Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
rasa aneh


__ADS_3

Kini pandangan Bintang bertumpuk pada seorang gadis yang tengah berjongkok di depannya, memilih baju untuk adiknya yang sedang menunggu di rumah sakit.


perempuan yang hanya mengenakan kaos putih kedodoran dengan celana tiga perempat berwarna kulit. "Sial, napa pikiran gue dia kayak yang kagak pake celana?" Hatinya merutuki otaknya yang selalu di gelayuti pikiran kotor.


Tapi sebentar hanya pada Naya dan perempuan cungkring di depannya, waktu jaman kuliah dulu dia sering bercumbu namun tidak membuat pyton nya mudah terpancing. Kembali otaknya membela diri.


Saat Intan berbalik menghadapnya dengan setumpuk pakaian milik Dafa, dan Mentari. Ternyata kaos putih itu membayang sebuah kacamata penutup dada berwarna hitam, dan terlihat isinya tumpah melebihi wadahnya.


"Anjir... pasti kaos murah, tipis banget bahannya." Lagi-lagi dia menelan salivanya yang tiba-tiba meluap dalam mulutnya


Mencoba membuang muka namun sialnya engsel kepalanya membuat kepala itu lagi-lagi memutar ke arah Intan yang tengah merapihkan pakaian ke dalam travel bag.


"Pak... "


"Ck... lu nggak konsisten banget sih! tadi pagi Mas, sekarang bapak, ntar malem kayaknya om." Gerutunya.


Intan terdiam menunduk serba salah pikirnya, lelaki di depannya si cowok sarkas. Pikirnya, namun tak bisa berbuat apa-apa, melawan pun akan salah dan kalah dengan tipe orang seperti itu.


"Mau tanya apa?" Bintang berdiri dan menghampiri nya, mencoba mengecek perlengkapan yang gadis itu siapkan.


"Baju, ibunya Helen satu aja. Dia mau pulang lagi. Banyakin buat si borokokok aja!" Titahnya.


"Borokokok... " Intan membeo seolah bertanya-tanya siapa yang di sebut cowok slengean di depannya itu.


"Eh, si Dafa bapaknya Helen Shera, " Bintang meralat ucapannya sendiri.


Intan menggeleng sendiri mendengar perkataan Bintang, "perasaan lebih cocok sebutan itu buat dirinya sendiri." Gumamnya namun samar-samar bisa di dengar Bintang.


"Kamu ngomong apa? kamu ngomongin gue?"


Intan menggeleng kuat, "tuhkan, dia juga nggak konsisten tadi lu gue, sekarang kamu gue, ih... males." kini dia berkata dalam hati.


Bintang keluar membawa travel bag itu setelah pamit menciumi Helen yang baru terbangun.


"Kunci pintu nya, nanti ada orang jahat yang nyelonong masuk. Liat kamu nungging pake handuk doang, bisa-bisa kamu di apa-apain." Bintang berbalik langsung sedikit berlari ke arah mobilnya saat menyadari dia kelepasan mengatakan intan yang berpose menantang para lelaki hidung belang.


Dia tidak sadar, padahal di situasi ini pun dia termasuk dalam golongan orang jahat. Batin Intan merutuki laki-laki di depannya yang menghilang masuk ke dalam mobil.


"A_apa? kenapa dia tau aku pake handuk dan nungging!" Intan menutup mulutnya dengan tangannya. "Ya ampun, berarti dia tadi liat aku lagi ngorek-ngorek kardus nyari stock conditoner." Intan seketika semakin kesal dan benci pada kakak dari majikannya itu.


*


*


Bintang tertawa di dalam mobil menuju rumah sakit, betapa polosnya perempuan lelet itu, otaknya berkata namun hati nya terasa ada yang aneh, "aduh, dada gue kok gini? sakit apa ya? apa karena kualat liat dada cewek cungkring itu?" gumamnya lelaki itu memegangi dadanya yang terasa aneh.

__ADS_1


Membayangkan tubuh mungil dengan buah yang cukup besar, "dia pasti udah punya pacar yang ngejamah dia di akhir minggu pas libur, pulang ke rumahnya. Anjir... ngapain gue mikirin di audah punya pacar apa belum, dih ketularan bego... " gerutunya kesal namun tanpa disadari dia tersenyum tipis entah apa penyebabnya.


Setelah memberikan baju ganti ke rumah sakit, Ternyata adiknya itu ikut pulang, karena Shera yang masih bayi rentan jika di bawa di rumah sakit terlalu lama, Mentari pun pulang dengan menumpang mobilnya.


Tiba di rumah ternyata orang tuanya pun ikut, memaksa agar anak dan cucu-cucunya itu pulang ke rumah mereka. Mentari pun menyetujui akan ide Bunda nya. Setelah bebenah baju dan perlengkapan anak-anaknya Mentari menaiki mobil yang di kendarai ayahnya.


"Ayo... Kak!" Mentari berkata pada Bintang saat kakaknya itu hanya mematung di depan pagar rumahnya.


"Iya, sebentar mau nunggu balasan chat dulu. Sana Ayah udah nungguin," Bintang mengusirnya dengan gerakan dagunya.


Mobil yang di kendarai Ayah sudah menjauh, Bintang menatap Intan yang juga masih mematung memegang gembok di tangannya.


