
...❤❤❤❤...
Intan bangun terlambat di pagi itu, sudah hampir jam delapan.
Saat keluar kamar nya dia tak melihat laki-laki yang semalam sangat merepotkan dan meyebalkan.
Rumah juga rapi, bahkan mangkuk mie, panci, dan gelas bekas rebusan daun jambu pun sudah tertata rapi di rak piring sebelah bak cuci piring.
Intan tersenyum, "tanggungjawab juga si BMR," dia tertawa.
Pandangan nya tertuju ke atas meja makan, ada bungkusan, "Nasi kuning?" gumamnya.
Lalu ada kertas di bawah bungkusan itu.
Tan... tan... orang... tan.
Makasih udah ngasih ramuan sepet semalem, walaupun aneh rasa nya, tapi mules gue ilang.
Nih gue bales sama nasi kuning buat lu sarapan.
Gue buru-buru nggak pamit, soalnya bos besar manggil, lu kek kebo tidur nya gue tunggu bangun lama bener.
Intan tertawa membaca tulisan di secarik kertas di bawah bungkusan nasi kuning.
Kebenaran dia juga lapar sekali, saat tengah makan ponsel nya berbunyi. Intan mengedarkan pandangannya lupa lagi di mana dia terakhir menyimpan ponsel nya semalam.
Dia berjalan ke dekat sofa ruang TV, dan dia menemukan ponsel nya.
"Siapa?" keningnya berkerut, saat melihat pesan masuk hanya dengan emot melet saja.
Dia tidak mengenal no nya, tapi saat liat foto profilnya, dia melihat foto lelaki itu tengah mengecup pipi wanita seksi di sebelah nya.
"Si BMR, cantik juga pacarnya. Kok kuat ya ama cowok slengean kayak gitu?" Intan tersenyum memandang foto itu.
Lalu dia menatap sebuah pesan dari kakangnya.
"Di tunggu kabar kamu, buat kerja di tempat pijat itu!" isi pesan dari kakangnya.
Intan terduduk lemas, bagaimana bisa seorang kakak mau menjerumuskan adiknya, yang seharusnya di lindungi.
Wanita itu menitikan air mata, membayangkan kehidupannya dulu. Di tinggal meninggal oleh sang ayah. Hidup bertiga dengan ibu dan kakangnya, hingga ibu nya kembali menikah dengan seorang duda beranak satu, masih kecil saat Ibu nya menikah dengan duda itu.
Bahkan ayah tirinya terbilang lebih manusiawi ketimbang kakak kandung nya sendiri.
*
*
Intan berkutat dengan banyaknya kertas folio yang dia beli di tempat fotocopy an depan komplek.
Dia berniat mencari lowongan kerja, untuk mencari uang tambahan. Gaji di rumah itu sebenarnya lumayan besar, juga hati yang nyaman dengan kedua majikannya yak ni Mentari dan Dafa yang begitu baik padanya.
Tapi dengan kakaknya yang terus merongrong hidupnya untuk membayar hutang yang kakaknya sebut bekas biaya Ibu nya dulu. Membuat gaji yang hampir setara dengan gaji supervisor daerah Bandung pun rasanya tak cukup.
Intan hanya memegang uang untuk bekalnya, seperti untuk ongkos, beli pulsa HP, dan untuk keperluan mendadak nya. Selebihnya dia berikan pada sang kakak. Namun bukannya lunas itu hutang, malah bertambah karena kakangnya tidak bekerja dan menjadi benalu terhadapnya. Lelaki kurus dengan banyak tato di tubuhnya itu, lelaki dengan candu nya terhadap judi dan alkohol.
"Hahhh... " Intan menghembuskan nafasnya yang sesak, sesak akan beban hidup.
Jika saja dia tidak teringat pesan ibu nya dulu.
"Jangan pernah tinggalkan kakangmu, dia rapuh, dia sebenarnya baik hanya saja hatinya mudah terpengaruh hal buruk," kata Ibu nya dulu, saat kakangnya di bawa warga ke rumah dalam keadaan babak belur, tak sadarkan diri karena alcohol tersungkur masuk dalam parit.
"Kapan berubah nya, bu? kakangnya semakin jadi. Dan neng (panggilan Ibu nya untuk dirinya) udah nggak kuat Bu." Akhirnya air mata mengalir membasahi pipinya.
**
Intan menangis karena merasa lelah, dia butuh sandaran. Tetiba dia mengingat almarhum Dani. Calon suaminya, lelaki mandiri, dewasa, selalu menjadi penguat dan memecahkan semua masalah yang dia hadapi.
