
...❤❤❤...
Sebulan berlalu.
Masih menjadi teka-teki untuk Bintang, mengapa hari itu dia begitu perkasa. Hingga ke esok kan harinya dia dan sang istri sampai sakit selama dua hari kedepan. Bukan sakit bagaimana. Tapi seluruh tubuh mereka terasa sakit dan ngilu. Bahkan istrinya itu sampai tidak sanggup untuk turun dari tempat tidur, dia hanya meringis bahkan sesekali merengek kesakitan.
Itu semua menjadi kebanggaan sekaligus tanda tanya besar untuknya. Si pyton upacara itu tidak pernah Bintang rasakan kembali. Bahkan untuk beberapa kali pyton nya muntah membabi-buta.
Dan durasi kembali seperti di awal yakni tidak lebih dari 20 menit itupun sudah termasuk dengan pemanasan nya.
"Ang, aku mau ke butik Chaca ya?"
Intan keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit.
"Ck, kamu mau ambil job model itu?" tanya Bintang yang sedang mengenakan kemeja abu-abu mudanya.
Intan mengangguk , tangannya membuka lemari dan seketika matanya mengedar mencari pakaian yang akan dia kenakan.
"Jangan pake yang itu, kamu kecantikan kalo pake itu."
Intan menyimpan kembali hanger berisikan dress berwarna navy itu. Mengambil lagi satu kemeja ber model Sabrina dengan satu lipatan celana jins.
"Jangan yang itu, ish ... Nanti juga pake baju dari si Chaca kan?" Bintang berjalan menghampiri mengambil baju yang dia rasa cocok.
Intan membolakan matanya saat menerima lipatan baju yang di anjurkan suaminya itu.
"Ini aja, lebih nyaman juga." Titahnya sambil kembali ke meja hias memakai jam tangan dan parfum nya.
Istrinya itu mendengus kesal. Tapi tak urung tetap menuruti perintah suaminya.
Mereka diam menikmati acara sarapan. Kebiasaan Bintang berubah semenjak menikah dengan Intan. Biasanya dia cukup hanya memakan selembar roti atau hanya minuman sereal. Kini jika istrinya itu tidak masak dia akan pergi ke depan komplek untuk mencari bubur ayam atau nasi kuning. Katanya perutnya kini sudah terbiasa pola makan kenyang saat sarapan.
Bintang makan dengan lahap dan tangannya kembali mengambil satu sendok besar capcay bakso ke dalam piringnya.
Lalu tak lama dirinya mendorong piring yang hanya menyisakan sendok dan tulang paha ayam.
Meminum air putih dan sedikit menyesap kopi nya.
"Udah yuk?" Bintang bangkit saat Intan juga sudah terlihat menyelesaikan acara makannya.
Intan mengambil piring bekas mereka makan dan menyimpannya ke bak cuci piring.
"Aku anter kamu, nggak ada naik-naik motor!" Bintang mengekori istrinya yang mundar mandir sekitar dapur.
"Ngapain sih?"
"Pulang nya mau sekalian belanja bulanan sama stock kulkas, banyak yang abis." Intan masih meneliti apa saja yang habis.
"Ok, aku jemput kamu. Kita belanja ke market Ayah, atau aku aja yang belanja? biar sekalian!"
"Nggak ah, aku aja nanti abis selesai dari tempat Chaca aku langsung nyusul ke sana!"
"Aku jemput, nggak ada bantahan." Bintang membantah perkataan istrinya itu.
Intan hanya pasrah rasanya malas berdebat di pagi hari tanpa akan mendapatkan kemenangan untuknya, sia-sia tenaga debat nya jika menghadapi sang suami.
*
*
Mereka turun di depan butik Mentari.
__ADS_1
Terlihat sudah ada beberapa mobil di sana, dan salah satu mobil dengan logo majalah fashion ternama.
"Makasih, Ang." Intan menarik tangan suaminya hendak ia kecup.
Bintang masih mengedarkan pandangan pada beberapa aktivitas orang-orang di sekitar halaman butik adiknya yang semakin besar.
"Eh, pemotretan nya di luar?" tanyanya.
Intan ikut menoleh. "Mungkin, mana aku tau!" Katanya.
Bintang mengangguk lalu malah mengikuti istrinya kuar dari mobil.
"Ngapain?" Intan menatap heran saat suaminya berjalan ke arahnya.
"Mau, lihat sebentar. Nggak boleh?" Tanyanya tak senang.
Intan hanya mendelik, mode posesif dan kepo suaminya sudah dia hafal.
"Teh .... " Terdengar suara Mentari memanggilnya.
"Abis joging?" Tanya Mentari setelah mengecup kedua pipi kakak iparnya.
"Nggak, langsung dari rumah!" Jawabnya jujur.
"Ku kira, soalnya pake baju stelan olahraga!" Mentari terkekeh.
"Biasa, tuan raja tak terbantahkan!" Intan mendelik sebaliknya ke arah suaminya yang sedang melihat pekerja dekor di sisi lain halaman parkir.
Mentari tertawa sambil merangkul kakak iparnya masuk ke dalam butik untuk segera di hias.
Intan sedang di make-up ala pengantin Sunda dengan Siger cantik dan mewah yang sudah bertengger di kepalanya.
"Lipstik nya kita kasih agak mencolok ya, si tetehnya pucet!" Kata sang perias, sambil membubuhkan lipstik berwarna sedikit cerah. "Teteh sakit?" tanya perias itu.
