Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Luapan kekecewaan


__ADS_3

...---oOo---...


Intan sudah berada di rumah setelah dua hati di rawat di rumah sakit.


Tidak ada yang menemaninya lama. Mentari yang tengah hamil dan mempunyai dua batita rasanya tak tega meminta sang adik ipar untuk menemaninya. Cindy istri kakak ipar nya juga memiliki seorang anak seusia Shera. Wanita itu juga mempunyai bisnis online dari rumah. Intan bisa membayangkan bagaimana sibuk nya kedua iparnya itu.


Menghela nafasnya Intan mencoba memejamkan matanya di siang hari itu.


Saat terdengar pintu terbuka, suaminya masuk dengan segelas yang dia tau itu adalah susu. Juga sepiring nasi beserta lauk pauknya, yang entah Bintang dapat dari mana.


"Makan dulu, udah siang. Terus makan obat langsung tidur." Bintang meletakkan nampan itu di meja nakas sebelah tempat tidur mereka.


"Ayo, bangun." Bintang sedikit gemas dengan kelakuan istrinya itu.


"Tan?" panggilnya lagi.


Intan sedikit mematung menatap ke arah Bintang.


Bahkan panggilnya pun kini berubah, tidak ada kata Sayang atau Yank lagi. Kembali saat mereka belum bersama 'Tan'.


Oh, entah kenapa hatinya sakit. Suaminya berubah. Bahkan saat di rawat pun, suaminya itu hanya datang malam hari menjelang dirinya tidur.


"Kamu kenapa?" Tanya Intan dengan sekuat tenaga menahan air mata yang siap menetes kapan saja.


Dadanya sesak. Dalam situasi seperti ini, dia sedang membutuhkan suaminya. Dia sedang berduka. Dan suaminya seolah jijik padanya.


Bintang sedikit menyeringai, "Aku? nggak salah nanya kamu?"


Intan mengernyit masih belum paham.


"Aku? aku lagi terpuruk kehilangan calon anak aku!"


Intan sedikit menaikan nada suara nya.


Bintang bertolak pinggang dengan sebelah tangannya, sebelah lagi dia pakai untuk menekan batang hidungnya. Dia lelah. Pikiran dan hatinya sedang kacau saat ini.


Tatapan nya bertumbuk pada sang istri.


"Kamu berpikir hanya kamu yang kehilangan? itu juga anak aku. Aku sangat mendambakan kehadiran anak dalam pernikahan kita, udah berapa kali aku bilang sama kamu? jaga diri kamu, jaga anak kita!" Bentaknya tak sanggup lagi menahan emosi yang menyesakkan dadanya.


Intan menutup wajahnya yang tengah terisak.


Bintang berjalan ke arah sofa di mana tergeletak tas ranselnya. Mengeluarkan sesuatu dari sana.


Berjalan dengan langkah memburu ke arah Intan.

__ADS_1


"Nih, demi ini kamu manjat-manjat? mencari foto orang yang udah menyatu dengan tanah?"


"Dan mengakibatkan kamu jatuh, dan kita kehilangan calon anak kita, yang udah sangat aku tunggu-tunggu. Biar apa? kamu mau kirim anak kita buat nemenin laki-laki kesayangan kamu itu? iya?"


Bintang meluapkan semua kekecewaan nya pada sang istri.


Intan terdiam, bagaimana suaminya tau jika dia mencari foto lama dirinya dan Dani.


"Apa? kamu kaget aku tau?"


Bintang tertawa namun terdengar nada kehancuran dari tawanya itu. "Bisa-bisanya kamu nyelingkuhin aku dengan orang yang udah mati. Apa perlu aku bongkar makamnya? aku pindahin ke halaman rumah kita, iya? " Bentaknya lagi.


Intan terdiam, baru kali ini suaminya marah yang luar biasa.


Prankkkk....


Suara pecahan kaca memekikkan telinga. Ya, Bintang membanting figura foto itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.


Tatapan mereka bertemu, ada kilat amarah, kekecewaan, dan kesedihan yang memancar dari keduanya.


"Puas?" Intan berucapdengan nada bergetar.


Bintang yang terengah masih menatap nyalang pada sang istri.


"Hancurin aja, toh nggak akan bisa ngembaliin anak kita!" Intan menurunkan kakinya. Dia hendak turun dari tempat tidur.


Intan menghentikan kakinya yang baru saja menapaki lantai. "Oh, iya. Tentu saja, itu memang kesalahan aku, Pak. Dan aku meminta maaf dengan sangat atas gugurnya calon anak kita. Harus dengan cara apa aku minta maaf?" tantangnya dengan air mata yang kian deras membasahi wajahnya.


Bintang berjalan menjauh, dia memilih sofa untuk menyandarkan tubuhnya yang lemas dan lelah.


"Aku minta cerai. Ceraikan aku," ucapnya lantang.


