
...❤❤❤❤❤...
"Ma-maaf, sayang. Aku nggak tahan , biarin ya kita kan emang otw halal. Lagian aku kan emang serius sama kamu, jadi kamu jangan mikir aku gimana-gimana," katanya sambil beringsut bangun setelah sebelumnya mengecup kening Intan.
Intan hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa .
Yang jelas ini pengalaman pertamanya, mendapati seorang lelaki mencapai pele*san saat sedang bersamanya.
Intan bangun saat Bintang sudah berdiri.
Dia melihat jelas celana boxer berbahan katun itu basah bagian depannya, tentu dia tau itu apa.
Intan menunduk menatap bagian paha nya yang memang ikut basah karena rembesan dari celana milik calon suaminya itu.
"Aduh, ampe rembes ke kaki kamu ya?" Bintang terkekeh geli saat Intan meringis melap kaki nya dengan telapak tangannya.
Bintang berjalan ke arah kamar untuk mengganti celananya, dan Intan juga masuk ke dalam kamar Mentari. Saat berjalan menuju kamar mandi, dia iseng mencium tangan nya yang lengket sekaligus licin secara bersamaan.
"Iyuhhh ... bau pemutih baju," gumamnya bergidik lalu masuk ke kamar mandi.
*
*
Aktivis malam pun di lewati mereka dengan malu-malu.
Bintang yang malu karena dia tidak bisa menahan si pyton, sekaligus malu karena si pyton bisa muntah dengan hanya dengan cara yang begitu mudah dan cepat lagi.
Lelaki itu takut Intan berpikir bahwa dia tidak perka*sa. Padahal Intan sama sekali tidak memikirkan itu.
Beda hal nya dengan Bintang, Intan malah takut saat mereka harus melakukan dengan sebenar-benarnya. Pasti sakit dan dia tidak bisa membayangkan sesuatu yang asing juga keras itu akan memasukinya.
Mereka menyantap mie instan dalam diam, sesudahnya mereka menonton TV dengan jarak duduk yang renggang.
"Besok berangkat jam berapa?" Intan bertanya untuk memecah kecanggungan.
"Pagi aja. Biar sore kita udah nyampe sini lagi," jawabnya.
Intan menoleh, "kok kesini lagi? bukannya pulang ke rumah Bunda! aku takut kalo ... "
"Gladiresik, Tan ... " Bintang memotong perkataan Intan.
"Nggak ah, kalo nggak ke rumah Bunda, aku minta anterin ke rumah Pak Dafa aja, kangen Helen." Pintanya.
Bintang hanya mengangguk pasrah.
"Ya udah, istirahat sana. Biar pagi kita berangkat dengan badan yang seger, " titahnya.
Intan mengangguk, "Eh. Mas, mau di salepin lagi luka nya?" tanyanya.
Bintang menggeleng. "Nggak usah, udah enakan kok!"
Intan pun masuk ke kamar dan menutup pintu.
Bintang langsung mengambil ponselnya, lalu membuat iklan di situs jual beli mobil.
Saat selesai membuat iklan jual mobilnya, dia pun masuk ke kamar Helen.
Hujan deras di luar membuat suara angin dan petir saling menyambar. Intan yang memang penakut langsung keluar kamar. Dan terduduk di sofa depan TV. Saat akan menyalakan TV, suara petir menggelegar di luar sana. Intan terlonjak kaget dan masuk ke kamar yang di tiduri Bintang.
Melihat wajah tenang Bintang yang tertidur, membuat nya tersenyum.
Intan memilih tidur di karpet tebal yang berada di pinggir tempat tidur yang tidak terlalu tinggi itu.
*
*
Pagi menyapa
__ADS_1
Matahari sudah masuk ke celah-celah jendela, suara bising kendaraan sudah terdengar di bawah sana.
Intan menggerakan tubuhnya yang terasa berat.
Saat tersadar Dia sudah berada di atas tempat tidur dengan Bintang yang memeluknya erat.
Dia menoleh menatap wajah bantal Bintang.
Mengusap luka-luka yang di sebabkan oleh perjuangan nya mendapatkan restu dari kakang nya.
"Kiss dong, jangan di usap doang." Suara Bintang mengagetkan nya.
Intan malu dan menelusup kan kepalanya di dada Bintang.
Lelaki itu hanya tertawa gemas, sambil mengecup puncak kepala Intan dan memeluknya semakin erat.
Intan yang takut kejadian malam akan terulang langsung beringsut bangun, dengan dalih akan bersiap.
"Kiss dulu Tan... morning kiss biar semangat," rengeknya meminta Intan untuk menurutinya.
Namun tak berhasil perempuan calon istri nya itu melenggang keluar dari kamar.
*
*
Bintang bangun dan berjalan ke arah dapur sudah ada dua cangkir kopi dan dua porsi mie goreng di atas meja.
"Tan ... "
Tidak ada jawaban, bintang pun duduk di sofa depan TV.
Intan keluar kamar sudah rapi dan wangi.
"Ish, katanya mau pergi pagi? belum mandi?" gerutunya.
Bintang yang menyandarkan kepalanya mendongak menatap Intan yang sudah sangat segar dan cantik.
Intan yang sedang mengenakan jam tangan mendekat dan menarik wajah Bintang semakin mendongak.
Cupp...
Intan pun mengecup kening Bintang selintas.
"Buruan mandi, aku tunggu sarapan." Intan berjalan ke arah meja makan kecil tak jauh dari sofa.
