
...--oOo--...
Intan hanya menatap kesal pada sang suami.
"Ngga, ngga mau. Udah kan tadi?" gerutunya
"Mau lagi, jamu itu kamu dapet dari mana?" tanya Bintang.
"Kamu tau dari mana itu jamu anu?"
"Waktu aku nyari obat lambung di laci. Aku liat itu ku kira vitamin dari baunya kayak minyak ikan."
"Taunya aku nggak bisa tidur semaleman. Keras kayak pohon singkong."
Intan malah terbahak mendengar pengakuan suaminya.
"Terus? main solo?" tanyanya pada akhir cerita suaminya.
"Ck, ngapain. Aku nggak mau buang-buang bibit unggul aku. Aku tabung buat kamu. Dan sekarang balas dendamnya. Penuh-penuh tuh rahim."
"Gila," Intan memukul suaminya.
"Emang, aku emang tergila-gila. Puas kamu?"
"Udah, buruan. Pegel ini, udah di tempat aman juga." tangannya sedikit menarik lengan Intan yang memang tersambung borgol.
"Ang, nggak. Aku teriak nih, ya?" Intan mengambil ancang-ancang.
Bintang terbahak melihat kelakuan istrinya.
"Paling pada ngetawain, mana ada judulnya Istri teriak di anu suaminya? malahan kamu di kasih kasur buat di gelar di lapang itu!" tunjuknya pada tanah lapang yang di tumbuhi ilalang.
Intan mencebik kesal, menggerutu dan masih mencoba menggerakan tangannya yang di lingkari borgol mainan tapi begitu kuat mencengkram pergelangan tangannya.
"Ini, ish... aku kesel banget sama kamu." Geramnya kesal.
"Iya, aku terima. Biarin, yang penting ini selesai. Cepet, pegel." Rengeknya.
Intan memejamkan matanya, demi apapun dia males, lemes, lapar juga.
"Ang,"
"Hmm, please. Yank, ayo. Bantuin aku!" tangannya sudah menurunkan resleting celana bahannya.
"Tuh, liat. Gagah banget dia," pujinya pada sang pyton.
"Ang,"
"Please, Yank. Mainin aja pake tangan," katanya mengiba.
Intan menghembuskan nafasnya pasrah, belum juga mendekat. Bintang sudah merangsek melu*mat bibirnya, menye*sapya secara menggebu-gebu.
Intan yang kaget, mendorong dada suaminya.
"Ang," jerit nya saat pautan itu terlepas.
"Aku nggak bisa nafas, ampun. Kesel banget, sumpah aku keselll." Teriaknya memukuli dada suaminya.
Tangan yg tengah memukul itu Bintang tarik menuntunnya ke tempat yang sedari tadi menunggu. " Sambil main di sini, jangan buang-buang tenaga. Bantuin suaminya, biar berkah!"
"Berkah apanya?"
Tidak menjawab malah mende*sah "Nah, iya. Gitu ... terus, Yank. Astaga, baru tangan itu belum mulut," dia meracau.
Intan menundukkan kepalanya, bersandar ke bahu suaminya.
Rasa kesal itu membuat tubuhnya semakin malas dan lemas.
Tangan yang terus dia gerakan nyatanya tak memberi kepu*asan bagi suaminya.
"Pegel,"
"Sama, pake cara lain. Yank!"
"Apa?" suara Intan sewot.
"Bebas, biar cepet. Biar kita bisa makan!"
Bintang merebahkan jok mobilnya hingga membuatnya merebah.
"Ang," Intan memelas.
Bintang hanya mengangguk singkat. Tanda sebuah perintah yang harus di segerakan.
Intan menundukkan kepalanya.
Terdengar nafas yang tertahan dari Bintang, giginya terdengar menggeletuk. "Yank ... " Suaranya terdengar parau, jangan tanyakan tangannya di mana. Sedang mere*mat bakpao daging tentunya.
Beberapa kali Intan menepis tangan yang memainkan daging lebihnya itu.
"Diem, Yank. Biar aku fokus," Bintang mengembalikan tangannya ke tempat semula.
Sedikit menekan kepala istrinya, hingga terdengar suara batuk tercekik dari Intan.
