Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Tato ekor ular


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


"Tan ... gue numpang istirahat ya, boleh?" ucapnya sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Intan yang berdiri di depannya.


"Kenapa? Bapak nggak pulang aja?"


"Buruan pengen rebahan. Badan gue meriang," ucapnya, tangannya memegang tangan Intan untuk dia jadikan pegangan saat mencoba bangkit dari duduknya.


Intan terdiam saat merasakan suhu tubuh Bintang yang memang terasa panas.


"Udah kayak anak kucing aja diem di keset," cibir Intan sambil membuka kunci kamarnya.


"Berisik,"


Intan mendengus kesal, siapa sebenarnya pemilik kamar kost ini. Melihat Bintang yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur busa di ujung ruangan.


Intan berjalan kembali ke luar kamar mengambil handuknya yang menggantung di jemuran, setelah nya dia membuka lemari mengambil kaos dan celana kulot pendek favoritnya.


"Tan ... pengen teh manis panas," ucapnya tanpa rasa malu.


"Saya mau mandi dulu,"


Bintang mengangguk kecil.


"Tan ... "


"Ishh, apa lagi Pak?"


"Nggak ada selimut lagi?"


"Nggak ada, itu juga bawaan dari kamar ini. Eh, kain pantai mau?" Intan teringat memiliki selembar kain pantai berwarna pink dengan gambar abstrak membentuk pola bunga.


"Boleh, lumayan buat nambah kehangatan," Bintang menjawab dengan gigi bergemeletuk.


Intan mengambil nya dari lemari bajunya, berjalan ke arah Bintang dan menjulurkan tangannya, " nih, Pak!"


Bintang yang sedang meringkuk menghadap tembok, menolehkan kepala nya.


"Gue sakit, Tan. Bisa kali lu pakein tinggal lu gelar di badan gue, nggak susah kan?" rengeknya manja sekaligus kesal.


"Gelar kek tiker aja di gelar," gerutunya namun tetap menuruti pinta laki-laki yang tengah mengeluh sakit itu.


Intan pun berjalan ke kamar mandi.


...*****...


Baru membuka bajunya, sebuah gebrakan di pintu terdengar rusuh.


"Tan .... buka dulu, buruan bukaaa.... " terdengar Bintang terus berteriak di depan pintu.


Intan dengan terburu-buru menyambar handuk yang menggantung di balik pintu dan melilitkan nya pada tubuhnya.


"Ya? Kenapa Pak?" Saat Intan membuka pintu.


Bintang mendorongnya hingga perempuan itu terjerembab di dinding kamar mandi.


"Huweeekkk ... Huweeekkk ... " Bintang jongkok di depan kloset duduk itu. Tangannya menahan tubuhnya di pinggiran bak.


Intan yang melihat keadaan Bintang reflek memijat punggungnya sambil sebelah tangannya menahan handuknya yang tak menutup sempurna. Handuk tanggung yang hanya menutup tubuhnya sampai setengah paha nya saja.


"Aduh. Masuk angin ini, Mas."


Bintang masih mengeluarkan isi perutnya.


Lalu Bintang berkumur dan membasuh wajahnya, saat hendak bangun pant*at nya menyenggol dada Intan yang tengah menunduk memijat tengkuknya.


"Aduh, " dia hampir tersungkur ke closet kalo saja Intan tidak menahannya.


"Yang bener, Pak."


"Gue pusing, Tan." Bintang keluar dengan tangan yang menahan ke dinding.

__ADS_1


Intan membopong nya dari belakang.


Setelah selesai membaringkan tubuh Bintang, dia segera mendidihkan air untuk membuat teh panas. Sambil membasahi sebuah handuk kecil untuk mengompres lelaki yang terbaring mengigil.


Di tuangkan nya air panas itu ke dalam gelas yang berisi teh dan gula setelah selesai mengeceknya, dia lalu berjalan mendekat, mengompres Bintang dengan sabar. Lelaki itu memejamkan mata seolah tidur karena tidak ada jawaban.


Intan pun sadar saat dirinya hanya memakai sehelai handuk di depan manusia paling mesum yang pernah dia temui.


Gadis manis itu berlari kembali menyelesaikan acara mandinya.


*


*


Selesai mandi Intan duduk sambil menonton TV, dia membuka bungkus nasi padangnya.


Saat dia sedang makan baru beberapa suap, Bintang menggeliat. "Tan ... lu makan apa?"


"Nasi padang, bapak nggak akan kuat."


"Nggak minta kok, tapi gue laper." ucapnya lemah.


"Mau mie goreng mau?" Intan menoleh ke arahnya.


"Mau, tapi dia satu suka nanggung." Lelaki sakit itu masih bisa tawar menawar soal makanan.


Intan berjalan ke arah bungkusan di bawah rak tv mengambil dua bungkus mie yang semalam lelaki itu beli.


Tak butuh waktu lama, Intan datang dengan sepiring mie goreng.


Bintang sudah bangun menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Makasih, Intan ... cungkring baik ku," ucapnya berterimakasih sekaligus menghinanya.


Intan hanya menatapnya malas.


"Mau, minum lagi jamu tolak tornado?" tawar Intan saat mereka makan.


Intan yang sedang makan malah sedikit canggung dengan permintaan Bintang.


"Ishh, nggak malu apa?" tanyanya dengan wajah memerah.


"Please, Tan. Ini demi kemanusiaan, kamu nggak usah ke negara konflik di sini aja ngerokin badan gue, duh udah yang paling pas," Ujarnya pasti.


