Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
kamar kost


__ADS_3

...~...


Beberapa hari ini Bintang sangat sulit menghubungi Naya.


Berkali-kali dia mencoba menelpon tapi tidak mendapatkan jawaban. Hanya pesan-pesan pendek yg Naya kirimkan.


"Ada apa ini?" dia menggumam sambil menuruni anak tangga, ponselnya masih dia pegang .


Bunda dan Ayah nya sedang menonton TV sambil bercengkrama. Ayah terkadang terkikik geli dan Bunda menggeram kesal.


"Eghh ... " kata ayah saat melihat putra keduanya duduk di sebelah sang istri.


"Apa sih, Yah?" Bintang hendak tidur di lahunan sang Bunda namun dengan cepat kepala Ayah mendahului.


Dughh...


"Adaww,"


Bintang mengaduh memegangi kepalanya.


"Jangan suka sabotase lahan orang!" Ayah terkikik puas melihat anaknya yang berdecak kesal.


"Yah, itu kampung halaman anak-anak Ayah tau?"


"Iya, Ayah tau. Tapi Ayah tuan tanahnya," ucapnya bangga.


Bunda menggeleng menyimak pertengkaran suami dan anaknya.


"Awas, ah. Bunda ngantuk," ucapnya sambil menyingkirkan kepala sang suami.


Ayah menyeringai puas, "Huuuaaammm ... ngantuk, mau kelonan ah. Dingin gini mau ngangetin badan," ucap Ayah dengan sengaja menggoda Bintang.


"Ck, sono... sono, bawa kompor sekalian biar panas, jangan lupa koyo cabe buat pinggang yang engsel nya udah berdecit." Bintang tertawa sambil berlari saat Ayah nya hendak melemparkan kotak tisu tak jauh darinya.


Bintang tertawa puas bisa membalas Ayah nya, dia berjalan ke teras depan, duduk di bangku taman tepat di depan kandang burung kakak tua milik sang Ayah.


Baru juga dia duduk sambil mengeluarkan ponselnya, si burung menyapanya. "Bintang... Bintang... budak geloo," Burung itu membeo.


Bintang melotot tak percaya dengan apa yang telinganya dengar, "gustii, ini yang ngajarin emang nggak ada akhlak, sentimen banget sama gue!" dia menggerutu kesal.


"Gandeng, bisi di goreng ku urang." (berisik, ntar saya goreng.) Bintang menggebrak kandang burung kakak tua itu.


"Bintang... budak... gelo," suara cempreng burung itu semakin menjadi.


Bintang mendengus kesal, lalu ponselnya berdering. Adiknya menelpon.


"Kak, besok sibuk nggak?" tanyanya di sebrang sana.


"Kenapa? sibuk lah aku kan calon penerus market.


" Oh, ya udah kalo sibuk. Asalnya mau minta anter Intan ke Jakarta, mau nyari kontrakan. Intan mau kerja di perusahaan Mas Dafa yang di sana, mau menghindari kakangnya itu," ucap sang adik.


Bintang mengerjap, kepalanya langsung bekerja rodi memikirkan sebuah rencana, yang bisa dia lakukan sekalian mengantar Intan saja.


"Eh ... bentar, kayaknya bisa deh. Gue mau sekalian ketemu Naya." Bintang beralasan soal Naya, padahal tadi dia malas-malasan saat berniat mendatangi Naya. Entah kenapa seketika dia bersemangat untuk melakukan perjalanan itu.


"Uhm, ya udah deh. Besok ke sini jam delapan pagi ya Kak, biar nyari kostan nya tenang!" pintar sang adik.


Panggilan pun berakhir setelah Bintang menyanggupi permintaan sang adik.


...****...


Pagi hari...


"Mau kemana? tumben jam 6 udah rapih, minta makan lagi," Bunda bertanya saat melihat anaknya sudah duduk di ruang makan.


"Di suruh chaca nganterin Intan ke Jakarta," ucapnya sambil menerima roti yang baru saja di panggang


"Intan ngapain ke Jakarta?" tanyanya pada sang putra.


"Ntar aku ceritain Bun, sekarang aku buru-buru," Bintang berpamitan pada sang Bunda.


Dia berjalan sedikit tergesa dengan menggigit potongan roti yang Bunda nya buat.


Menuruni anak tangga teras menuju di mana mobilnya terparkir. Pandangan nya tertuju pada Ayahnya yang sedang menyiram tanaman dengan hanya memakai sarung, yang tergulung rapi di perutnya.


Bintang mengingat ucapan burung kesayangan Ayah nya yang di ajarkan memaki namanya dengan sebutan yang terdengar menyebalkan.


Lelaki itu mendekat, "Yah, burung tuh di ajarin yang bener, kosidahan kek atau pancasila. Ini malah di didik ngeledek aku," ucapnya protes pada sang Ayah.


Ayah hanya tertawa tau maksud anaknya ke mana.


"Biarin dia tau sebenarnya, lagian ngebully kamu dapet pahala seperti membunuh kafir." Ayah tergelak kencang.


