
...🦋🦋🦋🦋...
Bintang merebahkan tubuh Intan di atas kasur, dia masih mengecupi dengan liarnya. Bahkan tangannya bergerilya ke mana-mana.
"Mas... " Intan mele*nguh saat tangan itu perlahan menyingkap dress se lutut nya, membuat cela agar tubuhnya bisa leluasa.
Bintang menulikan pendengaran nya, dia sudah terbuai oleh ga*rah.
Kecupan itu turun ke cekungan leher, berdiam lama di sana, dengan hisa*pan kecil dan basah.
tangannya mera*ba kancing dress itu, hingga membuka satu persatu.
Intan mencengkram kuat lengan Bintang, namun lelaki itu tak bergeming.
Saat beberapa kancing telah berhasil terlepas tangannya menyusup masuk, menge*lus dan mere*mas nya.
Intan mele*nguh dan Bintang membungkam nya.
Matanya memejam, dia takut. Takut Bintang akan mengambil mahkotanya sekarang, namun dia tidak kuasa menghentikan Bintang, yang seolah menuli dan tetap bermain sesukanya.
Kecupan itu menuruni leher, dan terus hingga berdiam diri lama saat berada di bulatan bakpao itu.
Bintang menyapukan bibirnya lama di sana, mengendus aroma manis yang semakin memabukkan nya. Dia sudah menekankan pyton nya di bagian bawah tubuh Intan.
Intan merasakan sesuatu yang keras menekan, dia mencoba menjauhkan kepala Bintang agar menghentikan kegiatannya.
"Mas ... udah," dia kembali mencoba menahan.
Bintang malah menggeram kesal dan meraup kedua tangan Intan ke atas kepalanya.
Saat Bintang menarik pembungkus bakpao itu, sesuatu yang indah terpampang di depannya. Puncak yang terlihat mengeras seolah menantangnya.
Dia menatap sayu Intan seolah meminta ijin, Intan menggeleng kecil, namun Bintang malah kembali mengecup bibirnya sekilas.
Saat hendak menyesap puncak bakpao itu.
Takkkk...
Intan memukul kepala Bintang dengan remot ac yang dia dapatkan dari dekat bantal.
Bintang mengaduh memegangi kepalanya, dia berguling ke samping. Dan dengan sigap Intan bangun dan membenarkan pakaian nya.
"Tan ... tega kamu," Bintang merengek mengusap kepalanya.
Intan lega sekaligus merasa lucu.
"Sokoor, di bilangin juga. Susah banget tiba-tiba tuli," geramnya.
Bintang terduduk menatap Intan yang merapihkan kembali kancing yang dia buka tadi. Namun dalam hatinya bersyukur Intan masih kuat pendirian dari dirinya yang sering kemasukan setan.
Dia menunduk si pyton yang tadi sudah seperti kobra ganas dan siap menyembur ternyata layu dengan sendirinya.
Bintang ikut merapikan diri, menyisir rambutnya yang beberapa kali di jambak Intan yang mencoba menghentikan kegiatannya.
"Yuk ... " Bintang mengulurkan tangan untuk menggandeng Intan keluar dari kamar. Tangan sebelum kiri nya memegang amplop coklat yang tadi dia bawa, setelah mengeluarkan satu gepok besar dan meninggalkan nya di kamar.
Mereka berjalan beriringan keluar dari apartemen. Berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang menuju sebuah cafe di sebrang jalan itu.
Bintang membuka pintu cafe itu, dan mempersilahkan Intan untuk masuk terlebih dahulu.
Seorang laki-laki duduk di pojokan cafe itu, dia melambaikan tangan, dan Intan langsung mengenali lelaki kurus dengan tato yang menghiasi tubuhnya.
Intan datang dan duduk bersebelahan dengan Bintang menghadap Adit. "Langsung aja," ucap Bintang menyodorkan amplop coklat itu.
Adit mengangguk, dan menerima amplop itu.
