Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
luka jatuh


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Seminggu berlalu.


"Kak, anterin ini ke rumah abang sama adek kamu," Bunda menunjuk dua bungkusan di atas meja makan.


Bintang menatap dua bungkusan itu, "yang mana buat abang sama chaca?" tanyanya sambil asik mengunyah nasi dan ayam suir di piringnya.


"Isinya sama aja, ada risoles siap goreng, bolu pisang, ayam bacem tinggal goreng. Soalnya Bunda sama ayah abis checkup mau ke Pangandaran," katanya menjelaskan.


Bintang yang sedang lahap makan menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Ya Allah gusti... nih jiwa LDR ku menangis. Kalah sama yang old member," gerutunya.


Ayah tertawa puas melihat reaksi putranya yang merana.


"Mau hotel apa villa Bun?" tanyanya dengan sengaja di hadapan anaknya yang mupeng.


"Terserah Ayah," jawab sang istri.


"Njirr ... nggak nafsu makan, dah lah langsung berangkat," Bintang bangun tak berniat duduk lebih lama mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.


"Nggak nafsu tinggal dua suap lagi," Ayah berucap sinis.


Bintang keluar rumah dengan dua tentengan di tangannya, menuju rumah abang dan adiknya.


Rasanya mengeluh pun tak ada gunanya. Bundanya masih sering mengirimi Lauk pauk dan cemilan pada anak-anaknya. Pernah dia protes pada sang Bunda kenapa sering mengirimi abang dan adiknya makanan, katanya hal yang sama akan dia lakukan jika dirinya juga sudah berumah tangga.


Setua dan semampu apa anak tetaplah menjadi tempat di curahkan nya kasih sayang. Apalagi jika sudah ada cucu rasanya kasih sayangnya melebihi rasa sayang ke anak.


*


*


Bintang sampai di rumah Mentari tepat pukul 9, setelah sebelumnya ke rumah abangnya dan bermain sebentar dengan AL.


"Nggak ke market?" tanya adiknya itu yang membukakan pagar.


"Nih, di suruh ngasih ini. Ya udah aku ijin sama abang nggak masuk dah, mau ke Jakarta." ucapnya sambil masuk menciumi Shera yang ada di gendongan adiknya.


"Ck, gimana udah mulai usahanya?"


"Belum, baru nemuin ruko yang buat di sewa."


Mentari mengangguk lalu menyimpan bungkusan dari Bunda nya.


"Teh, bantuin mindahin ke wadah. Biar upilwear nya kak Bintang bawa lagi," titahnya pada Intan.


Intan mulai membuka semua bungkusan itu, memindahkan ke wadah dan dia tata ke dalam kulkas.


"Kamu mau kemana?" tanya Bintang pada sang adik yang sudah terlihat rapi.


"Mau ke butik dulu, ada yang mau konsul gaun buat tunangan. Nggak lama kok cuma dua ampe tiga jam lah ada dua klien hari ini," katanya sambil menyambar tas di atas sofa.


"Ibu pergi ya, mba Helen jagain adik Shera."


"Teh, titip sebentar ya. Nggak lama kok, nanti pulang saya sekalian beli bahan-bahan kulkas," ucapnya dan mendapatkan anggukan sebagai jawaban.


"Ayo kak, bareng?" ajaknya.

__ADS_1


"Bareng? gue kan bawa mobil, bentar lagi lah kangen sama anak-anak. Gileee mobil baru nih?" katanya saat Mentari membuka sarung tutup mobilnya.


SUV yang sama namun berbeda warna.


"Iya dong, tapi beda warna doang. Aku kalo suka nggak gampang pindah ke lain hati," ucapannya seperti sebuah sindiran.


"Laki lu bener-bener bucin,"


"Ya harus lah, aku dah ngasih dua princess gituh loh ... " Ujarnya dengan bangga sambil membuka pagar lebar-lebar.


Bintang hanya berdecak malas.


Mentari mengangguk kecil berpamitan, lalu pandangannya bertemu dengan Intan yang terlihat seperti mendengus kesal.


Dia melajukan mobilnya keluar dari carpot sambil tersenyum kecil.


*


*


Bintang terlihat mati gaya, dia bingung ngapain dia di sana. Padahal anak-anak seperti tak mengindahkan keberadaannya.


Helen dengan mainan rumah bonekanya, Shera tengah di gendong Intan.


Dia mematung bingung, apa yang sedang dia lakukan di sana, tapi kenapa dia enggan segera pergi dari sana.


" Dafa pergi jam berapa?" tanyanya basa-basi, dia bingung membuka topik percakapan dengan wanita judes di depannya.


"Bapak pergi jam 7, soalnya biar sore udah pulang dan main sama anak-anak," jawabnya.


