Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
dulu dan sekarang


__ADS_3

...---oOo---...


Flashback..


Sebulan yang lalu.


"Saya di mana?" Adit bertanya saat dia baru terbangun dan mendapati dirinya berada di tempat asing.


"Bapak ada di rumah sakit, sudah dua hari bapak tidak sadar," ucap seorang suster yang baru mengganti selang infus.


Adit meringis memegangi perutnya. Mencoba mengingat hal terakhir yang dia ingat. Dia sedang minum-minum bersama teman-teman nya dan tiba-tiba dada dan perutnya terasa panas seolah terbakar dan dia berguling sampai tak sadarkan diri.


"Sebentar pak, saya panggilkan dokter nya dulu!" Si suster berjalan ke luar dari ruangan berisikan empat pasien itu.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter bahwa dirinya mengalami kerusakan organ-organ vital dalam tubuhnya karena efek dari minuman yang sudah dia konsumsi hampir lima tahun terakhir.


Dokter pun tidak bisa berbuat banyak apalagi, infus dan suntikan pun sudah tidak bereaksi pada tubuhnya. Kini dia hanya bisa pasrah dengan memakan beberapa obat penahan rasa sakit.


Adit keluar dari rumah sakit setelah meminjam uang pada seorang temannya, tanpa menghubungi sang adik.


Saat dirinya akan menemui teman-temannya, pertemuan dengan sang adik membuat nya bahagia. Apalagi saat adiknya itu mengatakan akan menikah. Entahlah, dia merasa lega jika adiknya tidak akan sendiri saat dia harus meninggalkan nya kelak.


Sebuah ide muncul di kepalanya, dia meminta uang pelangkah dua ratus juta. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi akan dia belikan sesuatu yang akan menjadi kenangan untuk adiknya itu.


*


*


Malam itu, adiknya menghubungi nya. Mengatakan jika uangnya sudah ada. Dan dia semakin yakin dengan lelaki yang akan mempersunting adiknya itu. Dia akan rela berkorban dan menjaga adiknya.


Saat menerima uang itu, adiknya pun mencurigai keadaannya yang memang terasa lemas dan tidak bertenaga.


Hingga saat masuk mobil yang di pinjamnya dari seorang teman, dia melajukan dengan cepat mencari tempat sepi untuk memarkirkan mobil. Dia merebahkan tubuh lemahnya hingga hampir tengah malam. Hingga saat adiknya mengirimkan sebuah pesan bahwa pernikahan itu akan di laksanakan seminggu kemudian.


Adit terdiam, merasa takut tidak akan bisa bertahan selama itu.


Keesokan harinya dia pergi ke suatu tempat, menemui seseorang yang di kenal sebagai penghulu dan orang yang di tuakan di daerah itu. Setelah berkonsultasi sedikit, dan memberi penjelasan tentang keadaannya.


Dan sebuah keputusan pun Adit ambil, dia harus menjadi wali nikah adiknya, dia harus memberi kesan untuk adiknya.


Adit berhenti di sebuah rumah kecil, seorang pria menyambut nya. Adit melihat-lihat dan sebuah kesepakatan dia lakukan dengan pria itu.


Sebuah kunci rumah minimalis di daerah pinggiran kota Bandung dia beli untuk adiknya, dari uang yang dulu dia minta dari Bintang sebagai uang pelangkah.


Untuk apa? dia takut kejadian yang menimpa dirinya dan sang Ibu dulu akan adiknya rasakan. Setidaknya dengan rumah mungil ini adiknya punya tempat pelarian , dia tidak akan kepanasan dan kehujanan jika suatu hari dirinya tersakiti.


Ya, hanya itu yang bisa dia persiapkan untuk sang adik.


Kunci rumah mungil itu sudah dia pegang, rumah di perumahan kecil itu sangat pas untuk adiknya yang simple.


Saat di lampu merah pandangan nya tertuju pada sebuah toko baju. Yang memajang sebuah manekin dengan gamis putih bercorak bunga kecil berwarna merah muda.


"Kang, Neng nggak pernah minta sesuatu sama Akang. Buat sekali ini aja, Neng pengen gamis putih yang di pasar tadi neng liat. Cantik banget kang," masih terngiang jelas di telinganya saat adiknya merengek ingin sebuah gamis di bulan puasa. Jangankan untuk sebuah baju, dia hanya memegang uang yang hanya cukup untuk membeli satu liter beras dan dua buah mie instan untuk ibu dan adiknya itu.


Saat itulah dia merasa hatinya hancur, dan sakit hati ke dua selain rasa sakit saat di usir dari rumah peninggalan Ayah mereka.


Adit menghentikan mobil yang dia kemudikan di sebuah toko pakaian.

__ADS_1


Dia memilih baju yang sekiranya cocok dengan adiknya.


Satu buah gamis putih dengan sebuah selendang menjadi pilihan nya sebagai kado pernikahan adiknya itu.


Lalu sebuah pesan dia kirimkan pada sang adik beserta alamat di mana mereka akan bertamu dan melakukan tugasnya sebagai wali nikah untuk sang adik.


