Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Sample Rambut


__ADS_3

...--oOo--...


Pagi hari


Intan sedang bersiap di depan meja rias nya.


"Ngapain sih pake dandan segala?" Bintang sudah dua kali masuk ke dalam kamar untuk memastikan istrinya siap atau belum.


Intan menatap suaminya yang sedang berdiri di gawang pintu.


"Ck, kamu nggak tau aku di liat dari atas sampe bawah sama mantan temen se kasur kamu, Ang. Aku nggak mau kamu malu,"


"Apa? beraninya dia gitu sama kamu! nanti aku bales! tenang sayang, aku tameng kamu. Nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu," ucapnya meyakinkan.


Intan tersenyum, merasa tersanjung.


"Tapi nggak gratis, ada bayarannya." Bintang menggerakkan sebelah alisnya dengan seringai menyebalkan.


Intan sudah hapal apa yang suami nya maksud.


"Udah, gini aja cocok nggak?" Intan bangun dan mematut tubuhnya di depan cermin tinggi yang berada di sebelah meja rias nya.


Bintang mematung melihat istrinya begitu cantik, dengan sebuah celana denim hitam, baju sabrina memperlihatkan bahunya yang kecil mulus namun pas dalam pelukannya. Rambut sebahu itu dia buat melengkung masuk ke dalam.


"Cantik," Bintang berdiri tepat di belakang nya.


"Nggak malu-malu in kan?" tanya Intan.


Tatapan mereka bertemu di cermin besar itu.


Bintang merengkuh tubuh itu mengecup pipi Intan, dan mengeratkan pelukannya.


"Nggak usah mikirin penilaian orang, apa yang kita anggap nyaman itu kecantikan sebenarnya."


"Aku nyaman pake daster," Intan mengusap tangan Bintang yang melingkari perutnya.


"Nah, emang kamu paling cantik kalo lagi pake daster, sambil tiduran di kasur terus senyum. Udah lah, otak ku nggak bisa mikir! jadilah diri sendiri, buat diri senyaman mungkin. Bukan ingin terlihat baik oleh orang lain," ujarnya.


Intan mengangguk.


"Ya, udah kita berangkat!" Intan melepaskan tangan suaminya.


Bintang memutar tubuh istrinya.


"Pengen, kiss. Yank .... "


Intan mendongak lalu memberikan kecupan singkat.


"Duh, masih lama ya libur nya?"


Intan mengedikkan baju nya.


"Ada yang 10 hari, ada yang dua minggu ada juga yang sebulan!"


"Apa? lama banget, Yank .... " Bintang merengek bak seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu.


Intan menyambar tas slempang kecil nya sambil tertawa dan berjalan keluar kamar dengan tangan yang menarik tangan Bintang.


*


*


Mereka duduk di sebuah restaurant yang cukup mewah, seorang pengacara kiriman Rijal sudah duduk di meja itu sepuluh menit lebih dulu dari mereka.


Beberapa pertanyaan dan solusi di lontarkan dari seorang pria dengan rambut yang tersisir rapi dan kacamata tebalnya.


Strategi pun mereka atur, untuk membuat Dinda mau melakukan tes DNA. Kemarin memang dia mengajaknya untuk berbicara empat mata. Padahal itu salah satu rencana dirinya untuk menghindari kemungkinan Dinda main curang.


Intan dan pengacara itu bangun dari duduk, meninggalkan Bintang yang akan bertemu dengan Dinda.


"Yank, duduknya jangan terlalu deketan!" Bintang berbisik sesaat sebelum Intan pindah dari meja mereka.


"Apa?" Intan tak percaya apa yang dia dengar.


"Duduknya jangan terlalu deket. Minyak wanginya bau nyong-nyong. Enak parfum aku nih parfum pemilik kedai mie kekinian sama seblak. Jadi wangi rempah-rempah pilihan!" Bintang sok membela diri.


"Baik, silahkan yang mau ketemu mantan temen sekamar!" Intan melontarkan sebuah sindirin.


Bintang tersenyum kikuk, saat mendapatkan balasan dari kecemburuan nya.


Matanya terus memandang Intan yang tengah membuka buku menu, sesekali istrinya itu menjawab pertanyaan pengacara yang bernama Ihsan.


Bintang mengulir layar ponselnya, membuka aplikasi pesan dan mengetik sebuah pesan.


"Jal, lu ngasih pengacara yang bener dong! masa laki masih muda lagi!"


Tak lama sebuah bunyi notif pesan masuk terdengar, Bintang langsung menyambar ponselnya. Matanya masih tertuju pada istrinya yang terlihat begitu cantik dan segar tengah menyuapkan makanan sambil sesekali berkata, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Pokoknya dia merasa ruangan restoran itu cukup panas. Padahal AC nya terasa sangat dingin.


