Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Di labrak


__ADS_3

...---oOo---...


Bintang amat kesal saat dirinya di suruh bekerja oleh sang istri. Karena dia ingin berada di dekat istrinya yang masih belum pulih, dan juga tubuhnya pun merasa kurang sehat. Namun merasa jika ada misi tertentu dari Intan. Dia pun menuruti keinginan sang istri.


Melajukan mobilnya keluar dari pekarangan, namun bukannya menuju ke luar komplek mereka. Bintang malah memutar balik mobilnya hingga terparkir di ujung jalan. Tepatnya di depan rumah kosong.


Dia mencurigai sesuatu, dilihat dari gerak gerik istrinya yang seperti gelisah. Dan perkataan yang di ucapnya sedari malam begitu dingin dan sinis.


"Kamu mau ngapain sih, yank?" Bintang ngedumel di dalam mobil yang terparkir itu.


Tak sampai setengah jam dia melihat sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Masih menelisik apa yang kira-kira akan di lakukan oleh istrinya.


Intan terlihat keluar dengan pakaian yang tadi dia kenakan. Dan yang membuat Bintang geram istrinya itu menerima helm dari si pengendara motor yang dia yakini seorang ojek online yang di pesan Intan.


"Ck ... pake nga*kang segala, malem aja masih meringis kamu, Yank!' Bintang menggerutu sambil menyalakan mesin mobilnya, kesal melihat istrinya yang menaiki motor dengan sangat perlahan. Masih dengan keadaan belum pulih tapi hendak pergi entah kemana.


*


*


Bintang sedikit kaget saat istrinya itu berhenti di jalan menuju bandara.


Melihat Intan sedikit berjalan cepat memasuki area Bandara. Bintang memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa, takut istrinya akan pergi ke suatu tempat menggunakan pesawat.


Saat sedang berjalan mengikuti di belakang, dia kembali berpikir nggak mungkin istrinya pergi ke luar kota tanpa membawa pakaian. Hanya tas kecil yang di slempang kan di bahu nya.


" Kamu, mau kemana sih, Yank?" Bintang masih berjalan mengikuti hingga istrinya masuk ke salah satu restoran cepat saji. Dadanya seketika terasa lega.


Saat akan masuk ke dalam restoran, dia di kagetkan oleh kehadiran Dafa, adik iparnya.


"Woyyy, mau kemana?" Dafa menepuk punggungnya


"Si anj*ir, jantung gue ampir jatoh!" Bintang memegang dadanya.


Dafa tertawa.


"Mau kemana lu?" tanya Bintang.


"Dih, malah nanya balik. Gue ada kerjaan ke Solo!"jelasnya.


Bintang mengangguk.


" Lu mau ngapain?" Dafa kembali bertanya.


Dia melihat kakak istrinya itu terlihat celingukan ke dalam sebuah restoran.


"Mau nyari ehmm...


" Apaan?"


"Bini gue, makan ke sini!"


Dafa ikut menoleh ke dalam restoran itu. Dan mendapatkan pemandangan Intan yang sedang berdiri di depan meja yang di isi oleh seorang wanita seksi berambut pirang, seorang anak kecil ya sepertinya seusia putrinya Shera 2 tahun atau mungkin lebih sedikit.


"Itu!" tunjuk nya


Bintang langsung menatap arah yang di tunjuk adik iparnya itu.


Matanya langsung membolak dan bergegas memasuki restoran.


Saat berjalan mendekat, tubuhnya di tahan Dafa. Lalu dia di dudukan tepat di sebelah tempat wanita itu duduk hanya terhalang sebuah dinding kaca.


Tentu Bintang mengenali siapa wanita itu, wanita yang 3 tahun lalu meminta tanggung jawab soal kehamilannya.

__ADS_1


Flashback on


Bintang terbangun dengan kaget, matanya mengedarkan ke sekeliling yang tampak asing untuknya.


Saat tangannya merasakan tangannya pegal tertindih sesuatu. Ketika dia menoleh alangkah kagetnya dia, saat melihat seorang wanita bergelung di sebelah nya.


"Heh... " Dia mendorong wanita itu, yang dia ketahui bernama Dinda. Mereka baru berkenalan saat semalam dirinya datang ke pesta temannya di salah satu tempat clubbing terkenal di Bandung.


Perempuan itu menggeliat, dengan wajah di buat sok imut. " Ugh... kamu udah bangun?" ucapnya parau.


"An*ing, mulutnya bau jigong campur alcohol," gumam Bintang menjauhkan wajahnya dari wanita di sebelah nya.


"Ngapain kita di sini?" Bintang membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Apa? kamu nggak inget semalem kita ngapain?" perempuan itu bangun dengan selimut yang dia tahan.


Bintang kembali menunduk melihat daerah bawah tubuhnya. Celana jins nya masih terpasang rapi, memang sedikit mengembung karena si pyton nya bangun itu sama seperti rutinitas pagi.


"Nggak mungkin!" ucapnya.


Wanita itu lalu menendang tubuh Bintang hingga terjungkal ke lantai.


"Anj*ir, gila lu?"


"Kamu yang gila! udah enak. Sok ngelupain!"


"Bukannya ngelupain, gue yakin emang nggak terjadi apa-apa,"


Bintang menyambar kaos polo yang tergeletak di ujung tempat tidur.


Dengan wajah bantalnya dia mengambil kunci mobil di meja TV.


"Kalo bulan depan aku positif, itu berarti anak kamu!" Dinda berteriak.


