alasan yang akan dia pakai saat bertemu Naya.
Saat sedang bermain, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan rumah adiknya itu.
Bintang yang sedang makan di meja makan adiknya, menoleh sesaat.
"Cha ... ada tamu tuh,"
"Chhhaaa ... " teriak nya lagi.
Mentari keluar dari kamarnya dengan handuk menggulung di atas kepalanya. Di susul Dafa dengan keadaan yang nyaris sama.
Bintang melongo melihat keadaan di depannya.
"Si gokil... kalian, abis kebanjiran? bisa-bisanya ada gue di sini makan, tuh si Helen nonton kartun di situ. Lu berdua indehoy di dalem."
"Heh... memanfaatkan waktu sebaik mungkin," Dafa terbahak sambil melewati kakak iparnya yang juga mantan musuhnya.
Bintang menggelengkan kepalanya.
"Kapan gue bisa bales kalian soal beginian?"
"Nikah, makannya." Mentari ikut meledeknya.
"Calonnya masih di Jakarta, masih gue bujuk. Susah banget di ajak serius." Bintang berucap sembari terus menjejalkan makanan yang dia bawa dari rumah Bunda.
"Eh ... Teh Intan, kirain siapa! Ya ampun pangling cantik banget," Mentari berteriak saat membuka pintu ruang tamu.
Bintang yang membola matanya saat mendengar nama Intan di sebut langsung merapikan dirinya.
Mulut yang masih penuh dengan risoles mayo, dia coba telan tapi susah karena terlalu penuh.
Namun dirinya mematung saat melihat Intan masuk ke dalam rumah dengan penampilan sangat cantik.
"Edo, sorry gue ngerepotin nih. Kalian liburan harus tetep ke sini," Dafa terdengar menyapa seseorang.
Bintang menolehkan kepalanya dan terlihat seorang lelaki tampan berkacamata dengan tubuh tegap dan tinggi berdiri di belakang Intan.
"Si, anjir... gue di suruh moveon. Dia malah kecantol," geramnya kesal.
Lalu menyentak piring berisi risol itu sampai berdenting di atas meja makan kaca itu.
"Gue, pulang. Gerah banget rumah lu, bau seblakkk basi... " Bintang berpamitan dengan tatapan sinis pada Intan.
Bersambung ❤❤
like...
komen...
__ADS_1
favoritnya...
Kalo semangat aku up lagi malem, kalo nggak besok aja🤭. Ini nggak ada ngakaknya. lagi nggak **** ngelucu 😫😫🥺