"Apa? dia udah nikah anaknya juga udah otw tiga kek adik lu," balasan dari Rijal.


Bintang sedikit bernafas lega , dan tersenyum.

__ADS_1


"Ku kira cupu, ternyata suhu." Dia terkikik geli.


Saat sebuah sapaan terdengar di belakang nya.


"Hai, Bin?" Suara seorang wanita terdengar menggelikan di telinganya.


Bintang menoleh, lalu dengan gerakan cepat dan di luar ekspetasi nya. Dinda mencium kedua pipinya.


Otomatis lelaki itu melihat ke pojokan di mana istrinya tengah makan.


Dia tiba-tiba berdegup kencang, bukan karena Dinda yang memakai baju super mini. Tapi tatapan Intan yang seolah mengu*liti tubuhnya.


"Maaf, udah lama?" Dinda kini duduk, bukan di depannya tapi di sebelah nya.


Bintang yang langsung sigap, malah pindah ke kursi sebelah nya.


"Ih, kamu kok gitu?"


"Di sini, mana anak kamu?"


"Anak kita!"


Bintang mencebik.


"Ya, terserah lah."


"Kamu, penasaran kan? hidung kalian sama, dagu juga sedikit belah!"


Bintang hanya tersenyum sinis.


"Mommmm ... " suara seorang anak terdengar memanggil.


Dinda tersenyum ceria menyambut anaknya yang menenteng sebuah kantung berlogo sebuah toko mainan.


Babysitter nya yang mengikuti di belakang memberikan kartu debit kepada sang majikan.


Bintang melihat interaksi di depannya itu.


Melihat kartu berwarna hitam dengan logo sebuah Bank besar, diterima Dinda dari si pengasuh anaknya itu.


Mengangguk kecil seperti sedang memikirkan segala kemungkinan, Dinda memang terlahir dari keluarga cukup terpandang, Ayahnya pemilik sebuah perusahaan di bidang otomotif yang cukup besar. Namun putri mereka satu-satunya malah terjerumus ke pergaulan bebas.


Bintang lalu mencoba mendekati anak kecil berusia sama dengan keponakannya itu.


"Hai? namanya siapa ganteng?" tanyanya menyapa bocah laki-laki di depannya.


Anak lelaki yang sedang memegang mainan yang baru dia beli langsung menatapnya.


Bintang melihat hidung dan dagu anak itu memang mirip dengan miliknya. Kepercayaan dirinya seketika menguap begitu saja. Bagaimana jika benar anak itu adalah anaknya? dia pasti akan kehilangan Intan.


"Denis, " jawab anak itu dengan suaranya yang lucu.


"Kamu kenapa?" Dinda mencondongkan tubuhnya.


"Hah ... nggak, aku nggak apa-apa!"


"Takjub ya? dia mirip sama kamu!" Dinda tersenyum puas.


"Nggak lah,"


"Ya selain rambut dia yang keriting kayak aku, dan mata yang sedikit sipit kayak Papi aku. Semua mirip kamu kan?" Katanya yakin.


Bintang hanya terdiam, matanya sedikit mencuri pandang ke adalah istrinya yang tengah memperhatikan mereka.


"Eh, mumpung ketemu. Kita foto bareng ya! Sus, tolong fotoin kita ya!" Dinda menyodorkan ponsel miliknya.


Dinda memangku Denis dan dia menyandarkan kepalanya di pundak Bintang.


"Ehm ... " Bintang tidak bisa menolak, marah pun dia tahan sekuat tenaga. Ini dia lakukan karena belum berhasil mencabut rambut keriting milik anak lelaki itu.


*


*


Mata Intan membola saat melihat kemesraan suaminya langsung di depan matanya.


Rasanya tak sanggup melihat lebih lama lagi, interaksi mereka. Apalagi saat Bintang seolah merespon setiap ucapan Anak kecil itu.


Dia semakin sesak teringat akan calon anak mereka yang gugur.


"Maaf, pak. Saya sepertinya harus pergi," pamitnya pada Ihsan yang sedang menyeruput kopi yang dia pesan.


"Loh, nggak nunggu Pak Bintang dulu Bu?" tanyanya yang ikut bergerak bangun dari duduknya.


Intan menggeleng dan berjalan tergesa.


Ihsan mencoba mengejarnya, firasat dia ini tidak akan baik-baik saja.


Saat melewati meja yang tengah di duduki Bintang dan Dinda.


Bintang langsung menyambar tangan istrinya.

__ADS_1


"Yank ... " panggil nya.


