
...--000--...
Intan sedang ada di kamar tamu rumah Mentari. Saat tadi tengah menjenguk Aric, keponakan baru nya. Hampir saja dia terjengkang saat tengah menaiki tangga rumah besar itu. Untung saja Bintang yang berada tepat di belakangnya langsung sigap menahannya.
"Ang," panggilnya lemah saat matanya menyapu ruang kamar itu.
Bintang yang sedang mengulir ponselnya, langsung mendongak dan menghampiri. "Gimana? yang kamu rasain?" tanyanya cemas.
Intan hanya menggeleng lemah. " Aku pusing, badan aku lemes banget," rengeknya.
"Mau, coba testpack?" Mentari yang baru muncul langsung memberi saran.
Intan dan Bintang langsung menoleh bersamaan.
"Belum telat kok, harusnya minggu ini aku datang bulan!" terang Intan.
Mentari yang langsung duduk di tepian kaur yang di tempati kakak iparnya langsung menyodorkan sebuah kotak kecil panjang.
"Nih, coba dulu aja. Nggak ada salahnya kan?"
Intan mengangguk kecil, berdiri di bantu sang suami berjalan ke arah kamar mandi yang masih berada di dalam kamar itu.
"Aku bantu?" Bintang menawarkan diri.
Intan menggeleng, lalu dengan pasti menutup pintu tepat di depan wajah sang suami.
"Yank, ampun. Kamu segitunya sama aku," keluhnya.
Mentari terkikik melihat raut wajah kecewa kakaknya.
Mereka menunggu dengan gelisah, bahkan Bintang mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Kok, lama."
Mentari mengedikkan bahunya.
"Yank? kok, lama?" Bintang mengetuk pintu. Sudah setengah jam istrinya berada di kamar mandi. Sekarang bukan rasa penasaran yang ada di kepalanya, melainkan rasa cemas takut terjadi sesuatu dengan Intan. Mengingat wajah pucat nya ketika masuk ke dalam kamar mandi tadi.
"Yank. Yank, jawab ... kamu ngapain di dalem?" Bintang semakin keras menggedor pintu kamar mandi itu.
Mentari yang ikut panik langsung ikut memanggil kakak iparnya.
"Teh? Teh Intan?" panggilnya.
"Make, di konci sih? kayak toilet umum aja. Sayang, jangan buat aku dobrak pintu ya?" katanya.
Bintang melihat sekeliling apa yang bisa di gunakan untuk mendobrak pintu itu.
"Ada apa?" Dafa yang mendengar keributan langsung menghampiri kamar tamu itu.
"Teh Intan di dalem udah setengah jam lebih," Mentari mundur saat suaminya berusaha mengotak ngatik pintu kamar mandi itu.
"Awas, gue mau dobrak!" Kata Bintang yang sudah mengambil ancang-ancang , bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi di rumah baru milik adiknya itu.
"Bentar, takutnya pingsan. Kakinya malah melintang di pintu. Lu mau kaki bini lu, patah?" Dafa mencoba menenangkan.
Bintang yang panik mencoba mencerna apa yang suami adiknya itu katakan.
"Coba, Lu. Ambil kursi itu. Terus intip celah di atas itu!" tunjuknya pada celah kecil di atas pintu kamar mandi.
"Kecil, amat." Kata Bintang saat menyimpan kursi yang baru saja dia ambil dari kolong meja hias.
"Buat apa ada penyedot udara di dalem, kalo gue pasang kaca gede di kamar mandi?" Dafa ketus, namun sambil memegangi kursi yang di injak Bintang.
Sedikit menyipitkan matanya melihat ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ada?" Tanya Mentari yang berdiri di belakang tubuh suaminya.
"Ya, adalah. Lu kira bini gue apaan? mahluk halus gitu, tiba-tiba ilang." Masih dengan mata yang dia edarkan di kaca kecil itu.
"Yank, Sayang ... " Panggilnya. Saat melihat sang istri duduk di atas kloset.
"Sayang?"
"Lagi apa?" Mentari kepo apa ya g terjadi.
Bintang terlihat panik, saat melihat istrinya malah terisak menangis.
"Sayang, nggak apa-apa. Kalo belum, kiya masih banyak waktu, ayo buka?" Bujuknya.
Intan menatap ke arahnya. Wajahnya yang pucat semakin pucat saat dia menangis.
"Jangan nangis, ayo buka. Sini aku peluk kamu," katanya.
Intan berjalan ke pintu, terdengar bunyi kunci yang di putar. Bintang langsung turun dari kursi nya itu.
Lalu pintu terbuka dan ia langsung menghambur memeluk sang istri.
"Nggak apa-apa, masih banyak waktu. Ayo, berbaring lagi. Kamu harus banyak istirahat," Bintang berkata masih dengan memeluk dan mengusap punggung istrinya itu.
"Gimana teh?" Mentari masih merasa penasaran.
"Heh, Cha. Nggak usah banyak tanya deh," Bintang menatap nyalang adiknya.
Intan mendorong dada Bintang yang tengah memeluknya. Bintang yang kaget dan menyangka istrinya marah, malah terlihat heran melihat istrinya tertawa di balik isak tangisnya.
"Kenapa sih? Bingung. Nangis sekarang ketawa, kamu sehat?" Bintang bertanya heran.
Intan memukul pelan dada suaminya.
"Hamil, positif lagi." Katanya dengan isak tangis dan emosi kesalnya.
"Serius?" suaranya bergetar , hatinya meletup-letup. Matanya memanas. Dan sebuah sorak sorai di sertai isak tangis keluar begitu saja dari bibirnya.
