Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Penyamaran


__ADS_3

...--oOo--...


Flashback.


Bintang menjalankan aksi bunuh diri. Saat dia belum juga mendapat kejelasan di mana sang istri.


Dia memakan mie dower dua bungkus, hingga di temukan lemas di pintu kamar mandi oleh Abangnya.


"Dasar kayak anak SMP putus cinta, bisa mikir nggak sih? ampe di rawat di rumah sakit!" Langit terus mengomeli adik ke duanya itu. Bintang yang sedang di infus karena kekurangan cairan malah diam seribu bahasa, setelah mengirimkan pesan bernada ancaman pada Intan. Masih belum ada respon dari istrinya itu. Masih tetap centang abu2.


"Sial ... " geramnya kesal.


Langit yang berada tak jauh dari sofa langsung melemparkan tatapan matanya pada sang adik.


"Ngapain sih makan yang pedes, kamu saos cabe aja langsung setor dua kali. Ini sok makan mie dower." Langit meneruskan omelannya.


"Mau ngapain lu? bikin vlog makanan, yang lu videoin, kek mukbang?"


Bintang menatap kakaknya. " Kok, lu tau, Bang?"


Langit berdecak, "umur lu aja yang tua, otaknya SMP."


"Masa? SMP bayangan gue ngadon mulu?"


"SMP bandot, Lu, mah!" cibir Langit.


Bintang terdiam, masih meringis mulas.


"Berapa kali lu ke air?" Tanya langit sembari mengetikkan pesan pada sang istri, kalau dia menunggui adiknya di rumah sakit.


"Ratusan!" Jawab Bintang asal.


"Kayak, iklan wafer!" Langit tertawa.


Bintang menoleh sesaat pada kakaknya.


"Masa iya, gue masuk kamar mandi harus ngitung gitu? satu, dua, tiga. Boro2 inget ngitung. Perasaan gue usus ikut turun saking seringnya duduk di closet," keluhnya.


Langit tertawa semakin menjadi. Adiknya ini memang luar biasa di saat sakit ataupun sedih. Masih tetap berusaha tegar. Contohnya saat kedai barunya terbakar. Setelah sebelumnya dia menampar Bintang yang meninggalkan istrinya di rumah sakit.


Keesokan paginya adiknya mengetikkan kata-kata yang membuatnya bingung. "Bang, kedai gue jadi api unggun!" isi pesan sang adik di waktu subuh.


Langit yang tidak paham langsung menghubungi adiknya, dan ternyata api unggun versi adiknya adalah kebakaran hebat. Dan sekarang saat adiknya stress mencari sang istri. Dia malah menjalankan aksi bunuh diri dengan memakan mie dower, yang baru satu suap pun. Perutnya langsung mencetak nomor antrian kamar mandi. Ini dia menghabiskan dua porsi dan mengirimkan videonya pada Intan.


Ingin tertawa di setiap musibah yang adiknya rasakan. Tapi memang absurd sekali memiliki adik seperti Bintang.


"Kenapa nggak lu sadap ponsel bini lu?"


"Nggak ada kerjaan,"


"Makan mie dower yang nggak ada kerjaan!" Gertak Langit.


"Adalah, kerjaan gue bulak balik ke kamar mandi!" Bintang menarik selimut nya menutupi seluruh tubuhnya.


Langit membiarkan Bintang untuk tertidur, namun saat dia merebahkan tubuhnya di sofa. Bintang memanggilnya.


"Bang ... Fotoin gue, buru. Keliatan infusnya. Yang mendramatisir ya. Mau gue kirim buat status." katanya antusias. Bintang memposisikan gaya tubuhnya menjadi sangat memprihatinkan.


Langit geli sendiri dengan sikap adiknya itu.


Flashback off


*


*

__ADS_1


Bukannya membawa sang istri pulang, malah sebuah surat berlogo Pengadilan Agama dia dapatkan saat pulang ke rumah.


Dan di situ dia menemukan alamat Intan.


Dia kesal, marah, dan sedih. Istrinya itu seolah menyepelekan rasa cintanya.


"Gue, makan juga, Lu!" geramnya sambil merema* kertas surat dari Pengadilan itu.


Bisa-bisanya dia yang sedang berjuang mencari istrinya, malah mendapatkan surat gugatan cerai.


Masuk ke mobilnya, Bintang mengemudikan mobilnya ke alamat yang tertera di surat itu.


Berhenti di sebuah rumah kecil yang terlihat penuh sesak oleh lautan hijau. Karena saking banyaknya motor dan driver yang berjaket hijau.


Tak terlalu jelas hanya melihat spanduk di atas sebuah roda. "Seblak Intan"


Sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya.


Bintang menjalankan kembali mobilnya dan berlalu pulang.


Bintang sedang duduk di depan mobilnya. Saat sebuah ojol melewati nya. Dia langsung menghadang.


"Maaf, Pak."


"A-ada a-apa?" jawab lelaki yang sepertinya seumuran dengannya itu terbata.


"Maaf, jangan takut saya bukan begal. Saya orang baik, asli." Bintang mencoba menenangkan si ojol yang seolah tergugup ketakutan.


"I-iya Sa-saya ta-tau, ma-masa o-orang ka-kaya ma-mau be-begal mo-motor bu-butut i-ini." katanya yang memang suaranya terbata.


Bintang bengong seperkian detik. "Buset, ternyata emang gagap bukan karena takut!" batinnya .


"Ma-mau a-apa Pak?" tanyanya membuyarkan Bintang.