Dinda yang melihat itu semua langsung tersulut emosi, "oh, dia juga ikut ke sini? perempuan kampungan, culun dan kayaknya dia bukan selera kam ... "


"Heh ... bisa lu diem nggak? mau gue lakban mulut lu?" Bintang memotong ucapan Dinda yang tengah menghina istrinya.


"Ish, Bin. Kok kamu jadi kasar?"


"Gue muak, sebenarnya gue kepaksa ketemu lu! kalo bukan buat ngebuktiin bahwa dia bukan anak gue."


Nafasnya menggebu, apalagi Intan yang sedang meronta berusaha melepaskan pegangan tangannya.


"Sebentar, Yank ... " Mohon nya dengan wajah memelas.


"Ya, udah. Aku tunggu di luar, kamu selesaiin dulu masalah kalian!" Intan menahan agar air matanya tak jatuh.


"Nggak," Bintang langsung berjongkok di depan Denis yang sedang memandang pertengkaran orang dewasa di depan nya, yang juga melibatkan mommy nya.


"Hei, kamu mau ngapain?"


"Mau, ngambil sample rambut anak kamu!"


"Heh, dia anak kamu. Rambutnya begitu karena aku juga seperti itu,"


Bintang mendongak ke arah Dinda yang tengah memaki.


"Perasaan dari dulu rambut kamu lurus?"


"Ya, karena aku rutin rebonding!" bentaknya.


Bintang memilih rambut Denis dengan lembut. "Om, minta rambut Denis, ya?" katanya lembut. Sambil menarik sehelai rambut itu.


Dinda yang marah dan tidak terima, langsung menatap nyalang pada Intan.


"Dasar, perempuan udik. Kamu kan yang nyuruh Bintang ngelakuin ini, semua?" Dinda menjambak rambut Intan yang hanya sebahu.


"Awww ... " Intan memekik karena ketidaksiapan nya menerima serangan dari Dinda.


Bintang yang berhasil mencabut rambut Denis dengan segera memberikan nya pada Ihsan.


"Lu, berani ya. Lepasin nggak tangan lu?" Bintang langsung melerai, mencoba membuka tangan Dinda yang menggenggam rambut istrinya.


Dengan sekali gerakan Intan membalas dengan sama menjambak rambut indah sepinggang itu.


"Awww ... " Dinda menjerit dan menangkup kepalanya.


Bintang dan Intan membola sesaat, namun detik kemudian Bintang tertawa terbahak-bahak.


"Lu nggak usah urusin rumah tangga gue, tuh urusin rambut lu yang kebanyakan di bonding!" Bintang tertawa merangkul Intan menuju pintu keluar restoran.


Intan sesekali melihat kebelakang, terlihat sekali amarah Dinda yang sedang memakai kembali wig nya.


"Nggak nyangka," ucapnya pelan.


"Nggak nyangka, kepala dia cepak?" Bintang kembali tertawa.


"Kamu, jahat. Ang!"


"Lah, kan yang jambak kamu?"


"Aku kan cuma bales, aku kira itu rambut asli." Intan merasa bersalah.


Untung restoran itu masih cukup sepi, hanya beberapa pengunjung yang berada di sana.


Mereka masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya berpisah dengan Ihsan yang membawa sample rambut Denis dan rambut milik Bintang. Ihsan berkata akan langsung ke sebuah rumah sakit dan mendaftarkan kedua rambut itu untuk di cocokan, apakah Denis itu positif atau negatif anaknya.


"Udah, ketawa terus!" Intan memukul pelan lengan suaminya yang tak henti menertawakan rambut Dinda yang cepak melebihi seorang prajurit.


"Aduh anak Sipil juga kalah cepaknya sama si sundel,"


Intan terdiam, dia takut akan hasil dari test DNA itu. Jika benar itu anak suaminya, dia harus bagaimana.


"Yank, kepala cepak si sundel nggak usah di pikirin, nih kepala plontos si pyton aku nih, kasian udah libur lama!" Dia menarik tangan Intan untuk mengusap benda paling di banggakan.


Intan menatap tak percaya akan sesuatu yang sudah mengeras itu.


"Ang,"


"Udah nggak tahan," Bintang melesatkan mobilnya menuju rumah mereka.


Pokoknya dia harus menuntaskan ketegangan ini. Apapun caranya, pikirnya.


Bersambung ❤❤


Like, komen, dan favoritnya.


Please yang belum pernah komen cuma like doang komen dong. Pengen kenal nihhhh 🤭🤭


Dah lah bebas deh🤭🤭 yang penting kalian suka udah Alhamdulillah 🥰🥰😀


Sehat dan bahagia man teman ku😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2