Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Tegang


__ADS_3

...❤❤❤...


Bintang dan Intan baru selesai mandi. Mereka telah menyelesaikan pertandingan ronde ke dua di pagi itu.


"Ayok, " Bintang yang baru selesai menyisir rambutnya, menoleh ke arah Intan yang masih mematung.


"Yank, ayo turun!" Bintang mengangguk kecil.


"Malu, aduh kita turun udah siang gini!"


"So?"


"Masih nanya?"


Bintang berjalan mendekati Intan yang sedang duduk di tepian kasur.


"Ya udah sih, kita kan suami istri. Wajar lah, lagian tadi kita balik ke sana juga tuh tempat kita udah pada di isi keluarga berencana. Ya giliran kita yang merencanakan calon anggota keluarga lain." Rangkulannya membuat Intan merasa nyaman.


Dan Intan pun luluh dan mau di bawa turun ke ruang makan.


Di ruang makan


Semua sedang memakan sarapan mereka, berupa nasi goreng special buatan Bunda.


Bintang terlihat ceria seperti biasa, bahkan dengan tidak tau malunya dia terus saja bermanja pada istrinya.


"Heh... nggak cukup yang malem?" Ayah berkata namun matanya memandang ke piring berisikan nasi goreng.


Bintang dan Intan seketika menoleh padanya, "Kurang apa an Yah?" Bintang bertanya dengan wajah polosnya.


Semua orang di sana malah terbahak-bahak.


"Udah lah, nggak akan ngerti pengantin baru mah." Langit menimpali.


Bintang hanya mengerutkan dahi tak mengerti, lalu kembali lagi menekuni nasi goreng yang ada di hadapannya.


Setelah nya, mereka semua bersiap untuk berangkat menuju Bandara melepas kepergian Ayah dan Bunda yang akan menjalankan serangkaian pengobatan Ayah, ke Australia.


"Ayah yang sehat ya! aku mau hamil ini di manja Ayah, pengen lahiran nanti di tungguin Ayah."


Mentari memeluk Ayah nya sebelum memasuki mobil, dirinya di larang ikut.


Ayah mengecupi puncak kepala putri nya bertubi-tubi, lalu kepada para cucu nya.


Haru jelas terasa, namun ini sebagai ikhtiar pengobatan Ayah nya. Mereka melepas Ayah nya dengan hati yang optimistis Ayah nya akan segera sehat kembali.


"Ayah cepet sehat, nanti Ayah pulang aku udah berhasil bikin Intan hamil," ucap Bintang dengan PeDe nya.


Intan mencubit pantat suaminya.


"Aww, tuh kan. Udah minta lagi!" godanya yang malah membuat istrinya memutar cubitan kecil itu.


Ayah dan Bunda pun pamit di antar oleh Mang Asep ke Bandara. Dengan dalih tidak mau ada air mata.


*


*


Semua anak-anak pulang ke rumah masing-masing memulai aktivitas mereka. Kecuali Bintang yang masih betah di sana.


"Ang," Intan berdecak kesal saat suaminya itu menggelayuti dirinya yang tengah asik menonton drama Korea.


"Aduh, semalem gilaaa. Enak banget ya?" ucapnya memuji sekaligus ada udang di balik batu. Rasanya tak masalah jika mereka kembali melakukan pergulatan.


"Biasa aja," Intan menjawab dengan polosnya.


Bintang yang menyandarkan kepalanya manja di bahu sang istri langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Masa?"


Intan melipat bibirnya hingga membentuk garis tipis. Dia bukan orang yang gamblang menjelaskan semua yang dia rasakan.


Perempuan itu mencoba menyibukkan diri dengan memindahkan chanel TV.


"Ngomong sekali lagi, kalo kamu ngerasa biasa aja?" Nadanya sudah tidak menggoda lagi, kini malah terdengar sedikit menggeram.


Intan menoleh. "Apa?"


"Bilang biasa aja? baru kiss kamu udah lupa aku bukain kancing. Baru masuk udah merem melek, mana pake ngeburu-buru lagi. Dan akhirnya kalah kan?" sungut nya tak terima.


Sadar jika perkataannya menyinggung sang suami. Intan mencoba berpikir untuk mendinginkan suasana.


"Iya, aku ngaku."


Bintang yang memang tengah memandang nya, kini tatapannya melembut.


"Kan, akhirnya ngaku!"


"Ah ... Sebenernya serba salah,"


"Eh, yg bener serba enak. Yuk sekali lagi,"


Intan memutar bola matanya kesal, seperti tidak ada hari besok.


"Aku capek,"


"Aku aja yg gerak, kamu tinggal nikmati!" lelaki itu bangun dan menarik tangan Intan agar ikut bangun.


Intan menghela nafasnya. Sulit membantah keinginan suaminya itu.


Di rangkulnya pundak sang istri menaiki tangga. Saat dering ponselnya berbunyi.


"Siapa sih?"


"Ya?"


" ... "


"Oh, ok. Resto kemarin aja."


" ... "


"Ok, sip!"


Panggilan pun berakhir, mereka masih di pertengahan anak tangga menuju lantai dua.


