Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Perasaan lain


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Sore itu tak berpengaruh pada pasangan suami istri yang masih terlelap di tempat tidur. Jalan-jalan ternyata hanya sebuah wacana saja.


Intan menggerakan tubuhnya yang terasa begitu lelah, suaminya benar-benar merealisasikan segala macam gaya yang dia ketahui. Seakan ini adalah ujian praktek semua materi yang dia ketahui harus di uji coba.


Tubuhnya terasa remuk dan jangan tanyakan daerah inti nya yang terasa nyeri dan perih. Terdengar bunyi dengkuran halus dari lelaki yang tidur tengkurap di sebelah nya.


Punggung lebar itu terlihat sempurna di matanya, walaupun tidak terlalu berotot, karena sakit nya yang suaminya derita sebelum pernikahan mereka membuat bobot tubuh itu belum kembali normal.


"Apa? mau lagi? asli aku capek yank ... Entar malem aja yah... " Bintang menggumam saat merasakan usapan halus di wajahnya.


Intan terkikik, "otaknya itu aja! emang di kata aku nggak capek apa?"


Bintang hanya tersenyum dengan mata yang masih memejam.


"Katanya mau jalan-jalan?"


"Iya, sebentar ya. Ngumpulin nyawa sama tenaga. Ini asli pinggang ku ada nggak yank? kok rasanya kayak nggak punya pinggang?" ucapnya sambil meringis saat menggerakan tubuhnya menggadap sang istri.


Intan mendekat dan mengelus pinggang suaminya itu. "Kebanyakan ini!"


Bintang yang merasa nyaman langsung menyururung kan kepalanya di ceruk leher sang istri. Usapan lembut dan garukan halus di punggungnya membuatnya kembali mengantuk.


Wanita itu menunduk melihat wajah suaminya yang kembali terlelap saat dia bergerak melepaskan tangan Bintang semakin erat memeluknya.


"Ang, aku mau mandi!" bisiknya sambil mengecup kepala suaminya.


Akhirnya Bintang melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi nya.


Punggung itu terlihat banyak goresan merah.


Intan menutup mulutnya malu, betapa gila permainan suaminya tadi, hingga tanpa sadar dirinya beberapa kali mengerang sambil menancapkan kuku-kukunya.


Di tariknya selimut untuk menutupi tubuh suaminya yang masih polos tentunya. Intan berjalan sedikit meringis ke arah kamar mandi. Perasaan kurang nyaman masih terasa di bawah sana.


*


*


Saat selesai mandi, Intan berdiri di depan cermin dan betapa kesal nya dia saat melihat banyaknya tanda merah di sekitar lehernya.


"Ishhh ... gimana mau makan di luar, leher aku kayak gini?" Intan menggerutu sendiri di depan cermin.


Terdengar suara langkah kaki, berjalan mendekat.


Bintang berjalan sempoyongan melewati nya yang berada di depan cermin.


"Yank ... sayang?" panggilnya panik di kamar mandi.


"Apa?" jawabnya.


Bintang menolehkan kepalanya ke ruang closet.


"Bikin kaget, ku kira kamu kabur!" ucapnya mengusap wajah sambil berjalan menghampiri.


Intan sedikit berdebar suaminya itu melenggang santai tanpa sehelai benang pun.


"Alasan aku kabur apa?"


"Di anu terus sama aku, hehehehe!" jawabnya asal.


Intan menggelengkan kepalanya, selalu takjub dengan segala kalimat mutiara yang meluncur begitu saja dari mulut suaminya.


"Mandi sana, tapi kayaknya nggak bisa makan di luar?"


"Kenapa?"


"Lihat leher aku, kenapa kamu bikin kek gini banyak banget?" gerutunya.


"Lah, tadi diem aja. Sekarang ngomel!"


"Ya, kan tadi ... "


"Enak?" Bintang memotong ucapan istrinya.


"Buruan mandi!" Intan mengalihkan pembicaraan yang membuat wajahnya memanas malu.

__ADS_1


Bintang mengecupnya singkat, " Aku kan kamu sebut papa loreng, biar adil aku bikin kamu jadi mama loreng versi cap," lalu dia melenggang sambil tertawa.


Intan pun ikut tertawa melihat kelakuan suaminya itu.


Tak lama Bintang keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Sudah ada baju di atas tempat tidur yang telah di bereskan.


Di melihat pintu balkon yang terbuka, sudah di pastikan istrinya ada di sana.


Berpakaian santai namun begitu segar dan wangi, dia bercermin aura lelakinya semakin terlihat. Batinnya berucap bangga.


...❤❤❤...


Berjalan menghampiri istrinya yang tengah berdiri melihat pemandangan di bawah sana.


"Sayang ... " Bintang memeluknya dari belakang.


Intan terlonjak kaget, "Ngagetin!" keluhnya.


Bintang hanya tertawa, sambil mengecup kepala belakang istrinya.


"Liat apa sih?"


"Hmm, tempat makan itu dari tadi rame terus. Jadi penasaran," dia menunjuk sebuah tempat yang terlihat kecil dari lantai 7 hotel itu.


"Yuk, kita ke sana!" Bintang mengangguk.


"Ini aku?" tunjuk nya pada noda di lehernya.


"Pake, hoodie aku mau?" tawarnya.


Intan mengangguk setuju.


Bintang terpaku saat melihat Intan yang hanya mengenakan hoodie miliknya dan celana leging hitam, begitu terlihat aduhai di matanya.


