Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Drama Modus


__ADS_3

...--oOo--...


Intan pulang. Setelah sebelumnya Bunda mewanti-wanti untuk makan malam di rumah besar. Katanya ada sedikit masalah yang harus di bicarakan pada mereka.


Sesampainya di rumah, Intan gelisah takut suaminya akan marah. Setelah bener saat dia menunggu di teras. Mobil yang dia kenali milik suaminya masuk ke dalam carport rumah mereka. Sengaja Intan membuka lebar pagar rumah mereka, agar memudahkan jika suaminya pulang. Dan benar saja tak berapa lama menunggu di teras, Bintang pun pulang.


"Sayang?" Bintang menyapa sang istri saat baru keluar dari mobil.


Istrinya yang terlihat mondar-mandir di teras rumah,menatapnya penuh keraguan.


"Aku kira kamu marah!" Perempuan itu menghambur memeluknya.


"Hah? nggak lah. Aku nyari tukang cuci mobil yang mau nyuciin bekas muntah sama darah di mobil. Mereka takut bekas apa2, aku ngeluarin dua ratus ribu buat yg mau nyuciin. Baru pada lomba-lomba rebutan mau nyuci tuh mobil."


"Kenapa nggak kamu aja?" tanya Intan.


"Kamu mau, aku muntah lagi?"


Mereka tertawa sambil masuk ke dalam rumah.


"Eh, tadi yang kasih tau Ayah sama Bunda siapa?" tanya sang istri.


"Aku, kenapa?" Bintang menuntun sang istri menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Tau kamu nggak marah, aku masih betah di sana. Bayi nya laki-laki, lucu banget. Akhirnya Mas Dafa punya temen main bola," ucapnya dengan wajah berbinar.


"Lah, si borokokok mah. Main bolanya sama si chaca lah!"


Istri nya itu menoleh tak mengerti dengan ucapan suaminya itu.


"Emang bisa?" tanya nya polos.


Bintang yang membuka pintu kamar nya itu tertawa.


"Seneng aku, kamu masih polos padahal udah aku kontaminasi tetep aja polos," Bintang menciumi gemas wajah sang istri.


"Se-sebentar, lepas dulu ih... " Wanita itu meronta dari pelukan Bintang.


"Jelasin, emang Tari bisa main bola?"


Lagi-lagi suaminya itu malah tertawa sambil berjalan ke arah lemari mengambil kaos rumah dan sebuah celana pendek jersey club Persib kesayangan nya.


"Bentar aku ganti baju dulu," Bintang berlalu ke arah kamar mandi meninggalkan istrinya yang mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur mereka.


Tak lama Bintang keluar dengan wajah yang segar.


"Apa?"


"Nggak sabar banget kalo soal bola," ucapnya sambil mendekat.


Bintang duduk di sebelah istrinya, "Dafa kalo main bola pasti sama si chaca, tapi bola nya dua. Nih bola ini." Dia raih tangan si istrinya dan dia sentuh kan ke bagian bawah tubuhnya.


Istrinya itu menjengit namun tak melepaskan itu, dia malah meremat gemas karena kesal atas tingkah sang suami.


"Adaaawwww ... Sayang, ini pabrik anak-anak kita. Kamu obok-obok seenaknya," Dia mengejar sang istri yang berlari sambil tertawa masuk ke kamar mandi.


"Awas ya ... keluar, aku abisin kamu," gumamnya pelan sambil mengusap telor kembar miliknya.


Tak lama dia keluar melihat istrinya yang berbalut handuk di badan dan juga kepalanya.


"Sayang ... bikin yang gemoy yuk! kita bereksperimen," Bintang menyeringai mesum.


Istrinya hanya melewati nya tanpa menghiraukan bujuk rayu sang suami.


"Yank ... " Bintang menarik tangan istrinya.

__ADS_1


"Ayok... jarang loh kita siang main? biasanya kita sibuk, ada di rumah tapi kamu suka, ada aja halangannya." keluhnya seraya merayu.


Akhirnya istrinya mengalah, dan menerima ajakan suaminya itu.


"Mau mainin bola aku dulu nggak?"