Hingga si burung kesayangan kaget dan mengatakan, "Ayah ... Ayah ... gelooo," sontak ucapan burung itu membuat Ayah seketika terdiam dan bergantian Bintang yang terbahak.


Ayah yang kesal menyiramkan air dari selang yang dia pegang ke arah burung kakak tua itu.


Burung itu panik dalam sangkarnya karena mendapatkan serangan air dari Ayah.

__ADS_1


Bintang lalu berpamitan pada sang Ayah .


Saat dia hampir masuk ke dalam mobil, otaknya kembali mendapat bahan serangan untuk sang Ayah.


"Ayah." Panggilnya, dan lelaki paruh baya itu langsung menoleh ke arahnya.


"Ayah awas ada ulet naik, masuk ntar ke balik sarung."


Otomatis Ayah tiga anak itu menangkup memegangi area pribadinya. "Budak gelo," dia menggeram.


"Ntar malem jumat kan?" tanya Bintang sambil tertawa.


"Iya dong, kamu nggak usah pulang. Ayah mau honeymoon sama Bunda," ujarnya dengan sombongnya.


Bintang hanya tersenyum meledek, "Tuh kan, awas takut ada ulet masuk ke sarung, nanti Bunda bingung yang mana ulet bulu Ayah yang benerannya." Bintang terbahak langsung masuk ke dalam mobil saat selang air yang di pegang Ayah nya di arahkan padanya.


"Budak semprul," Ayah menggerutu pada mobil putranya yang melenggang keluar dari rumah.


lalu dia tersadar, "Iya ya, takut ada ulet. Mana nih uler nggak pake wadah," dia bergidik lalu masuk ke dalam rumah.


*


*


"Lah, kok udah di sini?" Mentari menyambut kakaknya di depan pintu.


"Mau numpang sarapan," Bintang masuk begitu saja bersamaan Dafa keluar dari kamar.


Mereka duduk di meja makan dengan hidangan nasi goreng serta beberapa toping seperti telor mata sapi dan sosis.


Helen sudah duduk cantik, Mentari di kamar menidurkan Shera.


Bintang mulai memakan sarapannya, saat ekor matanya melihat Intan mendekat ke arah mereka. Lelaki itu langsung menoleh dia terpana pada dandanan Intan yang cantik dan anggun.


"Udah siap, teh?" Mentari membuyarkan lamunan Bintang.


"Udah," Intan menjawab. Tangannya menenteng sebuah travel bag.


"Sarapan dulu, Teh." Mentari duduk di sebelah Bintang, padahal kakaknya itu menggeser duduknya untuk memberi tempat agar Intan duduk di sebelah nya.


"Heh ... sono duduk sebelah laki lu," Bintang mendorong pelan tubuh adiknya.


Mentari hanya berdecak sambil bangkit dan memutari meja makan dengan 6 set kursi itu.


Intan duduk dengan malu dan menyendokan sedikit nasi goreng dan sosis ke dalam piring nya.


Bintang masih curi pandang menatap wajah cantik yang biasa polos kini sedikit ada polesan make-up di wajahnya.


Mereka pun pamit setelah Intan menciumi Helen dan Shera bergantian.


"Makasih ya, Bu. Saya janji kalo kondisi udah mulai kondusif dan kakang saya udah nggak bikin onar lagi, saya akan kembali mengasuh anak-anak," ucapnya saat berpamitan di pagar rumah.


"Jangan, nggak usah. Teteh pintar, cantik, berpendidikan. Teteh harus membangun karir lebih baik lagi, saya percaya teteh bakalan sukses." Mentari memeluk wanita yang sudah bekerja dengannya berbulan-bulan.


"Jangan panggil Ibu lagi," bisik Mentari.


"Nggak bisa, saya kerja di tempat Bapak berarti Ibu masih bos saya."


Mereka pun tertawa sambil kembali berpelukan.


Intan pun masuk ke dalam mobil milik Bintang dan segera melesat meninggalkan rumah yang sudah dia tinggalkan beberapa bulan ini.


*


*


Bintang terlihat sedikit canggung, dia bingung memulai percakapan dengan gadis manis di sebelah nya.


"Tan, nggak pamit dulu sama keluarga kamu?" tanyanya berbasa-basi.


Intan yang tengah melamun menoleh ke arahnya. "Udah kemarin, cuma ke Ayah tiri saya aja, ke kang Adit nggak,"


"Ya, nggak usah. Ngapain ke laki begitu, nggak usah lu anggep." Bintang sedikit terpancing emosi mendengar Intan menyebut nama kakaknya yang sudah berkelakuan buruk.


Mereka tiba di Jakarta hampir jam makan siang, Intan mendatangi sebuah perusahaan kontraktor 5 lantai milik Papa Dafa, yang kini menjadi milik pria beranak 2 itu.


Setelah menghadap HRD sesuai arahan Dafa, Intan telah menandatangani surat kontrak kerjanya. Dan secara sah dia telah menjadi karyawan bagian staf keuangan yang sebelumnya di isi oleh karyawan yang hamil dan akhirnya resign.


