
...--oOo--...
Pagi nya
Bunda dan Mentari datang baru saja tiba, mereka saling berpelukan memberi semangat dan kekuatan untuk Intan. Hanya sekira dua jam mereka ada di sana. Mentari pamit karena ada temu klien bisiknya, sedangkan Bunda di paksa pulang oleh Bintang yang melihat Bunda nya sedikit pucat dan suaranya serak.
Kini mereka pun kembali hanya berduaan.
Bintang merebahkan tubuhnya setelah melakukan panggilan telepon pada seseorang, yang jika mencuri dengar mereka membicarakan soal cabang yang akan di buka awal bulan ini.
"Ang ... " Panggilnya pelan.
Bintang yang memang terlihat lebih banyak diam, lalu memutar kepalanya menatap ke arah sang istri.
"Kita pulang kapan?" tanya Intan.
"Nanti sore, sekarang kamu istirahat aja!" jawabnya kembali merebahkan tubuh dengan melipat tangannya di atas kepala.
Intan diam mendengar nada bicara suaminya yang terdengar datar tak seperti biasa, hatinya semakin sakit. Berpikir apakah suaminya itu kecewa pada dirinya karena mereka kehilangan calon bayi mereka.
Air mata mengalir begitu saja dan isak tangisnya pun terdengar oleh Bintang.
Lelaki itu membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya yang sedang tidur menghadap jendela, memunggunginya.
Bintang mengusap wajahnya, lalu bangun dan mendekati ranjang tempat Intan terbaring.
"Kenapa?" tanyanya saat sudah berada di tepian ranjang itu.
Intan yang menutup wajahnya dengan selimut, sontak kaget karena dia sudah berusaha menyembunyikan wajah dan meredam suara isak tangisnya.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Intan menggeleng, lalu kembali menutupi wajahnya. Dia merasakan tangan Bintang mengelus kepalanya.
"Jangan nangis, ikhlasin. Belum rejeki kita," ucapnya dengan suara pelan.
Intan kembali menatap suaminya.
"Ang, pasti kecewa sama aku!"
"Nggak, mau aku marah-marah atau ngamuk juga nggak akan ngembaliin anak kita!" ucapnya.
Tatapan mata kecewa jelas terlihat, tapi seperti yang dia katakan penyesalan nggak akan merubah semua takdir yang sudah di gariskan untuk mereka.
"Udah, istirahat. Sore kota pulang, aku pengen tidur sebentar lambung ku kumat nih. Nggak enak, kepala jadi sakit!" Bintang menunduk dan mengecup singkat bergerak hendak kembali ke sofa yang ada di dekat pintu masuk.
"Ang..."
"Hmmm, apa?" tanyanya
"Tidurnya di sini, kan udah nggak kehalang selang infus!" Intan mengingat semalam suaminya sedikit kesulitan bergerak, karena takut mengenai jarum infus yang berada di tangannya.
Bintang terlihat menghela nafas, lalu mengangguk setelah istrinya sedikit menggeserkan tubuhnya.
Berbaring dengan sebuah pelukan erat dari istrinya, keadaannya yang sangat lelah namun tak bisa tertidur karena lambungnya semakin terasa pedih.
Dia kembali bangun, memegangi perutnya yang semakin terasa sakit.
Intan yang hampir tertidur kembali terbangun karena pergerakan Bintang yang tiba-tiba.
"Ang?"
"Aku ke apotek sebentar ya, mau cari obat. Aduh makin nggak enak!" Bintang meringis.
Intan mengangguk, lalu suaminya itu keluar dengan tangan terlihat menekan ulu hatinya.
__ADS_1
Wanita yang baru kehilangan calon bayinya itu memandang haru pada pintu yang sudah kembali tertutup. Dia hanya beranggapan bahwa hanya dirinya yang sakit, sedih dan juga hancur.
Namun sebenarnya suaminya juga merasakan hal yang sama. Bahkan sedari kemarin siang hanya sebuah coklat panas yang dia masukan kedalam perutnya. Kecemasan dan rasa sedih menguapkan rasa laparnya.
*
*
"Yuk!" Bintang mendorong sebuah kursi roda masuk ke dalam kamar rawat istrinya.
"Nggak mau pake itu!" tolak nya.
"Ya udah, aku gendong ampe mobil!"
"Nggak,"
"Nurut Yank, pilih salah satu!" ucapnya dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Intan pun akhirnya menyerah dan duduk di kursi roda yang di dorong langsung oleh sang suami.
Setelah masuk ke dalam mobil, Bintang menghela nafasnya dengan kencang. Seolah membuang sesuatu yang berat di dadanya.
Intan melihat dengan jelas apa yang di lakukan suaminya. Dadanya serasa di rem*as kuat.
"Maafin aku, Ang!" Intan berkata sambil menahan air matanya.
Bintang yang baru menyalakan mesin mobil menoleh ke arahnya.
"Shhhttt, cepet sehat aja. Fokus biar aku bisa cepet bikin kamu hamil lagi, inget janji aku dulu. Aku bakalan bikin kamu banyak anak." Bintang berusaha sekuat mungkin agar dirinya tak menampakan kesedihannya.
