
...--oOo--...
Intan keluar dari kamar mandi. Matanya langsung bersitatap dengan si suami.
"Tuh, paketnya di kasur. Paket apaan sih, Yank? kecil kok harganya hampir tiga ratus ribu," tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop.
Intan yang berjalan memunguti baju dan kain renda yang tadi suaminya lempar asal.
Bintang menegakkan kepalanya, menatap ke arah istrinya.
"Yank?" sapanya lagi.
Intan menoleh, "Apa?" suaranya terdengar kesal.
Bintang bangun. "Ngga usah pake, lanjutin yang tadi." Katanya menghampiri.
Intan yang takut, langsung berjalan mundur saat melihat suaminya tergesa menghampiri.
"Lanjutin, yang tadi. Biar nggak nyengat kayak minuman coca cona aja, nyereng bersoda," bintang kembali mengambil pakaian di tangan sang istri.
"Ang," Intan berusaha mengambilnya kembali.
Tangan Bintang yang memegang pakaian istrinya itu dia angkat tinggi. Dan sang istri mencoba meraihnya hingga berjinjit. "Sini, Ang. Dingin. Nanti aku masuk angin lagi, kasian twins," katanya beralasan.
Bintang langsung terhenyak mengingat Intan yang bulan kemarin sakit dan membuatnya hampir gila dan ketakutan.
"Ogh, iya. Maaf, maafin aku sayang!" Bintang langsung menurunkan tangannya bahkan dia memakaikan satu persatu pada tubuh si istri.
Mengecupi bagian perut yang sudah membuncit di usianya yang baru menginjak empat bulan.
Intan menatapnya malas, namun juga terharu akan perlakuan suaminya.
Intan berjalan ke arah di mana paketnya tergeletak.
Membukanya perlahan dan serius.
"Isinya apa?" Bintang yang ikut duduk di tepian kasur karena penasaran.
"Obat,"
"Obat?" Bintang membeo.
Intan hanya mengangguk sambil membuka si bungkusan paket itu. "Obat pelangsing,"
"Apa?" Bintang langsung merebut sebuah kotak kecil yang baru saja lolos dari buntalan pembungkus.
"Apa ini?" tanya nya lagi meyakinkan.
Perempuan hamil itu bangkit dan berjalan dengan sampah plastik di tangannya.
Bintang terlihat terus mengamati kotak itu sambil membaca jajaran tulisan yang terdapat di kotak itu.
"Buat apa?"
"Ya, buat langsing lah. Aku ngga mau ya, kamu aneh-aneh kalo aku gendut." Intan mengambil kotak yang suaminya pegang.
Bintang berdecak. "Aneh-aneh? kamu tuh yang aneh, hamil baru mau empat bulan udah beli begituan. Suudzon aja sama suami," Bintang terdengar serius dengan wajah yang terlihat marah.
"Ka-kamu marah, Ang?" Intan seketika tercekat, tidak menyangka jika reaksi suaminya akan seperti itu.
"Kamu pikir?" tanya nya sambil melenggang keluar dari kamar.
Intan diam di tepian kasur,. memegang erat kotak obat pelangsing itu. "Aku kira, kamu bakalan seneng!" gumamnya pelan. Lalu menyimpan obat itu dan mengikuti suaminya keluar kamar.
"Bu, udah selesai. Bibik, udah boleh pulang?" tanya si ART saat Intan keluar dari kamar.
"Oh, iya. Pulang aja, Bik. Itu masakan udah di bagi dua kan sama Bibik?" Tanya Intan.
__ADS_1
"Udah, Bu. Makasih banyak ya, bibik jadi ngga perlu masak lagi di rumah." katanya senang.
Ibu hamil itu mengangguk, "Iya. Biar bibik di rumah langsung istirahat," katanya.
Dan si bibik pun pamit, Intan mengikuti hingga ke teras. Ternyata di sana ada suaminya tengah memberi makan Rosalinda si kelinci.
**
Intan duduk di kursi teras, Pura-pura membaca buku dan meminum yoghurt yang dia ambil barusan dari lemari pendingin. Menunggu suaminya yang terlihat anteng di kandang kelinci.
