
...❤❤❤❤...
Mereka tiba di sebuah bangunan berhalaman luas.
Bintang menghela nafasnya kasar. Intan menyadari itu lalu menoleh ke arah suaminya.
"Kenapa? nggak boleh ya?" wajahnya sudah terlihat sedih. Mana tahan Bintang melihat wajah cemberut wanita yang tengah mengandung calon anaknya itu.
"Nggak, cuma kamu jangan aneh-aneh. Jangan kecapean, kalo lemes langsung duduk. Di dalem kantong kresek berisi cemilan itu ada dua kotak susu hamil siap minum. Harus kamu minum buat tenaga." Rentetan perintah itu tercurah begitu saja dari mulut Bintang. Tanpa ingin ada bantahan tentunya.
Intan mengangguk dengan tangan mengacungkan jempolnya pertanda dia menyetujui semua perintah suaminya itu.
Mereka turun dari mobil, Bintang menenteng dua kantong keresek berlogo sebuah minimarket.
Wanita parah bayar dengan jilbab lebarnya menyambut dengan senyuman di teras rumah yang terlihat asri itu.
Intan menghampiri dan langsung di sambut pelukan.
"Intan? Udah lama sekali. Terakhir kesini waktu nganterin Dani ke Kalimantan ya?" Ibu panti asuhan itu antusias menyambutnya.
Intan hanya mengangguk, entah kenapa dia merasa sesak. Memori kepalanya memutar ulang bayangan dirinya yang menangis meraung-raung saat melepas Dani bertugas ke Kalimantan.
🌹Flashback on.
"Shhtt... jangan nangis, aku nggak lama. Cuma dua tahun, nanti pulang kita langsung menikah. Ok, please jangan lepas kepergian aku dengan air mata kamu, gunakan air mata di momen yang paling berat. Jangan di momen receh kayak gini," Dani berkata sambil mengusap punggung Intan sangat kekasih yang sedang menangis dalam pelukan nya.
Semua orang pun ikut terharu, pasalnya Dani adalah penghuni Panti paling lama. Dan di jadikan kakak sekaligus Ayah oleh anak-anak penghuni Panti itu.
Satu persatu anak-anak Panti menghambur memeluknya. Dan satu persatu juga Dani ciumi dan nasehati.
Hari itu Intan seolah kehilangan separuh semangat hidupnya. Dengan siapa lagi dirinya akan berbagi rasa suka dan duka. Dengan keadaan dirinya yang memikul tanggungjawab merawat Ibu yang sakit, menghadapi kakak seorang pemabuk. Mencari uang ke sana kemari. Sungguh berat dia melepaskan sangat malaikat pelindung.
"Inget, jangan tangisan aku. Aku nggak mau kamu nangisin aku. Simpan tangisan kamu untuk hari di mana aku meninggal nanti."
"Mas... " Intan memotong kalimat mengerikan yang Dani ucapkan.
Dani mengelus pipi yang masih basah oleh air mata itu. Lalu menundukkan kepalanya untuk mengecup puncak kepala kekasihnya.
"Iya, cuma dua tahun. Aku pasti pulang. Titip Umi sama adik-adik aku ya?" pintanya pada sangat kekasih.
Intan mengangguk kembali memeluk tubuh kekasihnya. Hingga sebuah mobil dari perusahaan yang akan membawanya ke Kalimantan datang menjemput. Dan membuat mereka semua berpisah.
Itu terakhir kalinya Intan berbincang sambil menyentuh tubuh Dani.
Betul sesuai ucapan Dani, dua tahun pasti pulang. Namun dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Bahkan dirinya tidak bisa menyentuh tubuh sangat kekasih di detik-detik sebelum di makamkan.
Tubuh yang tiba di bandara itu, sudah dalam peti jenazah yang tertutup rapat. Hanya sebuah foto Dani yang terlihat pucat dengan luka di kepala nya.
Lelakinya, malaikat pelindung nya, dan sahabat terbaik nya itu meninggal dalam kecelakaan kerja.
Pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Dunia Intan seolah runtuh dan hancur saat menatap foto terakhir kekasih hatinya itu. Mimpi-mimpi mereka musnah seolah ikut terkubur bersama Dani.
Lelaki baik, bertanggungjawab dan romantis itu pergi meninggalkan Intan seorang diri.
Luka kehilangan itu masih bisa Intan rasakan. Mungkin tak akan pernah hilang, tersimpan rapi di sudut hatinya. Ada tempat tersendiri untuk Dani di hatinya. Bukan untuk menduakan hati suaminya, tapi Intan menganggap Dani adalah masalalu yang indah dan patut di kenang baik di hatinya.
