
...---oOo---...
"Bener alamat nya di sini?" tanya Bintang saat mobilnya berhenti di sebuah rumah.
"Iya, sesuai kok. Rumah siapa ya?" tanya Intan menatap bangunan rumah asri bercat hijau.
"Mana aku tau, Yang. Ini kan alamat yang di kasih kakang kamu. Yuk kita turun," Bintang mematikan mesin dan turun dari mobil di ikuti Intan.
Mereka berdiri di depan pagar rumah itu, lalu seorang remaja membuka pintu rumah dan berlari menuju pagar mempersilahkan mereka masuk.
"Teteh Intan?" tanya anak itu.
Intan mengangguk dengan wajah bingung, "i-iya," jawabnya.
Lalu mereka di persilahkan masuk, saat duduk di sofa ruang tamu itu, keluar lah Bapak-bapak yang tersenyum ramah di ikuti seseorang yang mereka kenali. Ya... kakangnya muncul di belakang bapak tua itu.
"Kang ... " Intan memanggil.
Adit terlihat tersenyum, mengenakan sebuah kemeja berwarna hitam.
"Silahkan duduk," ucap sang pemilik rumah.
Mereka kembali duduk, Intan semakin bingung saat seorang Ibu memanggilnya masuk ke dalam kamar.
*
*
"Ini, pakai ini." ucap beliau memberikan sebuah lipatan kain.
"Ini?" Intan bertanya.
"Itu baju gamis," jawab nya ramah.
"Kalo sudah selesai langsung keluar ya, kita menunggu." Titahnya.
Intan yang bingung hanya mampu mengangguk kecil. Dia yang datang menggunakan celana kulot hitam dengan kemeja panjang yang membalut kaos tanktop di dalamnya langsung merentangkan lipatan baju itu.
Sebuah gamis cantik berwarna putih dengan bordir an bunga kecil berwarna merah jambu. Intan tersenyum menatap gamis itu. Lalu sebuah kain lagi seperti selendang.
Intan langsung memakainya , dia mematut tubuhnya di depan cermin. Bertanya-tanya apa yang akan di lakukan kakangnya.
Tidak berlama-lama Intan keluar dari kamar.
Pandangan nya terpaku pada Bintang dan kakangnya yang sedang berjabat tangan. Di saksikan tiga orang lelaki termasuk si pemilik rumah tadi.
Intan masih mematung di ambang pintu saat suara seruan berkata 'Sah'. Intan kaget dan sebuah usapan di pundaknya menyadarkan nya.
"Ayo, bergabung kalian udah sah suami istri secara agama," ucap si ibu itu sambil membawa tubuhnya yang masih kaget untuk menghampiri Bintang yang tengah tersenyum ceria kearahnya.
"Kalian sudah sah menjadi suami istri secara Agama." Bapak tua itu berkata.
"Sini, Yang... " Bintang menepuk sofa si sebelahnya.
Intan yang bingung duduk setelah Bintang sedikit menariknya.
"Kita udah suami istri sayang, kjta udah halal." ucapnya bahagia.
Intan menatap kakangnya penuh dengan tanya.
"Kang, kan lima hari lagi?"
Adit mengangguk, "takut nanti kakang nggak bisa dateng," jawabnya.
"Mau kemana?"
"Ada sedikit urusan," sehat dan bahagia ya neng!" ujarnya.
Intan masih merasa bingung, " ini apa sih? saya nggak ngerti!" pandangan nya menyapu pada semua orang yang ada di sana.
"Ini penghulu sekaligus pekerja di kantor KUA. Kakang sengaja minta menjadi saksi pernikahan kalian," ucapnya.
"Terus nanti lima hari lagi neng gimana?" tanyanya.
"Tinggal resepsi, sama pengurusan dokumen. Ini kan baru nikah secara agamanya." Bapak yang di sebut penghulu itu menjawab.
"Kakang nggak bisa lama, kakang harus pergi."
__ADS_1
"Kang... " Intan menahan tangan kakang nya.
Adit hanya tersenyum lalu berjalan keluar dengan tangannya yang masih di pegang Intan.
Mereka terdiam di teras, Bintang sengaja memberi waktu untuk kakak adik itu berbicara.
