
...---oOo---...
Di perjalanan pulang menuju Bandung.
Bintang sudah dua kali berhenti di rest area. Perutnya melilit akibat sambal yang dia makan tadi.
Rasa mulas yang tak juga mereda, dan tubuh semakin lemas karena mengeluarkan semua isi perutnya di tambah malam semakin larut.
Dari pintu TOL lelaki berusia 28 thn itu memutuskan untuk beristirahat di rumah adiknya. Dia sudah tidak kuat, perutnya sakit dan tubuhnya semakin lelah.
Bintang memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah adiknya, keadaan yang sepi karena sudah hampir pukul dua dini hari.
"Nggak mungkin gue gedor pager. Aduh... makin sakit lagi. Kenapa sih si chaca nggak padang bel," gerutunya.
Bintang melihat ke sekeliling jalan itu, sepi. "Nggak ada pilihan," katanya lalu menaiki pagar rumah adiknya.
Bughhh...
Dan sial nya dia malah terjatuh tepat di bekas potongan pohon jeruk yang di tebang karena ada ulat nya.
"Anjirrrr... sakit, apes bener ni hari."
Lalu dengan sedikit tertatih antara perutnya yang semakin melilit, sesuatu yang mendesak nya untuk segera mengeluarkan desakan yang terus menekan area bawahnya. Dan rasa perih di bagian belakang tubuhnya.
Bintang mengetuk pintu rumah adiknya.
"Tan.. Intan, duh... "
Dia mengintip, terlihat Intan yang meringkuk di sofa ruang TV, dan bayangan TV menyala walaupun keadaan lampu ruangan mati.
"Tan... Tan, orang utan... eh intan baik... "
Bintang masih berusaha mengetuk pintu ruang tamu itu.
Terdengar suara langkah mendekat ke arah pintu, dan lampu ruang tamu menyala. Intan dengan wajah bantalnya namun terlihat cantik natural mengintip di kaca jendela.
Bintang hanya mampu meringis sambil meremat perutnya.
Intan memutar anak kunci, lalu pintu pun terbuka.
Bintang langsung masuk terburu-buru.
"Tan... makasih udah bukain pintu, jangan banyak ngomong dulu, jangan ngomel dulu. Gue sakit perut," Bintang nyerocos namun tangannya memegang pipi Intan sebelum masuk ke dalam rumah dan berlari ke kamar mandi.
Intan hanya terpaku dengan tangannya yang memegang pipinya yang Bintang sentuh tadi.
"Apa ini? kenapa aku? dada aku deg-degan kayak lagi di kejar utang kang Adit!" gumamnya.
Lalu dia menutup pintu itu dan masuk ke dalam.
Membereskan wadah kotor bekas makan dan minumnya sebelum dia tidur tadi.
Tak lupa cangkang pisang bekas dia makan obat.
Dia mencuci piring saat Bintang keluar dari kamar mandi.
*
*
Belum dia mengeluarkan suaranya, Bintang sudah meletakkan telunjuknya di bibir dia sendiri.
Intan yang mengerti kembali dengan aktifitas nya mencuci piring.
Terdengar suara langkah terburu-buru, saat Intan menoleh Bintang kembali masuk ke kamar mandi.
"Kenapa tuh, BMR(bapak mulut rombeng)?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Lalu Bintang keluar dari kamar mandi, sekarang posisi berjalannya sudah tidak biasa. Agak menunduk dengan tangan meremat perutnya.
"Bapak kenapa?" Intan melap tangannya sebelum menghampiri Bintang yang berjalan sempoyongan ke arah sofa.
"Tan... aduh, perut gue mules."
"Masuk angin kali?"
"Nggak, aku makan sambel tadi."
"Pedes?" Intan masih berdiri di sebelah Bintang.
"Kalo buat yang suka pedes, ya nggak. Aku pedes nya makan mie instan aja cabe bubuk bawaannya dah pedes," kata Bintang menjelaskan.
"Ck, lemah... mulut bapak tuh yang pedes ampe ngalahin cabe sekilo. Taunya lemah kayak anak TK aja nggak kuat sama pedesnya mie instan."
"Tann... please, jangan ngomel. Gue nggak ada tenaga buat lawan bibir lu. Lemes, mules, letoy." rengeknya.
Intan diam lalu berjalan ke arah halaman belakang, dia kembali dengan sesuatu di tangannya. Dan berkutat di dapur.
"Tan... "
"Ck, dia nyuruh orang lain jangan banyak ngomong. Dia sendiri berisik, dasar BMR."
"Iya, pak."
"Ada obat mules nggak? cari deh.. "
"Nih.. " Intan menyodorkan sebuah minuman panas dalam gelas.
"Apa ini?"
"Obat, udah minum cepet. Saya ngantuk."