🌹Flasback off.
"Yank," Bintang menepuk pundak istrinya.
Intan terhenyak kaget lalu tergagap menjawab panggilan suaminya.
"I-iya ... Ang?"
Bintang mengerutkan keningnya menyelidiki apa yang istrinya pikiran.
"Siapa ini?" Tanya Umi, pemilik Panti asuhan itu.
"Oh, ini suami saya Umi!" Intan memperkenalkan Bintang.
Bintang pun menyalami Umi dan tersenyum ramah.
"Umi, kira kamu belum menikah, Tan."
Intan memalingkan wajah nya dari Bintang nyang berada di depannya. Rasa-rasanya dia bingung untuk berkata.
"Uhm ... Maaf, Umi. Waktu itu Umi nggak Intan undang, soalnya dadakan."
__ADS_1
"Hah? dadakan gimana?" tanya wanita itu.
"Ehm ... maaf, menyela. Tapi saya harus pergi kerja," ucap Bintang sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Intan langsung menoleh, ada rasa canggung saat pandangan nya bertemu dengan sang suami, apalagi sedari tadi pikirannya melayang mengingat kebersamaannya dengan Dani dulu.
Bintang mendekat dan tanpa rasa malu dia mengecup kening istrinya. Intan memejam sesaat, namun teringat bahwa di depan mereka ada Umi yang tersenyum memalingkan wajahnya.
"Bu, titip istri saya. Mungkin akan sedikit merepotkan karena sedang hamil muda. Tapi. saya usahakan siang sudah menjemput dia." Bintang menyalami Umi untuk berpamitan.
"Wah, hamil? kejutan bertubi-tubi ini." Umi kembali memeluk Intan. Dia merasa Intan pengganti Dani, merasa dia adalah anak nya sendiri.
Intan tersenyum apalagi sebelum pergi, Bintang mengusap lembut perutnya.
Intan melambaikan tangannya saat Bintang berjalan ke arah mobilnya.
Namun lelaki itu tiba-tiba berhenti di taman kecil yang dia lewati.
"Kenapa?" Intan bertanya dengan kening yang terlipat sambil berjalan menghampiri suaminya yang menunduk di jajaran tanaman.
"Ileran liat strawberry ini." Bintang menunjuk jajaran pot yang terdapat banyak buah strawberry matang bergelantungan di pot yang tersusun rapi.
"Ish, di market banyak kan? jangan bikin malu!" Intan mencubit lengan suaminya yang terulur hendak memetik buah strawberry itu.
"Kenapa?" Umi bertanya saat sudah berada di belakang mereka.
"Ini, strawberry nya cantik. Bikin ngiler," Bintang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oh, mau?"
Bintang langsung mengangguk.
"Boleh, takutnya itu ngidam suami kamu. Tan,"
"Tapi tunggu, sekarang giliran Lutfi yang panen. Nanti dia ngamuk nggak bisa panen strawberry nya. Sebentar Umi panggil dulu,"
Bintang terlihat antusias, bahkan dia sudah menggulung lengan kemejanya.
Intan berdecak sambil meminum susu hamil kemasan siap minumnya.
Seorang bocah bertubuh gemuk datang menghampiri.
Bintang memasang wajah bersahabat nya.
Namun siapa sangka sebuah kalimat ejekan keluar begitu saja.
"Udah tua nggak bisa beli strawberry, mau yang gratis." Katanya ketus.
Bintang menganga mendengar ejekan spontanitas yang keluar dari mulut bocah gemuk di depannya.
Umi dan Intan sudah masuk ke dalam dengan keresek cemilan untuk di bagikan pada anak-anak penghuni Panti.
Sekarang dirinya tengah menghadapi seorang bocah yang dia rasa bakal menyebalkan.
"Cepet, om mau kerja!"
"Aku juga lagi kerja di belakang, om ganggu!"
"Ck, apa?"
"Lagi metikkin kangkung, buat makan siang," jawabnya ketus.
"Ya, udah buruan ayo petik. Om juga mau kerja!"
"Sebenarnya sayang, kalo om ambil cuma-cuma."
"Ok, om beli. Berapa?"
"Sepuluh ribu ... "
"Deal, om bayar." katanya.
Lalu Bintang memetik satu persatu buah strawberry itu, baru memetik buah ke lima. Anak gemuk itu kembali berucap.
"Om, jangan lebih dari sepuluh. Sisain buat aku panen nanti sore," ucapnya.
Bintang menoleh sebentar lalu mengangguk.