"Apa? lu berani ngusir gue?" Bentak nya.


Intan menghela nafasnya, sepertinya dia harus banyak-banyak mengusap dada menghadapi pria modelan slengean di depannya.


"Nggak, Mas. Saya cuma berdiri di sini, salah ya?"


"Iya, salah. Gue nggak akan pulang," Bintang nyelonong masuk kembali ke dalam rumah adiknya.


"Heh... malah bengong di sana, buruan masuk! bikinin gue makan, lapar nih." Bentak nya dari atas teras.


Intan menghela nafasnya, dia malas dan masih kesal dengan kakak majikannya yang di nilai sangat semena-mena. Dengan mulut yang sarkas, nyelekit kalau berbicara.


Deg...


"Aduh, kok jadi ngeri. Tuhan... lindungi hamba mu ini dari setan dan sejenisnya yang terkutuk." Intan mendekap dadanya dan mendorong pagar hingga tertutup. Namun dengan sengaja tidak dia gembok , dia berjaga-jaga jika dirinya harus melarikan diri dari laki-laki yang berada di dalam sana.


Intan masuk ke dalam rumah dengan jantung berdebar, dia takut dan merasa terancam. Melihat Bintang dudul di ruang TV dengan wajah datar memeluk bantal.


"Buruan, bikinin gue makan. Lapar banget nih!"


"Iya,"


Intan setengah berlari ke arah dapur, membuka lemari pendingin mengambil kotak berisikan beberapa ayam ungkep. Lalu menggoreng nya dengan tambahan tahu.


Semua sudah tersaji di atas meja makan. Ayam goreng, tahu dan lalapan tak lupa sambal goreng yang begitu menggugah selera.


Di dekati nya sofa itu, saat sudah hampir dekat dia melihat jika Bintang tertidur pulas.


"Ck, malah tidur." Gerutunya lalu dia mendengar suara ponselnya yang dia simpan di dapur berdering.


"Halo?"


"... "

__ADS_1


"Iya, nanti aja sabtu pas aku pulang. Aku udah gajian kok!"


"... "


"Udah cukup, nggak usah terus di ulang, aku udah pengang kang, akang selalu ngelimpahin semua sama Intan, Intan capek... " gadis itu menangis pilu, merasa lelah akan hidupnya sendiri.


Bintang yang bangun karena suara Intan, dengan sengaja mencuri dengar kata-kata yang keluar dari mulut si cewek cungkring itu.


Dia masih pura-pura tidur, saat Intan melewati sofa yang dia tiduri. Di lihat dari matanya yang mengintip, Intan masuk ke dalam kamarnya.


Terdengar suara isak tangis dari kamar berukuran 3X3 itu, ya dia meyakini perempuan itu menangis setelah berbicara di telpon. Siapa yang menelponnya? dari panggilan akang, mungkin dia pacar nya. Ada perasaan tak enak di hatinya, entah apa penyebabnya.


Dia melamun dengan segala kemungkinan yang dia pikirkan tentang Intan, mulai dari dia berantem dengan pacarnya, atau dia cewek bermasalah? otaknya bekerja keras memikirkan praduga terhadap cewek lelet bin cungkring itu. Tanpa tersadar dia kembali terlelap.


*


*


Bintang mengerjap saat penglihatannya menangkap gelap, "buset, udah malem!" dia bangkit mencari saklar lampu. Setelah berhasil menghidupkan semua lampu, dia melihat menu lengkap menggiurkan di atas meja.


Dengan lahapnya dia memakan ayam dengan sambal dan teman-temannya itu.


Setelah di rasa kenyang setelah dua kali dia tambah nasi, dia cuci tangan dan mulai mencari keberadaan Intan.


Saat di lorong menuju kamar Intan, dia agak takut tapi rasa penasaran semakin mendorong keinginannya untuk melihat ke kamar gadis itu.


Lampu kamar yang gelap, namun masih terlihat cahaya dari lampu lorong di luar kamarnya.


Bintang masuk ke dalam kamar yang tak di kunci itu, "Ck, molor... " Lelaki itu tangannya mulai merayap mencari sesuatu, dia sangat penasaran dengan tampilan cungkring tapi memiliki buah yang besar.


❀❀❀


Bersambung


Hai.... Hai... ketemu lagi sama itti yang baik hati dan sholehah. Sekarang kita ceritain kisah Bintang dan lika liku kehidupannya ya....


Semoga feel menghibur ku nyampe ya bikin kalian semua terhibur πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.


Yang belum tau siapa Bintang. Cuzzzz baca dulu karya aku dengan judul Kisah Mentari yak nih cerita adiknya, tapi dari situ kalian udah aku kenalin siapa Bintang.


Dah lah kita mulai aja ya.... πŸ’ͺπŸ’ͺ


Bismillah yuk... bisa, yukkk... ngakak... biar bisa ngan*kan*🀭😘πŸ’ͺ


Mohon maaf kalo ada typo2 dan penulisan nama yang terbawa-bawa dari masa lalu🀣🀣🀣

__ADS_1


Jujur aku susah moveon dari nama laki-laki, karya pertama iqbal sering ke bawa ke cerita Dafa, dan si Dafa masih sering ngintilin Bintang 🀣🀣 maafkanπŸ™πŸ™πŸ˜ŒπŸ˜ŒπŸ˜Œ.


__ADS_2