Lelaki yatim-piatu, berasal dari sebuah panti asuhan, kakak kelasnya saat duduk di bangku SMP namun menjadi lelaki pertama yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Mas... mas Dani, aku harus gimana?" Intan tergugu di atas sofa kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
Mengingat kembali setiap dia menangis dulu Calon suaminya itu berkata, "ngapain kamu nangisin keadaan? nggak akan berubah. Di bawa enjoy aja, Mas akan selalu nemenin kamu!" selalu itu yang dikatakan Dani.
Hingga sebuah berita bahwa calon suaminya itu meninggal akibat kecelakaan saat menuju lokasi tambang, tempat di mana dia bekerja hampir dua tahun.
Begitu senangnya kekasihnya itu saat di terima bekerja di salah satu perusahaan tambang di daerah Kalimantan.
"Sayang, Mas keterima kerja di perusahaan yang sudah Mas incar sejak jaman kuliah dulu. Gajinya besar Mas langsung dapet kontrak kerja dua tahun, saat pulang nanti, Mas akan membangun Panti. Bangunan nya udah tua, takut sewaktu-waktu akan rubuh. Terus kita menikah, beli rumah mungil dan membuat usaha karena setelah kita menikah Mas nggak akan merantau lagi. Mas nggak akan ninggalin kamu."
Janjinya saat dia mendapat pekerjaan yang malah membawa nya pulang dalam keadaan tak bernyawa.
__ADS_1
Intan mengusap pipi basahnya. Berjalan ke arah meja makan, membereskan makanan nya yang bahkan baru dia makan beberapa suap saja. Selera makannya hilang. Jika mengingat Dani, moodnya akan rusak, dia paling lemah jika berurusan dengan masalalu nya itu.
Kepergian Dani tepat satu tahun meninggal nya sang Ibu. Bulan Maret adalah bulan hitam dalam kalender hidupnya. Kehilangan dua sosok yang begitu berarti di hidupnya.
Tangannya sibuk meracik masakan untuk majikannya yang akan pulang hari ini, walau hatinya sedang melow dia harus terus bekerja.
Hingga sebuah ketukan pagar terdengar Dia berlari ke arah depan.
Tampaklah Mentari menggendong Shera dan Helen yang lucu memegang pagar.
"Teh... " Sapa nya saat pagar sudah terbuka.
"Pake taksi?"
"Iya, Ayah lagi ada undangan. Di rumah nggak ada siapa-siapa, punya kakak yang belum nikah juga suka ngilang gitu aja. Nggak bisa di harepin, tadi aja pagi Ayah marah-marah katanya dia nggak ke kantor udah dua hari." Mentari mengeluh namun sambil tertawa saat pagi tadi melihat kakaknya di omelin Ayah mereka, sampai kakaknya itu menutup telinganya dengan kacang sukro yang tengah dia cemilin.
"Si manusia slengean, aneh ada orang kayak gitu."
Intan tiba-tiba bicara seperti itu.
Mentari menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. "Maaf, ya teh. Kakak saya emang nyebelin tapi aslinya baik banget, cuma bibirnya agak ringan aja kalo ngomong asal jeplak." Mentari menghibur nya.
Intan yang merasa malu karena kelepasan merutuki laki-laki yang adalah kakak dari majikannya itu.
"Gimana kalo sampai majikannya tau, apa yang di lakukan Bintang selama di rumah itu," batinnya.
Intan kemudian tersenyum kecut sambil masuk ke dalam kamar membawa Helen dan sebuah tas baju.
*
*
Di lain tempat.
"Bu?"
"Ya, Pak Bintang?"
"Kalo saya pengajuan penarikan uang bisa?" tanyanya pada bagian keuangan.
"Oh, bisa Pak. Mau penarikan berapa?"
Bukan main senangnya, laki-laki itu langsung berpikir berapa yang akan dia minta.
Si wanita berkacamata itu mengangguk lalu membuka laci, dan menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribuan.
Raut wajah Bintang yang asalnya bersinar bak lampu 100watt seketika padam seakan lampu kuning 5watt remang-remang jaman dulu.
"Maaf ya, Bu. Kalo duit ratusan ratusan ribu mah saya megang." Katanya.
"Terus maksud Bapak?"
"Saya, pengajuan dua ratus juta."
"Apa? busett gede banget Pak, kalo di atas lima juta harus acc Pak langit, kalo di atas 20juta harus di acc Pak Gunawan langsung. Nggak bisa saya langsung kasih begitu aja." Terang wanita berkacamata itu.
Bintang menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi yang dia duduki.