Tangannya mengambil tangan istrinya lalu matanya memejam, "Enak ya?" ucapnya dengan suara parau.


"Kamu kali yang enak, aku mah B aja!" Mendengar Kata-kata datar dari istrinya, membuat Bintang membuka matanya yang tadi terpejam menikmati.


Namun saat sesuatu semakin mengetat, si pyton yang telah berubah menjadi kobra. Bibirnya mendekat hendak mencium bibir sensual istrinya.


Tiba-tiba, "huewwweekk... huweekk.. " istrinya menutup hidung dan mulutnya.


"Bauu, bau pete. Di bilangin jangan makan pete," Dia memundurkan tubuhnya menjauh.


"Terus ini?" tunjuk nya pada si kobra.


"Nanti-nanti aja, kalo baunya udah ilang," ucapnya datar sambil berjalan ke arah lemari.


Bintang langsung berlari ke kamar mandi, menggosok giginya berkali-kali sampai terasa gusinya ngilu, terus di lanjutkan memakai obat kumur. Tapi masih bau, berjalan ke arah dapur membuat kopi hitam dan dia kumur-kumur dengan kopi itu.


"Masih... bau," Sang istri masih bersikeras menyatakan dirinya masih bau.


*


*


Seminggu sudah tragedi pete itu menghantuinya.


Bahkan Bintang harus tidur di kamar tamu. Tersiksa tentu saja. Tiap kali mendekat istrinya pasti menutup hidung.


Seperti pagi ini, Bintang sudah yakin bau pete itu sudah hilang. Selama seminggu dia menggosok giginya setiap ingat. Dan tak lupa berkumur dengan obat kumur juga kopi hitam.


"Sayang?" panggilnya mendekat ketika melihat istrinya sedang memberi makan kelinci peliharaan nya yang baru kemarin dia belikan sebagai bujuk rayu.


"Apa?"


"Katanya mau ke market?"


Bintang mendekat, berdiri di belakang tubuh istrinya yang sedang menunduk menyimpan makanan kelinci ke dalam kandang nya.


Dengan sengaja Bintang menekankan bagian depan tubuhnya ke arah sang istri.


"Ang?" Intan memekik tertahan. Kesal? sudah pasti di tambah rasa malunya karena ini di halaman rumah mereka.


Menoleh dengan tatapan emosi, sambil menegakkan tubuhnya Intan mencubit perut suaminya.


"Ngapain sih kamu?" tanyanya kesal.


"Sumpah, Yank. Aku kangen banget, tega kamu! masa seminggu nggak tidur bareng kita?"


Intan mendelik sebal. "Terus kamu ngapain barusan gituin aku?"


Bintang menggaruk tengkuknya mencari alasan tepat. " Aku nyobain, ngasah si pyton takutnya dia lupa cara berubah jadi cobra!" alasannya asal.


"Nggak tau malu, ini di luar tau?" omel nya.


Lelaki itu mengangguk. "Nggak ada siapa-siapa tapi!" Bintang mengedarkan pandangan nya ke luar pagar.


"Ada Rosalinda, malu!" Intan setengah berbisik.


Bintang mengerutkan keningnya bingung. "Siapa? tetangga baru?" tanyanya serius.


Intan menggeleng pelan. "Rosalinda, kelinci aku. Cantik, makanya aku kasih nama itu. Beliin lagi yang jantannya ya, biar bisa kawin nanti beranak pinak. Pasti lucu deh, nanti aku kasih nama Fernandez." Dia terkikik sendiri.

__ADS_1


"Biar bisa kawin, kita aja belum. Yuk, jangan sampai keduluan kelinci!" bujuk nya.


Intan yang tangannya di tarik sedikit terseok mengimbangi langkah sang suami.


"Ang, katanya mau ke Market?" tanyanya mencoba melepaskan tangannya yang di genggam erat sang suami.


"Ada waktu lima menit, bisa lah gaya ekspres."


"Apa? lima menit? ogah cuma ngotorin doang!" Intan masih di tarik masuk menuju kamar mereka.