Bintang langsung tersadar, dan teringat misi awalnya.


"Sa-saya A-aziz gu-gup,"


Bintang mengangguk mengulurkan tangannya. "Saya Bintang," mereka pun berjabat tangan.


Setelah menerangkan semua niat dan idenya. Bintang menanyakan apa mau atau tidak lelaki bernama azis itu, untuk meminjamkan motor dan jaket almamater ojolnya selama dua jam setiap harinya sampai misi terselesaikan.


Misi apa? tentu saja misi membawa pulang istrinya.


"Gimana Mas? mau? dua ratus ribu ini!"


"Lebihin dikit lah, buat beli cream pemutih buat istri saya." katanya bernegosiasi.


"Berapa?" Bintang balik bertanya.


"220 Lah, buat beli minuman selama dua jam!" usul Aziz Gagap itu.


"Deal, saya kasih 250 sekalian buat nasi Padang," Bintang langsung merogoh dompetnya. Mengeluarkan lembaran uang sebesar yang sudah di sepakati.


"Mulai sekarang?" tanya Aziz.


Bintang mengangguk. "Jaketnya, Mas." Bintang mengulurkan tangannya.


Aziz pun membuka jaketnya dan memberikannya pada Bintang. "Agak sedikit bau, Pak. Udah seminggu belum di cuci!" katanya menyeringai.


Bintang langsung menahan nafas saat mencium aroma dari jaket yang baru dia kenakan melapisi kemeja abu-abu nya.


"Nggak apa-apa, Mas. Biar tambah meyakinkan." timpal Bintang.


*

__ADS_1


*


Memberhentikan motor bebek itu tepat di depan rumah yang sedang di tinggali istrinya.


Terlihat wanita yang sebulan ini dia cari sedang membereskan etalase kecil yang di simpan di teras rumah itu.


"Mba. Seblak nya satu," ucapan seorang pria yang memakai jaket ojol.


"Maaf, udah tutup Mas." Jawab Intan ramah sambil membereskan alat-alat dagangan nya.


"Apa ajalah, yang ada." Keukeuh lelaki itu.


Intan yang merasa kesal langsung menatap nya.


"Udah abis, saya mau tutup. Mas," ucapnya kesal


Bintang tak mengindahkan malah duduk di kursi kayu panjang di dekat etalase.


Intan yang terlihat judes pun membiarkan ojol dengan topi, kacamata, dan masker itu duduk.


"Mba, saya lapar."


"Iya, Mas. Tapi saya udah tutup. Dan saya capek!" Intan sambil berlalu membawa dua wajan kotor masuk ke dalam rumah.


Bintang mendengus kesal, rasanya ia ingin mengejar Intan masuk ke dalam dan mengunci pintu itu. Dan mulai menjalankan rencana siksa menyiksa istrinya yang sungguh membuat ubun-ubun nya mendidih.


"Ada kopi, Mau?" tawar Intan menunjuk beberapa gantung kopi sachet berbagai macam merek.


"Boleh, berapa Mba?"


"Apanya?" Intan balik bertanya sambil mengambil gelas plastik.


"Harga kopinya,"


"Gratis, ini memang saya sediain buat ojol yang ngantri biar nyantai."


Bintang diam, hanya satu yang tidak berubah dari wanita di depannya. Selalu baik dan memikirkan orang lain. Kecuali dirinya, tentunya. Satu-satunya orang yang malah di jauhi Intan padahal dia sedang terpuruk nyungsep.


"Ini, Mas!" Intan memberikan gelas plastik pada Bintang.


Belum sempurna tangan Bintang menerima gelas kopi itu, Intan sudah melepaskan nya.


"Awww ... Aduh. Panas ... Panas ... " Bintang berjingkrak karena kopi panas itu menumpahi bagain penting tubuhnya.


Intan yang panik reflek mengusap bagian penting itu. "Maaf, maaf. Ya ampun, aku nggak sengaja." Intan masih terus mengusap bagian basah itu.


Bintang hanya terpaku diam saat pyton nya lama kelamaan menggeliat.


Intan yang sedikit memposisikan tubuhnya tertunduk, terus mengusap bagian berbahaya itu dengan tisu. Intan baru tersadar saat bagian itu tiba-tiba mengembung.


Langsung menegakan tubuhnya wajahnya memerah dan sangat malu. "Maaf," ucapnya menunduk tak mampu melihat ke arah wajah driver ojol di depannya. Lalu tak butuh waktu lama dia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Takut, malu menjadi satu.


Bintang hanya mematung di teras rumah itu. Tersenyum menunduk melihat sang pyton. "Sabar, ntar kita siksa dia bareng-bareng!" lalu dia membalikan tubuhnya. "Makasih kopinya!" menaiki motor dan berlalu ke ujung jalan di mana si ojol asli menunggu di dalam mobilnya.


Intan memejamkan matanya sambil menutup wajahnya dengan bantal. "Gilaa... kenapa bisa sampe terjadi seperti itu, mana bangun lagi. Ya Tuhan ... mungkin ini karma dari kamu, Ang. Nggak kebayang kalo kamu tau, aku megang pyton laki-laki lain!" Intan malah bergidik takut.


Bersambung ❀❀


Aku masih tunggu kalian di rumah sebelah.


"Lelaki terbaik" napennya Siti Sartika 🀭🀭πŸ’ͺ


Yang udah mampir makasih, lope2 pokoknya πŸ₯°πŸ₯°


Sayang kalian semua😘😘😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia buat semua 😘😘


__ADS_2