Mentari yang sedang menyiapkan tiga gaun pengantin yang akan di kenakan Intan, sedikit mendengar perkataan si perias itu.
"Kenapa? kecapean?" tanyanya duduk di sebelah Intan, perutnya yang sudah semakin besar menginjak usia lima bulan lebih. Membuat pergerakannya sedikit tersendat.
Intan menoleh adik iparnya itu dari pantulan cermin.
"Nggak," Intan menggeleng kecil menyangkal ucapan sang adik.
"Eh, Teh. Jamu udah di coba belum?" tanyanya seraya berbisik mencondongkan kepalanya mendekat.
Intan tersenyum malu, bingung menjawab pertanyaan yang terbilang sangat pribadi.
"Gimana?"
"Ehm ... aku nyerah, duh semaleman ampe besoknya masih pengen dong. Kok bisa?" tanyanya heran.
"Masa? Hahahaha," Mentari tertawa melihat wajah trauma kakak iparnya.
Intan menempelkan telunjuknya pada bibir, sebagai tanda agar tawa adik iparnya itu ditahan.
"Segimana? sesendok kan?" Intan bertanya kembali takutnya dia salah takaran. Mengingat begitu ganasnya suaminya meminta lagi dan lagi.
Mentari mengangguk kecil. "Fantastis kan? apalagi aku, Teh! Satu botol Mas Dafa minumnya, gara-gara nggak baca aturannya. Berkali-kali ampe Mas Dafa blingsatan nggak karuan. Dan kita nggak berhenti sama sekali," Mentari kembali mengingat kejadian itu.
"Terus? nggak od kan?"
"Sukur nya nggak, malah semburan getah si jamur kuncup malah luber jadi Shera deh," Lagi-lagi adik iparnya itu terbahak.
__ADS_1
Intan menatap aneh pada adik iparnya.
"Nggak capek? aku aja semalem ampe pagi terus aja. Apalagi ini sebotol!" Tanyanya sambil membayangkan dia ada di posisi adiknya.
"Sakit, pegel. Tapi nggak menutupi kenyataan kalo itu enak, bener nggak sih?" Mentari tertawa kencang sambil memeluk perutnya yang buncit.
"Gusti , emang enak tapi pegelnya itu." Intan meringis.
"Apa yang enak?"
Tiba-tiba suara yang mereka kenal datang di ikuti si perias yang baru saja mengambil paket bunga melati miliknya yang tertinggal di mobilnya.
Bintang datang dengan tangannya tenggelam di saku celananya, sebelah lagi menggenggam ponselnya.
"Ini, hamil aku yang sekarang enak. Terus aku do'a in, semoga teh Intan cepet di kasih momongan juga!" Katanya menutupi obrolan mereka yang sebenarnya.
"Amin," Bintang dan Intan mengucap bersamaan.
"Udah, sana. Katanya mau rapat," Intan memandang suaminya dari pantulan cermin.
"Nanti sekalian sama kamu aja, rapat sama para divisi kok. Nanti kamu belanja aku rapat sebentar!" Katanya sambil tak melepas pandangan nya dari sang istri.
"Ada pasangan cowok nya?" Tanyanya pada sang adik.
Intan mengangguk.
"Adalah, masa pengantin cuma sendiri!" Jawabnya polos juga kesal pada sang kakak.
"Gue aja, gue yang jadi modelnya!" Usulnya.
Mentari menatap kaget pada kakaknya. "Nggak bisa dong, itu model laki-laki nya lagi di dandanin juga. Seenaknya aja,"
"Buat model lainnya aja, jadi gue cuma nemenin pas sesi sama bini gue aja!"
"Ang, .... " Intan mulai jengah dengan ke posesif an suaminya.
"Shhhtt ... Dengan aku atau batal!" Ancam nya.
Intan mengehela nafasnya menatap pasrah pada adik iparnya.
Akhirnya permintaan aneh Bintang di setujui Mentari, dari pada acara ini batal.
Saat Intan bangun dari duduk nya, dia merasakan kepalanya berat dan berputar.
"Yank," Bintang sigap memegangi lengan dan pinggang istrinya.
"Kenapa?"
Intan hanya menggeleng kecil. "Mau dateng bulan kayaknya, udah sakit kepala sama perut udah begah nggak enak." Terangnya mencoba mengalihkan kekhawatiran suaminya. Takutnya dia di seret pulang karena sakit kepala nya yang tiba-tiba.
Sesi pemotretan pun selesai. Setelah Intan selesai membersihkan hiasan dan tatanan rambut. Dia beranjak keluar dari ruangan adik iparnya itu.
Saat menuruni tangga lagi-lagi kepalanya seakan berputar. Untung suaminya sedang merokok di teras depan butik itu jadi tidak melihat keadaan nya.
Bintang pun membuang rokoknya saat sang Istri datang menghampiri. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Bintang melajukan mobilnya menuju Market, namun mereka berniat makan siang terlebih dahulu karena ini sudah lewat jam makan siang.
Bersambung ❤❤❤
Like komen nya pleaseee 🙏🙏🙏
Satu lagi mau cerita, mungkin cerita ini sedikit membosankan 🤧🤧 tapi pleaseee kalo udah di favorit in jangan di un favorit lagi🤧🤧. Kayak yg udah di kasih jajan di ambil lagi 🤧.
__ADS_1
Dah lah mood nya lagi nggak enak😭😭.
Yg penting sehat dan bahagia buat kita semua