
...---oOo---...
Beberapa hari berlalu.
Dafa dan Mentari sedang berbincang di teras rumah, dirinya baru tiba dari rumah sakit.
Seorang hansip komplek yang kebetulan melintas di depan rumah nya, langsung memberikan salam dan mendekat.
Beliau memberikan surat edaran penagihan uang sampah dan keamanan, Mentari masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang.
Si hansip pun duduk di kursi bersebelahan dengan Dafa.
"Baru keliatan pak?"
"Iya, saya di rawat di rumah sakit pak. Agak kurang sehat seminggu kemarin," kata Dafa.
"Oalah, maaf Pak saya nggak tau. Sekarang gimana?"
"Alhamdulillah, udah sehat." Jawabnya.
"Pantesan, beberapa hari kebelakang ada mobil sedang hitam parkir di sini. Malam-malam, tunggu saya foto platnya." Lalu si hansip itu mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik sebentar sebelum memberikan nya pada Dafa."
Dafa termenung melihat, mobil dan plat nomor itu. "Oh, iya. Ini mobil kakak ipar saya."
"Syukur kalo begitu, sekarang musim banyak orang nekad, saya takut kalau ada apa-apa. Terus kalo motor besar warna biru?"
"Iya, itu juga motor kakak ipar saya." Dafa kembali membenarkan.
Tak lama Mentari datang dengan beberapa lembar uang di tangan nya, dan memberikannya pada suaminya.
Dafa langsung memberikannya pada Hansip itu, setelah mencatat beliau pun pamit kembali untuk keliling.
*
*
"Sun, selama aku di rawat. Bintang di sini?" tanyanya sambil memandangi Helen yang tengah berlarian memetik bunga-bunga kecil di halaman.
Mentari yang tengah menggendong Shera menoleh bingung.
"Nggak lah, aku kan nginep di rumah Bunda sejak hari pertama kamu di rawat, baru pulang kemarin ke sini."
"Terus Intan?"
"Di sini lah jaga rumah,"
Dafa menghela nafasnya , bangun dari duduknya dan masuk ke dalam. Tak lama dia keluar dengan membawa laptop dan ponsel.
"Kenapa sih?" Mentari semakin penasaran.
Dafa mengulir layar yang telah dia sambungkan dan dia program.
"Apa sih?" Mentari ikut menatap layar laptop dalam pangkuan suaminya.
Dafa memajukan meja kecil di samping nya hingga berada di depan mereka, menaruh laptop ituitu agar bisa di lihat juga oleh istrinya.
"Kata hansip, beberapa hari lalu ada motor biru yang terparkir di sini, terus ada juga mobil sedan hitam dan pas, Mas lihat, itu mobil sama motor Bintang.
Mentari menutup mulutnya tak percaya.
__ADS_1
Namun ketika melihat video CCTV-nya dan mempercepat nya, dia menemukan kegiatan kakaknya dan Intan di dalam rumah itu, memang tidak ada yang mencolok di sekitar rumah.
Namun yang membuat pasangan itu menerka-nerka adalah saat Bintang berjalan ke arah lorong kamar Intan, dan dalam waktu lama.
" Mereka ngapain?" Mentari menutup mulutnya.
Nggak tau, untung aja hansip nyangka nya kamu ada di rumah. Kalo nggak mereka udah di gerebek, terus di nikahin." Dafa menutup layar laptop nya.
"Nggak usah bawa-bawa kata gerebek aku trauma."
Mentari memandang suaminya.
Dafa terkekeh, mengingat masa lalu mereka.
"Yang trauma tapi anaknya udah dua aja." Dia menjawil dagu istrinya.
Mentari ikut tertawa namun dengan hati dan pikiran yang tak tenang, apa yang di lakukan kakaknya berada di kamar Intan dalam waktu yang lama, setelah di lihat waktu yang tertera di layar saat masuk dan keluar dari kamar itu.
"Udah, nanti kita tanyain ke Intan nya langsung."
Dafa bangun dan mengajak Helen untuk masuk karena sudah hampir petang.
*
*
Di rumah Ayah
Bintang memasang wajah paling mengenaskan.
"Kenapa?" Langit bertanya pada adik nya itu.
Langit yang datang ke sana hanya sendiri, tanpa istrinya yang baru saja melahirkan belasan hari yang lalu.
Bintang sedikit melongo ke dalam rumah, terlihat Ayah mereka tengah berbincang dengan Bunda sambil menonton TV
"Bang... "
"Hemm... " Langit menjawab tanpa menoleh pada adiknya itu, dia sedang mengetik balasan pesan untuk istrinya yang minta di bawakan roti bakar saat pulang nanti.