Bintang pun meminumnya sambil mengerutkan keningnya.
"Apa ini?" tanyanya
Bintang kembali meminumnya, rasanya memang kecut dan sepet di mulut, tapi entah kenapa dia percaya pada perempuan di depannya itu.
"Itu daun jambu klutuk,"
"Phhhttt... lu mau ngutuk gue?" ucapnya membentak.
Intan membola kan matanya kesal, udah ngeganggu tidurnya, ngerepotin dan sekarang nuduh yang nggak-nggak.
"Iya, saya kutuk Bapak jadi monyet siamang yang berisik sukanya jerit-jerit," Intan menyambar gelas yang memang isinya sudah pindah semua ke perut lelaki mulut rombeng itu.
Intan menghentakkan kakinya ke arah bakal cuci piring, "udah di tolong juga, masih aja ngeselin." gerutunya, mana budeg lagi.
"Lu seenaknya mau ngutuk orang ganteng kayak gue jadi siamang. Tuh lu tan... tan... orang Utan."
Intan tak membalas dia malah melengos masuk ke dalam kamar.
"Tan... tan... " Bintang memanggilnya.
Intan sedikit berlari takut di kejar dia langsung menutup pintu kamar nya dan menguncinya.
*
*
Setelah agak lama ngomel-ngomel seketika hening, Intan menempel kan telinganya pada daun pintu.
Setelah merasa aman, dia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi bagian dadanya.
Bari saja terlelap, dia mendengar suara ketukan pintu di kamar dengan suara lemah Bintang.
__ADS_1
"Tan... nggak ada makanan ya? gue laper," katanya.
Intan mengerjap melihat jam, "astaga udah jam empat, dan aku ngantuk banget... " geramnya kesal.
"Ada mie instan di rak kabinet bawah.. " teriak nya malas.
Tak lama ketukan pintu itu kembali terdengar, nggak ada Tan... buruan gue mau pingsan nih lemes banget." Suara Bintang terdengar sangat lemah tidak berenergi seperti biasanya.
"Duh, kalo dia beneran pingsan. Ntar gimana?" Intan bangun menyibakkan selimut nya, berjalan menghentakkan kaki keluar dari kamar, sorot matanya menatap kesal pada pria yang sedang berjongkok di pinggir pintu kamar nya.
Baru beberapa langkah, Bintang kembali memanggil.
"Bantuin dulu, ini lututku kopong kekurangan sari pati makanan, kebuang semua." tangannya mengulur.
Intan mendengus kesal, lalu menarik tangan itu sekuat tenaga hingga, Brugg... Bintang tertarik dan malah menabrak tubuhnya hingga keduanya terjatuh dengan posisi Bintang menindih tubuhnya.
"Aww... "
"Aduh... "
Mereka sama-sama mengaduh kesakitan.
"Gue udah bilang lemes, tenaga lu ih.. kayak Samson Wati. " Bintang berkata dengan posisinya masih menimpa tubuh Intan.
"Pak... " Intan mengerang.
"Apa, Samson Wati?"
"Awasss... Bapak beraaatt."
Bintang yang baru menyadari langsung beranjak bangun.
"Sorry.. Tan, gue lupa nindihin lu."
Intan bersemu malu, wajah nya menghangat. Lalu dia bangun dan sedikit tergesa berjalan ke arah dapur.
Bintang masih mematung sambil memegangi dadanya.
"Buset, gede, padet lagi... anjir... otak gue," dia menepis segala pikiran mesum yang dengan tak sopannya mampir begitu saja di kepalanya.
*
*
"Ini apa pak?" Intan menunjuk pintu rak yang berisikan berbagai macam mie, bihun, dan pasta.
"Oh, iya mungkin karena gue lemes jadi nggak fokus," Bintang menyeringai.
Intan menyimpan mie instan itu di dekat kompor.
"Mau kemana?" Bintang bertanya saat intan kembali berjalan.
"Mau tidur, saya ngantuk pak."
"Tan... intan baik dan cantik, tolong bikinin dulu mie. Gue lemes." Bintang merayunya.
"Ck, tinggal nyetrekin kompor doang lemes, tapi bulak balik nyamperin kamar saya nggak lemes," decak nya kesal berbalik ke arah kompor.
Bintang tersenyum mendengar omelan Intan, entah kenapa tapi itu begitu seru dan membuatnya bersemangat.
Tak lama.
"Nih, silahkan di nikmati Pak, saya pamit tidur!" Intan melenggang masuk ke kamar nya dengan suara pintu menggebrak sedikit keras.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
__ADS_1
Nggak percaya, cerita receh ini masuk ranking karya baru walaupun di 169 dari 200, ini sebuah wow buat saya. makasih ya🙏🙏 aku terhura🥺🥺 lope full😘
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