Dan tepat satu bulan perempuan itu benar menghubungi nya, mengatakan jika dia positif hamil. Sebuah testpack dengan garis dua dia kirimkan. Bintang saat itu tentu saja kaget, namun seminggu kemudian, ketika dirinya menghadiri sebuah meeting di salah satu hotel mewakilkan Abangnya. Perempuan itu keluar dari lift dengan tangan yang menggelayuti seorang lelaki cukup tampan.


Dinda hanya mematung kaget karena berpapasan dengan Bintang. Yang notabene nya adalah ayah dari bayi yang dia kandung.


"Ngapain?" tanyanya sinis. Seorang wanita dan pria dewasa mustahil tidak melakukan apapun di satu kamar. Apalagi terlihat begitu mesra, pikirnya.


"A- aku, ehm... "


"Siapa, sayang?" tanya lelaki itu.


Bintang tersenyum miris lalu melengos begitu saja. Dan sejak saat itu Dinda tidak pernah menghubungi nya lagi. Selain satu pesan bahwa wanita itu telah melahirkan seorang bayi laki-laki.


Flashback off.


*


*


Bintang semakin tidak tahan apalagi saat mendengar istrinya di hina, oleh wanita yang dia yakini perempuan hina sesungguhnya.


Bintang melesat mendekat, menyambar ponsel yang sedang di pegang istrinya. Melihat gambar yang tengah di pandangi istrinya. Memang itu dia, tapi dia yakin bahwa tidak terjadi apa-apa pada malam sial itu.


Prakkk...


Bintang membanting ponsel itu.


Kedua perempuan itu kaget mendapatkan reaksi yang tidak mereka duga sebelumnya.


"Akhirnya, kamu dateng buat liat Denis anak kita!" Dinda bangun dan hendak melangkah mendekati Bintang.

__ADS_1


Namun dengan cepat mengulurkan tangannya.


"Jangan deket-deket, gue nggak sudi lu deketin gue. Lagian ngapain lu ganggu hidup gue lagi?" Bintang sudah mulai mengeluarkan unek-unek nya.


Intan merasakan suasana memanas, kepalanya semakin terasa pusing. Perutnya pun kembali ngilu mungkin akibat dirinya menaiki ojek.


Perempuan itu mencoba bangun, dia berniat pergi dari kerumunan dua orang yang masih menyimpan sisa masa lalu.


"Kemana kamu? gini cara kamu mau cari tau masa lalu aku? diem kamu di sini sampe masalah ini selesai. Ini kan yang ingin kamu tau?" Bintang mendudukan Intan dengan kasar. Karena emosi dia lupa bahwa istrinya batu keluar dari rumah sakit.


Dafa yang masih di sana. Segera melerai emosi Bintang.


"Kalem, Tang. Ini tempat umum, nggak sebaiknya lu bicarakan secara kekeluargaan?" Dafa berkata sambil melihat jam di tangannya, waktu keberangkatan pesawat nya tinggal 10 menit lagi, tapi dia tidak mungkin membiarkan kakak iparnya mengamuk dan mungkin berbuat hal yang tidak di inginkan.


"Najis, gue nganggep dia keluarga!"


"Heh, inget ya ada Denis di antara kita!" Dinda berkata dengan raut marah setelah memunguti ponselnya yang pecah.


"Lu yakin, dia anak gue? berapa laki yang pernah tidur ama lu?"


Dinda diam, dengan raut wajah memerah menahan malu.


"Iya, gue akui banyak yang tidur sama gue. Tapi lu yang terakhir, sebelum gue hamil."


Bintang menyeringai sinis, memandang muak ke arah Dinda yang kecantikannya amat sempurna jika di lihat mata awam.


"Terus lu yakin, dia anak gue?"


"Liat, rambutnya brekele. Rambut siapa itu? gue gini like lurus. Liat lagi matanya sipit." Dia menatap anak kecil yang berlari mendekat ke arah ibunya.


"Momm," panggilnya.


"Aku harus pergi sekarang!" Dinda langsung membereskan barang nya.


Namun dengan cepat Bintang mengambil tiket pesawat yang di pegang Dinda.


Sreeeekkk...


Bintang menyobek tiket pesawat itu hingga beberapa sobekan.


"Kamu?"


"Kita harus beresin dulu ini, liat apa yang bakal lu dapetin karena udah ganggu rumahtangga gue!"


"Tang ... " Dafa kembali mencoba menenangkan.


"Gue harus pergi sekarang, kalo butuh apa-apa tlp Rijal. Dia bakal bantu lu," Lalu Dafa pamit.


"Ang .. " Intan terdengar memanggil dengan suara pelan.


Bintang sontak menoleh, dan dia di kagetkan dengan kondisi Intan yang meringis memegang perutnya, wajahnya pucat dan berkeringat.


"Yank ... "


"Ang, perut aku sakit banget!" suara Intan hampir menghilang dan Bintang langsung memeluknya. Memanggil petugas untuk membantu nya membawa istrinya.


"Urusan kita belum selesai, dan kalo ada apa-apa sama istri gue. Liat apa yang bakal gue lakuin sama lu!" Bintang membopong istrinya di bantu seorang petugas.


Dinda terduduk dengan air mata yang mengalir deras. Dia malu dan sakit hati di hina di depan umum oleh lelaki yang dia kira bisa dia miliki.


Bersambung


like, komen, laper🤭🤭🤭

__ADS_1


sehat-sehat man teman😘😘


__ADS_2