Bintang diam, bingung apalagi yang akan dia bicarakan dengan perempuan itu. Mencoba berbaur dengan Helen namun nyatanya gadis kecil itu tak ingin di ganggu.


Bayi itu bahkan seperti mengerti dan ikut menimpali ucapan Intan. Tanpa sadar dia ikut tertawa saat Intan menertawai Shera yang tengah terkikik akan godaannya.


"Bapak nggak ngantor?" Intan mulai tidak nyaman dengan keberadaan Bintang.


"Gue libur, mau ngapel ke Jakarta. Tapi bentar lagi deh, dia masih kerja kayaknya belum ada balasan."


Intan masih sibuk dengan Shera, sesekali dia menimpali Helen yang bertanya dan meminta sesuatu padanya.


*


*


Sebuah suara sepeda motor yang nyaring terdengar di depan pagar. Intan langsung menoleh dari balik gorden.


"Pak, aduh. Titip dulu Shera, ada tamu buat saya."


Dia menyerahkan Shera dari gendongan nya langsung berlari ke luar rumah.


Bintang yang kaget mengikutinya ke luar, dan melihat Intan berbicara dengan seorang pria. Ya, pria yang malam itu datang ke rumah ini, dan yang menampar Intan di pinggir jalan.


Intan masuk terburu-buru melewati nya begitu saja. Kembali dengan sebuah dompet di tangan.


"Pak, titip dulu anak-anak. Saya nggak akan lama, sebentar aja," ucapnya gugup, tanpa menunggu jawaban kakak majikannya itu dia berlalu dengan di bonceng lelaki yang menatap dengan sinis.


"Njirr... biasa tuh mata, pen di colok." Sungut nya kesal namun tentu saja orangnya sudah pergi jauh, dan tak mungkin mendengar ucapannya barusan.


Lalu dia kembali masuk karena Helen merengek di dalam.

__ADS_1


"Iya, apa? anak papi mau apa?" ucapnya dengan tangan mendekap Shera.


"Teteh mana? mau main cama teteh," ucapnya sambil menangis.


"Sebentar, teteh nya lagi ke warung."


"Mau, itut ... teh.. tetehh... " gadis setahun setengah itu terus merengek.


Bintang kewalahan dan kini Shera ikut menggeliat karena terganggu tangisan mba nya.


Hampir satu jam dan Intan belum pulang juga, Shera sudah tidur dalam gendongan nya. Dan Helen yang membuat rumah bagai kapal pecah, dia tidak peduli yang penting keponakannya berhenti menangis.


...~...


Suara pagar terdengar di buka.


Bintang langsung membuka pintu ruang tamu, tampak Intan berjalan dengan tertunduk.


"Lama banget sih lu, Shera sama Helen nangis gue bingung ngedieminnya," Bintang langsung mengomelinya.


Intan tak menanggapi dia melewatinya begitu saja.


"Tan ... bener-bener ya lu, liat dan jawab orang yang ngajak ngomong lu. Bukan main nyelonong aja," bentaknya sambil memegang bahunya agar menghadap nya.


Intan meronta namun kedua tangan Bintang malah memegangi pundaknya.


"Kenapa sih?"


Intan mendongak menatap Bintang yang tengah menggerutu padanya.


Bintang tercekat saat melihat wajah gadis di hadapan nya itu babak belur.


"Muka lu, kenapa?" tanyanya selembut mungkin.


"Ehmm... ini. Ta-tadi jatoh Pak," jawabnya.


Bintang menatap lekat-lekat wajah manis itu, ada luka sobek di ujung bibirnya dan dagunya lebam ada goresan di pipinya seperti luka cakaran.


Dia tidak bodoh percaya begitu saja kalo itu luka jatuh, pasti penganiayaan.


Bintang mengurai tangannya dari pundak Intan.


Perempuan itu kembali menunduk dan menyapa Helen sebentar lalu masuk ke dalam kamar nya.


Bintang mengendap mengikutinya, terdengar isak tangis dan gumaman pelan seperti sebuah kalimat aduan, Bintang berpikir mungkin Intan sedang mengadu pada calon suaminya.


Dia langsung merogoh sakunya, mengirim pesan pada adiknya soal keadaan Intan.


Memikirkan Intan dia sampai lupa akan niatnya yang seharusnya berangkat ke Jakarta untuk melihat ruko yang di sewa Naya untuk usaha mereka.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


Maaf kalo nggak bisa ngasih sajian cerita yang bagus, ataupun yang halu nya luar biasa, aku mah apa atuh otaknya cetek 🤭 dan nggak bisa aja ngehalu apa yang nggak pernah kita rasain, nanti malah nggak dapet feelnya. 🤭 maaf ya kalo nyari yang suguhan luar biasa highclass bukan di sini, asli cuma pengen menghibur bukan bikin pembodohan buat pembaca🤭🤭


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘


Sehat buat kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2