__ADS_1
Setelah selesai memetik sepuluh buah strawberry matang dan juga segar. Bintang menghampiri anak gemuk bernama Lutfi itu yang duduk di tumpukan batu bata di ujung taman.
"Nih, udah sepuluh ya!" Bintang menunjukkan strawberry hasil petikkanya.
Lutfi mengangguk, dia mengulurkan sebuah plastik bersih untuk Bintang menyimpan strawberry hasil panennya.
"Bintang merogoh dompetnya di saku belakang celana bahannya itu. Lalu mengambil uang pecahan duapuluh ribu.
" Nih, kembalinya buat kamu!" Tangannya terulur ke hadapan Lutfi.
"Kembalian?" Lutfi mengerutkan keningnya.
Bintang mengangguk. "Tadi, kamu bilang semua sepuluh ribu kan?" tanya Bintang.
"Om, salah. Makanya dengerin kalo orang ngomong, jangan main potong aja. Sepuluh ribu buat satu buah, ini om ngambil sepuluh buah ada yang jumbo nya 5, yang jumbo harganya 15 ribu. Jadi totalnya 125 ribu,"
"Heh ... kamu, kecil-kecil udah mau nipu!" Bintang geram, matanya melotot kesal telunjuknya hampir menjitak kening anak itu, untung dia cepat tersadar bahwa anak-anak itu tanpa orang tua.
"Nipu apa? om yang main deal deal aja. Makanya kalo ada orang ngomong tunggu ampe selesai, jadi jelas. Main samber aja, belum selesai juga ngomong nya." Ucap Lutfi santai namun membuat wajah Bintang merah seperti kepiting rebus.
"Nih, " Bintang mengulurkan uang 130 ribu.
"Aduh, nggak ada kembalian lima ribu nya!" Lutfi seolah merogoh saku mencari kembalian.
Bintang yang masih kesal ingin mengerjai balik si anak cerdik itu.
"Nggak mau tau, pokoknya harus kembalian lima ribu!" Bintang berkacak pinggang menantang.
Lutfi langsung berlari ke arah jejeran pot strawberry itu. Mengambil buah strawberry dan kembali ke arah Bintang.
"Sini," Lutfi membuka plastik itu dan seketika mengambil buah strawberry yang sedikit lebih kecil dari yang dia petik barusan.
"Heh?" Bintang merebut plastik di tangan Lutfi.
"Ini,. aku ganti dengan yang lebih besar dari ini. Jadi, yang lima ribu nggak kembalian, kan udah aku ganti sama yang harganya 15 ribu."
"Makasih, om. Semoga om jadi pelanggan perkebunan kecil Panti kami!" Lutfi mengatupkan kedua tangannya seolah memberikan gerakan Terima kasih.
Bintang masih bengong di tempatnya. Merasa di bodohi seorang anak kecil. Rasa-rasanya sekolah sampai S2 pun tidak bermanfaat.
Bintang berdecak sinis, lalu pergi menuju mobil dan sesekali menatap Lutfi yang tengah membuat gerakan mengipas-ngipasi wajah dengan uang 130 ribu hasil jual sepuluh buah strawberry.
*
*
Sesampainya di market.
Bintang terlihat bersungut-sungut, berpapasan dengan Imron sang OB, dia meminta minuman.
"Ron, bikinin teh manis dingin. Pake strawberry ini, lu potong-potong kecil masukin gelas."
Imron mengerutkan keningnya, merasa belum pernah membuat teh dengan strawberry.
"Kok strawberry, Pak?"
"Terus? gue pengen yang seger-seger." Bintang berjalan meninggalkan Imron yang masih mematung dengan plastik berisikan strawberry.
"Kan, bisa di jus strawberry nya, Pak!" Usulnya.
Bintang menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Kumaha urang weh, ulah sok ngatur!" (gimana saya aja, jangan suka ngatur!) gertaknya marah.
Imron kaget dan langsung mengangguk cepat, sedikit berlari ke arah pantry.
"Euhhh, istrinya pasti PMS."
"Eh, lagi hamil deng. Oh, pasti kurang jatah ngawur, jadi aja sentimen!" gerutunya saat masuk ke dalam pantry sambil membuka rak penyimpanan gula.
Bersambung ❤❤❤
Like, komen, dan favoritnya please.... 🙏🥰
Ada yang kangen si tang nggak????
Maaf, nggak up. Lagi mencoba keberuntungan di rumah sebelah, dapet e-mail dadakan 🤣🤣 . Doakan aku ya man teman 🤭🤭
__ADS_1
pokoknya sehat dan bahagia selalu buat semua😘