"Kuat, Lu harus kuat dit demi tugas terakhir," ucapnya pada diri sendiri seolah ingin memberi kekuatan.


Flashback off...


...~...


Intan dan Bintang sampai di rumah besar itu hampir jam sepuluh malam, terlihat sudah sepi hanya mang Asep yang sedang mengopi di taman dengan sarung kesayangannya.


"Malem Mang, ngopi sendiri aja." Bintang menyapa saat turun dari mobil.


"Iya atuh, den. Mau sama siapa?" jawabnya sambil matanya tak berkedip melihat Bintang yang menggandeng Intan masuk ke dalam rumah.


"Si Aden, nyari masalah." gumamnya.


Bintang melongok melihat keadaan sekeliling rumah yang sudah sepi, sepertinya Bunda dan Ayah sudah tertidur di kamar.


"Udah pada tidur?" Intan berbisik di sebelah suaminya itu.


Bintang mengangguk lalu menarik perempuan yang kini telah sah menjadi istri itu menaiki tangga menuju kamarnya.


Intan masuk ke dalam kamar yang bernuansa hitam abu.


"Akhirnya, aku nggak tidur sendiri!" Bintang sedikit berjingkrak sambil memeluk gemas Intan.


Bintang serasa memenangkan sebuah undian.


"Bareng,"


Intan berbalik, "Jangan, sekalian pengen pup!" tolak nya.


Lalu Intan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Gadis itu tertawa setelah berhasil mengelabui suaminya. Dia langsung memulai aktivitas membersihkan tubuhnya.


Tidak butuh waktu lama, Intan keluar kamar mandi hanya dengan selembar handuk.


"Bintang yang sedang membereskan tempat tidur menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


" Mas... "


"Iya, istriku sayang... Mau bobo? yuk udah bersih rapi," ucapnya menepuk tempat tidur nya. Matanya tak lepas dari pemandangan indah di depannya.


"Pengen minum," Intan melangkah dengan ragu.


Bintang mengangguk. "Siap, tuan putri." langsung dia berlari ke luar kamar.


Intan langsung berlari ke arah lemari, bintang dan menarik satu buah kaos milik suaminya dan dia kenakan. Tak lupa dia mengambil satu buah pembalut di dalam tas nya.


Setelah selesai dengan segala aktivitas, merasa aneh karena Bintang yang belum kembali juga.


Lalu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Merasa mimpi kini dirinya telah sah menjadi istri seorang Bintang yang sifatnya ruuuaarrr biasa.

__ADS_1


***


Di tempat berbeda


Bintang tengah mencari peralatan tempur di dapur dia tengah mendidih kan susu kaleng cap naga putih, madu dan telur ayam kampung tengah dia tuangkan ke dalam gelas.


"Siap, sayang... lihat suamimu ini akan melakukan pembuktian," gumamnya penuh semangat sambil menuangkan susu panas itu ke dalam gelas yang berisi kuning telur dan madu.


Dia minum dalam beberapa tegukan. Bintang mengernyit karena mulut nya terasa bau amis sekali.


Setelah berkumur-kumur dia berjalan ke arah tangga dengan gagahnya. Baru beberapa langkah menaiki anak tangga dua menepuk keningnya.


"Minum bini lupa, malah si pyton yang di kasih minum, " Bintang terkikik kembali ke dapur.


*


"Sayang ... " Bintang membuka pintu.


Pandangan nya seketika kecewa saat melihat Intan sudah bergelung di bawah selimut.


"Yang ... sayang, Intan sayang ... "


"Eumm ... ken malah tidur?"


"Ngantuk ... " Intan menjawab dengan suara lemas.


Bintang berdecak, " tapi ini malam pertama kita, aku pengen," Bintang mengusap kepala Intan.


"Aku, nggak bisa!"


"Kenapa?" Bintang mengerutkan keningnya.


"Lagi, datang bulan." Intan menjawab dengan suara semakin kecil.


Bintang langsung lemas, " kenapa nggak bilang? aku kan suami kamu!" Bintang sedikit kesal.


"Dua hari lalu kan kamu belum jadi suami!" lalu suara dengkuran halus terdengar, Intan telah terbang ke alam mimpi.


"Tapi, yang ... si pyton udah aku cekok vitamin. Tuh ... kekar sendiri dia, duh alamat solo karir padahal udah punya sarang, asemmm ... " Bintang menggerutu sambil ikut bergabung di bawah selimut bersama istrinya.


Bintang memeluk Intan dari belakang, sesekali dia menekankan miliknya. "Yang ... pengen, nggak kuat ... " namun nyatanya nihil tanpa hasil, Intan semakin lelap tertidur.


"Selamat bobo sayang ... " bisiknya, " selamat berjuang pyton semoga kamu bisa tidur sendiri tanpa harus capek dulu," ucapnya yang di tujukan untuk si pyton yang menggeliat di bawah sana.


Bersambung ❤❤


like


komen


Favoritnya


Maaf up nya telat, HP ku ngadat🤧🤧 belum ngerasain gaji di sini HP dah 2 yg jadi korban 😭. Intan yang nikah, lah hp ku yang hamidun🤣


kebanyakan di co*lok casan🤣🤣🤣


Kabor... 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2