
...---oOo---...
Bintang masih mematung tak jauh dari rumah sang adik, dia melihat Intan sedang berbicara dengan seorang pria yang masih duduk di atas motornya.
Matanya membola saat Intan masuk dan lelaki itu mengekori nya.
"Anjir, si cungkring mau ngapain? mesum yakin ini mah!"
"Gue harus panggil hansip, eh... nanti malah di gerebek terus di nikahin. Keenakan lakinya nggak modal," katanya menggerutu.
Lalu dia menyalakan motornya, dan si kantung kresek berisikan pisang dua kilo itu menggantung di stang motornya dan terasa mengganjal.
"Eh... yeu cau, bikin kagok." gerutunya.
Namun saat telah membenarkan letak pisangnya, dia melihat lelaki itu keluar dari rumah adiknya. Dan melajukan motornya melewati dirinya yang baru saja menyalakan motor berniat menggerebek mereka.
eh... bentar amat, ngapain aja? batinnya saat pandangan mereka bertemu di belokan jalan itu.
"Eh, bukan cowok yang di kamar. Njirr polos2 bisa selingkuh?" gumamnya.
Bintang lalu melajukan motornya menuju rumah Mentari, dengan keresek berisikan pisang dua kilo.
Intan membuka pagar rumah yang sudah di gemboknya itu, lalu matanya yang sembab beradu pandang dengan Bintang.
"Nih, buat makan obat." Bintang mengulurkan keresek itu dan Intan menerima nya, dengan wajah yang terlihat muram.
"Saya udah sembuh kok, Pak."
"Nggak apa-apa, kamu cemilin aja. Biar kaya monyet ntar lincah." Bintang bermaksud bercanda namun wajah Intan semakin sinis melihat ke arahnya.
"Eh... becanda Tan, gitu aja ngambek."
"Udah kan? saya mau istirahat." Ucap Intan.
Bintang hanya bisa mengangguk pelan saat pagar setinggi dadanya itu ditutup dan terdengar suara gembok yang di pasang.
Lalu terdengar Intan berjalan masuk ke dalam rumah dengan suara hidungnya yang menarik-narik cairan, seperti orang flu.
Bintang berasumsi bahwa Intan sudah bertengkar dengan lelaki tadi, ntah siapa nya yang jelas perempuan itu terlihat sedih.
Motor pun dia kemudikan menuju rumah orang tuanya.
*
*
Besok harinya Bintang baru saja turun dari kamar nya, melihat kegaduhan yang di sebabkan oleh para keponakannya.
Helen langsung menghambur ke arahnya, "pih.. " Teriaknya. Bintang pun menyambut Helen dengan wajah ceria.
"Cih... mau-maunya cucu cantik kakek cium omnya yang bau tumila(binatang sejenis kutu kasur)." Ayah memandang jijik pada anak keduanya itu.
"Fitnah, nih... cium, bau tumila nggak? anak ganteng wangi stella gini."
"Hahahaa... stella atau obat nyamuk?" Ayah terbahak-bahak dengan jawaban sang anak.
Bintang menyeringai, "Dua-duanya, Yah. Stella nyemprot, obat nyamuk nyolok." katanya ikut tertawa.
__ADS_1
Mentari dan Bunda datang dengan nampan berisi gorengan dan teh panas.
"Apa yang nyolok?" Mentari bertanya.
"Obat nyamuk," kata Ayah sambil menyomot gorengan panas buatan istrinya.
"Kalo soal colok mencolok cepet banget konek, sayang tukang colok nya sakit hahahaha... " Bintang tertawa puas saat mendapat cebikan dari adiknya.
"Buat apa punya colokan tapi belum bisa di pergunakan dengan seharusnya." Ayah membela putri bungsu nya.
Mentari langsung memandang Ayah nya haru penuh rasa berterimakasih, "Ayah... lope... lope... " Tangannya memberikan gerakan kiss bye.
"Budak... manja... " Bintang yang masih memangku Helen mencibir adiknya.
"Udah... berisik, kalian kalo udah ngumpul kayak musuh ketemu. Tapi kalo nggak ketemu saling nanyain keberadaan, aneh." Bunda bangkit menimang Shera yang menggeliat di gendongan suaminya.
Mereka pun terdiam dengan mulut masing-masing yang mengunyah bakwan, risol, dan pisang goreng yang mereka pegang.
*
*
Bintang keluar kamar sudah dengan stelan rapi, "mau kemana kak? katanya nggak enak badan."
"Nggak boleh gue rapi, di rumah?"
"Dih... ngegas... " Mentari menuruni tangga mendahului kakaknya itu yang masih menunduk di atas layar ponselnya.
"Bun... titip siapa ya, baju sama makanan buat Mas Dafa?" Mentari menghampiri Bunda yang sedang menata hidangan makan siang mereka.
"Suruh siapa ya? pake ojol aja!"
"Iyalah, begadang sama temen ngapain? pasti sama-sama jomblo." kata Mentari yang langsung menutup mulutnya.
