
...❤❤❤❤...
"Kamu ngomong apa sih?"
"Mana martabak nya?" Intan tak menjawab malah tangannya menengadah meminta pesanannya.
Bintang memegang dagu istrinya agar menatap ke arahnya. "Tadi kamu ngomong apa? ulangi!" pintanya.
Intan langsung mengaduh memegangi perutnya.
"Kenapa?" tanya Bintang panik.
"Laper, mana martabak nya?" Intan kembali menengadahkan tangannya.
Bintang membantu nya bersandar dengan bantal yang di dusun di belakang punggung istrinya.
Lalu dia berjalan ke luar dari kamar, tak lama kembali datang dengan sebuah keresek di tangannya.
Intan terlihat ceria melihat bungkusan itu.
"Makanan yang siang aku beli nggak di makan?" tanya Bintang sedikit galak.
"Nggak enak, aku ngerasa tenggorokan aku kayak ada yang ganjel gitu. Nggak nerima masuk," ucapnya dengan wajah sendu.
"Roti yang pagi aku bikin juga cuma kamu gigit dikit!" ketusnya.
Intan hanya mengangguk lemah.
"Ya, pantes kamu makin lemes gini." Bintang me ngomel.
Saat Bintang membuka bungkusnya. Tiba-tiba saja Intan menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?"
"Bau, telornya bau!" katanya dengan suara terpendam di dalam kedua telapak tangannya.
Bintang mengendus dus martabak di depannya. Tidak ada yang aneh, wangi banget malah. Pikirnya.
"Nggak yank, biasa ini. Wangi banget malah," Bintang kembali menyodorkan nya.
Intan malah berbaring dan menutupkan selimut menutupi kepalanya.
"Bau, aku nggak kuat." Teriaknya dari dalam selimut.
Bintang mengernyit heran, lalu tangannya mengambil potongan martabak dan memakan nya.
"Enak, yank. Sini, bangun coba dulu deh. Ada upil kali nutupin penciuman kamu!" ucapnya asal.
"Bisa-bisanya lagi makan ngomongin yang jorok," bentaknya dari dalam selimut.
Bintang terkikik geli sambil sibuk memakan martabak potongan ke dua.
"Sini, ayo. Enak nih!" tangannya menepuk-nepuk tubuh istrinya.
Intan mengintipkan kepalanya sedikit dari balik selimut.
"Pengen martabak mertua yang atasnya ada Mozzarella nya!" pintanya.
Bintang yang masih sibuk mengunyah menatap sang istri sambil mengernyit.
"Yang deket rumah Bunda?" tanyanya
Intan mengangguk cepat.
"Udah mau malem ini, Yank!" tolak nya beralasan.
Intan melihat ke jam dinding. Dia mendengus marah lalu kembali menutupi wajahnya dengan selimut.
"Ok, aku beliin. Tapi kamu bangun dulu, aku mau kamu mintanya yang signifikan. Takutnya ntar aku salah perjalanan lumayan jauh nih, kalo salah nggak mau balik lagi aku!" ucapnya.
Intan mengintipkan wajahnya.
"Udah dulu makannya, bau!" pintanya.
__ADS_1
Bintang menyimpan dus martabak itu di dekat meja, sudah empat potong martabak masuk ke perutnya.
Lelaki itu memang sengaja belum makan malam, dia ingin makan bersama istrinya. Namun ternyata banyak drama.
Intan beringsut bangun, kembali menyandarkan tubuhnya.
"Aku mau martabak mertua Mozzarella dengan level pedes lidah mertua. Terus minumnya beliin es jeruk peras," pintanya lagi.
Bintang menyimak semua permintaan istrinya. Lalu terkikik melihat raut wajah judes istrinya.
Dia merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel miliknya.
Membuka aplikasi kamera dan merekam wajah istrinya.
"Ngapain?" Intan bertanya heran.
"Ngomong pesanan kamu,"
Intan mengulangi pesanannya sambil Bintang rekam.