__ADS_1
Perempuan itu menarik kepalanya dan menatap nyalang suaminya.
"Maaf, maaf. Kelepasan, Yank!"
"Kamu, enak. Aku yang kesiksa," gerutunya.
Bintang sedikit menegakkan tubuhnya.
"Ya, udah naik. Biar sama-sama, nggak komplain." Tangannya memegangi pinggang istrinya, menuntun untuk duduk di atasnya.
"Apa sih, Ang?" protes Intan. Saat tau tujuan suaminya kemana.
"Pake dress kan? gampang." Katanya, masih mencoba menarik tubuh itu.
Intan yang sedikit terpaksa, duduk di atas suaminya.
"Buka," Bintang berusaha menarik kain segitiga milik istrinya itu,"
"Susah, ish ... " Intan masih setia dengan gerutunya.
Lelaki itu sedikit kesusahan mencoba menarik nya.
"Ya, udah. Intipin aja," ucapnya frustasi setelah tangannya memebelit sedemikian rupa.
"Nggak,"
"Ribet, udah laper." Intan memukul pundak suaminya yang berada dii bawahnya.
"Ya, udah makan dulu. Pisang aku, buat ganjel lumayan. Cepet nggak akan lama lagi ini!" Bintang memelentingkan tubuhnya saat miliknya hampir masuk sempurna ke dalam istrinya.
"Ahhhh ... " Erangnya saat miliknya tertanam sempurna.
Dia menggerakan pinggang nya sambil membantu istrinya untuk menggerakan tubuhnya se irama dengannya.
*
*
Kata-kata cepat itu hanya wacana saja, nyatanya permainan secara paksa itu baru selesai hampir satu jam mereka bergerak.
Intan memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela. Dia kesal, tentu saja. Walaupun akhirnya terpaksa menikmati permainan.
"Yank," Panggil Bintang saat mobil mereka melaju mencari tukang nasi goreng.
Tak menjawab, hanya tatapan sinis yang Intan berikan.
"Dih, dia jutek."
"Penipu," Intan memaki.
"Kamu, bilanganya kan cuma pake tangan! nyatanya semua di pake. Dasar modus, ogah rugi." Dia kembali memalingkan wajahnya.
"Eh, itu namanya tahapan. Sayang,"
"Tahapan? itu artinya kamu melanggar perjanjian awal!" gerutunya.
Lagi-lagi Bintang hanya mampu tertawa.
"Tapi akhirnya nikmati juga kan?"
"Ya, tanggung. Udah masuk juga, ngapain ngotorin doang?" Wajahnya seketika memerah menahan malu, untuk apa dia berkata seperti itu. Membuat suaminya itu malah terlihat puas.
Bintang menarik Intan agar mendekat. "Oh, Sayang. Kamu semakin mengagumkan." Bintang mengecup puncak kepala istrinya.
Intan menahan senyumnya. Rasa-rasanya dia sudah terkontaminasi oleh suaminya itu.
"Mesum kamu nular kayaknya?" Intan memandang suaminya.
"Masa? biarin lah. Suami istri ini, kalo baru pacaran bahaya, ntar malah kecolongan. Mana punya aku bibit unggul semua. Sekali tembak jadi langsung," Ujarnya bangga.
Intan teringat sesuatu, "Eh, Ang. Kalo kita konsultasi soal program hamil gimana?" usulnya.
Bintang seperti berpikir, "Serius?" tanyanya meyakinkan.
Intan mengangguk, " Mau kan?"
"Tapi kan, kita sehat. Terbukti kamu udah dua kali hamil ... "
"Tapi dua kali gugur," wajahnya seketika muram.
"Belum rejeki kita," Bintang tak mau membuat istrinya mengingat musibah itu.
*
*
Berhenti di sebuah jalan yang sepanjang nya berjajar tenda penjual berbagai jenis makanan.
Bintang memutar tubuhnya menghadap istrinya.
"Sayang, kita usaha sebisa mungkin. Tapi, Tuhan yang atur semua. Kalo kamu mau kita konsultasi. Ayo, besok kita periksa. Mau?"
Intan mengangguk antusias, tapi lelehan air mata menetes begitu saja.
