Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Genting


__ADS_3

...--oOo--...


Bintang langsung mengambil bayi yang berada di dekapan sang istri. Walaupun agak susah karena si bayi kuat menghisap sumber makanan nya.


"Nanti. Nanti di terusin lagi, Boy. Walaupun yang nanggung bikin kesel. Papi tau. Tapi kasian, adik kamu mau keluar. Biar Mami kamu fokus!" Katanya sambil menimang anak lelakinya.


Melihat wajah Intan yang meringis dengan wajah pucat. Sebenarnya membuatnya pusing, mual dan jantung yang berdebar. Tapi entah kenapa, saat melihat anaknya lahir dan tangannya yang menangkap dan memegang untuk yang pertama kali. Membuat semua rasa itu hilang berganti takjub dan haru. Bahagia jangan di tanya, luar biasa pokoknya.


"Ang!" Panggil Intan lirih.


Bintang yang sedang membenarkan letak selimut yang membungkus anaknya langsung menoleh.


"Ya?"


Intan memejam. " Kepalanya pusing, kayak kesemutan!" bisiknya pelan.


Bintang yang panik lalu mendekat.


"Gimana?kamu jangan nakutin aku, Yank!" Dia mengusap pipi istri nya itu.


Bertepatan dengan ketukan di kaca mobilnya. Terlihat seorang wanita berjas putih berdiri di dekat pintu mobil.


Bintang langsung keluar dengan buntalan kain berisikan bayi laki-laki nya.


"Tolong, Dok. Istri saya udah lemes, tapi bayi kami yang satunya belum keluar!" ucapnya panik.


Seorang suster datang mendekat dan langsung mengambil bayi yang berada di gendongan Bintang. Bintang langsung membuka pintu mobil dan mengeluarkan Intan dari sana. Entah kekuatan dari mana, tubuh istrinya tak seberat tadi. Dengan mudahnya dia menggendong dan membawanya menuju ambulans.


Intan tergolek lemas, dengan penanganan sang dokter. Mulia dari cairan infus, selang oksigen sudah menempel di tubuhnya.


Bintang fokusnya terpecah antara si istri dan bayi nya yang sedang di pangkuan suster tadi.


"Sayang," panggilnya.


Intan masih dengan wajah meringis, sesekali pegangan tangannya menguat.


"Sabar, ini mau sampai!" katanya.


"Ibu? kuat untuk mengedan?" tanya si dokter yang berada di sisi bawah Intan.


Intan memejam untuk sesaat. "Kuat, Dok!"


Lalu dia mengikuti intruksi si Dokter, dan saat masuk pelataran rumah sakit. Satu bayi kembali lahir dari rahim Intan.


Bintang tercekat saat si bayi tak menangis histeris seperti kakaknya tadi. dokter mengambil bayi itu. Menggoyangkan tubuh kecilnya, dan sesekali menekan bagian dadanya.


"Anak saya kenapa, Dok?" Bintang bertanya panik.


Dokter tidak menjawab, saat pintu ambulans terbuka. Terlihat dokter yang lain mengambil bayi nya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Intan histeris, Bintang mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Beberapa petugas datang dan mengeluarkan Intan dari ambulans menuju ruang perawatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.


Bintang mengikuti Intan, dengan pandangan nya pada bayi yang sedang di bawa suster tepat di depannya.


"Anak, istri kamu gimana?" Terdengar suara menyapa nya.


Bintang tak menoleh hanya fokus menenangkan si istri yang terlihat semakin pucat karena rasa cemasnya.


"Lagi, sibuk!" jawab Bintang sekenanya.


Kedua orang itu saling pandang namun berjalan mengikuti Bintang.


"Otaknya belum ngumpul, Bun!" Ayah berkata, melihat lipatan dalam din kening istrinya.


Bunda menoleh dan mengangguk. "Tapi nggak pingsan, Yah? apa trauma nya udah sembuh?" tanya Bunda pada sang suami.


"Harus tanggungjawab lah, palingan abis selesai semua dia pingsan!"


Mereka tiba di depan sebuah ruangan, Intan di bawa masuk ke dalam. Bintang yang tangan nya bertautan dengan tangan lemah sang istri ikut masuk ke dalam.


Terlihat ada dua bayi mereka di pojokan sedang di tangani. Yang satu sedang menangis kencang, yang satu lagi sedang di kelilingi dokter dan dua perawat.


"Ang," Intan memekik saat bagian intinya sedang di tangani.


Bintang lalu menunduk dan mengecupi wajah si istri. "Makasih, udah berjuang demi anak-anak kita!"


Intan menangis haru. Bintang membola saat melihat gumpalan seperti daging keluar dari inti tubuh si istri. Tiba-tiba kepalanya seperti melayang kosong. Rasanya ringan, dan ... Tentu saja dia pingsan.