Bintang berjalan lunglai masuk ke dalam kamar.
...~~~~...
Tidak sampai sepuluh menit dia sudah kelyar kamar dengan tshirt polo dan jaket yang dia tenteng.
Intan yang tengah meminum kopi nya kaget saat Bintang tiba dan langsung mengecup puncak kepala nya.
"Buruan,"
"Iya, sabar. Mau ketemu siapa sih? rusuh amat!"
"Mau pamit sama, Bang Edo!"
Bintang yang tengah meminum kopinya langsung tersedak, "apa? kamu bilang apa? nggak, kalo buat ketemu si Edo, aku nggak ijinin. Kamu itu calon istri aku, jadi harus nurut!" omel nya panjang lebar.
Intan hanya menatapnya bengong, "apa sih? ribet banget, lagian Bang Edo nggak ada lagi di Sulawesi, aku cuma mau ke kantor karena dia punya hadiah buat aku. Di suruh ngambil di resepsionis," ucapnya kesal.
Lelaki itu terus memanyunkan bibir nya, makan pun dia tidak bersuara, dia benar-benar marah dan cemburu.
Hampir dua jam lebih perjalanan, mereka habiskan dengan berdiam diri. Intan serius dengan ponsel nya. Melihat berbagai resep menu yang sedang hits di utube.
Saat sedang serius menonton, sebuah panggilan masuk di ponselnya.
__ADS_1
Bintang yang kepo maksimal, memasang kuping nya ingin tau siapa yang menelpon gadis miliknya itu.
"Iya, Bang ... "
"... "
"Masih di jalan,"
"... "
"Emang apa sih kadonya? harus banget aku pake?"
Intan sedikit menoleh ke arah Bintang yang sedang memberengut dengan wajah angker nya.
"Oh, iya aku nggak janji tapi ya. Cuma pasti aku pake cuma nggak tau kapan," ujarnya.
Saat panggilan selesai, Bintang memberhentikan laju mobilnya.
"Kok, berhenti?" Intan merasa heran pasalnya ini baru keluar pintu tol. Belum sampai tempat tujuan mereka.
Bintang memukul kemudi, lalu menatap nya nyalang.
"Kamu tau kan kita mau nikah? ngapain masih ngerespon laki-laki lain?" gertak nya.
"Siapa? maksudnya Bang Edo? dia udah aku anggap kakak sendiri!"
Bintang tertawa sinis, "denger ya! ok aku percaya kalo kamu nganggep dia seperti kakak. Tapi kamu tau nggak kalo laki-laki nggak bisa berhubungan seperti itu, dia pasti punya rasa lebih sama kamu!" gerutunya.
"Perempuan bisa berteman dengan lelaki tanpa ada rasa, tapi kalo laki-laki berteman itu pasti pake rasa. Ngerti nggak kamu?" Bintang terengah saat bicara seperti itu, dia harus sedikit keras agar Intan mengerti dan Bintang juga mengamankan hatinya agar aman dan merasa tenang dengan Intan yang mengerti posisinya seperti apa.
Intan terdiam, merasa sakit sekaligus merasa bersalah.
"Terus aku harus gimana?"
"Jangan meladeni lelaki lain, kamu calon perempuan bersuami," Bintang melembutkan nada suaranya.
"Tapi kan belum ... "
"Minggu depan kita nikah, aku udah ngiklanin mobil. Nanti sore kita ketemuan di apartemen buat nego harga. Jadi kita nggak akan lama di Jakarta. Langsung pulang lagi," kemudian Bintang kembali mengemudikan mobilnya.
Intan hanya diam mencerna semua perkataan Bintang. Dia berpikir bisakah hidupnya yang biasa bebas dalam waktu dekat akan ada yang mengatur.
"Tan ... " Bintang memanggilnya.
Intan menoleh, "Jangan merasa aku kekang, aku akan bebasin kamu dalam segala hal kecuali interaksi dengan laki-laki," ujarnya.
Intan mengangguk, dia memang sedikit sulit jika berinteraksi dengan laki-laki. Merasa canggung dan malu, "Jadi aku boleh nerusin usaha seblak?" tanyanya antusias.
"Kenapa kota nggak kolaborasi aja sih?" Bintang mengusulkan sebuah ide.
Intan terlihat mengangguk senang, setuju dengan usulan Bintang.
"Ok, fix kita akan perlebar usaha. Bukan hanya di mie kekinian sama nasi telor negro, kita tambah menu seblak. Nanti anak-anak kamu training buat bikin menu sesuai resep kamu!" Bintang berkata.
Intan memeluk lengan Bintang.
"Aku mau, makasih udah ngijinin aku kerja ya! jadi aku nggak akan jenuh."
Bintang menarik kepala Intan agar mendongak menatapnya.
"Kiss aku buat hadiah," pintanya sambil memonyongkan bibir.
Bersambung ❤❤
Like
komen
favoritnya
__ADS_1
Kasih tau kalo ini cerita udah mulai membosankan, atau feel nya nggak dapet 🤣🤣. Si tang emang nggak se sempurna laki halu di karya ceo sebelah, karena emang nggak akan ada yang sempurna benerrr nggak 🤣🤣 aku suka cerita yg lebih real 🤣🤣 . Tidak membodohi publik kasian nggak sih orang yang single baca tentang ceo yang bucin penguasa punya segalanya, ntar dia pengen suaminya kek gitu nyari di mana coba 🤣🤣🤣