
...~~...
Bintang melajukan mobilnya ke arah pusat Kota Bandung. Saat sedang berpikir membawa pulang Intan bagaimana, suara aneh namun terdengar familiar di telinganya terdengar. Dia tertawa sambil menoleh sekilas ke arah Intan.
Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, sudah 30 menit dan perempuan itu masih belum bangun.
"Tan, masih belum mau bangun?"
"Perut lu dah drumband noh... kasian, lu pasti belum makan!"
"Tan, udah kelamaan lu pingsan. Mau gue kasih nafas buatan nggak?"
"Nggak jawab, berarti ku setuju ya!" katanya lagi. Lalu mendekatkan wajah nya, tinggal beberapa senti saja jarak mereka.
"Hhhuuuuuaaacihhhh... "
Bintang bersin dengan suara yang menggelegar.
Intan yang tadinya belum bangun Tiba-tiba terlonjak kaget dan bangun dengan sekali gerakan yang langsung membentur kepala Bintang.
"Awww... " keduanya mengaduh dengan tangan memegang kening masing-masing.
"Kamu ngapain?" Bintang meringis sambil menggosok-gosok keningnya yang sakit.
"Bapak yang ngapain?"
"Bangunin lu, yang nggak bangun-bangun. Tapi cacing pada drumband. Pasti belum makan?" tanyanya sambil mendengus.
Intan mengusap perutnya, memang lapar dia hanya makan berbagai macam cemilan yang tadi dia beli, tapi hanya mencicipi sedikit ingin mengetahui rasa dan rempah-rempah apa saja yang di racik dalam jajanan hits itu.
"Masa perut aku bunyi? perasaan nggak laper banget deh!" Intan mengusap perutnya.
Bintang tergelak, "nggak sadar lah. Nyesel nggak gue rekam tuh suara cacing buat ringtone," ucapnya asal.
Intan menatapnya kesal, "mending suara cacing aku. Dari pada lagu ingin bercinta, apaan coba? otaknya mesum pasti," Intan membuang pandangan nya ke arah jalan di sebelah nya.
"Ck, ngga tau dia. Lagu itu sindiran buat cewek gue, biar sadar bahwa gue udah ngebet." Bintang lalu merogoh ponselnya yang bergetar.
Sebuah pesan dari Naya.
"Mas, ini butik nya. Bagus kan?" katanya di sebuah foto.
Bintang memandang dengan sangat teliti bangunan ruko itu, "Diana collection" Dia menggumam menyebutkan nama butik usaha mereka.
Bintang langsung melakukan panggilan.
"Sayang, kenapa namanya Diana?" Bintang langsung bertanya.
"I-itu, aku terinspirasi dari putri Diana. Keren kan?" jawab Naya.
Bintang tersenyum, namun pikiran nya terus berjalan. Dia merasa pernah melihat bangunan itu. Tapi di mana? apa mungkin Naya join atau membeli butik itu.
"Iya, keren."
"Ya, udah aku kerja lagi ya. Bye... "
"Bye... "
Panggilan pun berakhir.
*
*
Bintang mengetuk-ngetuk ponselnya ke stir mobil di depannya. Entah apa yang dia pikirkan, rasanya dia ingin segera menemui kekasih nya itu dan memastikan sesuatu .
Mobil pun dia lajukan dengan cepat tanpa mengindahkan seseorang yang berada di sebelah nya.
Saat pintu TOL sudah terlihat, Intan menepuk nya.
__ADS_1
"Pak, kita mau kemana?"
Bintang yang kaget dengan suara Intan langsung menoleh dan menginjak rem dengan sekuat tenaga.
"Eh, lupa lu ada di mobil!" katanya menggaruk kepalanya.
"Maksudnya?"
"Iya, gue lupa bawa lu!"
Intan menggelengkan kepalanya lemah.
"Sorry, Tan. Laper ya?"
"Nggak apa pak, pulang aja ke rumah Bu Mentari, kalo bapak ada urusan say nggak apa-apa turun di sini," katanya sambil memegang tas kecilnya.
"Nggak, gue anterin. Tapi kita makan dulu," Lalu dia memutarkan kembali mobilnya yang hampir masuk ke pintu tol.
Mobil pun kembali dia lajukan, matanya terus mengedarkan pandangan mencari tempat makan yang dia temukan di sekitar jalan yang di lewati.
"Mau makan apa?"
"Terserah,"
"Bukan jawaban itu, kalo gue bawa lu ke tempat aneh-aneh?"
Intan menoleh, "aneh-aneh gimana?"
"Ya, nggak tau juga sih? eh mungkin ke tempat makan pinggir jalan kayak tumis kobra, atau balado otak monyet, atau mungkin sop dinosaurus." Ucapnya asal bahkan dia tertawa sendiri dengan ucapannya.
Intan melipat bibirnya menahan senyumnya.
"Buruan mau makan apa?"
"Kalo saya pengen makan nasi uduk pinggir jalan, tapi terserah bapak deh mau apa. Saya ngikut," katanya dengan suara lembut hampir tidak terdengar, jika pendengaran Bintang jelek mungkin dia tidak akan bisa mendengar ucapan gadis di sebelah nya.
