Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Ketegangan


__ADS_3

...--oOo--...


"Aku mau tidur, itu hukuman kamu. Soalnya abis peluk-peluk mantan," Intan memunggunginya dengan selimut yang membungkus rapat tubuhnya.


"Hei, mana bisa gitu? kamu! seakan aku hanya seorang pe*muas, di tinggalin udah kamu puas!"


"Yank, Sayang... Intan... cungkring ... " Dia memanggil hingga akhirnya memaki sang istri yang dengan cepatnya masuk ke alam mimpi.


Tak ada pergerakan dari si istri, dengan amarah dan bi*rahi yang sedang ada di puncak, membuat Bintang menyerangnya. Membalikkan tubuhnya hingga Intan terlentang dengan sekali gerakan dari si suami.


"Kamu, jangan suka seenaknya .... " terlihat kilatan marah dari Bintang.


"Terus kamu bebas gitu? peluk-peluk mantan?" Intan mencoba mendorong tubuh si suami.


Bintang semakin mengungkung tubuh besar si istri, bahkan perut mereka pun sudah saling bersentuhan.


"Ang, kasian anak-anak. Kamu kalo marah suka nggak sadar!" Intan kembali mencoba menyingkirkan si suami.


"Kamu, yang ambekan nggak jelas. Cemburu?" matanya masih menatap Intan.


Kepala mereka yang sejajar tak bisa membuat Intan memalingkan wajah nya.


"Jawab? kamu cemburu?"


Intan memberanikan diri membuka mata dan membalas tatapan Bintang yang masih berada tepat di atasnya.


"Kamu pikir aja, aku boleh nggak meluk laki-laki lain, atau contohnya Mas Faisal, boleh nggak?"


"Hei ... jangan pernah kamu coba-coba!" ucapnya.


Intan mencibir. "Terus kamu boleh gitu?"


"Ini, Beda masalah nya, Yank. Dia baru kehilangan adik dan Ibu nya."


" Kamu nggak lupa kan? aku juga udah nggak punya siapa2!"


Bintang menghela nafasnya, memang ini salah dia. Sok humble malah menjadi petaka di rumah tangga nya.


"Ok, maaf. Tapi kamu punya aku, keluarga besar kita. Mereka semua sayang kamu, kayak nya melebihi sayang sama aku yang keluarga kandung mereka," katanya sedikit mengiba.


"Karena nggak ada yang bakal kuat ngadepin kamu, sekuat aku!" Intan memajukan bibir bawahnya.


Bintang terkekeh kecil, benar sekali ucapan istrinya.


"Ya, udah lanjut yang tadi yuk?"


"Nggak, aku capek mau berendam air panas!" Intan beringsut bangun walaupun kesusahan.


"Aku bikinin susu hangat ya?" Dia berjalan keluar dari kamar. Melenggang dengan boxer ketat yang dia pakai asal.


Intan menatap punggung lelaki itu yang sering sekali membuatnya naik darah. Namun anehnya cepat sekali membuat hatinya luluh kembali.


*


*


Intan berendam dengan nyaman. Air hangat seolah memberi pijatan pada tubuhnya yang sempat tegang dan ngilu di seputar perut nya.


Suara pintu terbuka menarik perhatiannya.


Intan membuka mata dan menoleh ke arah pintu.


Ogh, sungguh manis suaminya itu. Benar dia datang dengan segelas besar susu hamil miliknya. Namun ada yang membuatnya ingin meneriaki si suami. Lelaki yang dia cintai itu melenggang dengan polos tanpa penutup tubuh sedikitpun.


"Susu coklat datang!" katanya dengan suara ceria.

__ADS_1


"Di tambah dua telor dan satu pisang!" tambahnya lagi.


Intan ingin marah malah terbahak mendengar apa yang suaminya katakan.


"Ang, kan aku nggak mau!"


"Kamu nolak suami, dosa!"


"Suaminya yang nggak tau situasi dan tempat," Intan menyela.


Bintang menyodorkan gelas besar berisi susu hamil berperasa coklat itu.


"Aku tunggu kamu lebih seger,"


"Besok segernya gimana?" Tanya Intan dengan ujung mulut menyisakan jejak susu yang dia minum.


"Ck, keburu kisut. Sambil aku pijat ya?' tawarnya.


Intan yang memang sedang butuh pijatan itu langsung mengangguk antusias.


Bintang masuk ke dalam bathtub, duduk di belakang tubuh si istri. Mulai memijat pundak dan menjalar ke punggung.


" Enak?" tanyanya sedikit mencondongkan kepalanya di dekat bahu Intan.


Ibu hamil itu hanya mampu mengangguk kecil.


Matanya seketika membulat saat telapak tangan kokoh suaminya menangkup kedua buah miliknya.


"Ang?" bentaknya.


Bintang terkikik dan memeluk erat tubuh istri nya yang sedang merajuk.


"Sebentar aja, kamu udah masa aku nggak?" mohon nya.


Terdengar berdecak kesal namun Bintang tak mampu menolak keinginan Intan.