Intan yang akan menangis seketika membolakan matanya, mendengar kalimat yang meluncur dengan ringannya dari mulut suaminya.
"Ishh ... "
"Mau makan dulu?" tanyanya saat mereka semakin dekat dengan komplek rumah mereka.
Intan menilik tenda-tenda penjual makanan di pinggir jalan.
"Kamu, mau makan apa Ang?" tanyanya balik
"Aku, pengen bubur aja kayaknya masih nggak enak!" ujarnya.
Intan mengangguk, "aku juga deh. Anget di perut kayaknya!"
Bintang memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
"Tunggu, biar aku aja yang turun. Kita makan di sini!" Bintang langsung keluar dari mobil dan memasuki sebuah tenda yang ber spanduk gambar semangkuk bubur ayam.
Intan diam menyandarkan kepalanya. Tak lama ponsel suaminya berdering Intan meraih ponsel yang berada di dekat persneling.
Di layarnya tertera nama Dinda dengan foto profil wanita cantik dan modis.
Intan diam terpaku memandang layar ponsel itu. Hingga akhirnya panggilan pun berhenti.
Tak lama sebuah pesan masuk, di layar terlihat separuh tulisan.
"Besok ketemu dulu jam 9, sebelum aku ke bandara. Ada yang harus aku omongin soal kita."
Intan menyimpan ponsel itu dengan sedikit lemparan.
Pikiran buruk tentang suaminya yang mantan playboy, hilir mudik di kepalanya.
"Pantes, kamu seperti biasa aja. Ang!" gumamnya.
Sambil menatap Bintang yang mendekat dengan tangan memegang dua gelas teh dan di ikuti si penjual dengan nampan berisikan dua mangkuk bubur pesanan mereka.
__ADS_1
*
*
Bintang makan dengan tenang, sementara Intan hanya mengaduk-aduk buburnya tanpa berniat memakannya. Perutnya mendadak kenyang dengan membaca sebuah pesan ajakan seorang perempuan pada suaminya.
Dia pun tak berniat memberi tahu suaminya jika ada yang menghubungi. Rasanya tak ikhlas dan tak ingin suaminya itu menanggapi pesan ajakan wanita cantik itu.
"Yank, makan. Kok cuma di aduk aja?" Bintang meminum teh manis panasnya.
Intan tak menjawab, malah wajahnya semakin menekuk.
"Udah, aku nggak mau makan. Tiba-tiba mual, ngantuk!" jawabnya ketus.
Bintang menghela nafasnya, sedikit bingung dan kesal menjadi satu.
Bintang pun mengambil mangkuk yang istrinya sodorkan. Lalu dia keluar dari mobil, untuk mengembalikan mangkuk dan membayar bubur itu.
Intan menatap kesal suaminya, hingga sebuah notif pesan lagi-lagi terdengar.
"Aku hamil dan melahirkan anak kamu, tapi kamu nggak ada tanggung jawab sama sekali. Please temuin aku besok di Bandara."
Intan seolah menjadi patung saat mendapatkan pesan itu, dia langsung menyimpan no wanita bernama Dinda itu. Lalu dia menghapus pesan masuk itu.
Dia sudah bertekad untuk bertemu dengan wanita dari masalalu suaminya itu.
Saat selesai dia kembali menyimpan ponsel itu, dengan hati sakit namun penasaran. Dia harus memberanikan diri, ingin mengetahui ada rahasia apa sebenarnya.
Bintang masuk dengan wajah biasanya, lalu menoleh ke arah istrinya.
"Kamu, kenapa? masih sakit?"
"Nggak, lebih sakitan jadi perempuan yang melahirkan anak tanpa sebuah tanggungjawab," sindirnya.
Bintang mengerutkan keningnya, "Ngomong siapa sih?"
"Artis," jawab Intan asal.
"Artis biasa, kayak gitu."
"Huum, untung kamu bukan artis ya, Ang!" Intan menoleh dengan seringai tipis di ujung bibirnya.
"Iya, lagian kalo iya aku mah pasti tanggungjawab. Lah itu hasil perbuatan kita!" katanya.
"Masa???" Intan bertanya dengan nada seolah tak percaya.
Bintang malah tertawa sambil menghentikan mobilnya yang sudah sampai depan pagar rumah mereka.
Setelah membuka pagar lebar, dan berniat menggandeng tubuh istrinya. Ternyata Intan sudah berada di belakangnya. Berjalan perlahan memegangi perutnya yang masih menyisakan sedikit rasa ngilu.
"Tuh, bukannya nungguin aku."
"Harus di biasain. Biar nggak ketergantungan sama kamu!" ucapnya sinis.
"Udah, Yank kamu istirahat gih! Makin capek makin judes kamu!" Tubuh Intan dia rangkul masuk ke dalam rumah.
Intan beberapa kali mencoba mengedikkan bahu nya. Tapi Bintang semakin kuat merangkulnya.
Bersambung β€β€β€
Like, komen, dan favoritnya
Selamat menjalankan ibadah puasa buat kalian yang menjalankan, semoga lancar dan sehat selalu Para kesayangan πππ
Mohon maaf lahir batin dari itti yang berusaha sholehah ahh... ahhh... ah... ππ
__ADS_1