
...🦋🦋🦋🦋...
Intan keluar dari kamar saat mendengar suara percakapan, ternyata Ayah Bintang yang tengah berbicara dengan seorang dokter paruh baya.
Intan melewati nya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya , kedua lelaki paruh baya itu hanya mengangguk.
Gadis itu menuruni tangga menuju dapur, terlihat Bunda sedang duduk di meja makan menghadap Mbok yang sedang meracik sayur-sayuran untuk menu besok.
"Bun... "
Wanita paruh baya itu langsung menoleh dan tersenyum.
"Ada, dokter?" tanya Intan.
"Iya, tadi Bunda tlp Ayah. Lagian setiap 3 hari sekali dokter chek keadaan Bintang. Kesel Bunda sama sifat keras nya dia, yang nggak mau di bawa ke rumah sakit, awal2nya Bunda sama Ayah nekat sampe bawain ambulance eh dia malah ngamuk-ngamuk malah ngancem mau kabur. Kabur kemana coba paling sampe teras udah pingsan," ujarnya meluapkan kekesalan.
"Bintang punya trauma sama rumah sakit, kamu tau nggak?"
Intan mengerutkan keningnya lalu menggeleng.
"Serius nggak tau?"
Gadis itu mengangguk menunggu penjelasan.
"Dulu perempuan yang dia sukai pernah masuk rumah sakit percobaan bunuh diri, dan meninggal di rumah sakit,"
Deg...
Intan merasa dejavu dengan cerita itu, dia juga hampir mengalami itu.
"Terus waktu adiknya lahiran Helen, dia pingsan di rumah sakit. Makanya Bunda salut pas dia bilang lagi nunggu kamu di rumah sakit. Bunda tanya dia cuma bilang doain kamu aja biar bisa cepet keluar," terangnya.
Kamu maksain diri, Mas. Nungguin aku di rumah sakit, mengenyampingkan rasa trauma kamu. Gumamnya dalam hati.
Terdengar langkah kaki Ayah mendekat.
"Gimana, Yah?"
"Udah bagus darahnya, kalo asam lambung kan emang susah, pasti bakal ada kambuhnya. Tinggal mata aja harus ke rumah sakit dokter bilang antara saraf rusak atau kejepit jadi penanganannya antara operasi atau cukup di laser. Tapi budak itu keras kepala banget, semoga Intan bisa bujuk secepatnya." Ayah ikut duduk di sebelah istrinya.
Intan yang merasa canggung langsung pamit dengan alasan akan melihat keadaan Bintang.
Sayup-sayup dia mendengar obrolan romantis pasangan suami istri itu.
*
*
Saat sampai di depan pintu kamar Bintang, dia mendengar lelaki itu berbicara di ponselnya.
"Ya, jangan lu bilang semua dari gue. Bilang aja dari lu, kalo tau dari gue takutnya dia gimana-gimana."
"... "
"Ya, udah Terima aja transferan dari dia. Buat jajan lu," Terdengar Bintang terkikik geli.
Intan merapatkan tubuhnya.
"Pokoknya jangan sampai Intan tau biaya rumah sakit sama modal dagang nya dari gue,"
"... "
"Ok, thanks ya Cal... "
Panggilan pun selesai.
Intan menangis di ambang pintu, semua dugaannya selama ini salah, Bintang adalah pahlawan sesungguhnya. Kenapa lelaki itu tidak jujur saja, Intan merasa kesal sekaligus malu.
Dia bukannya masuk ke dalam kamar Bintang tapi malah semakin terisak dan masuk ke dalam kamar Mentari yang dia tempati.
Bintang yang samar-samar mendengar isak tangis itu seketika meremang, dia tidak tau jika Intan mendengar semua yang dia katakan barusan pada sambungan telepon dengan ical.
__ADS_1
Lelaki itu terdiam, dia sudah tau jika Indah adalah Intan sejak awal perempuan itu datang. Dari wanginya, dari sentuhan tangan kecilnya, dari ucapannya yang judes dan sinis, walaupun memakai masker tapi dia tetap hafal intonasi itu. Apalagi tadi pagi dia berkata bahwa dirinya aki-aki dan tidak suka bau minyak gosok. Di tambah lagi Intan memanggilnya dengan kata 'Mas' yang begitu khas. Tentu Bintang menyadari itu semua.
Namun dia mengikuti segala permainan yang Bunda dan Intan lakukan, dia sudah tau itu pasti ulah Bunda nya.
Lelaki itu terdiam, bagaimana dia mengungkapkan itu semua pada Intan. Sekarang gadis kesayangannya itu sudah tau semua.
Sebuah ide muncul, lalu suaranya memanggil Intan.
Tak lama Bunda datang, "kenapa kak?" tanyanya.
"Indah mana Bun?"
"Mau apa?"
"Badan aku pegel semua, pengen di pijitin!" ujarnya beralasan.
Bunda mengangguk mengerti, "sebentar, sepertinya di kamar nya, "
*
*
Intan yang sedang menangisi kebodohannya terkejut setelah mendengar sebuah ketukan pintu.
Dia menghampiri pintu sambil merapikan wajah nya yang basah dengan air mata.
"Iya, Bun?"
