Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Surat cinta


__ADS_3

...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Sudah seminggu waktu berjalan begitu cepat tapi untuk Bintang itu terasa sangat lama. Apalagi dia hati ini Intan agak aneh, dia tidak mau menerima panggilan video darinya.


"Bang, gue udah beresin semua. Gue ijin pulang ya? mau ngapel nih," ijinnya pada sang kakak.


"Dih baru jam 2,"


"Ya asal kerjaan udah kelar, lagian tadi gue nggak istirahat makan."


Langit menggeleng dengan senyuman yang langka terlihat orang. "Ya, udah gih. Kalo Ayah tau lu di jitak potong gaji,"


"Ya, makanya lu diem-diem bae. Bang," pinta Bintang.


Lalu dia pun pergi, dengan hati yang berbunga-bunga karena akan mendengar jawaban Intan untuk hubungan mereka.


Dua jam perjalanan dia lalui, dia yakin Intan belum pulang kerja dan dia menunggunya keluar di halaman parkir kantor milik sangat adik ipar.


Langit semakin gelap tapi Intan masih belum terlihat keluar.


"Duh, masa depan gue kok nggak keluar- keluar?'


Namun sebuah kemungkinan yang dia takutkan melintas di kepalanya, " Duh, apa sakit gitu?" Lalu dia segera melajukan mobilnya menuju tempat kost Intan yang memang tidak terlalu jauh.


Saat sampai dia langsung berjalan ke arah kamar Intan, anehnya jendela nya terbuka.


"Tumben, apa ada tamu?" gumamnya merasa aneh karena tidak biasanya.


Belum sampai di pintu seorang lelaki keluar dari kamar yang dia yakini di tempati Intan.


"Anjir," Lalu dia segera menghampiri lelaki itu.


"Heh, ngapain lu dari kamar cewek gue?"


Tangannya mencengkram kaos atas lelaki yang baru saja keluar dari kamar Intan.


"Apa-apaan ini?" lelaki itu berontak marah.


"Lu yang apa-apaan? keluar dari kamar Cewek gue!" Bintang memaki.


Seorang perempuan bertubuh berisi keluar dari kamar Intan.


"Ada apa ini? sayang kenapa?" tanyanya pada lelaki yang tengah emosi pada Bintang.


Dia menoleh pada wanita yang berdiri di ambang pintu.


"Kamu siapa?"


Si perempuan mengerutkan keningnya.


"Aku Ismawati, itu suami saya Ismail bin Mail. Mas siapa dateng-dateng teriak di depan rumah orang?" Perempuan itu terlihat ikut marah.


"Ini bukannya kamar pacar saya, namanya Intan." Bintang menjelaskan.


Pasangan suami istri itu saling melirik.


"Kita, penghuni baru. Baru dua hari, pacar Mas nya udah pindah pasti," Ujar lelaki bernama Ismail bin Mail itu.


Bintang mematung, otaknya tidak bisa berpikir jernih, saat ponsel Intan tidak bisa di hubungi. Lalu seorang perempuan keluar dari kamar sebelah.


"Mas Bintang ya?" tanyanya.


Bintang mengangguk lemah.


"Ada titipan dari, Intan." Dia memberikan sebuah amplop berwarna merah jambu.


"Dia kemana? pindah kemana? kapan pindah nya?" Bintang memberondong perempuan yang tengah hamil muda itu.


"Saya kurang tau pindah nya kemana, karena Intan memang belum punya tujuan katanya, pindahnya dua hari lalu."

__ADS_1


Bintang mengusak rambutnya kasar, kesal dan marah menjadi satu.


Dia berjalan lunglai menuju mobilnya.


Melajukan nya keluar dari halaman kost itu.


*


*


Bintang memberhentikan mobilnya di tepi sebuah tempat makan mIe instan yang cukup terkenal. Dia butuh kopi untuk menstabilkan otaknya yang terasa buntu.


Setelah memesan sebuah kopi pekat tanpa gula dan seporsi mie Instan goreng dengan toping telor. Dia duduk di pojokan,


Membuka surat itu dan mulai membacanya.


Untuk Mas Bintang.


Maaf sebelumnya, Mas baca surat ini aku pasti udah di suatu tempat dan akan memulai hidup yang baru.


Aku udah punya perasaan berbeda saat bertemu mas untuk yang ke tiga kalinya saat Bu Mentari hampir keguguran ketika hamil Shera.


Itu pertemuan kita yang ketiga, Mas pasti nggak inget kan?


Pertemuan kita yang pertama saat aku mengambil berkas kematian Mas Dani di sebuah rumah sakit di Jakarta. Mas nabrak aku di teras Lobby rumah sakit, inget nggak?


Terus pertemuan kita yang ke dua saat Mas hampir nabrak saya yang berada di motor, dan saya menenangkan Helen yang waktu itu tengah menangis di dalam mobil.


Hehehehe pasti Mas nggak akan inget.


Rasa itu semakin kuat saat kita sering bertemu, mulut Mas pedes sekaligus manis. Aku juga bingung kenapa ya bisa suka sama orang yang mulutnya tajem gitu, sikap slengean, menyebalkan dan mesum. Nggak ada bagus-bagus nya, tapi aku suka. Di balik itu semua Mas orang nya baik banget, aku ngerasa menyesal untuk Naya kenapa melepaskan orang sebaik Mas Bintang.


Aku suka tapi Mas terlalu baik untuk aku, aku perempuan dengan banyak masalah. Mas nggak akan kuat karena aku juga hampir menyerah.