Tanpa mendapatkan jawaban dari Bintang, Intan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyalakan shower dan ia duduk di atas closet meluapkan tangis nya yang semakin menyesakkan.


Terdengar suara bantingan pintu. Dia yakin suaminya keluar dari kamar.


*


*


Hampir satu jam Intan di dalam kamar mandi. Meluapkan kesedihan, rasa bersalah, dan malu dengan sikapnya pada sang suami. Bukannya dia tidak menyadari kesalahannya, dalam pikiran nya suaminya pasti sangat kecewa apalagi setelah mengetahui dirinya masih mengingat Dani.


Intan memutuskan berpisah pun karena merasa tak pantas dan tidak mau menyakiti suaminya terlalu jauh.


Membuka pintu kamar mandi, dia melihat pecahan kaca itu sudah bersih tak bersisa. Sepertinya Bintang telah membersihkannya saat dia berada di kamar mandi tadi.

__ADS_1


Lalu terdengar suara Bunda, dia baru saja hendak membuka pintu kamar saat suara suaminya tengah menangis.


"Sabar, istri kamu lagi terpuruk, Kak." Terdengar suara Bunda tengah menenangkan sang anak.


"Kakak bingung, Bun. Harus gimana?"


"Kakak juga hancur. Sedih udah pasti, tapi dia seperti hanya memikirkan dirinya sendiri. Pernikahan ini dia jalani setengah hati, Bun. Hatinya masih bersarang di laki-laki yang bahkan udah menyatu dengan tanah. Kakak kalah saingan dengan orang yang udah mati," ucapnya dengan sesekali mengusap wajah basah karena air mata.


"Kak ..."


"Ini cinta sendiri, Bun. Kakak merasa cinta ini hanya sebelah pihak. Tidak seimbang. Tidak berbalas,"


"Cukup, Kak. Mana anak Bunda yang kuat?" Bunda memeluk putranya yang tertunduk dengan bahu bergetar karena tangis.


Intan menutup mulutnya yang seakan ingin menjerit ingin berteriak bahwa dia mencintai suaminya itu. Suaminya tidak cinta sendiri. Cinta nya sama besar, hanya saja masa lalu masih terus menghantui dan menggelitik perasaan nya.


Sungguh Intan merasa malu dan merasa bersalah. Membuat suaminya seorang yang begitu periang dan selalu seperti tidak ada masalah. Sampai menangis tersedu-sedu seperti itu. Seberapa dalam luka yang dia torehkan untuk Bintang. Intan langsung berlari ke arah tempat tidur saat di lihat Bundanya berjalan mendekat ke arah kamar.


Intan langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga hampir menutupi wajahnya.


Terdengar langkah kaki mendekat dan usapan di kepalanya membuat hatinya semakin sakit dan malu. Sekuat tenaga dia menahan agar air matanya tak jatuh. Sebuah kecupan hangat juga Bunda berikan. "Kalian harus kuat, ini hanya sebuah ujian sebelum kebahagiaan besar menyelimuti keluarga kalian!" bisik Bunda di dekat wajah menantunya.


Tak lama Bunda berada di rumah itu, dia baru tiba perjalan dari Australia. Bahkan Ayah masih berada di sana. Bunda hanya memastikan keadaan anak menantunya.


*


*


Intan memejamkan mata sudah agak lama. Saat sebuah gerakan membuat tempat tidurnya sedikit bergoyang. Intan meyakini suaminya sudah berada di sebelah nya.


Menunggu apa yang akan suaminya lakukan. Melanjutkan amukan atau malah kembali acuh dan sinis, seperti saat dia berada di rumah sakit.


Namun semakin larut tidak ada pergerakan dari Bintang. Malah hanya sebuah dengkuran halus yang dia dengar.


Intan bangun dengan perlahan. Memandang wajah lelah suaminya. Dia seperti orang yang tidak tidur satu minggu.


Lagi-lagi air matanya jatuh membasahi pipi nya.


Intan turun mengendap-endap dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan sebuah travel bag.


"Maaf, Ang. Ini yang terbaik buat kita," katanya sebelum menutup pintu kamar.


Bersambung 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀


Eh yang punya f***o aku ada di sana ya. Judulnya laki-laki terbaik. Nama pena nya Siti Sartika. Nama asli se aslinya 🤣🤣. Aku tunggu di sana ya, sambil berdoa semoga kalian suka dan aku tunggu komen nya di sana🥰🥰. Kalo udah masuk rak tapi ceritanya kurang mempuni karena melow jangan di tinggalin ya, PC aku biar aku tau siapa yang baca nanti aku kasih tau bisik2 caranya dukung aku di sana🤭. Kalo berhasil gajian aku traktir dikit-dikit lah🤭🤣🤣 (maksa banget ya Alloh 🤧🤭🤭)

__ADS_1


Sayang kalian semua😘😘😘


__ADS_2