" Kang, kakang mau kemana? yang jelas. Kerja atau apa? jangan bikin neng khawatir!" Intan masih memegang tangan Adit.
Adit hanya mampu mengusap pipi adiknya itu.
"Kakang pergi, kalo kakang bisa hadir lima hari lagi. Pasti kakang dateng. Tapi kalo nggak maaf ya,"
Hati Intan tiba-tiba sakit, ada apa dengan kakang nya.
Lalu dia menghambur memeluk lelaki kurus yang tangannya di penuhi tato itu.
"Maafin kakang ya, kamu harus bahagia. Neng," ucapnya sambil membalas pelukan adiknya itu.
Sebuah taksi berhenti di depan rumah itu.
"Kakang, harus pergi taksinya udah dateng. Kalo lima hari lagi kakang bisa datang kakang pasti datang," ujarnya sambil berjalan menjauh dan sesekali menoleh untuk melambaikan tangannya.
Intan masih mematung hingga taksi itu melaju dan hilang semakin menjauh.
"Sayang ... " Bintang memanggil.
Intan menoleh, "ya?"
"Kita pulang?" ajaknya.
"Tapi, ada yang mau aku tanyain dulu!"
"Nanti aku jelasin, tadi udah di jelasin semua waktu kamu ganti baju di dalem,"
"Eh, iya ini bajunya."
"Nggak usah, itu emang di beli kakang nya sebagai kado pernikahan katanya," ucap pasangan suami istri itu yang berjalan mendekat.
Intan menatap pakainya, dia ingat dulu ketika SMA menginginkan sebuah gamis berwarna putih yang ada di pasar, dulu mereka baru saja di usir oleh keluarga Bapak nya. Di usir dari rumah yang mereka tinggali seumur hidup mereka rasanya begitu sedih dan sakit hati.
Rumah itu di ambil alih karena Bapak mereka meninggalkan hutang tak seberapa dan Ibu mereka tidak sanggup membayar. Dari situ lah keluarga mereka memulai penderitaan hidup.
Adit menghadapi hidup yang keras luntang-lantung. di jalan mencari pekerjaan apa saja asal adiknya bisa sekolah dan makan, hingga saat Ibu nya kembali menikah lagi. Perangainya berubah, bahkan dia pernah memukul Bapak tirinya karena menyuruh ibunya ke warung malam-malam, dia tidak Terima ibunya terlalu mengabdi pada suami barunya yang bahkan tidak bekerja, mengharuskan ibu dan adiknya banting tulang mencari pekerjaan.
Namun apa yang di lakukan nya malah membuat Intan tak mengenalinya. Dia menjadi sosok yang emosian dan lebih senang menghambur-hamburkan uang ketimbang di pakai ibunya untuk menghidupi Bapak tirinya.
Semanjak itu, Intan merasa semakin jauh dari kakangnya. Dia malah berpikir bapak tirinya orang baik hanya terkenal malas saja.
*
*
Setelah mereka pamit dengan keterangan yang sudah Intan mengerti. Mobil pun Bintang lajukan.
Lelaki itu terus mengulang rekaman video yang menampilkan dia dengan lantang dan terlihat gagah sedang mengucapkan janji pernikahan.
"Aku keren ya?"
Intan yang terus melamun kan kakangnya hanya mengangguk pelan.
"Aghh ... sayang, kita udah sah. Sekarang mau pulang kemana?" tanyanya.
"Ke rumah Bu Mentari aja," ucapnya.
"Hah?"
"Ke rumah Bunda juga nggak akan apa-apa. Kita kan udah halal, ada rekaman nya juga."
"Inget, kamu udah jadi istri. Harus nurut, mau di bawa kemana pun sama suaminya, bahkan ke lubang tikus pun kamu harus ngikutin suami." Bintang berkata dengan sombongnya.
"Ngapain ke lubang tikus?" Intan menoleh pada suaminya.
"Ehhh ... aku cium juga kamu di sini! gemeesss," Bintang mencubit pelan pipi istrinya itu.
Ciee... uhuyyy...
"Serius, ngapain ke lubang tikus?" kembali dia bertanya.