"Kalo ke Abang nya mungkin dia bisa me lobby nya, tapi kalo sudah berurusan dengan sang Raja. Duh... hese(susah)." Dia mengangguk lalu keluar dari ruangan dengan kepala yang bekerja rodi mencari alasan tepat untuk pengajuannya pada Sang Raja di rumah.
*
*
Hingga sore hari
Bintang memarkirkan mobilnya, dia mematung di teras rumah. Mempersiapkan kalimat yang sekiranya akan membuat Ayah nya luluh.
Dia berdehem lalu membuka pintu ruang tamu memasuki rumah besar orang tuanya itu. Mengucap salam dan pandangan nya mengedar
Terlihat Ayah nya sedang menonton TV sendiri.
"Kesempatan," katanya.
Lalu dia duduk tepat di sebelah Ayah nya.
"Yah... "
Lelaki tua yang sedang memegang remot TV itu menoleh. "Apa?"
"Ini, ehmm... "
__ADS_1
"Anu... ehmm.. "
"Ono?" Potong Ayah.
"Dih.. si Ayah."
"Lah, kamu apaan ini... anu... nggak jelas." omel nya.
Bintang menelan ludahnya kasar, belum apa-apa semburan omelan sudah mulai ber bibit.
"Mu pinjam uang, yah... potong gaji lah.. "
"Berapa?" tanya Ayah dengan wajah datar.
Secercah cahaya sudah mulai terlihat, bibir Bintang sudah berkedut ingin tersenyum senang.
"Dua ratus ju-ju-jut... " Bintang belum selesai bicara
Takkk...
Remot TV mendarat di kepalanya.
"Anjay... Yah, sakit." Tangannya terus mengusap kepala nya.
"Budak semprul, buat apa uang sebanyak itu?" Ayah menggeram marah.
Ingin rasanya dia mencekik longgar leher anaknya itu.
"Buat modal Yah... "
"Modal apa?"
"Ya usaha lah... lagian aku pinjem kan, potong gaji aja."
Ayah terdiam sesaat.
"Gaji kamu 7,2 kan?"
Bintang mengangguk, "Miris, anaknya di gaji segitu."
"Kamu kerja kan? udah bener belum? Ayah mertahanin kamu karena kamu anak. Kalo orang lain udah di pecat tidak hormat, tuh meja kamu bakal tiap hari dapet SP." Omel nya.
Bintang mencoba lapang dada dengan semua omelan Ayahnya, dia mencoba membuat suara Ayah nya bak suara Ariel NaoH, agar terdengar merdu.
"Potong gaji kan Yah... " ucapnya mengiba.
Ayah terdiam seperti memikirkan strategi penyerangan musuh.
"Ok, Ayah pinjamkan."
"Asik... bener Yah?"
"Iya, berarti kamu nerima gaji cuma 800 rb" ucapnya datar.
Bintang bengong, "800 rb cukup apa Yah?"
"Kamu, tidur masih di sini, makan masih di sini. Minta bunda benerin kamu makan, nggak usah sok gaya makan terus di cafe."
"Uang segitu buat bensin juga nggak cukup, Yah.. "
"Ada sepeda listrik punya Bunda tuh di garasi nggak pernah di pake, cas dulu di rumah kalo abis di jalan kan bisa di goes, nanti sampai kantor kamu cas lagi," katanya memberikan ide.
Bintang mendengus kesal, kadang untuk beli minuman starkucek aja ampir 50 rb, ini 800 rb buat sebulan. Nggak mungkin sanggup. Batinnya.
"Nanti kemeja kakak kusut Yah.. lepek kena keringat, ampe kantor dekil." wajah nya seperti anak tk yang merengek minta uang jajan.
"Pake akal dong, dari rumah pake baju goes."
"No.... big nooo..."
"Itu keliatan aurat Yah, pake celana leging si chaca. Aduh itu si pyton keliatan jelas gemuk nya. Nanti mata cewek-cewek gimana ngeliatnya, ntar malah pengen kenalan sama pyton kakak."
Ayah tertawa namun tangannya kembali terangkat akan memukulkan remot TV itu.
Bintang langsung bangun menghindar dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Budak edyan... segala pyton di banggain gendutnya, emangnya hernia gendut?" Ayah menggerutu tapi tak ayal dia terbahak akan tingkah Putra nya itu.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
__ADS_1
Nggak percaya, cerita receh ini masuk ranking karya baru walaupun di 169 dari 200, ini sebuah wow buat saya. makasih ya🙏🙏 aku terhura🥺🥺 lope full😘
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