Intan keluar dari gedung itu hampir dua jam.


Bintang yang menunggu dirinya dengan setia, tersenyum saat Intan menuruni tangga lobby ke arah parkiran di mana dia sedang merokok di depan mobilnya.


"Saya kira Bapak langsung ngapel, katanya tadi mau ngapel," Intan berkata saat jarak mereka sudah dekat.


Bintang membuang puntung rokok nya dan menginjak dengan sepatunya.


"Gue laper, lagian kita kan belum nyari tempat kost buat lu,"


Intan mengangguk.

__ADS_1


"Saya ngerasa asing," Intan melihat ke luar jendela mobil di mana gedung-gedung tinggi menjulang di kedua sisi jalan.


"Ya kenalan dulu dong, Hai Jakarta gue Intan, gue mau nyari cuan di mari. Semoga lu nerima gue ya diem di daerah lu," Bintang terkikik sendiri seperti biasa.


Intan hanya menggelengkan kepalanya, mulai terbiasa dengan perkataan aneh kadang absurd dari lelaki di sebelah nya.


"Kost di sini berapa ya?" Intan mulai melamun menerawang biaya yang akan menjadi tanggungan nya selama bekerja di Jakarta.


"Tadi gue searching macem-macem harganya, mulai dari 1,5 sampai ada yang 5,5 juta," katanya.


Intan menoleh ke arah Bintang, "Setaun?"tanyanya polos.


" Lu kira kandang Kebo? ya perbulan lah gila aja setaun."


"Eh, tapi bisa deh setaun." Bintang mengangguk cepat.


"Serius?" Intan bertanya dengan wajah berbinar.


"Iya, ngekost nya bareng gue. Setengah-setengah bayarnya," Bintang terbahak saat Intan menatapnya emosi dengan tangan yang reflek memukul bahunya.


Intan mendengus dan kembali menatap keluar jendela.


"Berapa gaji lu?"


"Ehmm ... 6,2 katanya."


"Gede lah segitu, cukup."


"Tapi saya banyak tanggungan, lagian pengen nabung mau bikin usaha kekinian," wajahnya terlihat antusias, saat membayangkan dirinya mempunyai usaha dengan modalnya sendiri.


Bintang menyimak cita-cita yang di utarakan gadis di sebelah nya.


***


Setelah berkeliling akhirnya mereka menemukan sebuah tempat kost dengan uang sewa 1,7 sudah dengan listrik.


Intan dan Bintang masuk ke kamar yang terdapat lemari dua pintu, meja dengan sebuah TV led 24inc, dan sebuah kasur bisa single di bawah.


Tak lupa di ujung kamar ada kompor kecil di dekat bakal cuci piring sebelah pintu kamar mandi.


"Kasurnya kecil, ya?" Bintang duduk di kasur itu.


"Ya emang buat sendiri, emang mau tidur sama siapa?" Intan balik bertanya.


Bintang merasa salah bicara, namun otaknya tidak kehabisan ide buat ngeles tidak mau terlihat salah.


"Siapa tau temen lu ada yang nginep, kan ntar lu bakal banyak temen," ucapnya asal.


"Eh, di sini kayaknya bebas ya?"


"Huum, laki perempuan jadi satu. Tadi juga ada yang keluar rambutnya pada basah." Intan malu sendiri saat mengucapkan itu.


"Ehh, jangan suudzon. Mungkin mereka abis mandi kepipisan binatang," Bintang berkata serius.


Intan mengerutakan keningnya dia berpikir keras, di kostan ini ada binatang apa? pikirnya.


"Binatang yang suka nemplok," Bintang kembali berkata namun sekarang sambil menahan tawanya agar terlihat serius, dia menyukai Intan yang seolah berpikir keras.


"Sejenis apa? kucing? apa anjing?" tanyanya polos.


"Bukan, sejenis hewan melata,"


"Melata?" Intan membeo.


Bintang akhirnya tak kuat menahan gelak tawanya.


Dan Intan mulai mengerti arah pembicaraan Bintang.


"Dasar gila," ucapnya kesal sambil mengambil tasnya menuju lemari di ujung kamar itu.


"Terus aja lu ngomong gue gila, sehari ini lu ngomong gila ke gue ada berapa kali coba? lu mau gue beneran gila?" dengusnya kesal.


Perempuan itu hanya mengedikkan bahunya, tak berniat meladeni pembicaraan yang tak akan ada habisnya.


Intan menatap bajunya yang hanya beberapa saja, itu pun di tambah dari Mentari beberapa stelan kerja.


Bintang terus memperhatikan Intan, sesekali pandangan nya pada TV.


Tak di sadari Intan, lelaki menyebalkan itu tertidur pulas di atas kasur kecilnya sambil memeluk guling dan tangannya memegang remot TV.


"Ck, malah dia yang tidur." Gumamnya, sambil duduk di sebelah kasur busa itu.



Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭

__ADS_1


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2