"Aduh, Rosalinda. Kamu senang banget ya, semenjak ada Roberto kamu makin semok! ngga salah kan aku pilihin pasangan?"
Intan menahan senyum mendengar perkataan si suami kepada kelinci peliharaan mereka. Sudah dua bulan kelinci itu diberi pasangan, dan sepertinya Rosalinda juga hamil.
"Aduh, makin gembil. Makin di sayang si Roberto pasti, soalnya kamu jadi gemoy. Empuk, menul-menul, enak di peluk. Dari pada cungkring, banyak tulang, meluk sana sini ngga enak." Katanya menyindir si istri yang dia ketahui tengah menyimak pembicaraan nya dengan si Rosalinda.
Tak sengaja Bintang lengah, kelinci itu mengigit tangannya. "Aduh, agresif ya bumil. Main gigit aja, kayaknya kalo kamu bisa ngomong udah nyengat kayak yang minum coca cona."
Intan sudah tak tahan lagi untuk tertawa, dia berjalan mendekat ke halaman di mana suaminya tengah melap jarinya yang terluka.
"Sini, aku obatin. Makanya jangan macem-macem sama bumil, bumil itu sensitif." Intan menarik suaminya untuk duduk di kursi teras dekat pintu.
Bintang menahan senyum, namun menurut mengikuti si istri.
Intan datang dengan kotak p3k, langsung membasuh luka itu dengan kapas yang sudah di beri air, lalu di beri alcohol dan obat merah.
"Aku kesel, sama kamu."
Intan yang sedang menunduk mengobati langsung mendongak menatap wajah suaminya.
"Kenapa? aku ini mau nyenengin kamu," katanya membela dirinya sendiri.
Terdengar helaan nafas dari Bintang.
"Kamu dan anak-anak sehat, udah bikin aku paling senang, tenang, dan bahagia. Jadi jangan mikir gendut, cakar macan, atau rambut rontok. Asal sehat dulu, nanti udah mereka lahir dan kalian sehat. Aku bebasin kamu ngurus diri kamu sendiri, sekalian aja kamu operasi selaput biar perawan lagi. Nggak usah nanggung, setengah-setengah. Hajar sekalian," katanya membuat Intan seketika menganga ke arahnya.
"Siapa?"
"Kamu, Ang!" tunjuk Intan dengan ujung dagunya.
Bintang terkikik geli, lalu mengusak puncak kepala si istri.
"Makanya, jangan suka pikiran negatif. Sekalian aja aku kotorin," katanya lagi menarik si istri hingga duduk di pangkuannya.
"Apapun boleh, asal janji satu hal sama aku!" Bintang memeluk tubuh si istri.
"Apa?"
"Kalian harus sehat-sehat." pintanya dengan raut memohon.
Intan mengulurkan tangannya mengusap wajah lelaki yang sering sekali dia repotkan.
"Iya, Amin." Intan tersenyum lalu mengecup kening si suami yang sedang memangku nya.
Bintang memejam, menikmati kehangatan dan kenyamanan yang Intan alirkan ke tubuhnya hanya dengan sebuah kecupan.
***
Sebuah truk towing atau truk pengangkut mobil berhenti di depan rumah mereka. Intan dan Bintang yang merasa kaget langsung berdiri dari duduknya.
"Kamu beli lagi mobil, Ang?" Intan menatap sang suami.
Bintang dengan sigap menggeleng. "Yang ini aja masih ada sisa hutang sama si Dafa. Masa iya udah beli lagi, duit dari mana? aku bener-bener cekak. Kan abis renov kedai!" jelasnya membantah.
Seorang pria mengenakan sebuah seragam berlogo sebuah perusahaan mobil. Mendekat ke arah pagar, kemudian Bintang Intan dorong agar menghampiri.
"Permisi, Pak. Mau tanya, apa betul ini RT 05 RW ?" tanyanya sopan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Betul ini alamatnya!"
"Kalo no 11 atas nama bapak Rafly?" tanyanya lagi.
Bintang langsung menunjuk rumah minimalis di sebrang rumahnya sebelah rumah Bu Gendis.