__ADS_1
"Kamu inget tato ekor pyton yang ada di pinggang belakang aku?" Bintang menepikan mobilnya.
Berbicara dengan Istrinya yang polos memerlukan fokus tingkat tinggi.
"Iya, inget."
"Terus, kamu belum liat kepala nya kan?"
Intan menggeleng pelan.
"Nah, nanti aku kenalin. Emang kamu belum aku kenalin dan belum liat bentuknya, tapi kamu udah ngerasain bisa yang dia muntahin kan?"
Intan meringis, "ngomong naon sih? pabeulit!" (ngomong apa sih? berbelit!) gerutunya kesal.
Bintang menarik tubuh Intan agar mendekat.
"Denger istriku sayang, kamu tau pyton makannya apa? Tikus kan?" Intan mengangguk. "Makanya kamu harus bawa dia ke lubang tikus!" ucap Bintang iseng mulutnya melipat keras menahan tawa.
"Kamu nggak lagi iseng kan?"
Suara tawa keras Bintang meledak juga, lelaki itu tak tahan melihat raut wajah istrinya yang berpikir keras.
"Kepala pyton kamu pasti pengen masuk lubang tikus, nggak perlu masuk punya aku berarti ya? ok fix aman!" Intan membalasnya dengan elegan.
Bintang yang sedang menertawakan nya seketika panik.
"Eh, nggak gitu peraturannya sayang." Bujuknya panik.
"Sana main ke sawah banyak tuh lubang, mau lubang tikus, lubang belut, atau lubang kepiting. Mamam tuh lubang, punya aku selamet." Intan kini tertawa membalas suaminya.
Bintang menarik dan menggenggam tangan Intan yang dia kecup bergantian.
"Please sayang, dia harus masuk ke yang kamu punya. Kasian belum pernah rekreasi mainnya kurang jauh," bujuknya.
Intan masih mendiami nya, merasa suaminya itu harus di kasih sedikit pelajaran.
"Gimana entar deh,"
"Eh, nggak boleh gitu. Dosa nolak suami,"
"Masa? giliran gini aja bawa-bawa dosa." Intan mencibir.
Bintang meringis mendengar omelan Intan yang menjatuhkan mentalnya.
"Udah di bawa main kemana aja si pyton sama suster bohay itu?" Intan tiba-tiba ingin mengetes kejujuran suaminya.
Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pertanyaan jebakan ini," ucapnya.
"Jawab?" Intan kembali bertanya dengan rasa penasaran, dia siap mendengar jawaban paling menyakitkan sekaligus.
"Aku, cuma yang kemarin sama kamu. Kayak gitu doang!" Bintang terlihat gugup.
Intan menangkap gerak-gerik Bintang.
"Terus?"
"Ehm ... sama di karaoke!" Lelaki itu menyeringai dengan wajah memucat.
Intan terlihat jijik mendengar penuturan Bintang.
"Tapi sayang ... keran nya eh... maksud aku kepala pyton nya kan sekarang mutlak punya kamu,"
"Tapi tetep aja itu bekas mulut suster itu," Intan membuang wajahnya pura-pura merajuk, padahal sebenarnya dia tidak mempermasalahkan itu, setiap orang punya masa lalu dan yang penting baginya adalah sekarang dan masa depan.
"Aku cuci bersih, pake antiseptik, kalo perlu aku ampelas biar makin licin dan mengkilap. Pokoknya dia bakal bikin kamu merem terus melek gitu aja terus saking mantapnya," Bintang malah tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Dasar gila," Intan akhirnya tak kuat menahan tawanya, sambil memukul lengan Bintang.
Bintang ikut tertawa, "Dan beruntung nya kamu mau sama laki-laki gila ini. Makasih ya!" Bintang menarik Intan ke dalam pelukan nya.
"Yuk ah kita pulang, pengen tau si pyton nyasar nggak ya?" Bintang terlihat antusias melajukan kembali mobilnya ke rumah orang tuanya.
Like...
komen...
favoritnya ...
__ADS_1
Jangan bully tang ku ya🤣🤣🤣 Aku nggak terangin proses nikahnya, tau udah sah aja ya. Itu Sakral 🤭🤭🤣🤣 Yang di tunggu bukan itu kan? 😝😝😝