
...🦋🦋🦋🦋...
Di lain tempat
Intan tengah termenung di kamar kost yang baru dia tempati lima hari ini, kini dia tidak memiliki pekerjaan.
Pulang ke Bandung pun terasa enggan, kini dua orang lelaki yang berpengaruh di hidupnya tengah dia hindari. Kakangnya yang selalu menyakiti, dan Bintang yang sebenarnya dia sukai namun merasa tak pantas dan tak ingin merepotkan lelaki itu.
Di bukanya dompet berwarna coklat tua itu dengan gantungan perak berbentuk ukiran inisial I&D yang di hadiahi Almarhum Dani.
Di keluarkan nya semua isi dompetnya.
"Aduh ada 437 ribu," ucapnya setelah dia pakai untuk bayar sewa kamar sebesar 700 ribuan, lebih murah dari kost sebelum nya karena kamar mandi nya umum bersatu dengan 21 penghuni yang lain.
Tak lupa sebuah kasur lantai yang dia beli seharga 120 rb dari pasar yang tak jauh dari sana.
Kamar mandi nya berjejer 5 pintu dengan tempat cuci piring dan baju itu terpisah berada di pinggir nya yang luas tanpa atap. Jadi di pastikan kalo hujan nggak akan ada yang mau cuci piring atau baju.
"Uang segini buat bertahan bagaimana?" Intan memegang ponselnya.
"Apa aku jual hp aja?" gumamnya.
Dia mengganti no ponselnya, di sana hanya ada no ayah tiri nya, no Mentari dan no Putri. semua no dia hapus.
"Apa aku jualan aja ya? tapi jualan apa?" Intan berpikir dengan kerasnya.
Dia teringat seblak, makanan favorit nya yang belum dia makan lagi selama dia tinggal di Jakarta.
Intan mengangguk yakin dengan keputusannya, besok dia akan membeli peralatan dapur, seperti kompor, tabung gas wajan dan panci kecil. Tak lupa dia akan membeli bahan-bahan seblak.
Dia merebahkan tubuhnya yang lelah, bukan karena fisik nya tapi lelah karena mentalnya yang terus di terpaksa berbagai masalah.
Tak lama dia pun tertidur dengan ponsel di tangan, dengan aplikasi pesan yang menyala dia tertidur setelah membaca pesan yang Bintang kirimkan. Dia kangen lelaki itu tapi dia merasa tidak pantas dan tidak ingin memberi masalah untuk Bintang dengan menyeret lelaki itu ke kehidupannya yang runyam.
*
*
Pagi menjelang, Intan tengah mengantri di depan kamar mandi. Dengan handuk yang di belitkan di lehernya juga ember kecil dengan isian peralatan mandi.
Seorang laki-laki berjalan lunglai ke arah nya.
Lelaki bertubuh tinggi dan tegap dengan banyak tato menghias di tubuhnya.
Intan menundukan wajahnya saat lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Baru ya?" tanyanya.
Intan menoleh lalu mengangguk.
"Iya,"
Lalu tangan si lelaki itu terulur. "Faisal," katanya dengan senyum ramah.
Intan pun menyambut tangan itu. "Intan," kemudian satu pintu terbuka, "Saya duluan," ucapnya.
Faisal tersenyum mempersilahkan, "iya lah. Masa iya mau bareng," godanya.
Intan tersenyum kikuk merasa malu, namun saat pintu tertutup malah bayangan Bintang memenuhi otaknya, Faisal mengingatkan nya pada Bintang, sikap slengean nya sama. Juga terlihat asal nyeplak saat berbicara pun sama persis.
Intan lalu memulai aktivitas mandi nya.
Suara orang menyanyi terdengar di sebelah nya.
Suaranya seperti Faisal, Intan hanya menahan senyum sambil menyabuni seluruh badannya.
__ADS_1
"Tan, kamu asli orang mana?" tanya Faisal dari kamar mandi sebelah nya.
Intan yang kaget langsung melihat ke celah di atas kamar mandi sebelah nya, merasa takut karena kamar mandi itu memiliki celah udara di atasnya yang membentang sepanjang kamar mandi.
Hanya ya memang tinggi kalo pun bisa mengintip harus dengan kursi bakso. (tau kan?)
"Tan ... kamu pingsan?" Faisal kembali memanggilnya.
"E-enggak, aku asli Bandung." jawab Intan terpaku dengan tangan yang dia silangkan.
Rasanya mengobrol di kamar mandi membuatnya malu walaupun tidak melihat orang nya tapi terasa aneh.
"Bandung ya? duh jadi pengen seblak, dulu aku pernah ke Bandung di ajakin temen, terus nyobain seblak. Enak banget, sayang di sini belum nemu yang se enak seblak di Bandung.
Intan semakin semangat dengan ide nya berjualan seblak.
" Besok aku jualan itu," ujarnya malu-malu.
"Apa?" Faisal bertanya untuk memastikan pendengaran nya.