"Yuk ... " Intan terlihat bersemangat.


Mereka pun berjalan ke luar hotel di sore hari itu. Berjalan menuju sebuah tempat yang mereka amati sejak tadi.


"Asik, Bakso. Ang ... " ucapnya terdengar bahagia. Saat hampir sampai dan melihat spanduk Bakso besar.


Bintang mengangguk lalu mereka kembali berjalan memasuki warung bakso yang cukup padat di sore menjelang petang itu.


Mereka pun makan dengan nikmat di sertai percakapan ringan keduanya.


...❤❤❤❤❤...


Dua bulan berlalu


Bintang dan Intan akhir-akhir ini sedang di sibukkan dengan cabang-cabang usaha mie kekinian di tambah dengan tambahan menu seblak resep andalan Intan istrinya itu.


Pagi hari itu Bintang sudah bangun, dia heran istrinya itu masih bergelung di bawah selimut. Bahkan setelah dia selesai mandi pun istrinya masih tertidur pulas.


"Yank ... Mau ikut ke kedai nggak?" Bintang mengusap rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


"Hari ini kayaknya nggak deh, aku nggak enak badan!" jawabnya lemah dari bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Kecapean yang semalem?" tanya Bintang terkekeh.


"Nggak tau, pokoknya dari subuh tadi badan ku nggak enak."


"Ya, udah. Aku berangkat ya, tapi siang aku ada meeting sama Abang. Kamu nggak apa-apa di tinggal?" tanyanya cemas.


Intan mengangguk.


"Ang ... "


"Ya?" jawab Bintang yang masih duduk di sisi tubuh istrinya.


"Aku kayaknya nggak kuat masak, pulang kamu beli makanan aja ya!"


"Siapa yang nyuruh kamu masak? nanti aku pesenin makanan dari kantor ya! pulang nanti mau di bawain apa?" tanyanya.


"Pengen martabak telor," ujar Intan masih dengan suaranya yang lemas.


Bintang mengangguk, "Ok, nanti aku beliin. Aku berangkat sekarang. Ya!" Lalu Bintang mengecup kening Intan dengan lembut.


Intan mengangguk lalu kembali tidur.

__ADS_1


*


*


Siang hari nya tubuhnya semakin tidak nyaman, kepalanya pusing, dan badannya meriang.


Saat suara bell pagar rumah mereka terdengar berbunyi.


Intan dengan sempoyongan keluar rumah hendak menghampiri pagar. Sebelum nya mengambil selembar uang berwarna biru.


Barusan pesan dari Bintang kalo dia memesankan makanan untuknya makan siang.


"Order atas Bapak Bintang," ucap si mamang ojek itu.


Intan belum sampai pagar. Tubuhnya sudah tak kuat. Cepat-cepat dia berjongkok menahan kepalanya yang semakin keleyengan.


"Bu? Ibu nggak apa-apa?"


Intan diam berjongkok bersandar di dekat ban mobil suaminya, tadi Bintang pergi mengendarai motor matic miliknya.


"Sebentar, saya pusing!" katanya masih memegangi kepalanya.


Intan mengingat sesuatu lalu berbicara pada si pengantar makanan itu untuk membeli sesuatu.


Setelah si ojek itu pergi, Intan merayap untuk mencapai kursi teras yang tak jauh dari tempatnya berjongkok.


Dia bersandar di jendela, memejamkan mata menetralkan rasa pusing .


Tak begitu lama, si mamang ojeknya memberikan pesanan makanan Intan beserta sebuah keresek putih di tangannya.


"Makasih, ya. Pak!" ucapnya.


"Sama-sama, Bu. Mau saya telepon orang yang pesen ini? kayaknya ibu lagi nggak sehat," tawarnya saat melihat wajah Intan yang pucat dan terlihat berkeringat.


"Jangan, nggak usah. Pak. Suami saya lagi kerja, saya mau makan aja. Nanti juga sembuh sendiri," tolak nya dengan ramah.


Intan memberikan uang yang tadi dia pegang, dan si mamang ojek pun pergi.


*


*


Bintang pulang hampir petang dengan sebuah keresek berisi martabak telor pesanan istri tercintanya menggantung di motor nya.


Masuk ke dalam rumah yang terasa sepi, biasanya baru membuka pagar istrinya sudah membuka pintu ruang tamu sambil tersenyum menyambutnya.


Di dalam rumah pun terasa sepi dan lampu pada belum menyala.


"Sayang ... " panggilnya saat membuka pintu kamar.


Istrinya masih bergelung di bawah selimut.


Hatinya semakin cemas, dia berjalan ke arah istrinya.


"Yank ... "


"Heem ... "


"Kita ke dokter yuk? kamu parah kayaknya,"


"Nanti aja," istrinya menggumam.


"Kamu sayang nggak sama aku?" Bintang bertanya, rasanya dia ingin segera membopong istrinya itu masuk ke dalam mobil. Dan langsung membawanya ke rumah sakit.


"Nggak ... sekarang aku nggak bisa sayang lagi kamu seutuhnya, Ang ...."


"A-apa? kamu ngomong apa?" bentaknya.


Bersambung ❤❤


Like


komen


favoritnya


Kalo bagian anu banyak banget yang komen 🤧🤧

__ADS_1


Kalo yg biasa malah sepi🤧


Sok ... atuh, komennya


__ADS_2