Intan yang hanya terdiam memperhatikan kakangnya. "Kakang sakit?" tanyanya
Adit menatap sang adik yang bertanya.
"Nggak, kenapa?"
Intan menggeleng, "Kakang pucet,"
Adit bangun dari duduknya, "kakang nggak bisa lama,"
"nggak makan dulu?" tawar Bintang.
__ADS_1
"Nggak lah, gue pergi. Ada urusan," lalu Adit mengulurkan tangannya mengusap pipi Intan.
Intan terdiam, itu kebiasaan kakang nya dulu selalu mengusap pipi nya saat dalam keadaan sedih.
Saat mereka menahan lapar, saat mereka terusir dari rumah peninggalan Bapak mereka yang di ambil alih keluarga besar bapaknya. Saat ibu mereka meninggal beberapa tahun lalu. Iya, saat itu terakhir dia merasakan usapan tangan kakang nya itu.
Intan tiba-tiba ingin memeluk kakangnya itu, entah lah dia sedang melow. Gadis itu menabrakkan tubuhnya memeluk tubuh kurus dan tinggi kakangnya.
Bintang akan bereaksi saat Intan memeluk kakangnya, namun seketika dia duduk kembali saat mengingat itu adalah pelukan adik dan kakak, untuk apa dia marah.
Pelukan itu merenggang dan Adit mengusap lembut pipi Intan. Dia lalu mengangguk dan persiapkan meninggalkan sepasang calon pengantin itu.
"Ish ... lupa nggak bilang kapan kita nikah," Bintang sedikit melongokan kepalanya mencari sosok Adit yang sudah memasuki sebuah mobil dan melesat menjauh.
"Kapan emang?" Intan menoleh.
"Ya secepatnya. Besok juga hayu," mencondongkan tubuhnya lalu berbisik, "nggak kuat," kekehnya.
Langsung mendapat cubitan dari Intan.
Seorang pelayan mendatangi meja mereka.
"Pesan apa Pak, Bu?" tanyanya sembari memberikan buku menu.
Intan dan Bintang membuka masing-masing buku yang mereka pegang.
"Saya nasi ayam cah brokoli," Bintang mengembalikan buku menu itu.
"Saya, bakmi Jawa nya satu yang pedes," Intan mengucapkan menu pilihannya.
"Yang, nasi lah. Sehari ini kamu belum makan nasi," potong Bintang membantah pilihan menu Intan.
Intan mendengus kesal lalu kembali membuka buku menu.
"Nasi goreng ayam aja," ucapnya malas.
Bintang mengangguk dan mengusap punggung Intan yang menuruti perkataan nya.
"Minumnya?"
"Es jeruk," ucap mereka bersamaan.
*
*
Mereka kembali masuk ke dalam apartemen, bersiap untuk pergi ke rumah Intan.
Intan sedang duduk dengan sebuah travel bag sedang di dekat kakinya. Menunggu lelaki itu mandi yang terasa lama. Bahkan langit sudah menggelap, calon suaminya itu masih berdendang di dalam kamar mandi.
"Ck, kayak putri keraton lama banget mandinya, " omel nya saat Bintang keluar dari kamar mandi.
"Apa sih, bibirnya ngerucut terus minta di kiss," Bintang menjawil bibir tipis yang membuat nya ketagihan itu.
Intan mencebik sebal.
Lalu Bintang mengecup puncak kepalanya dan melenggang masuk ke dalam kamar.
Mereka sudah siap akan pergi, saat suara ketukan pintu mengagetkan mereka, "siapa yang datang? orang nggak ada yang tau kita di sini!" Bintang berkata seolah tau apaa yang akan di tanyakan Intan yang mengerutkan keningnya.
Bintang membuka pintu, dan kaget saat melihat kedatangan Mentari dan Dafa.
"Keciduk, ngapain di sini? aku tlp Bunda loh!" Mentari menerobos masuk ke dalam apartemen.
"Apa sih lu! dateng-dateng nuduh yang nggak-nggak. Yang iya gitu sekali- sekali, gue juga mau kali. Nih pala gue benjol di pukul remot!" gerutunya pada sangat adik.
