
...❤❤❤❤...
"Uhhhmmm... Udah," Intan melepaskan pautan itu.
Lalu dia menyandarkan kepalanya di dada itu, dada yang tidak se bidang dulu, namun tetap terasa hangat.
"Mas... "
"Iya?"
"Kenapa kamu nggak ngomong, kalo kamu yang lakuin semua? kamu yang jadi pahlawan aku!" Intan bertanya sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang itu.
Bintang mengusap lengan kecil yang tengah melingkari pinggang nya.
"Emang ada pahlawan ngaku pahlawan? atau penjahat ngaku penjahat?" Bintang malah bertanya balik.
"Kalo kamu tau, pun pasti bakal marah-marah dan semakin ngejauhin aku!" tambahnya lagi.
Intan tersenyum, "pasti,"
"Udah aku duga, kamu kan gengsinya gede!"
Intan mendongak, "kayak kamu nggak aja!"
"Itu harga diri laki-laki, pasti itu. Tan... sayang sejajarin kepala kamu, aku nggak keliatan. Pengen kiss lagi," rengeknya menarik tubuh itu dengan susah payah.
Intan mencebik kesal namun hatinya berbunga.
Menempelkan kepala nya di sangat dekat, membuat Bintang menyadari sesuatu.
"Tan... "
"Iya?"
"Aduh... sekarang yuk, ke rumah sakit!" saat hembusan nafas itu menghembus hangat menerpa lehernya.
"Malem ini?"
"Biarin, siapa tau bisa di laser. Jadi besok udah beres kita nikah langsung. Duh ... nggak tahan nih, pyton mau gigit ntar!" ucapnya.
Intan terkikik geli, Lalu sebuah gerakan membuatnya mengguling dan Bintang sudah berhasil menin*dih sebelah tubuhnya.
"Serius, kamu dari tadi kayak yang sengaja mancing-mancing aku. Nggak tahan ini, kamu nggak tau sih!"
Intan mengerjap saat mendapati Bintang seperti itu, mata terlihat kosong itu, masih sama tajamnya seolah dia menatapnya seperti biasa.
Bintang menyatukan keningnya. Hembusan nafas keduanya saling menggelitik membuat gai*rah dalam tubuh keduanya seolah saling menyapa.
Lalu pautan itu kembali terjadi.
Saat sedang saling menikmati sebuah suara mengagetkan mereka.
kkkrrrruuukkk ... krruukkkk..
Pautan itu terlepas.
"Sayang... " Bintang bertanya.
"Aku laperrr... "
"Astaga, ngeganggu aja acara romantis kita, tuh cacing kagak tau sikon!" gerutunya sambil menjatuhkan tubuhnya memeluk Intan kembali sebelum melepaskannya.
*
*
Intan sedang makan di sofa balkon di bawah langit yang berwarna jingga cantik.
Bintang masih menemaninya sambil bergelayut manja.
"Aku kangen telor Negro buatan kamu!" ucapnya.
Intan yang tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya hanya tertawa.
"Makannya cepet sehat, nanti aku bikinin telor Negro setiap hari,"
"Ya, nggak tiap hari juga, sayang... bisul aku!" ketusnya.
Intan bangkit saat menyelesaikan makannya.
Bintang yang tengah menyandar sontak terguling lebih samping. "Astaga, Tan... bilang napa kalo mau bangun," Bintang membetulkan letak duduknya.
"Maaf, aku nggak tau. Tuh kan kalo gitu malam pengantin gimana?" tanyanya terkekeh puas.
__ADS_1
"Udah aku bilang, itu nggak ngaruh banyak malah yang sesama nggak bisa liat pada punya anak. Membuktikan bahwa dia nggak pernah salah rumah, punya naluri dia. Yuk mau coba?" tantangnya.
"Enak aja, halalin aku dulu Bang... " Intan terbahak sambil berlalu keluar dari kamar.
Saat membuka pintu dia melihat Bunda yang tengah mengatup kan tangannya.
"Serius?" tanya beliau.
Intan yang tengah membawa piring hanya dapat meunduk malu.
"Udah kebongkar?" tanya lagi Ibu dari lelaki yang dia cintai itu.
Dan intan hanya mengangguk kecil.
"Ahhhh... syukur, Ayah... . yah... " Bunda langsung tergesa menuruni tangga.
Intan memejamkan matanya malu.
"Mas... " Intan kembali masuk ke dalam kamar.
"Ya?"
"Bunda denger semua!"
"Sukurin," Bintang tertawa puas.
"Aghh... aku malu, gimana?"
"Biarin, aku bilang ah udah ngapa-ngapain kamu. Biar kita di gerebek supaya di nikahin malem ini."
Intan memukul lengan Bintang kesal.
"Enak aja,"
Terdengar pintu di buka, Intan menolehkan kepalanya melihat Kedua orang tua Bintang masuk ke dalam kamar itu.
Intan mere*mas kuat tangan Bintang.
"Aduhh... "
"Tenang, kenapa sih?"
"Takut,"
Kini mereka sudah berada di dalam kamar, bukan di balkon lagi, karena langit pun sudah menggelap.