Intan menghela nafasnya, pasrah ini pasti tidak bisa dia tolak.


**


Setelah selesai makan, lalu minum jamu tolak tornado. Bintang membuka bajunya, badannya masih menggigil dan kepalanya masih berat.


Intan datang dengan koin yang sudah dia bilas dengan air panas juga sebotol kayu putih.


Merasa canggung dan malu, tapi Intan tetap duduk di belakang punggung Bintang yang terlihat tegap dan putih.


Intan menahan senyum malunya, untungnya Bintang tidak bisa melihat wajah merahnya.


Mulai membalur punggung itu dengan tangannya, intan merasakan degupan jantungnya lebih keras dan seolah takut terdengar ke luar, dia memundurkan posisi duduknya.


Sementara Bintang yang merasakan tangan halus Intan, menunduk melihat ada pergerakann di bagian bawah tubuhnya.


"Njir, tumben lu bangun? selesai mati surinya? gue kira harus bawa lu ke klinik Mr Kuc Cayy." Katanya dalam hati, tangannya reflek memegangi si pyton yang menggeliat semakin sesak di bawah sana. Menahannya seolah pyton itu akan melesat keluar dari ban celananya.


"Duh, Bapak masuk angin. Ini punggungnya merah semua, tadi juga muntahnya lendir ya?" Intan mencoba memecah kecanggungan yang dia rasakan.


"Bukan lendir, Tan. Itu kelapa muda, tadi gue minum es kelapa muda." terangnya.


Intan menahan senyumnya, dan merutuki lelaki yang ucapannya benar-benar tidak bisa di saring.


Pandangan Intan turun ke bagian bawah pinggang lelaki itu,


"Pak, ini tato apa? ekor apa?" tanyanya sambil mengusap tato sebuah ekor di pinggang lelaki itu, gambar ekor yang seperti terpotong masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Oh, itu tato ekor ular pyton liat dong dari corak badannya."


"Ehmm, mana saya tau soal ular. Saya kan nggak suka ular,"


"Pasti suatu hari lu bakal suka, malah kecanduan." Bintang menahan bagian pyton nya yang semakin keras.


"Nggak ah, pasti geli."


"Emang sih, pasti geli. Beruntung banget lu sebagai orang pertama selain kang tato nya yang liat. Belum ada yang liat!" Bintang menggigit bibir bawahnya, dan memejamkan matanya, sentuhan tangan lembut si cungkring itu memabukkan dirinya. Aneh, tapi memang itu yang dia rasakan.


"Tapi, kenapa cuma buntut nya doang?" Intan lagi-lagi dengan polos dan rasa penasaran nya bertanya.


"Soalnya, kepalanya di depan," Bintang berucap lalu ketawa seketika.


Intan mencerna ucapan lelaki itu dan saat dia menyadari tangannya langsung mencubit pinggang Bintang,


"Mesum,"


"Aw, sakit Tan. Bangun ntar kepala pyton nya." Ucapnya menarik tangan Intan agar melepaskan cubitan nya.


Intan menunduk saat melihat jemarinya di genggam Bintang, entah kenapa dia malu dan wajahnya memanas. Lalu mengingat lagi jika dia tidak mungkin memiliki rasa lebih mengingat Bintang telah memiliki seorang kekasih.


"Eh, so-sorry Tan." Bintang canggung dan melepaskan genggamannya.


Intan kembali dengan aktivitas nya.


"Udah, selesai."


"Pijat sekalian Tan, biar anginnya keluar."


"Kenapa nggak sama pacar Bapak aja. Bapak dari sana kan?" Intan mulai sedikit tidak nyaman. Dadanya terus berdegup tak karuan.


"Heh ... " Bintang memotong perkataan Intan.


"Jangan bawa-bawa si sundel itu, dia wewe gombel, dia kuntilanak. Jangan ngomongin dia ntar dia dateng." Ucap Bintang.


"Hah? "


"Gue udah putus, jangan pernah ngomongin si wanita sundel itu, dia piaraan gendruwo."


Intan yang penakut dengan hal-hal mistis langsung beringsut mendekat.


"Pak, saya takut sama yang gituan, jangan ngomongin yang gituan." Ucapnya ketakutan.


"Makannya, diem. Kita tidur aja," Ajak Bintang.


Intan mengangguk lalu mengambil bantal dan menaruh nya di karpet.


"Saya si bawah, Pak."


"Eh, jangan. Nanti lu malah masuk angin. Mau kita gantian kerokan?"


Intan menatapnya kesal, "ogah maunya Bapak pasti." Cibirnya dengan nada ketus.


"Ya, udah Bapak di bawah!"


"Gue sakit, Tan. Udah di atas aja, kita udah pernah kan tidur bareng! Ribet deh lu, Tan. " Bintang menarik tangan Intan, hingga gadis itu terjerembab menabrak tubuh Bintang.


"Nurut, ntar ada syetan." Bintang kembali menakut-nakuti Intan setelah tau kelemahan gadis manis di depannya.


Mau tak mau Intan menurut dan berbaring di sebelah lelaki yang suhu badannya sudah tidak sepanas tadi.


Mereka tidur ber dempetan di kasur kecil, dengan masing-masing jantung yang berdetak kencang dan hati yang terasa menggelitik.


Tanpa mereka sadari keduanya melipat keras bibirnya menahan senyum yang takut terlihat.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭

__ADS_1


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2