"Siapa?" Intan bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Ihsan. Katanya, hasil DNA udah keluar. Janjian dua jam lagi, di restoran kemarin."


Intan mengangguk tapi hatinya gelisah takut jika anak itu adalah anak hasil perbuatan suaminya. Dia harus apa dan harus pergi kemana? tak ingin merebut seorang Ayah dari putranya.


"Yuk, masih ada dua jam lagi!" Bintang kembali menuntun sang istri.


Intan pasrah tangannya di tarik menuju kamar suaminya itu.


...****...


"Ang," Intan menahan tangan suaminya yang sedang membuka pengait celana pendeknya itu.


Bintang mendongak.


"Ehm, kalo nanti abis kita pulang dari restoran gimana?"


Tangan Bintang yang sedang memegangi pengait celana itu seketika menjuntai lemas begitu saja. Dan jangan lupakan celana yang resleting nya sudah turun itu otomatis jatuh menggulung di bawah kaki.

__ADS_1


"Yank, liat dia udah siap?"


Intan menahan senyumnya. "Aku nggak bakalan bisa fokus, Ang. Malah mikirin hasil DNA itu. Please, kalo udah terbukti dia bukan anak Aang. Aku siap deh, pasrah mau di bolak-balik puter-puter juga." Janjinya.


Bintang menyeringai mendengar sebuah janji yang sudah dapat dia bayangkan akan sangat mengasyikkan.


"Ini gimana? celana ku udah turun njeblak!"


Intan berlutut di depan suaminya, memasangkan kembali celana itu, saat melewati gumpalan yang mulai mengeras. Intan mendongak menatap suaminya.


"Kiss, dong. Buat DP, jadi dia nggak terlalu kecewa!" modus nya.


Intan menarik sebelah bibirnya, kini dia mulai paham berbagai modus yang suaminya lontarkan.


Intan yang masih memegang kedua sisi celana itu langsung mendekatkan wajahnya, dan mengecup gumpalan entah daging, lemak, atau urat yang selalu membuatnya kewalahan. Dengan kecupan secepat kilat.


"Arghh ... Enak, mau lagi. Yank ... " Bintang malah mende*sah.


Intan yang takut akan berakhir semakin gila, segera memasangkan celana suaminya dan menarik resleting dan mengaitkan kancing pengait nya.


...*****...


Mereka turun dari mobil, dengan tangan saling menaut.


"Yank, tangan kamu dingin banget?"


"Slowly, semua akan baik-baik saja." Bintang berucap, padahal dirinya tak kalah panil, dia juga takut akan hasil tes DNA itu.


Intan mengangguk dan tersenyum lembut, sebuah kecupan kening Bintang berikan untuk menetralkan perasaan gugup mereka.


Bersamaan dengan sebuah mobil mewah berlogo 3 huruf berwarna merah menyala berhenti tak jauh dari mereka berdiri.


"Daddy ... " suara anak kecil memekakkan telinga mereka.


Terlihat Denis berlari ke arah mereka. Di ikuti Dinda sang mommy tentunya.


Intan melepaskan tautan tangannya saat Denis menabrakkan tubuhnya pada Bintang.


"Din," Bintang seolah meminta bantuan Dinda agar mengambil Denis yang tengah memeluk Kakinya.


"Nanti, kita masuk dulu ke dalem ya? Denis main dulu sama Sus Til ya?"


"Sus Til? " Bintang membeo. Pikirannya yang luar biasa cerdas tidak pernah membiarkan satu kata pun terlewat, jika tidak di mengerti. Maka dia akan langsung bertanya.


Dinda mengerutkan keningnya.


"Iya, namanya Sus Tilawah. Masa iya aku manggilnya nama panjangnya. Ribet, kasian Denis." jawab Dinda yang memang terdengar masuk akal.


Bintang berpikir sejenak.


"Kalo aku panggil nama belakang nya malah kasian,"


"Jadi Sus Ah, nggak enak banget nanti anak kita manggil nya malah Sus Ah."


Intan mencibir ucapan Dinda. Yang mengatakan anak mereka.


Bintang yang menyadari perubahan raut wajah sang istri.


"Udah lah, mau nama dia apa aja. Gue nggak peduli. Yang penting sekarang kita masuk dulu aja," Bintang kembali mengaitkan lengannya melingkari pinggang sang Istri.


Mereka pun masuk ke dalam restoran, sudah terlihat Ihsan tengah duduk di meja ujung bersama seorang pria yang menggunakan jas putih, sepertinya seorang dokter yang akan membacakan hasil tes DNA itu.


Intan menakutkan tangannya yang dingin, memandang wajah suaminya yang juga tengah menatap ke arahnya. Bintang tersenyum dan mengangguk kecil. "It's okay, semua akan baik-baik aja. Kamu tenang," bisiknya di telinga sang istri sambil mengecup pelipis Intan.


Bersambung ❤❤


like, komen, favoritnya. Klo suka bisa kan kasih tau temennya tentang cerita ini🤭🙏🙏😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu man teman😘😘


__ADS_2