Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Nyari penyakit


__ADS_3

...---oOo---...


Waktu berlalu Mentari memilih pulang ke Bogor bersama Dafa dan anak-anak mereka, sambil Dafa pemulihan dan sekalian membereskan dokumen kematian Papa Harun.


Intan pulang ke Bandung di antar Bintang.


Dalam perjalanan pulang mereka diam dalam tiga puluh menit pertama.


Namun saat Intan akan tidur, Bintang langsung memainkan rem mobilnya.


Tatapan sinis itu terpancar dari mata sayu Intan


"Jangan tidur, gue nggak ada temen. Capek tau nyetir. Nanti malah ikut ngantuk, gimana?" ucapnya sedikit menoleh ke gadis yang duduk di sebelah nya.


"Sebelum masuk ke tol beli cemilan dulu, biar lu nggak ngantuk." Bintang membelokkan mobil adiknya itu ke sebuah minimarket.


"Turun... "


"Saya nunggu di sini aja," Intan duduk sambil memainkan ponselnya.


"Turun dulu, gue nggak tau lu mau apa!"


"Biasanya juga bebas dan semaunya Bapak,"


gadis itu turun dan berjalan mendahului Bintang yang masih di dalam mobil sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Makin galak si cungkring," dia pun ikut turun.


Mereka memilih-milih makanan dan minuman yang mereka inginkan.


Bintang menjinjing keranjang dan menyerahkan nya pada Intan.


"Ambil yang di butuhin lu selama perjalan," Bintang memasukan sebuah minuman kaleng pereda panas dalam berlogo babon lalu chiki berasa keju, keripik kentang rasa jukut laut.


Intan melihat nya hanya tertawa dalam hati, laki-laki judes, dengan perangai menyebalkan cemilannya seperti anak tk.


"Lu ngambil apa?" Bintang menatap keranjang yang hanya di isi oleh makanan yang dia ambil saja.


Intan mengedarkan pandangannya lalu mengambil minuman teh dalam kotak, lalu keripik singkong bermerk Mak acih, dan sebuah minuman jamu pereda sakit saat pms Kinanti.


"Udah?" tanyanya.


"Air putih nggak pak?" tanyanya saat berjalan ke arah kasir.


"Satu aja yang kecil buat lu, gue ambilin susu beri-beri," ucapnya sambil membuka pesan masuk.


"Susu beri-beri?" dia membeo.


Bintang menoleh ke arah Intan. "Iya, apa aja yang berbau Berry, mau strawberry, blueberry, atau apa ajalah yang nama keluarga nya berry," katanya datar namun ternyata menjadi perhatian beberapa orang di minimarket itu.


"Ya Allah, bahasa nya susah pisan di mengerti." Intan membatin sambil berjalan ke coolers minuman dingin.


*


*


Selesai bayar mereka keluar menuju mobil namun mata Intan berbinar saat melihat sebuah gerobak dengan tulisan seblak.


"Pak, sebentar." Dia memberikan keresek berisi jajanan itu pada Bintang.


Dia sedikit berlari ke gerobak di luar area parkir minimarket itu. Lalu memesan seblak komplit dengan level tiga.


Bintang mendengus kesal, lalu masuk ke dalam mobilnya dan melakukan panggilan pada Naya saat mendapati sebuah pesan dari Sebuah Bank atas masuknya uang senilai 50jt yang tak lain dari adik iparnya.


"Halo, Sayang..."


"... "


"Aku udah tranfer uang buat biaya kita nikah, minggu depan aku ke sana sama Ayah Bunda, buat lamaran resmi nya."


"... "


"Serius lah, udah aku tranfer tadi. Kamu cicil aja apa yang kita perluin."


"... "


"Ok. Love you too," Ucapnya mengakhiri panggilan.


" my demplon,"ucapnya dalam hati.


Bintang melihat ke arah Intan yang masih berdiri di pinggir gerobak seblak itu.

__ADS_1


"Lama," dengusnya kesal.


Tak kurang dari lima menit Intan membuka pintu mobil.


"Lama," sungut nya kesal.


"Maaf, seblak kan di bikin nya dadakan." Intan membuka bungkus cup plastik itu, dan menguar lah wangi kencur khas seblak dengan aroma cabe yang membuat hidung gatal.


"Emm... enak," katanya setelah memasukan satu sendok seblak campur ke dalam mulutnya. Kepalanya bergoyang-goyang dengan raut wajah memuji dan sangat menikmati.


Bintang yang baru menyalakan mesin mobil menatapnya heran, namun tak ayal senyum tipis terlukis di sudut bibirnya.


"Kenapa sih cewek kalo enak suka geleng-geleng kepala?"


Intan yang tengah menikmati seblak nya merasa tak ingin terganggu dengan ocehan yang tidak jelas, dia hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Tan?"


Gadis di sebelah nya itu tidak menanggapi masih asik dengan suapan demi suapan seblak itu.


"Intan... tan... orang utan... " Bintang memanggilnya dengan nama panjang buatannya.


Seketika Intan menoleh dengan wajah merah entah karena pedas atau karena marah.


"Apa sih pak?"


"Lu dari tadi nggak jawab pertanyaan gue,"


"Yang mana?"


"Si anjirr, yang kenapa cewek kalo nemu yang enak geleng-geleng?"


"Ya mana saya tau, lagian kategori enak itu banyak. Bapak nanya enak versi apa?"


Bintang terdiam, enak versi apa? batinnya membeo dengan ucapan Intan.


"Mak-maksud lu? macam-macam enak gimana?"


Intan merogoh isi keresek di belakang mencari teh kemasan miliknya.