"Lagi apa? tidur?" tanya Bunda saat melihat wajah sembab Intan.
"Enggak, bun. Lagi baca novel online sedih banget, " bohongnya.
Bunda mengangguk percaya, "Bintang nyariin, terus Bunda titip sebentar ya, ada kerabat Ayah meninggal bunda mau melayat dulu." pamitnya.
Intan mengangguk mereka terpisah Bunda menuruni tangga dan Intan masuk ke kamar Bintang.
"Iya, Pak?"
Intan langsung duduk di sisian ranjang dan mulai memijat, "mau pake kayu putih?"
"Nggak usah," tolak nya.
Intan kembali melanjutkan aktivitas itu.
Intan sekuat tenaga menahan air mata yang siap mengalir, dia tidak mau Bintang curiga.
"Kamu tau nggak dulu saya orang yang paling leha-leha dalam segala hal?"
Intan diam tak menjawab.
"Hingga seseorang mencambuk saya untuk berubah, membuat saya memandang masa depan dari sudut yang berbeda. Tapi setelah saya merasa berhasil, dia malah seakan menjauhi saya."
"Mungkin memang saya tidak baik, nggak apa-apa asal dia bahagia di sana. Saya udah cukup bahagia, apalagi keadaan saya yang kayak gini, saya nggak mau dia kasian. Saya butuh cinta bukan rasa iba!"
Tangisan Intan pun pecah, dia melepaskan pegangan nya pada kaki Bintang, dia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ndah? kamu kenapa?"
Intan tak menjawab dia masih menangisi keadaan ini.
"Intan... " akhirnya Bintang tak tahan untuk segera membongkar semua.
Intan mematung dan langsung menoleh ke arah Bintang.
"Aku, tau itu kamu sejak awal. Dari wangi kamu, dari tangan kecil kamu, dari kamu yang nggak suka bau minyak gosok yang seperti aki-aki, dan saat tadi kamu manggil aku 'Mas' semakin menjelaskan itu kamu,"
" Give me a hug!" Bintang merentangkan tangannya.
Tangis Intan semakin keras lalu menabrakan tubuhnya pada pelukan Bintang.
Bintang langsung memeluknya erat mencium puncak kepala Intan bertubi-tubi.
__ADS_1
"Cinta... membawa kamu ke sini," ucapnya lirih.
Intan menggerakan kepala nya. Lalu mendongak menatap wajah Bintang.
"Hutang yang membawa aku ke sini,"
Bintang terkikik geli, "Hutang pembawa cinta." tambahnya lagi.
Bintang mengeratkan pelukan nya. Pelukan yang begitu dia rindukan beberapa bulan ini.
"I love you , Tan!"
"I love you to,"
"Kamu masih mau sama aku dalam keadaan gini?"
"Nggak!" Intan menjawab spontan.
Bintang mengusap wajah Intan, "udah aku duga, kamu nggak akan mau sama pria yang nggak bisa li ... "
Cup...
Intan memotong ucapan Bintang dengan sebuah kecupan.
Bintang mematung , kaget dan senang bercampur menjadi satu, hatinya terasa membuncah bahagia seolah berbagai macam kembang api meletup di dada nya.
"Iya, aku nggak mau kalo nikah sama orang yang nggak bisa liat. Nanti malam pengantin nya gimana?" ucapnya dengan manja.
Bintang menangkup pipi itu, lalu mengecupnya dengan rasa yang begitu kuat.
"Kamu mau nikah sama aku?"
"Mau, tapi setelah Mas berobat dan bisa liat,"
Bintang kembali mengecupi dan melu*mat bibir Intan.
Kecupan itu saling berbalas, Intan sedikit demi sedikit mulai bisa membalasnya.
Tangan Bintang menarik tubuh Intan hingga wanita itu ikut berbaring di sebelah nya.
"Nanti ada Bunda!"
"Nggak, Bunda lagi ngelayat kerabat Ayah." Bintang sesaat melepaskan tautan bibir itu, lalu kembali mema*gut nya.
"Yuk, kita nikah. Aku nggak kuat," Bintang merengek seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.
"Nggak, nanti malem pengantin nya gimana?" Intan menekankan ucapannya.
"Kamu ngeraguin aku? mau coba sekarang? nih pyton aku nggak akan mungkin nyasar masuk rumah nya,"
"Ya ampun, kamu kalo ngomong!" Intan mencubit gemas pinggang Bintang.
"Kiss aku lagi, Tan... besok janji aku kau ke rumah sakit, asal kamu nggak akan tinggalin aku lagi apapun masalah yang akan kita hadapin ke depannya.... "
Lalu bibir itu kembali saling menempel, meng*isap dengan lidah yang saling membelit di dalam sana,'
Bersambung ❤❤❤
Like...
komen. ...
Favoritnya...
Gimana??? yang mau otw halal siapa? like sama komennya dong🤧🤧🤧
Makasih banyak semua yang masih setia, maaf belum bisa nyuguhin cerita yang apik🙏
Masih belajar 😘😘😘
Sehat dan bahagia selalu, komen belum di bales ya. Bocil lagi PTS dan seperti biasa Mak nya yang heboh 😁😁😁
__ADS_1