Intan menghela nafasnya. "Besok saya jualan seblak," katanya pelan.
"Wahhh ... kenapa nggak sekarang?" Faisal kembali bertanya dengan suara jebar jebur air.
"Sekarang saya mau beli dulu peralatan masak sama bahan-bahan seblak nya."
Sesaat hening, Intan malah mematung berjongkok sambil memainkan air di dalam ember di hadapan nya.
"Tan, aku udah. Kamu belum selesai?" tanyanya.
Intan yang memang melamun malah mendengar nya ambigu dan bingung.
"Udah apa?" tanyanya balik.
Intan langsung sadar dan segera meneruskan acara mandinya.
*
*
Saat selesai dan keluar dari kamar mandi, dia di kagetkan dengan Faisal yang berdiri di pinggir pintu.
"Hehehe kenapa?" lelaki tinggi itu tertawa melihat Intan memegangi dadanya.
"Kaget, aku kira kamu udah duluan."
Mereka berjalan menjauh dari kamar mandi.
"Kamu mau beli alat-alat apa?" tanya lelaki di sebelah nya yang sedang mengusak rambut basah nya dengan handuk.
Intan yang juga tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk menoleh ke arah Faisal.
"Ehm ... banyak sih tapi dana nya minim , tau nggak yang jual alat-alat per dapur an tapi yang murah?" tanya Intan.
Faisal terdiam, "maaf nih ya. Dana kamu emang berapa?"
"400 lebih, tapi aku butuh kayak kompor, tabung gas, wajan, panci kecil, dan banyak lagi. Bingung sendiri tapi ya memang butuh itu semua nggak ada yang bisa di duluin harus kebeli," katanya sambil berhenti di depan kamarnya.
Lelaki jangkung itu mengangguk mengerti.
"Aku tau tempat nya. Nanti aku anterin mumpung aku libur, mau sekarang?" tanyanya.
Intan tersenyum senang dan mengangguk.
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing, untuk bersiap.
__ADS_1
*
Intan keluar dari kamar nya sudah dengan rapi. Celana denim panjang warna biru laut, kaos hitam polos di lapisi kemeja flanel biru garis hitam milik Bintang. Entah kenapa dia ingin sekali memakai itu.
Baju Bintang yang masih menyisakan wangi parfum lelaki itu. Ya, dia rindu lelaki bermulut pedas yang dia tinggalkan setelah lelaki itu mengungkapkan perasaannya.
Faisal berjongkok di pinggir sebuah motor trail besar. Dia bangun saat menyadari kehadiran Intan.
Dia terpaku sesaat saat melihat gadis di depannya.
"Udah, siap?"
Intan pun mengangguk.
"Naik motor nggak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa lah, justru aku yang minta maaf udah ngerepotin kamu," ucapnya dengan senyuman.
"Gunanya tetangga harus saling menolong, yuk." Lelaki itu berkata sambil menghidupkan motor yang bunyinya nyaring itu.
Intan melamun selama perjalanan, entah kenapa dia terus teringat Bintang.
Hingga motor itu berhenti di sebuah toko besar.
"Yuk, ini toko punya om aku." Faisal berkata sambil membuka helm nya.
Intan turun dengan tangannya yang menahan di pundak Faisal. Lelaki itu pun mengikuti nya masuk ke dalam toko besar itu.
Setelah beberapa lama mereka keluar dari toko itu, dengan wajah Intan yang tersenyum puas. Karena dia mendapatkan semua barang yang dia perlukan dengan mendapatkan keringanan. Ya dia bisa mencicil barang-barang itu setiap bulannya. Tentu saja berkat Faisal yang membujuk om nya, Intan merasa sangat berterimakasih.
"Makasih ya!" ucapnya sebelum naik ke motor milik Faisal.
Barang-barang itu akan di antarkan oleh pegawai om nya nanti sore. Dan Intan tinggal berbelanja bahan untuk seblak dengan uang dia yang masih utuh karena peralatan dapur itu bisa dia kredit.
"Jangan makasih terus, sebagai bayarannya aku pengen jadi orang pertama yang ngerasain seblak kamu."
Intan tersenyum mengangkat jari jempol nya, "siap. Aku kasih seblak special nanti," katanya berjanji.
Setelah keluar dari pasar yang tak jauh dari kost mereka, dengan satu keresek besar bahan-bahan.
"Tan, aku laper." Faisal memegangi perutnya.
Kata-kata itu terasa familiar sekali di telinganya dia semakin merindukan Bintang.
"Eh, ada mie ayam. Kita makan dulu yuk?" Faisal menunjuk tenda pinggir jalan yang bertuliskan mie ayam.
Mereka duduk dan memesan, saat sedang menunggu. Sebuah suara memanggilnya
"Intan ... "
Intan yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke arah suara.
Matanya membola saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari tenda mie ayam
(Faisal 27 thn)
Bersambung ❤❤❤
Like nya...
Komentar nya...
dan favoritnya ya...
__ADS_1