Tapi tenang menyerahku bukan bunuh diri.


Aku pamit Mas, nggak udah di cari. Terimakasih buat semuanya. Aku bakal ganti uang yang kemarin Mas kasih buat kakang aku. Jangan cari aku Mas, aku yakin Mas akan mendapatkan pasangan yang baik, tulus, cantik dan tentunya hidup nya nggak serumit aku.


Sekali lagi Terima kasih Mas Bintang...


Salam dari aku yang sudah jatuh cinta dari pandangan pertama.


Bintang meremat kertas itu lalu tertutup menangis seperti seorang anak kecil.


"Surat cinta yang bikin patah hati," cibir nya sambil memasukan kembali surat berbungkus amplop pink itu pada saku jaketnya.


Kenapa sesakit ini, lebih sakit dari penghianatan yang dia terima dari Naya.


"Tan ... tapi nggak gitu, nggak seharusnya lu ninggalin gue gini." ucapnya lirih sambil makan mie goreng itu.


"Mas ... kenapa?" tanya seorang pelayan


"Apa? pedes tau," bentak nya.


Si pelayan yang tadi mengantarkan pesanan nya hanya mengernyit.


"Itu kan nggak pake pedes, Mas!"


"Hati gue yang pedes, sono lu!" Bintang kembali memakan mie nya sambil menggerutu kesal dan merutuki apa yang Intan lakukan padanya.


Setelah selesai dia pulang ke Bandung dengan lunglai tak bergairah, bahkan Ayahnya yang sedang menonton bola di ruang keluarga pun tidak dia hiraukan.


"Bin, ni club bola kesayangan kamu!" Ayah menunjuk TV besar di depan nya.


Bintang hanya menatap nya malas lalu berjalan ke tangga menuju kamarnya.


"Kenapa?" Bunda menatap anaknya yang terlihat lunglai


"Biasa kek nya urusan cewek, lah mana ada yang kuat sama dia,"

__ADS_1


Bunda menatap suaminya tak terima anaknya di hina seperti itu.


"Kasin, Bunda mau liat dulu." Bunda mengikuti anaknya.


Tok.. tok...


"Kak, Bunda boleh masuk?"


Tak ada jawaban Bintang terlihat di balkon, dan wanita paruh baya itu menghampiri anak lelakinya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa?"


Bintang menoleh sesaat lalu menggeleng kan kepalanya.


"Nggak mungkin!" Bunda ikut duduk di kursi besi itu.


Tiba-tiba Bintang menyandarkan kepalanya pada bahu Bunda dan menangis.


"Aku kehilangan perempuan baik Bun, aku telat menyadari hati dia, dan ternyata rasa yang aku punya lebih besar dari rasa yang dia sama kakak." ucapnya sambil terisak.


"Siapa? Intan?"


"Iya, kenapa Bunda tau?"


Perempuan cantik yang hanya memakai daster rumah itu hanya tersenyum.


"Ngeliat interaksi kalian, Bunda udah tau masing-masing dari kalian punya rasa yang sama. Tapi kalian menyembunyikan dan menepis rasa itu."


"Kakak yang selalu marah-marah dan ngehina dia, dan Intan yang selalu jutek dan menghindar kalo dekat kakak. Itu udah menunjukan rasa yang beda, dan Bunda sama adik kamu udah ngerasa dari awal Intan kerja di rumah adik kamu," tambahnya lagi.


Bintang semakin tergugu.


"Iya, Bun. Dan ternyata kita sebelum nya udah pernah ketemu, dan bodoh nya aku nggak sadar malah terus pertahankan cinta ke si Sundel, padahal jelas itu ternyata bukan cinta tapi rasa kasian, rasa sakit di khianati si Sundel nggak sesakit di tinggalin Intan, Bun." keluhnya.


"Sabar, kalo jodoh nggak akan kemana. Sekarang kamu kerja yang bener sambil berusaha nyari jangan larut kayak gini, semangat membangun karir."


"Pas ketemu jodoh kamu udah jadi seorang lelaki matang dalam segi segalanya. Pikiran, emosi, tanggungjawab dan materi juga. Jadi calon istri kamu akan sangat bangga."


Bintang hanya mengangguk lalu dia berjanji akan menemukan Intan entah cepat atau lambat.


Lalu saat dia masih bersandar di pundak Bunda nya sebuah toyoran kepala dia rasakan.


"Aww... "


"Singkirin kepala kotor kamu, dari pundak istri Ayah." suara Ayah terdengar menggeram kesal.


Bintang hanya berdecak kesal.


"Ambil sono, lupa apa istrimu adalah Bunda ku?"


Ucapnya tak kalah nyolot kepala sang Ayah yang terlalu bucin.


Pasangan suami istri itu keluar dari kamar anak keduanya yang tengah galau.


"Aku, bakal berusaha lebih baik. Saat ketemu kamu aku udah jadi lelaki mapan seperti yang dikatakan Bunda." janjinya sambil membayangkan Intan yang tengah tersenyum saat melepas kepulangannya dari kost nya seminggu yang lalu.


"Ternyata perlakuan manis itu, cara kamu menyampaikan perpisahan sama aku!" gumamnya.


Melihat layar ponsel nya di mana terpampang foto Intan yang tengah terlelap dalam tidur.


"Sehat-sehat ya kamu di sana."


Bersambung ❀❀❀


Like nya...


Komentar nya...


dan favoritnya ya...

__ADS_1


__ADS_2