
21+ tapi yg belum 21 tapi udah punya yg halal nggak apa2🤣🤣 Dosa ditanggung masing-masing
...------...
Pasangan itu sedang bergelung di bawah selimut tipis di atas kasur busa kecil yang sudah tersedia di rumah yang Adit siap kan.
Sudah dua hari berlalu dari tragedi jamu dan borgol. Dan mereka kini terbaring sakit. Intan yang mengeluhkan pusing dan mual. Sedangkan Bintang mengeluhkan sakit kepala dan tubuhnya yang terasa remuk.
"Yank," panggil nya dari balik tubuh Intan yang memang memunggunginya.
Belum ada jawaban.
"Yank,"
"Apa?" jawabnya lemas.
"Masih pusing?"
Hanya anggukan yang Intan lakukan sebagai jawaban.
"Ke dokter, mau?" ajaknya.
Intan berbalik menghadap suaminya.
"Nggak, malu. Nanti di tanya penyebab nya apa? "
Katanya lagi.
"Ya bilang aja. Suamiku yahud. Ngebor ampe sehari semalem nonstop." kekehnya
Intan menarik ujung bibirnya jijik.
"Bangga banget. Padahal di bantu jamu," cibir nya.
Bintang bukannya malu malah tertawa.
"Pesen lagi, Yank."
"Ngga tau malu,"
"Emang, abis enak sih." kelakarnya.
Intan mengambil ponselnya. Mengulir layarnya hendak memesan makanan untuk mereka makan pagi ini.
"Mau makan apa?" tanyanya.
"Di makan kamu boleh?" Bintang memeluknya dari samping.
"Idih ... " Intan menggeplak tangan suaminya yang melingkari perutnya.
"Udah janji ya, libur seminggu."
"Nggak janji, aku cuma ngangguk doang."
"Iya, tapi itu sama aja sebagai jawaban kamu. Ang,"
Intan menoleh marah pada suaminya.
Bintang tertawa lalu menelusup kan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Aku belum mandi," Intan berusaha menjauhkan tubuhnya.
"Diem, enak banget ini."
"Enak apa sih, aku bau!" Intan kini mendorong wajah suaminya agar menjauh.
"Enak, ada rasa manis, gurih, asem. Perpaduan seger. Jadi pengen ngerujak tumbuk kamu!" katanya.
Intan tertawa, "Aku kayak nano-nano,"
"Di bilangin kamu kesegaran yang haqiqi. Yuk, ngerujak?" ajaknya.
__ADS_1
Intan malah kembali memunggungi suaminya.
"Nah, gini lebih gampang. Coba, angkat pahanya, Sayang," godanya.
Intan malah bangun dan berlari ke luar kamar.
Bintang terbahak melihat ketakutan istrinya.
*
*
Intan Baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya. Dia melihat suaminya baru dari luar, menutup pintu lalu berbalik. Mereka berhadapan, Intan melihat suaminya dari atas hingga bawah. Lalu sedetik kemudian dia terbahak.
"Apa sih?" Bintang yang baru saja menerima pesanan makanan dari ojol malah bingung saat istrinya tertawa.
"Ang, ya ampun. Ngga malu?" Intan masih tertawa melihat suaminya.
Bintang menggunakan kaos bermotif bunga dengan celana tidur satin berwarna nude berenda pula.Milik istrinya.
"Nggak malu, Ang?" tanyanya.
Bintang ikut memandangi tubuhnya.
"Dari pada kamu yang keluar dengan keadaan rambut basah pake handuk doang, idih ... ogah, mending aku yang di obral dari pada kamu!" katanya.
Intan memeluk suaminya. "Sweet ... " Intan melepas pelukan yang secepat kilat itu.
Bintang yang tak puas malah mengekor ke dalam kamar.
"Pantes," ucapnya.
Intan yang sedang memilih baju di lemari rak plastik menoleh, "Pantes apa?" dia mengulang ucapan suaminya.
"Tadi, ojol ngeliatin. Ini nyetak banget ya? my pyton. Aduh, liat lucu pas bangunnya. Aku beli yang kek gini ah. Biar kamu peka, jadi kalo aku lagi tidur kamu liat yang beginian, naik aja langsung."
Intan membalikkan wajahnya malas, namun dia menggigit bibirnya menahan tawa.
"Tau,"
"Yuk, sebentar ini. Kan ngga pake obat!" ajaknya.
Intan tak merespon, dia mulai memakai pakaiannya.
"Nggak jawab? aku anggap mau, ya?" Bintang bangun dari duduknya hendak mendekati istrinya.
"Stop,"
"Ck, belum mulai udah stop. Ayolah, sebentar ini. Dua kali pukulan, paling!" godanya.
"Pukulan?" Intan membeo.
