Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Kegaduhan di tengah malam


__ADS_3

...--oOo--...


Semua keluarga sedang menyantap makan malam di taman belakang rumah Ayah Gunawan.


Intan sepertinya yang paling lahap, setelah dari sop buntut bisa-bisanya dia menghabiskan lasagna sampai dua piring.


"Ang. Ngga kenyang-kenyang? astaga kamu makan udah hampir sejam nggak berhenti."


Intan yang sedang meminum es serut melon selasih duduk di sebelah si suami. "Ish, tadi kan aku nyuapin Abang Al, aku baru makan!'


Intan tertawa. " Baru makan?" lalu dia kembali bergabung dengan para wanita di gazebo.


Malam semakin larut dan anak-anak sudah mulai menguap. Terlihat si kembar malah sudah merengek di pangkuan Amih mereka.


"Ang. Bantuin,"


Bintang yang tengah duduk dengan semangkuk siomay bangun dan berjalan ke arah gazebo di mana sang istri sedang di gelayuti anak mereka.


"Yuk, sama Papi." tangannya terulur.


Seperti biasa Wulan si princess langsung duluan menengadahkan tangannya. Tak mau kalah Damar juga merengek ingin di gendong Papi mereka.


Alhasil tangan kiri kanan Bintang terisi dengan tubuh putra putrinya yang hampir menginjak satu tahun.


Intan berjalan mengikuti di belakang dengan sebelah tangannya mengusap perutnya yang terasa mengencang dan sebelah lagi menuntun Altaf.


Di ikuti semua keluarga yang juga sudah ingin beristirahat.


"Ngga nyangka liat Bintang bisa kayak gitu!" Langit setengah berbisik di belakang Ayah Gunawan.


"Iya, si semprul kena karmanya. Dan sedihnya, Intan yang kena imbas nya!" Sahut Ayah mereka, lalu tertawa saat Bunda memukul pelan lengannya.


"Bener, kan Bun?"


"Yah, jangan gitu. Dia itu anak kita juga. Di bully terus!" Bunda membela putra keduanya yang punggungnya sudah terlihat menaiki tangga dengan dua bocah menggelayut manja di pundaknya.


"Bunda bangga sama dia, dia bisa dewasa dan lebih bertanggungjawab di tangan perempuan yang benar. Dan lebih bangga lagi karena Intan benar-benar berhati malaikat. Mau merawat Altaf yang notabene nya adalah anak mantan si suami."


" Walaupun bukan anak kandung, tapi kasih sayang untuk Altaf di sama ratakan sama si kembar!" Mentari menyambar dari sebelah Bundanya.


Semua mengangguk mengamini apa yang Bunda dan Mentari ucapkan.


Mereka berpisah menuju kamar masing-masing.


*


*


Tengah malam kegaduhan terjadi di rumah itu.


Bintang yang sudah lebih dari lima kali masuk kamar mandi karena mulas. Tak kunjung sembuh, Bintang membangunkan sang istri. Meminta di buatkan ramuan daun jambu klutuk, untuk mengobati perutnya yang melilit.


"Cepet, Yank!" Bintang merengek di ruang keluarga. Intan baru saja membuka pintu ke arah taman belakang.


Bunda dan Ayah keluar dari kamar. Mereka yang kamarnya berdekatan dengan ruang keluarga merasa terganggu.


"Apa sih? berisik. Jam berapa ini?" Ayah menggerutu pada si anak yang tengah menungging di atas sofa.

__ADS_1


"Sakit perut," Bintang meringis.


"Terus teriak-teriak, sama siapa?" Bunda membenahi cardigan nya. Anak-anak nya yang lain juga bermunculan.


Lalu pandangan mereka beralih ke pintu kaca menuju taman belakang terbuka. Muncul lah Intan dari sana.


"Ngga ada, Ang!" Intan datang dengan wajah menyesal.


"Apa, yang ngga ada?" Bunda bertanya bingung.


Intan kaget melihat ramainya orang di sana. Seketika gugup, karena baru menyadari mereka mengganggu waktu istirahat semua orang.


"I-itu, Pohon jambu, Bun!"


"Pohon jambu?" serentak semua bertanya.


Intan meringis malu lalu mengangguk kecil.


"Ang Bin, sakit perut Bun!" katanya.


"Semprul, kamu suruh istri lagi hamil gede jam dua malam keluar rumah nyari daun jambu?" Ayah datang dan memukul Bintang yang sedang tengkurap.


"Aku, Butuh ramuan daun jambu kutuk-kutuk. Kalian nggak akan tau!" rengeknya masih tengkurap dengan menekankan perutnya di atas bantal.