Lelaki itu pun bergegas ke luar rumah sambil membawa bungkusan martabak menjadikannya cemilan di perjalanan.
*
*
Intan bersiap dengan sebuah kejutan dia merangkai sesuatu yang manis, menempel kan beberapa kertas petunjuk dari mulai pintu ruang tamu, hingga dia menempelkan sebuah bungkusan bekas testpack di depan pintu kamar mereka. Menyimpan hasil testpack di sebuah kotak bekas pasta gigi.
Intan pun sedikit merias wajahnya yang pucat, lalu menanggalkan daster rumah nya dan menyisakan pakaian da*lam saja. Di perutnya dia pasangkan pita merah yang melingkari perutnya yang berisi calon buah hati mereka. Sekarang dirinya seakan sebuah kado berhiaskan pita merah.
Intan tersenyum sambil mengusap perutnya penuh rasa haru.
"Sehat, ya nak!" ucapnya sambil mengusap perutnya yang masih datar.
Saat tadi siang dirinya menyadari datang bulan yang telat dua minggu, lalu meminta mamang ojek untuk membelikan testpack.
flashback on
Intan berjalan dengan sangat pelan menuju kamar mandi. Jantungnya berdebar saat membuka alat test kehamilan itu. Dirinya takut kecewa, tapi feeling nya mengatakan dirinya tengah mengandung.
Apalagi suaminya akhir-akhir ini berkata jika ada yang beda dengan dirinya. Apalagi saat sebuah pujian selalu dia lontarkan setiap selesai dengan kegiatan ranjang mereka.
Jantungnya semakin kencang saat menunggu hasil dari alat itu.
Air matanya seketika jatuh saat dua garis merah jelas di alat itu.
Intan menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai kamar mandi sambil menangis haru, hatinya begitu bahagia. Betapa Tuhan begitu baik terhadap mereka, hanya dalam waktu dua bulan pernikahan dirinya sudah di beri kepercayaan sebuah kehamilan. Di usapnya lembut perutnya di mana kini ada sebuah nyawa yang tumbuh di dalamnya.
Dan sebuah rencana untuk memberi kejutan suaminya tiba-tiba terlintas.
Suaminya yang ekspresif pasti akan begitu senang dan dia penasaran bagaimana Bintang akan meluapkan kebahagiaan, dia tau suaminya sangat mendambakan buah hati. Sering dia lontarkan namun dengan bahasa nyeleneh namun dia sangat paham.
Intan memasukkannya alat itu pada sebuah dus pasta gigi dan kembali berbaring setelah rasa pusing kembali dia rasakan.
flashback off.
...***...
Bintang tiba di sebuah rumah yang garasi nya di pakai berjualan martabak mertua, cukup terkenal di daerah itu. Dia harus mengantri bersama para mamang ojek, di sana seakan lautan hijau di lihat dari jaket seragam mereka.
Setelah selesai memesan dia pun pulang menuju rumah, di perjalanan saat memasuki gerbang komplek mereka. Bintang menghentikan motornya, dia melupakan es jeruk perasnya. Untung tak jauh dari situ ada penjual jus buah.
Bintang sampai di rumah memarkirkan motornya di sebelah mobil hitam miliknya, mobil SUV besar sesuai anjuran adik iparnya dan tentu saja cicilan paksa. Uang dari Naya untuk bayar hutang, dia kembalikan pada Bunda namun Bunda menolak nya, jadi dia memberikannya pada Dafa untuk bayar hutang 50 juta nya. Dan lagi-lagi sesuai dugaannya, suami tajir adiknya itu menolak, jadi dia pakai untuk DP mobil ke Dafa. Dengan waktu cicilan 2 thn dan tidak menargetkan angsuran.
Walaupun penuh ledek kan Ayah, tapi dia menembakkan kulit wajah dan telinganya. Yang penting gaya. 😝
Bintang terpaku akan sebuah kertas yang menempel di pintu.
Lalu terus berjalan masuk, di pintu kamar dia semakin kaget ada sobekan bungkus testpack . Bintang tersenyum dia meyakini bahwa kecurigaannya pagi tadi, sepertinya betul.