Bintang menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap wajah istrinya. "Kan, selalu gitu kamu di ajak sebentar ngomel, pake jamu biar lama marah-marah. Padahal maksud aku baik, kalo lama kan biar kamu puas. Kalo sebentar biar bisa nambah bikin aku bangga dan kamu puas." katanya berargumen.


Intan yang berjalan ke arah tempat tidur berdecak kesal mendengar kalimat penerangan dari suaminya.


"Nambah, tapi setelah berjam-jam kemudian, di kala aku udah tidur nyenyak atau aku yang udah mandi rapi. Ngapain coba? buang-buang waktu." Intan mengambil ponselnya dan mengulir layar memesan sesuatu dari aplikasi ojol.


"Ck, kamu baru buang-buang waktu. Aku yang buang-buang sumsum biasa aja." Bintang dengan santainya mulai melucuti kain yang menempel di tubuhnya satu oersatu. Saat tinggal kain segitiga nya dia duduk di sebelah istrinya itu.


Mengendus leher wangi perpaduan buah dan bunga itu. Intan yang merasa geli langsung menoleh. "Aduh, kapan lepas bajunya?" matanya melotot kaget, merasa kecolongan start.


Bintang terkikik melihat tingkah lucu sang istri.


"Ayo, nggak kuat." Katanya semakin merapatkan tubuh mereka.


"Bau nggak?" Intan bertanya dengan tubuhnya yang dia condong kan menjauh.


Tanpa aba-aba lelaki itu menariknya dan melu*mat keras dan terburu-buru bibir yang dia rindukan seminggu lamanya.


"Gimana?" tanya Bintang, saat pautan mereka terlepas.


"Tempat pipisnya, bau nggak?" kembali Intan mencari alasan.


Bintang menarik lepas kain segitiga penutup terakhir milik nya. "Coba cium?" katanya sambil mengarahkan matanya ke arah si cobra yang sudah berdiri tegak siap menyemburkan bisa nya.


Intan berdecak sinis dan menggelengkan kepalanya.


"Coba cium?" Bintang memaksa. Sedikit menekan bahu istrinya yang seketika berlutut menghadap si cobra.


Dengan wajah kesal dan terpaksa Intan mengendus nya.


"Gimana?" Bintang melipat bibirnya menahan tawa.


Intan masih mengendus daging keras itu.


Dengan jahilnya Bintang malah memegang dan menyentuhkannya pada wajah si istri. "Aku tabok bulak balik juga nih pipi ku pake si cobra, banyak banget alesan. Tinggal masukin doang, biar aku yang kerja." Katanya lagi.


"Cium, sebentar Yank. Kangen banget dia sama kamu," alasannya merayu.


Intan yang kesal seketika terlintas sebuah ide balas dendam. Lalu dengan cepat mengangguk dan tatapan mereka bertemu, tentu saja dengan pemikiran mereka masing-masing.


Intan yang masih posisi berlutut dan Bintang duduk di tepian tempat tidur. Memudahkan keduanya untuk melakukan kegiatan lepas kangennya. Lelaki itu membuka lebar pahanya agar memudahkan si istri beraktivitas. Intan yang masih mengusap lembut melihat wajah suaminya yang memerah dengan pandangan sayu.


Saat akan bersiap memasukannya ke dalam mulutnya, dan si suami yang sudah bersiap menerima kehangatan yang akan segera melingkupi si cobra kesayangannya. Matanya sudah memejam dengan kepala yang mendongak, bibir bawah yang sudah dia gigit untuk meredam erangan nikmatnya.


Intan tersenyum di bawah sana. Dia masih mengusap dan mengecuppi si keras itu.


Saat suara di luar pagar membuatnya meloncat dan berlari keluar kamar. Sedangkan Bintang di tinggalkan begitu saja. Dengan perasaan yang hampir gila.


"Yank .... " Teriak nya kesal.


Terdengar suara tawa Intan di luar kamar.


Bersambung ❤❤❤


Maaf kemarin nggak up, otak nya lagi nge hank 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Makasih yang masih mau baca, cerita si tang yang mulai membosankan ini🤧🤧 peluk cium dari Bandung 😘😘😘


__ADS_2