"Ang?" Intan menghentikan suaminya yang sedang heboh sendiri.
Bintang mengusap air matanya. Menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Ayo, kita tidur!" Ajaknya tiba-tiba.
Semua orang yang berada di dalam kamar langsung mengerutkan kening mereka.
"Tidur?" Semua bertanya dengan serempak.
Bintang mengangguk kecil. "Bini, gue harus istirahat total. Dua kali pengalaman buruk. Bikin dada gue deg-deg nyut-nyutan nggak tenang!" Bintang tanpa aba-aba langsung meraup tubuh sang istri untuk dia rebahkan di atas tempat tidur kamar tamu rumah Dafa dan Mentari.
"Keluar, mau nonton kita?" katanya pada adik dia adik iparnya.
Mentari dan Dafa saling tatap dan menggelengkan kepala mereka.
"Mau, heran. Tapi Kak Bintang!" Mentari mendorong suaminya ke arah pintu.
"Yang punya rumah siapa sih?" Dafa ikut menyahuti.
Intan memukul pelan suaminya, "Maaf, Ya!" teriaknya pada si pemilik rumah.
Mentari mengacungkan jempol nya sesaat sebelum menutup pintu.
...****...
Bintang benar-benar posesif di kehamilan Intan yang ketiga ini. Dia tidak mau kecolongan lagi, istrinya yang kadang teledor itu membuat dirinya gelisah.
Dari rumah Dafa, mereka meneruskan perjalanan ke Rumah sakit. Untuk memastikan keadaan Intan.
__ADS_1
Dokter yang menangani dua kehamilan Mentari juga dua kehamilan Intan yang harus gugur pun menyambut mereka dengan suka cita.
Setelah memeriksa seluruh kondisi Intan. Dokter mewanti-wanti Intan untuk benar-benar istirahat total. Di lihat dari riwayat keguguran yang dialami Intan. Membuat dokter menyatakan kandungan Intan benar-benar lemah, juga tekanan darah yang sangat rendah.
Masih dengan alat USG yang terus di gerakan diatas kulit putih Intan. Dokter masih mengerutkan keningnya. "Udah masuk 4 Minggu, ya."
Intan mengerutkan keningnya hingga alisnya saling bertautan. " 4 minggu?"
"Iya. Tapi ... " Ucapan sang dokter terputus, membuat pasangan suami istri itu berdebar takut.
"Tapi? kenapa Dok?" Tanya Bintang langsung.
Si Dokter paruh baya itu hanya tersenyum.
"Tuhan, ganti sepertinya."
"Ganti?" Intan membeo , dirinya amat penasaran.
"Coba lihat ini?" Katanya menunjukkan dua titik kecil di layar monitor yang memperlihatkan keadaan perut Intan.
"Apa itu dok?" Bintang mencondongkan tubuhnya agar semakin mendekat ke arah layar.
"Dua, ini. Pak. InsyaAllah, kembar ini." Katanya.
Intan dan Bintang saling tatap dengan wajah termangu tak percaya.
"Dua? anak kita sekaligus dua Yank!" Bintang mengguncang pelan tangan si istri yang masih dia genggam.
Intan yang masih mengatur degup jantungnya bahagia, malah menitikan air mata. "Kembar, Ang!" sahutnya.
"Hei, nggak usah nangis. Kamu harus happy, harus sehat. Janji, Ya!" Bintang menekankan kata-kata nya sebagai suatu keharusan yang harus di patuhi sang istri.
Intan mengangguk pelan, air matanya dia usap.
Setelah di beri beberapa nasihat, aturan dan berbagai jenis vitamin juga obat penambah darah. Mereka pun bergegas pulang.
Ada satu hal yang membuat Intan kesal, dan mendiamkan suaminya itu saat perjalanan pulang. Suaminya itu membeli sebuah kursi roda. Intan tidak boleh berjalan semaunya, digendong atau menggunakan kursi roda.
Akhirnya dia pun menuruti dengan hati yang menggerutu kesal.
***
Turun dari mobil, Bintang menggendong istrinya menuju kamar mereka. Membantu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian si istri dengan training olah raga.
"Nih, udah nggak akan dingin." katanya sambil membaringkan si istri.
"Puas? " sungut nya kesal.
"Kok, marah. Aku emang dingin, Ang. Lagian kalo pake baju tidur yang biasa, ntar kamu kira aku mancing-mancing." Intan membela diri.
Bintang mengangguk pelan.
"Mau makan apa?" Tanyanya.
"Pengen telor mata sapi pake kecap enak kayaknya." Intan membayangkan nasi di timpa telor mata sapi dan di siram kecap.
Bintang yang sedang memakai celana jersey kesayangannya. langsung mengangguk dan berjalan menuju dapur. Hatinya bahagia benar-benar bahagia, dia akan rela melakukan apapun yang istrinya minta.
Berjalan semangat ke arah dapur dia langsung bergerak lincah bak seorang chef terkenal.
Membawa piring berisi nasi dan telur mata sapi dengan guyuran kecap di atasnya.
"Pesanan datang ... untuk bumil dan si twins," Bintang masuk ke kamar dengan wajah semangat dan kepercayaan tinggi. Namun wajahnya harus kecewa saat melihat sang istri sudah lelap dan tidak tega untuk membangunkannya.
"Sabar, Tang. Baru sehari. Masih berbulan-bulan. Demi twins, dan si bumil seksoy. Ya ampun, thon lu pasti libur panjang lagi!" Dia menggumam sendiri sambil memakan basi telur kecap di sofa, dengan pemandangan indah si istri yang sedang meringkuk di bawah selimut.
__ADS_1
Bersambung ❤❤