"Ok, nasi uduk ... nasi uduk," dia bergumam sambil matanya melihat di sekitar jalan.
"Iya, enak kayaknya." Intan terlihat antusias. Dengan wajah sembab namun terlihat senang hanya dengan melihat spanduk nasi uduk.
Bintang tersenyum melihat reaksi dari Intan.
Mobil pun di parkirkan di pinggir jalan, Bintang dan Intan terlihat turun.
*
*
"Pesen apa?" Bintang bertanya pada Intan yang masih mematung di depan etalase yang memanjang berbagai menu.
"Ehmm ... mau ayam, sate usus sama ati ayamnya," ucapnya pada seorang pelayan yang sudah bersiap dengan sebuah penjepit dan piring di tangannya.
Lalu Intan berjalan ke sebuah meja agak pojok.
"Saya, ayam juga sama sate kulit nya." Bintang berbalik akan menghampiri Intan si penjual kembali memanggilnya.
"Mas, maaf ayamnya dada atau paha?"
"Saya paha aja," jawabnya.
"Terus pacarnya, Mas?"
Bintang diam sedikit gugup, "pacar" gumamnya.
"Tan, mau dada atau paha?" tanyanya sedikit berteriak.
Kata dada dan paha malah membuatnya malu, otaknya tiba-tiba berselancar dengan pikiran erotis nya.
"Dada aja," Intan menjawab dengan biasa, memang harus nya biasa otaknya saja yang terlalu kotor.
__ADS_1
"Pas, gede ... eh," dia tertawa saat menyadari ucapannya dan si pedagang pun sedikit menahan senyum.
Bintang mengangguk setelah si penjual selesai mencatat pesanannya. Dia berjalan ke arah bangku sebelah Intan. Dadanya berdetak seperti akan melaksanakan ulangan harian yang diadakan dadakan. Membuat tubuhnya berkeringat dengan jantung berdetak lebih kencang.
...****...
"Rame, ya?" Bintang mengalihkan pikiran erotis nya.
"Iya, kayaknya enak atau murah, biasanya sih orang-orang gitu milihnya di antara dua poin itu." Intan menduga.
Bintang mengangguk kecil, tangannya membuka ponsel dan meneliti foto butik yang di kirim Naya.
Di zoom dan sebuah nama jalan tertera kecil di bawah nama Diana itu. Di ss langsung layarnya untuk menyimpan alamat di mana butik itu terletak.
Pesanan mereka datang.
Bintang takut saat melihat sambal yang berada di sebelah ayam.
"Aduh, " dia langsung menjinjing paha itu agar terselamatkan dari air sambal yang mulai mengaliri paha... paha ayam tentunya.
"Kenapa nggak bilang jangan pake sambel," Intan dengan sigap mengambil piring Bintang dan langsung memindahkan sambal itu ke piring nya.
"Paha aku selamat," Bintang terkekeh saat piringnya bersih dari sambal.
Intan mulai makan sate hati ayamnya.
Bintang masih kewalahan dengan panasnya si paha ayam itu.
"Gini nih, gunanya lalapan buat ngedinginin ayam yang panas itu." Dia mengambil lalapan kol dan menekannya pada si paha ayam itu.
"Nih, paha nya di teken-teken."
"Jangan, Tan. Sakit ntar, " dia terkikik geli.
Lalu dia kembali ke piringnya, dan mulai mencubiti ayam miliknya.
"Kamu suka makan hati?" Bintang bertanya saat Intan menyuapkan potongan hati yang sudah di cocol sambal.
"Iya, "
"Pantes sering makan hati," ucapnya menggoda.
Intan mengeratkan giginya yang sedang mengunyah.
"Bapak suka kulit ayam?" sekarang gadis itu yang bertanya balik.
"Iya, enak lembut, empuk dan gurih juga," jawabnya.
"Pantes, kandel kulit beunget!" (pantes, tebel kulit muka). Ucapnya sinis, tersenyum miring merasa bisa membalas ucapan si mulut rombeng.
Mereka makan dengan nikmat namun dengan hati yang kesal.
"Dada kamu nggak abis?" saat dia melihat Intan sudah mencuci tangan. Tapi dada ayam nya belum habis.
"Nggak buat si, Mas nya aja."
"Eh, jangan. Dada kamu buat aku aja," Bintang langsung mengambilnya dan memakannya.
Seketika raut wajah mereka merona saat mencerna percakapan mereka tentang dada.
"Njir ... otak suci aing," Bintang merutuki otaknya yang lagi berselancar mesum dengan seenaknya.
Intan mengalihkan wajahnya yang menahan senyum. "Dasar laki-laki gila, si mulut rombeng ambigu semua ucapannya," Dia merutuki Bintang dalam hatinya.
Bersambung ❤❤❤
Makasih buat kak Gendis(Yunda putri) 🙏yang ngomongin nasi uduk dan malah jadi ide untuk part ini 🤭🤣
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
__ADS_1
jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭
Sehat buat kalian semua😘😘