Bintang dan Intan duduk di pinggiran tempat tidur sedangkan Ayah dan Bunda duduk di sofa yang menghadap langsung.
"Gimana? kapan mau berobat mata?" tanya Ayah.
"Sekarang kalo bisa Yah,"
"Halah... udah sembuh anakmu Bun. Udah kembali semprul," Ayah melirik istrinya.
Semua orang di sana tertawa.
"Kenapa tiba-tiba pengen berobat?" kini Bunda bertanya.
"Kakak pengen nikah sama Intan!" jawabnya tegas.
"Siapa Intan? itu Indah!" Bunda pura-pura tidak paham.
"Udahan lah sandiwara nya, udah kebongkar juga,"
"Tan... sayang, kamu nyerah? ketauan atau ngaku?"
Bunda bertanya pada Intan.
Intan terkekeh kecil, "ketahuan Bun... "
"Kamu payah,"
"Kakak yang peka, hebat kan?"
"Aghh... udah kenal pawang Bun, wajar lah ngenalin juga,"
"Pawang? emang kakak harimau?" tanyanya kesal.
"Siapa bilang kamu harimau? kebagusan. Kamu itu buaya tapi anaknya," Ayah tertawa terbahak hingga Bunda menepuk paha nya.
"Iyalah anaknya, orang bapak nya yang ngomong." Bintang berkata dengan datar nya.
Ayah yang sedang tertawa seketika terdiam, "bener-bener udah sembuh Bun, si semprul."
__ADS_1
Bunda tersenyum penuh kebahagiaan.
"Makasih, ya Tan.. sayang, kamu yang ngasih kekuatan buat Bintang, kamu ngembaliin lagi Bintang kami yang dulu." Bunda mendekati Intan dan langsung memeluk nya.
"Kapan kami bisa ketemu keluarga kamu?"
Intan terdiam sedikit bingung, kalo hanya untuk sekedar bertemu mungkin ke rumah ayah tiri nya bisa namun untuk menjadi walinya pastilah harus kakangnya.
Intan terdiam, lalu tangan Bintang mengusap tangannya.
"Tan... "
"Ehm, i-iya Bun. Nanti saya bicarain sama keluarga!" ujarnya.
Bunda pun mengangguk dengan antusias.
"Jadi Bunda bikin jadwal sama dokter sekarang nih? buat besok!"
"Iya, ada yang takut malam pengantin nya kesasar Bun,"
"Aduh... udah ngomongin malam pengantin. Awas Tan... nanti kamu kena modus buaya, jaga jarak." Ayah merangkul Bunda seraya keluar dari kamar Anaknya itu.
*
*
Intan masih terdiam membisu, memikirkan caranya dia meminta ijin pada kakangnya adalah sesuatu yang pasti sulit.
Dia juga rasanya malas untuk bertemu.
"Sayang... "
"Aku takut, berurusan sama kakang. Gimana kalo dia nggak mau jadi wali aku?"
"Banyak cara, kakang kamu pasti mau dan kita usahain sebisa kita!"
"Sekarang kita ke mata aku aja dulu, udah beres kita cari kakang kamu bersama-sama."
Intan masih diam, membayangkan nya saja sudah pasti sangat menyebalkan apalagi bertemu dan berhadapan langsung.
Bintang merangku pinggang kecil itu agar mendekati nya.
"Tenang ... harus selalu saling menguatkan bukan malah kabur meninggalkan, malah bikin runyam."
Intan tertawa merasa tersindir, "kabur lagi ah,"
"Sok aja, kamu dateng aku udah jadi gundukan tanah... "
"Mas ... "
"Kamu yang duluan,"
"Tan, maafin semua kesalahan aku ya? aku yang egois, yang seenaknya, yang kurang ajar, dan yang bermulut kasar," tangan Bintang menekan Kepala Intan agar mendekat.
"Jangan ketinggalan yang mesum,"
"Eh, aku nggak minta maaf soal itu. Itu berguna pasti nanti kamu ketagihan dan sangat berterimakasih dengan sifat aku yang itu,"
"Kiss aku lagi, sayang... "
"Ada Bunda nanti,"
"Sekali doang, buat ucapan selamat tidur. Aku udah ngantuk soalnya," rengeknya.
Intan pun menurutinya.
"Cup.. "
"Lamaan dikit napa, kek angin doang itu mah," Bintang kembali menarik kepala Intan menekan tengkuknya. Menye*sap nya kuat dan penuh rasa yang menggebu.
Semakin kuat dan liar hingga nafas mereka semakin terengah dan tentu saja pyton yang menjelma menjadi kobra siap menyemburkan bisa nya yang akan membuat bengkak sembilan bulan lebih.
Bersambung ❤❤
Like...
komen...
favoritnya...
Pokoknya komennya wajib 😁😁😘😘
Sehat dan bahagia selalu, sebelum puasa pengen udah nggak ada adegan yang bikin batal🤣🤣🤣 kalopun belum tamat, tapi semoga udah tamat😁😁
__ADS_1
Makasih yang dah ngasih vote dan hadiah aku terhura 😢😢🤧🤧, padahal like sama komen aja udah alhamdulillah banget 🥰🥰 berkah ya😘😘