Dan kegiatan penyatuan itupun kembali terulang di kamar mandi dengan hati-hati dan dengan paket ekspres pula. Beralasan tak tega membuat si istri kelelahan dalam posisi sulit.


Mereka keluar dari kamar mandi. Saat sedang memakai pakainya, Intan menjerit kesakitan. Perutnya seolah di pelintir.


"Ang ... " Dia menjerit. Bintang yang sedang memakai celana jersey nya langsung mendekat.


"Apa?"


"Kenapa?"


"Mana yang sakit?" di memberondong istrinya dengan pertanyaan.


"Sakit, perut aku sakit. Ini, sampe pinggang jiga sakit," Intan meringis.


Bintang yang panik langsung memapah istrinya keluar dari kamar.


"Ang,"


"Iya, sabar."


"Ini, aku nggak akan pake baju gitu?" Intan menunduk menatap tubuh nya yang baru memakai pelapis pertama.


Bintang menepuk kepalanya.


Lalu kembali masuk ke dalam kamar mengambil daster yang sudah istrinya siapkan untuk di pakai.


"Ang," Intan lagi-lagi menjerit dengan tubuhnya yang sedikit menunduk menahan rasa sakit.


Bintang datang dan langsung memakaikan daster itu pada si istri.

__ADS_1


"Ini baru mau 8 bulan kan, Yank?" tanyanya panik.


Intan mengangguk, tangannya meremat kuat ujung kaos si suami.


"Malah kurang 4 hari lagi ke 8 bulan. Aduh, Ang ... sakit, sakit banget ... " Mereka sudah sampai teras, saat Bintang mengingat kunci mobilnya masih tertinggal di dalam.


"Ngga, jangan di lepas. Ini sakit banget, aku takut jatoh!" Intan enggan melepaskan tautan tangan mereka.


"Duduk dulu, sebentar. Aku ngambil kunci dulu, gimana kita pergi coba?" Bintang mendudukkan istrinya dengan saat perlahan.


"Gara-gara kamu, kenapa sesakit ini!" Intan terus memaki si suami yang sedang berlari mengambil kunci mobil.


"Iya, salah aku bikin kamu hamil. Kamu juga gampang banget di hamilin," katanya membela diri saat datang dengan kunci mobil.


"Aduh ... Ibu ... " Dia menjerit bahkan menangis, saat rasa sakit semakin menjalar dari perut hingga pinggangnya.


Bintang yang panik langsung masuk mobil, saat mereka berdua sudah di dalam mobil. Intan menepuk keras paha si suami. "Pagernya, buka dulu!"


Bintang yang sedang panik, langsung turun tergesa-gesa dan membuka pagar rumah mereka.


"Angg... " Intan menarik rambut Bintang yang baru saja masuk kembali ke dalam mobil.


"Sabar, aduh. Jangan jambak, sakit ini!"


"Aku yang lebih sakit," jerit nya.


Bintang pasrah, tubuhnya berkeringat, kepalanya pusing, dan perutnya mual. Dia memang trauma dengan proses persalinan. Menjadi saksi saat adiknya Mentari melahirkan, tiga kali adiknya melahirkan dia menyaksikannya.


Dia juga harus rela mengemudi dengan kepala yang miring karena jambakan tangan Intan tidak juga lepas. Saat matanya menatap ke arah daster berwarna biru muda. Dia melihat ada rembesan air.


"Aduh, itu apa Yank?" tanyanya khawatir.


Intan yang sedang mengusap perutnya pun menunduk melihat apa yang suaminya katakan.


"Ang, apa ketuban?" tanyanya balik namun tangannya menyentuh rembesan itu.


Membaui ujungnya yang basah. "Ini kayak bau ... " Dia dekatkan ke hidung Bintang.


"Eh, kayak punya aku!" dia menyengir tanpa rasa malu.


"Ish, ang ... Cepet ini sakiiiit !" Intan kembali menjerit.


Bintang kembali mempercepat laju kendaraannya.


Tak kurang dari 20 menit, mobil pun masuk ke pelataran rumah sakit swasta di daerah Bandung.


Bintang melompat keluar dari mobil nya. Berteriak pada petugas untuk membantu istrinya. Tapi dia malah berlari ke arah tong sampah di pojokan.


"Huwekk ... Huwekk ... " Dia memuntahkan semua isi perutnya.


Di belakangnya Intan yang sudah di dudukan di kursi roda, malah menepuk punggung suaminya dengan sebelah tangan yang dia pakai mengusap perutnya sendiri.


"Bisa ke ruang bersalin sekarang, Bu?" tanya si suster karena merasa khawatir dengan keadaan Intan.


"Tunggu, suami saya dulu. Sus!"


"Ang, buruan!" Dia tarik ujung kemeja si suami yang sedang menunduk di tong sampah.


Bintang hanya melambaikan tangan ke arah istri nya.


"Aduh ... " Intan kembali menjerit. Dan Bintang semakin menjadi memuntahkan isi perutnya.


"Pak, tolong ambil satu kursi roda lagi. Kayaknya Bapak nya nggak akan kuat!" kata si suster pada salah satu security yang berada di sekitar mereka. Siap mendorong kursi roda yang di duduki Intan.


Bersambung ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2