"Iya, ada suasana hati misalnya enak atau nggak, atau makanan, minuman atau mungkin pijatan. Bahkan kalo kita sakit yang di tanya udah enakan belum? kan enak banyak versi nya!" terangnya tapi dengan nada yang terlihat kesal.


Bintang masih terdiam, berpikir apa yang di jelaskan gadis di sebelah nya.


Intan mengehela nafasnya lega, akhirnya lelaki di sebelah nya akan berhenti bertanya.


Dia kembali melanjutkan makannya.


Mobil pun melaju ke luar dari area parkir minimarket itu.


Bintang sesekali melirik ke arah Intan, melihat Intan begitu menikmati seblak itu membuat tenggorokannya memproduksi air liur yang lebih banyak dari biasanya.


"Bapak mau?"Intan bertanya karena melihat Bintang terus menoleh ke arahnya.


"Pedes nggak?"


"Dikit," jawab Intan.


Bintang membuka mulutnya.


"Ck, manja. Sendiri napa?"


"Lu mau mobil ini jalan sendiri? ini bukan mobil auto pilot," suaranya naik satu oktaf.


Intan mendengus lalu menyendokkan seblak itu mendekat ke mulut Bintang.


Bintang mengunyah seblak itu lalu matanya membola dan heboh, "minum... minum Tan," teriaknya pada Intan.


Intan langsung mengambil botol air mineral dan memberikan nya pada Bintang.


"Bukain Tan. Susah," titahnya.


Intan memutar botol air mineral yang masih bersegel itu.


Bintang langsung menyambar nya dan meminum nya sampai habis.


"Gusti... satu suap doang minumnya ampe sebotol?" tanyanya tak percaya.


"Ladaaaa... pedes tau, katanya sedikit. Sedikit mak lu!" gerutunya kesal.


"Makanya jangan celamitan sama makanan orang lain,"

__ADS_1


Mobil terus berjalan kini mereka sudah di pintu TOL menuju Bandung.


...****...


Di jalan Intan hampir tertidur namun Bintang terus mengganggu nya, tak ikhlas rasanya jika dia di tinggal tidur.


"Nggak kuat ngantuk Pak... " keluhnya.


"Nggak, ngapain kek. Ngemil kek, kan tadi dah beli cemilan!"


Intan menarik malas keresek di jok belakang hanya tinggal keripik singkong miliknya. Cemilan yang Bintang beli sudah lelaki itu cemilin sejak tadi. Bahkan dalam mobil itu terdengar bunyi krauk-krauk tak henti-henti.


"Dulu nyari keripik Mak acih itu susah banget, ampe gue keliling Bandung nyari tuh logo nenek-nenek." kekehnya merasa lucu.


"Iya, sekarang udah ada di minimarket." Intan mengiyakan ucapan Bintang.


"Pedes Tan?"


"Apa? mau lagi? celamitan banget sih. Nanti kepedesan lagi," Intan bahkan memutar tubuhnya sedikit menghadap jendela mobil itu menghindari tatapan Bintang yang celamitan.


"Nggak celamitan, cuma kayak yang enak gitu tiap lu makan," ujarnya bela diri.


Intan tak menanggapi dia terus memakan keripik pedasnya itu.


Bintang memegang pundak Intan lalu memutar tubuhnya agar menghadap ke depan dan langsung dia mencomot isi bungkusan keripik itu. Memakan nya dan dengan entengnya dia berkata, "enak ah, nggak se pedes seblak tadi.


Dan di suapan ketiga mukanya sudah memerah, tenggorokannya sudah semakin panas.


" Tan... "


"Ya?"


"Tojos susunya,"


"Hah? a-apa? " Intan sedikit ambigu dengan perkataan Bintang.


"Susunya tusuk, itu susu yang di keresek!" katanya menunjuk kantong keresek di jok belakang.


Intan mengangguk mengerti lalu mengambil susu dalam kemasan kotak itu, dan menancapkan sedotan ke lubang nya dan langsung di sambar Bintang.


"Aduh, masih lada tan. Masih pedes," keluhnya tubuhnya tak bisa diam, mencoba menetralisir rasa pedas dalam mulut dan tenggorokannya.


"Masih ada lagi nggak?"


"Tinggal Kinanti jamu pms saya," Intan menahan tawanya membayangkan Bintang meminum jamu anti nyeri datang bulannya.


"Duh... nggak kuat mana rest area masih jauh," keluhnya dengan bibir bergetar menahan pedas.


Intan menahan senyum sambil kembali memakan keripik Mak acih nya.


*


*


Di rest area


Bintang sudah tiga kali bolak balik ke kamar mandi, perutnya mulas, air mineral 1,5 liter sudah hampir habis di tenggak lelaki yang tidak kuat makan pedas itu.


"Aduh... "


Bintang masuk ke dalam mobil dan langsung mengatut posisi joknya agar terlentang, dia langsung merebahkan tubuhnya yang lemas.


"Gimana pak?"


"Masih keluar Tan, berisik banget lagi pas keluar nya. Padahal air doang keluarnya."


"Stopppp... nggak usah di jelasin bikin pengen muntah." Intan menutup telinganya.


Saat dia menoleh ke arah Bintang ternyata lelaki itu tertidur.


"Ck, si rombeng diemnya pas tidur doang," cicitnya dalam hati.


Intan menerima pesan teror dari kakak nya yang masih keukeuh memaksa nya bekerja di sebuah tempat pijat yang dia katakan berpenghasilan besar.


Dia mematikan ponselnya saat kakaknya melakukan panggilan.


Lalu perempuan itu menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil dan ikut tertidur. Mobil yang di parkiran di bawah pohon dengan kaca sedikit di buka yang membuat udara Bogor yang sejuk masuk ke dalam mobil dan membuat nyenyak para penghuni mobil itu.


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣

__ADS_1


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2