"Sembarangan, LDR... ngarti kagak sih? mau gue tolongin nggak?" ketusnya.
Mentari menatap ke arah Bunda nya yang mengangguk.
"Makasih... kakakku sayang, semoga cepet nikah ya, dan punya banyak anak."
"Si anjir... do'a lu, amazing banget... tapi gue aminkan lah."
Mentari tertawa lalu menyodorkan sebuah travel bag berisikan pakaian dan peralatan mandi suaminya. "Kalo nggak di ancam, pasti aku udah pergi sendiri." keluhnya.
"Di ancam apa?"
"Iya, kalo aku sampai ke rumah sakit dan ninggalin anak-anak dia mau minta kerjaan ke kantor."
"Lagian ngapain lu kesana, dia juga nggak bakal bisa ngapa-ngapain, paling mengheningkan cipta." Bintang tertawa sambil menjinjing tas itu, setelah mengalami punggung tangan Bundaa nya.
"Dasar gelooo... " Mentari duduk mendengus kesal, sambil mencomot perkedel jagung di atas meja makan.
"Huss... kakak kamu gitu-gitu juga." Bunda menepuk pelan tangan putri nya.
...------...
Setelah selesai memberikan tas ke rumah sakit dimana Dafa adik ipar nya di rawat, entah kenapa dia melajukan mobilnya ke arah rumah adiknya.
__ADS_1
"Lah, kok nyasar... ini dimana?" Dia tertawa sendiri dengan tingkah konyolnya.
Lalu dia melihat Intan sedang berdiri dengan tentengan keresek hitam ntah berisi apa.
Tengah mengobrol dengan seorang lelaki yang tadi malam dia lihat menyantroni rumah adiknya.
Bintang memberhentikan mobilnya agak jauh, menyaksikan adegan Intan seperti sedang marah-marah lalu si laki-laki itu menampar nya dan meninggalkan nya begitu saja.
"Anjir... di tabok, " entah kenapa tapi dada Bintang serasa di cubit, sakit dan emosinya tiba-tiba naik. Ingin dia mengejar motor Bebek bermodif cungkring yang di tumpangi seorang lelaki kurus dengan helm fullface yang mengenakan jaket jins belel. Dia ingin menabrakan mobilnya pada motor lelaki yang tadi menampar Intan.
Namun pandangannya beralih ke Intan yang berjongkok di jalan sambil menutup wajah nya yang menangis, Bintang langsung turun dari mobilnya.
"Tan... " panggilnya saat dia sudah berjongkok di depan gadis itu yang sedang sesenggukan menangis.
Intan mendongakan wajahnya, wajah sembab dengan air mata yang membasahi pipinya. Jangan lupakan bibir tipis yang berwarna pink terlihat bibir itu seakan buah yang ranum.
"Kenapa?"
Intan hanya menggeleng kan kepalanya, merasa mereka tidak terlalu dekat dan tak munkin Intan menceritakan masalahnya.
"Yuk, gue antar pulang." Bintang mengulurkan tangannya agar Intan bisa bertumpu padanya.
Namun Intan malah bangun sendiri tanpa menghiraukan tangan Bintang yang terulur.
Bintang menatap tangannya yang hampa, "Nggak laku, lu. Dia bisa sendiri, sok-sok an mau bantuin bangun." dia berkata sendiri.
Bintang berjalan hendak membuka pintu untuk Intan, namun lagi-lagi wanita mandiri itu sudah membukanya lebih dulu.
Lelaki itu hanya tersenyum sinis. Kemudian memutari mobilnya.
Di dalam mobil suasananya sangat hening, Intan hanya menyandarkan kepalanya di kaca jendela, sambil memeluk bungkusan di tangannya.
"Lu dari mana?"
Intan menoleh sesaat kemudian dia kembali menyandarkan kepalanya. "Dari tukang sayur, katanya besok Teh Mentari pulang."
Bintang mengangguk kecil lalu kembali fokus pada jalanan di depan nya.
Mereka tiba, dan Intan langsung turun dengan wajah pucat dan terlihat sangat lemas.
Bintang berinisiatif mengikutinya, benar saja saat membuka pintu ruang tamu tubuh Intan ambruk jatuh pingsan.
Bintang yang masih berada agak jauh di belakangnya, tak bisa menangkap tubuh itu.
"Tan... Intan, hei.. kenapa? aduh panas gini badan kamu!" Bintang menggotong tubuh kurus Intan dengan mudah, membawa nya masuk ke kamar miliknya.
Bintang berusaha membangunkan nya, mundar-mandir bingung saat Intan belum terbangun.
"Aduh... perlu nafas buatan nggak ya?" Bintang mengetes bau mulut nya pada telapak tangan.
"Wangi lah, mayan nggak terlalu nyengat... "
Lalu dia mendekat kan wajahnya hendak menyentuhkan bibir nya pada bibir yang baru dia sadari keindahannya beberapa hari ini.
Saat bibir itu sudah menyentuh bibir Intan....
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