Lelaki itu masuk tergesa ke dalam kamar. Menyimpan begitu saja martabak di dekat meja TV kamar mereka.
Melihat selimut yang bergunduk menyembunyikan istrinya, Bintang merangkak memeluk buntalan itu.
__ADS_1
"Yank ... ini bener?" tanyanya antusias.
Intan menahan senyum di dalam selimut itu.
Bintang melihat ada yang janggal ada dus pasta gigi di atas meja nakas.
Di ambilnya bungkusan itu untuk dia buang. Namun isinya berbunyi, ada sesuatu yang kecil di dalamnya.
Dengan hati yang masih berdebar tak karuan, dia membuka dus pasta gigi itu. Senyumnya mengembang seketika saat dia memegang alat testpack itu dengan dua garis merah . Dia terlonjak senang sambil menjerit-jerit bahagia.
"Sayang ... ini serius? nggak kamu coret pake spidol kan?" teriaknya malam itu.
Intan yang asalnya sedang tertawa di dalam selimut malah marah mendengar ucapan suaminya itu.
"Nggak ada kerjaan aku coret pake spidol!" gertaknya.
Bintang terbahak lalu loncat ke atas ranjang mereka.
"Mana-mana, aku mau cium anak ku!" ucapnya sambil menarik selimut yang di pegang kuat istrinya itu.
Intan tersenyum melihat kehebohan suaminya.
Lalu pasrah saat Bintang menarik selimut yang membungkus tubuhnya.
Bintang seketika melongo melihat pandangan indah itu.
Istrinya yang hanya mengenangkan dala*man berenda hitam dengan pita merah melingkari perutnya. Seakan kebahagiaan dunia ada dalam genggaman nya.
Bintang malah terdiam sambil mengusap lembut perut berpita merah itu.
"Ya Tuhan ... Hai nak ... ini Papi mu yang ganteng, sehat ya di dalam sana!" Dia berkata sambil mengusap dan menunduk mencium perut Intan.
"Apa?kamu mau ayah tengok? ok, nak. Otw kita ketemu ya!" ucapnya yakin.
Intan memukul pundak suaminya yang berkata asal.
Bintang menatap wajah cantik istrinya itu.
Lalu dia merangkak dan menarik Intan ke dalam pelukan nya.
"Makasih, Yank ... Kapan kamu sadar hamil?" ucapnya setelah mengecupi bertubi-tubi puncak kepala istrinya.
"Siang, tadi siang aku inget udah telat datang bulan. Nyuruh mamang ojek buat beli testpack!" terang Intan masih dalam pelukan suaminya.
"Kenapa, harus mamang ojek sih? emangnya anak aku anak mamang ojek?" Ucapan luar biasa kembali meluncur.
"Takut aku ke pedean, jadi aku coba testpack sendiri. Dan ... " Ucapannya terhenti saat Bintang melu*mat bibir nya.
Intan mendorong suaminya menjauh,
"Kenapa?"
"Kamu, bau telor. Ang ... Huweeekk ... Huweeekk" Intan seolah akan muntah.
Lalu Bintang menjauh.
"Terus gimana?"
"Mandi, gosok gigi. Baru boleh cium," katanya.
"Ok, tapi aku nggak mau cium doang. Aku mau nengok anak aku!" ujarnya sambil berlari masuk ke kamar mandi.
Intan terkikik saat melihat tingkah suaminya, dia mengambil dus martabak pesanannya lalu dia mulai memakannya dengan lahap sambil menonton sinetron tali Cinta. Tangannya tak henti mengusap perutnya. Sesekali tertawa saat mendengar suaminya menyanyi riang di kamar mandi.
Bersambung ❤❤❤
like
komen
favoritnya , Man teman... dukung terus ya, kasih tau temennya tentang cerita ini🤭🤭. Kalo mau, tapi aku maunya gitu🤣🤣🤣🤣.
Ngetik dari jam 2 malem, beres jam 4 subuh😖😖
__ADS_1