Mentari dan Dafa yang baru saja duduk langsung terbahak mendengar penuturan Bintang.
"Bagus teh, sekalian aja bawa semprotan merica. Buat jaga-jaga," Mentari berkata pada Intan yang tengah menahan senyum.
" Woy, gue calon laki nya. Napa sih lu manas-manasin bini gue, ntar makin takut dia deket gue!"
"Soalnya kakak sering kemasukan setan!" cibir nya.
Bintang melengos malas.
"Kek laki lu nggak aja,"
__ADS_1
"Heh, bro gue dapet tuh malem ampir satu bulan."
Bintang membulatkan matanya menatap Dafa. "Serius lu?" tanyanya
Dafa mengangguk.
"Lu ngapain aja tiap malem? main ludo?" kekehnya.
"Lah, pokoknya banyak aral melintang. Pas dapet gue gempur aja sekalian!" Kedua lelaki itu tertawa dengan para wanita yang menatap mereka kesal.
Mereka pun keluar dari apartemen, Bintang meminta ijin untuk menumpang ke rumah mereka setelah bercerita mobilnya di jual.
Mentari dan Dafa hanya saling pandang. Lalu mengangguk mengijinkan pasangan otw halal itu untuk ikut menumpang mobil mereka.
"Nih ntar beli nya yang ke gini! SUV gede, enak buat tiduran enak buat bawa anak." Dafa berkata saat mereka sudah masuk dalam mobil.
Bintang mengangguk, "Perasaan dari jaman lu nguber adek gue, mobil tipe ini kan? lu mau ngapain tidur di mobil? ah... me*sum pasti lu!" Bintang menimpali dengan puas.
Mentari memukul pundak suaminya. "Nggak usah ngomong sembarangan, ntar malah di contoh."
Dafa terbahak keras.
"Mobil di jual buat apa?" Mentari menoleh ke belakang di mana kakak nya duduk.
"Buat modal lah, gue kan calon pengusaha sukses!"
"Amin," semua berucap bersamaan.
"Daf, mobil gini berapa? gue bosen sedan!" tanyanya serius.
"700,"
"Njir, mahal." Bintang histeris.
"Kayak punya bini gue aja, 400." Dafa kembali berkata.
Bintang berdecak kesal dj bangku belakang.
"Lu mah, ngomong 400 juta kek ngomong in duit buat beli sukro di warung."
Dafa hanya tertawa di balik kemudi.
"Eh, gue cicil aja ama lu ya."
"Apa? lu kira gue sales mobil!" ketus Dafa.
Bintang menepuk-nepuk pundak adik ipar sekaligus mantan rival nya itu.
"Ya, pengen kek gini. Gue cicil sama lu, sebulan dua juta." katanya lagi.
"Si anj*ir. 700 Juta lu cicil sebulan dua juta, mending gue cicil rumah buat anak-anak." omel nya.
Bintang terbahak, melihat ekspresi adik iparnya.
"Ok, jawaban lu gue anggap deal." Bintang semakin terbahak di kursi belakang.
"Kenapa sih nggak beli motor aja? aku kan bisa minjem!" Intan akhirnya bersuara.
Bintang menoleh, "kamu pengen motor?" tanya nya.
Intan mengangguk, "Biar enak mau ke mana-mana gampang!" timpalnya lagi.
Bintang mengangguk. " ok, deal kalo buat motor aku sanggup. Masih ada sisa malah buat modal usaha kita!" Bintang menarik Intan ke pelukan nya.
Mentari dan Dafa berdehem di bangku depan.
"Eh lupa ada penonton di depan," Bintang melepaskan pelukannya saat Intan mencubit paha nya.
Akhirnya mereka sampai di rumah, dan di sambut Bunda dan anak-anak.
"Aduh, ada Bunda?" Bintang memucat.
Bersambung ❤❤
like
komennya makin dikit🤧🤧
__ADS_1
Favoritnya