"Kutuk-kutuk?" Mentari mengerutkan keningnya.


"Klutuk maksudnya, tapi di taman belakang nggak ada pohon jambu klutuk ya, Bun?" Intan mendekati si suami yang sedang kesakitan.


"Makannya jangan maruk, semua di embat. Ngunyah nggak selesai-selesai kayak yang nggak akan nemu makan lagi!" Gerutunya kesal Ayah.


Intan duduk dan mengusap-usap punggung si suami.


Intan hendak bangun namun semua orang menahannya, tidak baik wanita hamil besar tengah malam keluar rumah.


Langit di ikuti Dafa keluar menuju halaman depan.


Dan tak lama membawa satu ranting kecil berisikan delapan lembar daun jambu klutuk.


"Nih," Langit mengulurkan ranting kecil ke arah si adik.


"Yank," rengeknya dengan tatapan mengiba.


Semua orang di sana mencibir dengan sikap manja Bintang.


Intan mengangguk lalu menerima ranting yang berisikan beberapa lembar daun jambu klutuk dari abang iparnya itu.


Berjalan menuju dapur untuk merebus daun jambu klutuk untuk obat sakit perut suaminya.


Semua orang kembali ke kamar masing-masing. Dan mengancam Bintang sebelum meninggalkan nya sendiri di ruang keluarga.


"Jangan ngerepotin Intan, dia lagi hamil besar." Bunda mengingatkan.


"Mana, capek ngurus si kembar sama Altaf." Sang adik Mentari turut serta mengingatkan.


"Mana, sikap kamu manja bikin jijay," Langit ikut menimpali.


"Biarin, palingan juga ntar bininya kabur."

__ADS_1


Kalimat Ayah yang membuatnya bereaksi.


"Ayah, kalo ngomong. Suka bikin merinding bulu roma!" Keluhnya kesal.


Semua tertawa sambil berjalan menuju kamar masing-masing.


*


*


Ketukan terdengar di pintu kamar Bunda.


Wanita tua yang baru berulang tahun itu membuka pintu dengan segera.


"Bun?"


"Ya, kenapa?"


"Itu, Ang Bin. Makin parah," Intan terlihat panik sambil menggendong Wulan.


Bunda mengangguk mengerti lalu masuk kembali ke kamar membangunkan si suami.


Mereka berkumpul di kamar Bintang, Mengelilingi tempat tidur yang di diami Bintang yang sedang berguling-guling tak karuan. Damar dan Altaf sudah di ungsikan ke kamar oleh Cindy istri Langit.


"Makan apa sih kamu?" Bunda menghampiri, wajahnya cemas tentu saja. Melihat Bintang guling-guling dengan rintihan kesakitan juga menantunya yang sedang hamil besar sesenggukan menangis.


"Sakit, Bun!"


"Apa mungkin lambung nya kumat?" Dafa bertanya.


Semua orang menatap ke orang yang bersangkutan. "Nggak tau, pokoknya perutku sakit kayak ya g mau pup. Tapi nggak keluar angin doang!" Katanya di sela mengaduh.


"Mustahil kalo cuma angin doang, kamu tadi makan banyak banget!" Ayah menimpali.


"Serius, Yah. Setelah tujuh kali keluar ada isinya. Selanjutnya nihil angin doang," katanya masih berguling-guling, bahkan kakinya mengejat seperti anak kecil.


Semua sepakat membawa Bintang ke rumah sakit. Setelah mereka berganti baju.


Bintang di bopong Dafa dan Langit menuruni anak tangga. Intan di belakang mengikuti. Mereka menunggu di teras rumah.


Langit mulai terang, tentu saja itu hampir pukul enam. Mang Asep sudah menyiapkan mobil yang akan membawa majikannya ke rumah sakit, sesuai yang dia dengar tadi.


Bintang semakin mengaduh hingga selonjoran di lantai. Semua orang panik ketakutan melihat Bintang yang meraung-raung kesakitan.


"Ang,"


"Tang,"


"Ya ampun, Nak!" Bunda yang baru datang menjerit tapi bukan menghampiri Bintang melainkan mendekati Intan.


Semua menatap heran namun tak lama semua tertawa dengan ceria.


Bersambung ❤❤


Satu part lagi ini end. Aku mau fokus di Wulan ya🤣🤭🤭.


Makasih yang masih setia sama ang Bin. Semoga mau ikut juga ke rumah barunya mereka 🥰🥰🤭

__ADS_1


Yang mau mampir di IG boleh ya di Sartika2449 atau FB Siti sartika🥰🥰


__ADS_2