"Itu, rumah Pak Rafly," sautnya.
"Oh, baik. Terimakasih Pak." Lalu pria itu menyuruh temannya yang mengemudi untuk sedikit memajukan truk pengangkut mobil baru itu agar sedikit ke depan.
Bintang kembali masuk dan si istri masih setia di teras dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Kenapa?" tanyanya saat si suami duduk di sebelah nya.
"Itu, yang nganter mobil pesanan Pak Rafly." Bintang menyesap yoghurt milik si istri.
"Oh, Manis!"
Bintang menyemburkan yoghurt yang belum sempat dia telan.
"Apa? kamu bilang apa?" wajahnya panik.
Dia takut, notabene nya Pak Rafli seorang duda tanpa anak. Banyak sekali ibu-ibu komplek yang berlomba-lomba menjodohkan anak gadis nya kepada duren itu. Umurnya yang kepala tiga dengan pesona luar biasa dan kemapanan materi membuat para perempuan seolah ingin melemparkan diri pada si duren itu. Termasuk Bu Gendis dan Bu Klara yang saling berlomba mempromosikan anak gadis mereka. (semoga ngga ada yang demo) π
"Bukan, itu mobilnya manis. Keren, gagah, warna nya merah. Manis pasti," Intan mengusap perutnya dengan wajah mendamba pada mobil yang sedang di turunkan dari truk pengangkut itu.
Bintang menatap takut pada si istri.
"Jangan bilang kamu ngidam?" gumamnya pelan.
"Pengen cium mobil baru itu, sedikit ji*lat manis kayaknya! ah... pengen, Ang." rengeknya.
"Jambu nya aja!" Bintang memberi pilihan.
Intan langsung berdiri dari kursi, menatap sebuah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.
"Boleh, kamu manjat pohon jambu nya sambil ajak ngobrol Pak Rafli, aku ngelus sama ji*lat mobil merah manis itu." Intan bertepuk tangan dengan idenya sendiri.
"Astaga, anak-anak ayah. Kalian ngehasut apa sama Mami? masa ngidam beginian?" Bintang mengelus perut si istri.
"Buruan, aduh. Itu Pak Rafli nya mumpung ada."
"Yank, ngga usah. Aku chat mobil aja, ya? mobil ini. mirip sama itu, satu merk cuma itu ada bak nya ini nggak. Gahar ini malah," Bintang masih mencoba membujuk si istri.
Intan langsung mengerucutkan bibirnya. Lalu tiba-tiba lelehan air mata meluncur begitu saja.
"Cuma mau nyobain rasanya mobil baru, aku ngga minta beli kok!" Dia marah dan menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Bintang menggaruk kepalanya bingung.
"Anak gue mau jadi apa? Emak nya ngidam pengen ji*lat mobil baru. Somplak bener!" keluhnya sambil mengikuti si istri masuk ke dalam. Berniat mengiyakan keinginan sang istri. Sebelum si pemilik mobil masuk ke dalam rumah. Dan sebelum mobil itu kotor. Tidak kebayang Intan menj*lat mobil kotor penuh debu. Dan rasa debu itu akan menempel dan terhisap olehnya.
"Yank ... Ayo, kita ke rumah Pak Rafli, aku ajak ngobrol sambil minta jambu, kamu bisa nyamperin mobilnya." ucapnya saat melihat si istri cemberut di sofa ruang tamu.
Intan langsung mendongak dan bertepuk tangan riang.
"Ayoo, kita coba mobil manis!" dia bangun dan menggandeng suaminya untuk mengunjungi rumah duren dengan sejuta pesona.
Bersambung β€β€
Maaf terbengkalai π€ ada yang nunggu emang? makasih yang masih nungguin ini. Mau pengumuman jangan di hapus dulu ya, aku mau bikin cerita kisah salah satu Anaknya Bin2 π€π€.
Kebayang ngga sifat anaknya kayak apa? π€π€£π€£
Pokoknya lope2 buat kalian ππ sehat2 dan bahagia selalu buat semuaππ
__ADS_1
ikutin aku di IG juga boleh? Sartika2449 π