Bintang langsung mengambil celana yang akan istrinya kenakan. "Iya, dua kali. Gini nih!" dia menggerakkan pinggangnya mencontohkan gerakan menyentak.
"Ish, ngotorin doang!"
"Kan, kumat. Katanya ngga mau, aku bentar tapi bilangnya gitu. Ya, udah. Mau atau nggak? punya aku fleksibel cepet bisa, agak lama bisa, tapi kalo lama banget agak susah pesen lagi jamu nya." Katanya.
"Malu-maluin, " katanya melengos.
"Ang," Bentaknya saat celana itu suaminya rebut dan lempar sembarangan.
"Sebentar, " mohon nya mengiba.
Intan berjalan ke arah kasur, menghentakkan kakinya. Membuka lilitan handuk itu lalu masuk ke dalam selimut.
"Wow," Bintang menggosokkan telapak tangannya sambil berjalan mendekat.
Matanya selintas melihat ke botol beling di bawah dekat lemari. Kemudian dia menunduk, mengambilnya.
Setelah dia memegang botol itu dia acungkan ke atas. "Masih ada sedikit, Yank!" katanya bahagia.
__ADS_1
Intan menoleh, "Apa? nggak usah aneh-aneh. Ang ..." geram Intan saat melihat suaminya yang memegang botol jamu tragedi itu.
"Lumayan ada beberapa tetes, lumayan lah nambah durasi beberapa menit." Jelas Bintang.
*
*
Bintang masih mengayunkan tubuhnya, wajahnya sudah berkeringat dan memerah, menikmati rasa luar biasa dari bagian intinya yang masih tertanam sempurna. Dia masih berusaha menggapai puncaknya setelah beberapa sebelum nya sangat Istri telah sampai duluan.
"Ehm ... " Bintang masih terus berpacu, berusaha keras untuk menyelesaikan acara dadakan itu.
"Ang, " Intan sudah terlihat lelah, mulai terlihat juga emosi yang sedikit demi sedikit terpupuk di mata Intan yang sesekali memejam.
Intan membuka matanya, saat sesuatu yang di tanam itu di cabut sebelum melebur di dalam sana.
"Ang?" tanyanya frustasi.
Bintang duduk terengah, tentu saja masih dengan si cobranya.
"Nggak, sabar. Sebentar, capek. Ganti posisi napa?"
"Kamu yang mau!" tolak Intan.
Bintang tertawa kecil. "Aku, yang mau. Tapi, kamu yang duluan, gimana?" ejeknya.
Intan langsung membuang wajahnya malu.
"Ayo, mau gaya apa? kucing? dogi? atau nyundul buah mangga?"
"Mau, gaya batu!" Intan langsung menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Idih, si licik. Dia udah keluar, maen end aja. Timbal baliknya dong, Yank?" panggilnya.
Intan bangun dan membalikan tubuhnya.
"Dogy? ok, aku suka." katanya, memposisikan tubuhnya searah dengan gerbang masuk itu.
Intan memekik tertahan saat pyton suaminya tertanam sempurna. Lalu suara er*otis itu terdengar begitu bahagia dari mulut suaminya.
"Ang, ... "
"Bentar lagi," Lelaki itu mengerang memejamkan mata. Tangannya berpegangan penuh pada pinggang sang istri.
"Ang, ... "
"Sebentar. Ampun ini jamu bener-bener keren, padahal cuma tetesan terakhir, tapi sekuat ini." Bintang terus meracau sambil terus memacu.
Akhirnya dia mengerang kuat sambil membenamkan miliknya sedalam mungkin.
Intan yang sudah sangat lelah akhirnya ambruk lemas sebelum suaminya mencabut pyton yang sekarang sering dia sebut batang pohon singkong.
Bintang menggigit bibirnya saat menarik lepas miliknya. Ikut berbaring di sebelah istrinya yang masih terengah lelah.
Mereka masih mengatur nafasnya masing-masing. Bintang tertawa puas.
"Kita pulang, ya?" ajaknya.
Intan mengangguk lemah. Rasanya tak ada tenaga lagi bahkan hanya untuk menjawab suaminya.
"Kasian, rumah kita. Ngga keurus," katanya lagi.
"Yank?" panggil nya lagi. Menoleh ternyata istrinya itu tertidur pulas. Bintang langsung membenarkan selimut yang di tarik asal istrinya tadi.
"Capek? tapi enak ya?" Bintang menyamping memeluk istrinya. Mereka pun sama-sama terlelap.
Acara sarapan pun sepertinya akan berubah menjadi makan siang. Karena si pemilik nya malah terlelap lelah.
Bersambung
Maaf nggak up kemarin, sakit kepala mikir ini itu, 🤣🤣. Sehat selalu kalian semua😘😘
__ADS_1