__ADS_1
Bintang mengusap air mata itu. " Akan indah pada waktunya. Kita tinggal menunggu hadiah apa yang Tuhan siapkan." Katanya kembali mengecup kening Intan.
"Yuk, kita makan!" ajaknya.
Saat akan membuka pintu. Mereka merasa kesusahan dan tak yakin untuk keluar dari mobil.
"Panggil aja, mau apa? kita teriakin si Abang nya."
Intan menelisik apa saja yang di jajakan di jalan panjang itu. "Masih pengen nasi goreng aja," ucapnya merengek.
Bintang melihat penjual nasi goreng ada si beberapa tenda di depan.
Melajukan kembali mobilnya lalu berhenti di depan tenda bertuliskan nasi goreng kambing.
"Ang, yang biasa. Awas kalo pake kambing." Intan mengingatkan.
Bintang tertawa kecil, tentu saja dia mengingat kejadian sate kambing itu. "Nggak lah, masih ada efek jamu. Ini masih agak keras sedikit,"
Intan langsung membola kan matanya, tak percaya.
"Tenang, nanti kok mintanya. Sekarang makan dulu,"
Intan melambaikan tangannya memanggil penjual nasi goreng itu yang sedang bertempur dengan wajan dan spatula nya.
"Aduh," Bintang mengaduh.
"Kenapa?" Intan menoleh.
"Dompet, di karpet."
"Apa? terus gimana?" Intan kembali terpancing emosinya.
" Liat di dasbor, " Bintang memerintah sambil dia mencari uang yg sering dia selipkan untuk parkir.
"Nggak ada," Intan menjawab sambil ikut mengorek-ngorek tiap celah di dalam mobil itu.
"Kamu nggak bawa uang?" tanyanya pada sang Istri.
"Aku?" Intan mengulang pertanyaan suaminya.
Bintang mengangguk.
Sambil mengorek-ngorek sakunya barangkali ada uang yang terselip.
"Aku, bawa diri doang." Jawabnya ketus.
Bintang malah tertawa.
Intan yang kesal lalu memajukan tubuhnya, mencari tiap saku mulai dari celana dan terakhir di kemeja suaminya.
"Ini, apa?" Intan mengangkat sebuah kunci kecil dari saku di kemeja suaminya.
"Nah, akhirnya. Kamu ketemu, kok tadi nggak ada ya?" Bintang terlihat serba salah menyeringai menyembunyikan rasa takutnya.
Intan sudah terlihat geram luar biasa, dia membuka borgol yang melingkari pergelangan tangannya. lalu membuang kunci itu asal ke jok belakang.
"Kok, yang aku nggak di buka?" tanyanya.
Intan tak menjawab dia langsung membuang wajahnya kesal.
***
Sebuah ketukan di jendela mengagetkan mereka.
"Pesan apa, Mas?" tanya si penjual nasi goreng.
Alangkah bingungnya pasangan suami istri itu. Bagaimana tidak, mereka tidak memegang uang sama sekali.
"Ehm ... "
"Nasi goreng kambing nya ada?" Bintang bertanya asal."
"Aduh, kebetulan habis." Jawab si penjual nasi goreng itu.
Bintang sungguh lega, padahal dia hanya berbasa-basi saja.
"Uhm, saya lagi nyari nasi goreng kambing."
"Maaf. Sudah habis,Mas." sahutnya lagi.
"Oh, ya udah saya cari ke tempat lain aja!" Bintang beralasan.
Lalu mobil itu kembali dia lajukan.
"Dasar, si tukang ngeles, tukang modus, tukang alasan ... "
"Tu-kan cinta kamu, tu-kan sayang kamu, tu-kan hamilin kamu, " katanya menimpali.
Intan hanya diam tiba-tiba marahnya menguap begitu saja. Di gantikan luapan yang meletup-letup hangat. Suaminya itu memang sungguh menyebalkan tapi dia yang memberi warna dalam hidupnya.
Bersambung ....
Yang udah mampir di rumah sebelah, terus belum sempet baca PC aku ya, aku ajarin. Biar sama-sama enak🤣🤣
__ADS_1
pkonya sayang kalian semua 😘😘😘