Kericuhan di ruangan bersalin itu semakin kentara. Apalagi karena si Ayah bayi yang malah pingsan di waktu para dokter berusaha menyelamatkan bayi mereka.


*


*


Terlonjak saat lintasan kejadian sebelum dia pingsan. Bangun dan setengah berlari keluar dari kamar. Mengingat istri dan si kembar yang pasti membutuhkan kehadirannya.


Terlihat Ayah dan Bunda sedang duduk di kursi besi depan pintu ruangan yang di huni anak istri nya tadi.


"Yah, Bun? kok baru dateng?" tanyanya kesal.


Ayah dan Bunda mengernyit.


"Kok, kamu baru sadar?"


"Apa sih?" Bintang memandang bingung.


"Kita udah di sini, sebelum mobil ambulans datang. Tadi yang nanya keadaan anak istri kamu di lobby UGD, siapa?" Bunda terlihat kesal.


"Dengen entengnya kamu jawab, lagi sibuk!" Ayah menimpali.


Bintang menggaruk tengkuknya dengan wajah meringis, malu.

__ADS_1


Seorang suster keluar membawa box kecil berisikan bayi merah berselimut biru. Menyadarkan mereka dari obrolan tidak penting.


"Sus, satu lagi anak saya?" Tanya Bintang saat mendekati bayi nya. Di ingat itu bayi lelaki yang dia tangkap tadi di mobil. Karena ada tanda lahir di ujung dagunya.


"Bayi perempuan, Bapak?"


"Bayi saya satu lagi perempuan, Sus?" tanya Bintang dengan raut bahagia.


"Iya, tapi sekarang sedang ada di NICU. Paru-paru nya terendam air ketuban." Jelasnya sambil berlalu ke ruang bayi.


Tungkai kakinya seketika lemas. Ayah langsung mendudukkan nya di kursi.


Bintang seolah orang yang terkena hipnotis, pandangan matanya kosong, namun isi kepalanya padat tak bercelah.


Sebuah brangkar di dorong keluar ruangan. Terlihat sang istri tertidur dengan wajah pucat dan mata yang sembab.


"Gimana, dok?" Bintang mendekat.


"Kami memberi obat penenang agar Ibu istirahat. Dari tadi histeris, saat tau putrinya masuk ruang NICU." terangnya.


Bintang mengusap kepala Intan pelan. Lalu mengikuti brangkar itu menuju kamar rawat.


*


*


Berdiri di sebelah sebuah inkubator. Bintang memandangi bayi mungil yang berada di dalamnya.


"Hai, girl? ayo bangun, sehat. Kita ketemu Mami, ketemu kakak. Ada kakek sama nenek, ada Papa langit, Mama Cindy, ada Ayah Dafa, Ibu Chaca. Kamu di kelilingi orang-orang yang bakal sayang banget. Ayok, sehat nak. Nanti susu nya Mami di habisin kakak. Yah, adek nggak ke bagian." Bintang terlihat jenaka dengan kata-kata nya namun air mata merembes begitu saja membasahi pipinya.


Melihat bayi kecil yang hanya sebesar kepalan tangan itu harus di pasang berbagai alat medis. Bahkan matanya pun harus di tutup karena lampu inkubator yang menyilaukan.


Bayi kembar nya terlahir normal, dengan si kakak yang terlahir dengan berat 2,6 sedangkan si adik 2,3 cukup normal untuk ukuran bayi kembar. Namun nasib kurang beruntung menimpa si bayi perempuan yang harus dirawat lebih intensif karena menghirup air ketuban ibunya.


Bintang menegang saat dia melihat pergerakan di dada kecil itu terlihat semakin kencang. Nafasnya seperti pendek-pendek. Dia keluar dan menghampiri suster jaga di meja ujung tak jauh dari pintu kamar rawat NICU.


"Sus, tolong. Tolong, bayi saya seperti kesusahan nafas!" teriaknya dengan panik.


Setelah suster menghubungi dokter dari panggilan telepon. Dia langsung berlari masuk ke ruangan dan tak lama seorang dokter perempuan muda datang.


Bintang terlihat panik, kakinya lemas namun dia paksakan untuk tetap berada tak jauh dari putri nya.


*


*


Bersambung ❤❤❤


Maaf, jadi jarang up. Masih kejar kata di sebelah. Yg komen juga belum sempet aku bales dan like🙏🙏🤭. Bukan sombong, cuma demi ke elingan otak aja🤣🤣. Aku bukan sehebat author yg lain. Sana sini nulis, ternyata otak ku nggak sampe🤣🤣. jadi maaf kalo di sini atau di sana kurang nge feel.


Iya, yang ngikut di sana semoga sampe tuntas ya🙏 soalnya retensi nya malah turun🤧. Nanti nggak gajian dong🤧.

__ADS_1


Eh, nggak maksa sih. Cuma ngasih tau aja🤭


Sehat dan bahagia selalu ya kawan-kawan 😘


__ADS_2