"Ck.. bang!"
Langit langsung menoleh, "apa sih?" katanya ketus.
"Beberapa hari kebelakang, gue coba ngajuin pencairan ke bagian keuangan. "
"Terus? udah?" Tanya langit.
Bintang menggeleng lemas.
"Kenapa?"
"Nggak di acc, Bang... bantuin gue dong!"
"Berapa pengajuan lu?"
"Dua ratus ju.. "
"Anjir... buat apaan? gede banget!" Langit membulatkan matanya saat mendengar nominal pengajuan yang adiknya sebutkan.
__ADS_1
"Gue butuh, buat modal!"
"Modal apaan?" Tanyanya pada sang adik.
"Modal bisnis, sama Naya."
"Bisnis apaan?" Langit menyimpan ponselnya di atas meja, lalu merubah posisinya menghadap sang adik. Obrolan itu sepertinya akan serius.
Bintang sedikit bingung, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Alah, tau lah... modus lu pasti!"
Bintang menatap Abang nya dengan kening berkerut.
"Modus apaan?"
"Modus carmuk lah pasti, gue tau lu royal ke semua cewek. Biar di kata apaan coba?"
Lelaki yang tengah di landa kebingungan itu, hanya mampu tersenyum. Memang benar dia begitu royal pada perempuan. Jangankan yang menjadi kekasihnya yang hanya dia ajak kencan saja dia baik.
"Gue terbiasa gitu, Bang."
"Mending kalo ada modal, lu kere ... gaya di gedein!"
Langit meledek nya.
"Njir... lu mah enak ngomong gitu, gaji lu dua kali lipat dari gue."
"Heh.. kerja gue nggak ada beres nya, ampe bini gue ampir lahiran di kantor gegara nyusulin gue yang kelamaan kerja." Sungut nya.
"Lah, kerja lu dateng jam 9 istirahat makan dari jam 11 ampe jam 3 sore, lu makan di mana? di Bogor?"cerca nya.
Bintang hanya sanggup cengengesan, merasa apa yang di katakan Abang nya memang benar.
" Tapi, gue butuh bener Bang. Buat modal, lah kalo ntar nikah juga balik lagi ke gue." katanya merengek.
"Ya, kali kalo jadi sama lu. Kalo nggak? tuh kemana duit dua ratus? gue aja biaya nikah tanggung sendiri. Uang jatah gue dari ayah mending gue beliin rumah, jadi gue tenang udah punya rumah anak bini masih tercukupi dengan gaji gue. Percaya nggak lu bini gue mau beli bedak dua ratus ribu aja minta ijin dulu ama gue, padahal gue udah tranfer gaji gue sama dia, gue nyimpen buat pegangan sama bensin doang.Percaya deh, cewek yang bener itu nggak akan nuntut apapun dari lu, apalagi belum ada ikatan apa-apa."
"Ya, emang dia nggak minta. Tapi gue iba sama hidupnya yang jadi tulang punggung keluarga. Lagian kemarin dia di pecat, sekarang dia nganggur dengan adik yang kuliah, ibu yang stroke, dan seorang anak." Keluhnya.
Langit terdiam, "kalo ke Ayah yakin gue bakal susah, coba lu pinjem, kalo sekiranya sepuluh jutaan kayaknya bini gue nyimpen sisa tabungan lahiran kemarin. Tapi buat ratusan sorry gue nggak ada."
"Eh, tapi Bang lu di kasih rumah, si chaca di kasih butik, gue minta jatah dari sekarang di kasih nggak ya?"
"Ya, lu coba aja. Tapi gue pesimis, Ayah orang nya teliti harus jelas." Kata Langit sambil bangun.
"Gue pulang lah, bini gue pengen roti bakar. Kasian lagi nyusuin sering laper tengah malem." Langit berjalan ke dalam rumah untuk berpamitan pada kedua orang tuanya.
Bintang masih termenung di teras rumah, dengan segala alasan yang akan dia utarakan pada Ayah nya.
"Gue mau coba dulu ke Ayah, kalo nggak bisa terpaksa gue pinjem ke adik ipar gue yang tajir... njirr harga diri demi harga mati gue buat si demplon." batinnya
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
Nggak percaya, cerita receh ini masuk ranking karya baru walaupun di 169 dari 200, ini sebuah wow buat saya. makasih ya🙏🙏 aku terhura🥺🥺 lope full😘
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘
__ADS_1